Diplomat Pejuang Kemerdekaan

[ Agus Salim ]
 
0
7145
Agus Salim
Agus Salim | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa didukung keinginan kuat untuk belajar, mengantarkan Haji Agus Salim menjadi seorang tokoh diplomat unggul yang telah banyak membantu bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Haji Agus Salim yang sebelumnya dikenal bernama Masyhudul Haq, lahir di Koto Gedang, Sumatera Barat (dekat Bukittinggi), pada tanggal 8 Oktober 1884. Di pendidikan formal, dia hanya menginjakkan kaki sampai HBS (Hogere Burgerschool, – Setingkat Sekolah Menengah Umum). Sesudah menamatkan HBS tahun 1903, ia belajar sendiri (otodidak). Ditopang oleh kemampuannya menguasai tidak kurang dari sembilan bahasa asing, antara lain bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang, memungkinkannya membaca bermacam-macam buku ilmu pengetahuan.

Agus Salim yang awalnya bekerja sebagai penerjemah dan sebagai notaris, sempat dianggap sebagai koperator, yakni orang yang koperatif (mendukung atau tidak bermusuhan) dengan kolonial Belanda. Pada masa mudanya, dia memang pernah bekerja pada pemeritah kolonial Belanda. Pada tahun 1906 sampai 1911, misalnya, dia bekerja pada Konsulat Belanda di Jeddah, Saudi Arabia. Sepintas lalu, sikap dan pendirian Salim itu sukar dimengerti. Tapi, pengalaman akhirnya menyadarkan dirinya untuk menjadi seorang yang nonkoperator.

Dia akhirnya menyadari, bagaimana pedihnya menjadi budak di rumah sendiri dan betapa enaknya menjadi bangsa yang merdeka yang sekalipun miskin tapi menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Di sini Agus Salim mulai menemukan identitas pribadinya. Dia lebih senang hidup berdikari walaupun miskin, tapi dihargai orang daripada hidup mewah sebagai pegawai/ambtenaar di bawah telapak kaki Belanda.

Terlepas dari itu, Agus Salim yang tinggal selama kira-kira lima tahun di Jeddah, dimanfaatkannya untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam yang dianutnya, sambil mempelajari seluk beluk diplomasi. Pengalaman yang pernah diterimanya itu ternyata kelak sangat bermanfaat baginya dalam menjalankan misi diplomatik yang dipercayakan negara kepadanya sesudah bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Didukung oleh kepandaian dan kecakapan bersilat lidah, pengetahuan yang luas, juga flexibilitas, kapabilitas serta kapasitas yang tinggi, membuat Agus Salim sangat diunggulkan dalam urusan diplomasi. Setiap serangan dari lawan dapat ditangkisnya dengan penuh argumentasi yang meyakinkan. Kemampuan serta kecakapannya sebagai seorang diplomat itu tampak sewaktu dia menjadi Ketua Misi delegasi Republik Indonesia ke Timur Tengah yang telah menghasilkan pengakuan de jure atas Republik Indonesia dari negara -negara Arab, seperti dari Mesir (10 Juni 1947); Libanon (28 Juni 1947); Syria (2 Juli 1947); Irak (16 Juli 1947); Afghanistan (23 September 1947) dan Saudi Arabia (24 Nopember 1947).

Dia akhirnya menyadari, bagaimana pedihnya menjadi budak di rumah sendiri dan betapa enaknya menjadi bangsa yang merdeka yang sekalipun miskin tapi menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Di sini Agus Salim mulai menemukan identitas pribadinya. Dia lebih senang hidup berdikari walaupun miskin, tapi dihargai orang daripada hidup mewah sebagai pegawai/ambtenaar di bawah telapak kaki Belanda.

Bukti lain dari kecakapan Salim sebagai diplomat terlihat sewaktu ia menyertai Sutan Syahrir pada sidang Dewan Keamanan PBB bulan Agustus 1947, ketika Dewan Keamanan sedang memperdebatkan soal penyerbuan Belanda atas wilayah Republik Indonesia. Menurut kesaksian Sjahrir, pada waktu itu sikap dunia internasional umumnya maupun Amerika Serikat khususnya, tampak sangat “dingin” terhadap Indonesia. Namun, berkat ketangkasan diplomasi Agus Salim, sikap itu mampu diubah menjadi simpati, sehingga rela membantu perjuangan Rakyat Indonesia. “Perubahan sikap dunia ini adalah hasil diplomasi Haji Agus Salim,” demikian pengakuan Sutan Syahrir kepada Solichin Salam, penulis Buku “Wajah-wajah Nasional”, tahun 1961 lalu.

Persyaratan untuk menjadi seorang diplomat, seperti pengetahuan umum yang luas, pengetahuan sejarah, kebudayaan serta peradaban bangsa-bangsa, hukum internasional, pengetahuan serta penguasaan bahasa asing, pribadi yang berwatak, sikap yang luwes, ramah tamah tanpa mengorbankan prinsip, segalanya dimiliki oleh Haji Agus Salim. Demikian juga dengan wajah senyum dan simpatik. Tenang, tapi bila perlu setiap saat siap menghadapi tangkisan pihak lawan. Atau dengan kata lain, ramah tapi selalu waspada.

Sehubungan dengan pengalaman Agus Salim sebagai diplomat, menurut Solichin Salam dalam bukunya, ada sebuah “diplomatik joke” yang menarik sewaktu Salim menghadiri penobatan Ratu Elisabeth II, mewakili Presiden Soekarno. Ketika itu, dia terlibat percakapan dengan Pangeran Duke of Edinburgh, suami sang Ratu.

Memperhatikan Sang Pangeran sedang mencari-cari bau rokok kretek yang tidak enak di tengah-tengah pesta penobatan Ratu Elisabeth II, maka secara spontan Salim langsung menangkis sikap Tuan Rumah ini dengan suatu sindiran yang mengenai sasarannya. “Your Highness it is the smell of my kretek cigarette made of tubacco and cloves. You may not like the smell now, Your Highnees. But it was this smell which attrac tedt the European People to go to my Country (Paduka Yang Mulia, ini adalah bau sigaret kretek saya, rokok ini terbuat daripada tembakau dan cengkeh. Paduka boleh tidak menyukai bau ini sekarang Yang Mulia. Akan tetapi justeru bau inilah dahulu yang menarik Bangsa Eropa pergi ke negeri saya),” kata Agus Salim ketika itu. Mendengar kata-kata itu, Sang Pangeran hanya senyum-senyum saja. Demikian antara lain kecakapan dan ketangkasan Salim sebagai seorang diplomat.

Haji Agus Salim adalah seorang diplomat yang berwatak. Seorang diplomat senior yang cakap dan penuh dedikasi yang tinggi kepada perjuangan bangsa dan negara Republik Indonesia. Dengan bermodalkan kecakapan dan senyuman diplomatnya, ia sanggup ‘memaksa’ lawannya untuk membantu perjuangan dan kepentingan bangsanya. Dia dapat mengalahkan lawan tanpa pihak lawan merasa dikalahkan.

Di bidang politik, Agus Salim memulainya dengan memasuki Sarekat Islam (SI). Karena keaktifan dan kepandaiannya, ia diangkat sebagai anggota pengurus pusat. Waktu sebagian anggota SI dipengaruhi oleh paham komunis, Agus Salim meminta supaya diadakan pembersihan organisasi dari ideologi komunisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Konsekuensi dari kebijakan itu adalah pengeluaran orang-orang komunis. Pada tahun 1929, SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Dan, setelah Cokroaminoto meninggal dunia tahun 1934, Haji Agus Salim pun diangkat menjadi ketua PSII.

Pada tahun yang sama, Agus Salim diangkat sebagai penasehat teknis delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda dalam Konferensi Buruh Internasional di Jenewa, Swiss. Dalam konferensi itu, ia mendapat kesempatan untuk berpidato dalam bahasa Perancis yang fasih. Banyak anggota delegasi yang kagum karena kemampuannya berbahasa dan berpidato sehingga sangat menaikkan nama bangsa dalam forum internasional. Walaupun dicemooh oleh orang- orang Belanda, dalam beberapa kali sidang Volksraad, ia juga sering berpidato dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Sebagai sarana untuk mencurahkan aspirasi politiknya, selain aktif di bidang politik, ia juga aktif di bidang kewartawanan dan memimpin beberapa surat kabar.

Menjelang kemerdekaaan Indonesia tahun 1945, yakni pada masa pendudukan Jepang, Agus Salim duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam kedudukannya sebagai anggota PPKI ini, ia terlibat aktif dalam Panitia Kecil Perancang UUD bersama dengan antara lain: Prof Dr. Supomo, Wongsonegoro, Ahmad Subardjo, dan A.A. Maramis.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, ia kemudian diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Selanjutnya, karena memiliki pengetahuan yang luas di bidang diplomasi, pemerintah kemudian mengangkatnya menjadi Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I (14Nov 1945 -12 Maret 1946) dan Kabinet Syahrir II (12 Maret 1946 – 2 Oktober 1946).

Ketika Belanda melakukan Agresi II dalam merebut Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, Agus Salim ditangkap bersama pemimpin-pemimpin negara seperti Presiden Soakarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Kemudian setelah dibebaskan, dan pengakuan kedaulatan sudah diraih Indonesia, Agus Salim memangku jabatan Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta (20 Deember 1949 – 6 September 1950).

Setelah itu, dalam pemerintahan selanjutnya Agus Salim tidak duduk lagi dalam pemerintahan. Namun, negara masih memerlukan buah pikirannya, karena itu pemerintah menunjuknya menjadi penasihat Menteri Luar Negeri.

Pada usia 70 tahun, persisnya pada tanggal 4 Nopember 1954, Agus Salim meninggal dunia di Jakarta. Mengingat jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, dia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Selanjutnya melalui SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961, atas nama negara Presiden resmi menganugerahkan penghargaan kepada Haji Agus Salim gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. MS | Bio TokohIndonesia.com

Sumber:
– Buku: ‘Album Pahlawan Bangsa’ cetakan ke 18. Penerbit PT Mutiara Sumber Widya
– Buku: ‘Wajah-Wajah Nasional’ cetakan pertama. Disusun oleh: Solichin Salam.
– Buku: ‘Jejak-Jejak Pahlawan’ edisi revisi II 2007. Disusun oleh J.B. Soedarmanta

Data Singkat
Agus Salim, Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI / Diplomat Pejuang Kemerdekaan | Pahlawan | Pahlawan, Diplomat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here