BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    29.1 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Beranda Publikasi Majalah Mudik Sarat Makna

    Mudik Sarat Makna

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 48
    Majalah Berita Indonesia Edisi 48 - Mudik Sarat Makna
    Lama Membaca: 4 menit

    VISI BERITA (Makna Mudik Lebaran, 25 Oktober 2007) – Lebaran (Idul Fitri) selalu identik dengan mudik, pulang ke kampung halaman. Momen ini sudah menjadi hal rutin setiap tahun. Mudik lebaran benar-benar telah membudaya. Mudik telah menjadi ajang melepas rindu kepada keluarga dan kampung halaman (nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif).

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 48 | Basic HTML

    Namun sesungguhnya, karena tradisi mudik itu sudah selalu identik dengan Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar pelepasan rindu kampung halaman (biologis), melainkan (semestinya) lebih bermakna spiritual. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengatakan, peristiwa hari raya Idul Fitri yang lazim disebut Lebaran memiliki tiga makna penting, yakni agama, sosial dan ekonomi.

    Menurutnya, Lebaran itu masalah sosial yang tertinggi. “Mobilisasi masyarakat terbesar hanya terjadi pada Lebaran. Selama ini mudik di Pulau Jawa saja setidaknya memobilisasi 30 juta orang,” katanya. Selain itu, Lebaran merupakan peristiwa ekonomi yang tertinggi setiap tahun, karena peristiwa mudik itu dapat memberikan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia.

    Lebaran Idul Fitri, dalam makna agama (spiritual) berarti kembali ke fitrah. Secara etimologis, Idul Fitri berarti ‘kembali berbuka’. Kemudian secara substansial dimaknai ‘kembali ke fitrah.’ Sebuah momentum pulang ke kampung rohani, yang bermakna kembali ke hati nurani, menemukan Allah di dalam diri sendiri. Artinya, rumah rohani kita sebetulnya ada di dalam diri.

    Dalam pemaknaan ini sesungguhnya yang harus mudik itu bukan dalam arti biologis, melainkan mudik spiritual, mudik rohani. Suatu momen pengungkapan kemenangan dan kegembiraan setelah kurang lebih satu bulan umat Islam berpuasa. Suatu kesempatan untuk menegaskan komitmen keilahian bagi kemanusiaan universal. Suatu momentum melakukan suatu konsentrasi atau kontemplasi kembali ke jati diri sendiri, merefleksi dan introspeksi lembaran pengalaman masa lampau, sehingga memunculkan kearifan-kearifan di dalam diri.

    Bukan berarti bahwa mudik secara fisik (biologis), dalam makna sosial, ekonomi dan budaya menjadi tidak penting. Semua itu perlu, apalagi bila kita melakukannya secara baik dan proporsional. Yang terpenting, mudik lebaran yang setiap tahun menjadi peristiwa (mobilisasi) rutin luar biasa, sampai merepotkan banyak pihak, terutama dalam hal masalah angkutan, seharusnya memberi nilai tambah pada urgensi mudik spiritual atau mudik rohani.

    Sehingga ongkos besar yang harus kita bayar dalam prosesi mudik biologis itu tidak sia-sia. Bisa kita bayangkan, untuk menjaga dan mengamankan perjalanan mudik lebaran saja pihak kepolisian menghabiskan sekitar Rp 45 milyar. Belum lagi akumulasi pendapatan atau gaji yang diperoleh setiap orang selama satu tahun bekerja di kota harus habis dalam satu minggu untuk mudik biologis ke kampung halaman. Jadi jangan sampai mudik yang mengiringi Idul Fitri menjadi semacam suatu pesta ritual tahunan yang sangat konsumtif.

    Dalam hal ini, secara sadar dan maksimal, harus terpikirkan dan terejawantahkan bagaimana kita bisa menciptakan nilai plus mudik lebaran itu, terutama dalam makna spiritual. Juga dalam makna sosial, budaya dan ekonomi. Secara sosial, mudik bermakna pemenuhan kepentingan berkumpul secara primordial, emosional dan paguyuban, untuk mempererat hubungan silaturahim.

    Secara ekonomi bisa juga bermakna sebagai pemerataan atau pemulangan uang yang menumpuk di kota ke daerah-daerah. Suatu kesempatan orang desa untuk menerima uang dari kota. Hanya saja hal itu jangan dilakukan secara berlebihan, hingga mengarah pada pamer kekayaan, kesombongan diri, sehingga lebih banyak aspek-aspek mubazirnya daripada keuntungannya.

    Advertisement

    Kita mestinya harus mampu memaknai Idul Fitri sebagai hasil proses panjang berpuasa selama satu bulan yang tidak hanya sekadar menahan makan, minum, dan sebagainya, tapi lebih substansial lagi adalah meminimalkan nafsu dan menghasilkan insan yang fitri. Hal inilah yang harus kita maknai dengan baik sebagai amanah dalam kehidupan keseharian pada hari-hari mendatang. Terutama dalam mengemban amanah, sesuai posisi dan kapasitas kita masing-masing, untuk diabdikan dalam konteks Indonesia. Pejabat tidak lagi korupsi. Buruh dan petani bekerja dengan giat.

    Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. (red/BeritaIndonesia)

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 48

    Dari Redaksi

    Visi Berita

    Surat Pembaca

    Berita Terdepan

    Highlight/Karikatur Berita

    Berita Utama

    Berita Khas

    Berita Nasional

    Berita Politik

    Berita Hukum

    Berita Hankam

    Lentera

    Berita Mancanegara

    Berita Humaniora

    Berita Kesehatan

    Berita Buku

    Berita Perempuan

    Berita Iptek

    Berita Tokoh

    Berita Daerah

    Berita Media

    Berita Ekonomi

    Berita Publik

    Lintas Tajuk

    Lintas Media

    Berita Hiburan

    Berita Budaya

    Berita Olahraga

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini