Politisi Berpendirian Teguh

 
0
71
Supeno
Supeno | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Ia adalah sosok yang disegani dan dikagumi baik oleh kawan maupun lawannya karena keberanian dan ketegarannya. Saat dalam perlawanan gerilya, Menteri Pembangunan dan Pemuda ini ditangkap Belanda lalu ditembak mati.

Lima tahun pertama setelah proklamasi kemerdekaan merupakan perjuangan fisik menegakkan negara RI. Demikian pula bagi seorang pemuda sederhana bernama Supeno. Kehidupan masa kanak-kanak pria kelahiran 12 Juli 1916 ini belum banyak diketahui hingga saat ini. Begitu juga dengan pendidikan yang pernah ditempuhnya. Bahkan tidak banyak orang yang mengenalnya setelah ia menjadi seorang menteri. Para stafnya pun tidak pernah mengenal siapa ia sebenarnya. Satu hal yang pasti, pada masa Perang Kemerdekaan (1945-1950), ia turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Supeno merupakan anak seorang pegawai Stasiun Kereta Api Tegal bernama Soemarno. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (AMS) di Semarang, ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hogeschool) di Bandung. Hanya dua tahun, ia menuntut ilmu di sekolah itu karena ia pindah ke Sekolah Tinggi Hukum (Recht Hogeschool) di Jakarta. Di kota itu, Supeno tinggal di asrama Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di jalan Cikini Raya 71. Oleh rekan-rekannya, ia dipilih menjadi ketua asrama.

Karir politiknya diawali pada saat ia bergabung dalam kelompok Amir Syarifuddin. Namun, kabinet Amir Syarifuddin II (3 Juli 1947-19 Januari 1948) jatuh karena Perundingan Renville pada Januari 1948 dinilai merugikan kepentingan RI. Dalam ketentuan-ketentuan Renville, RI harus mengakui daerah-daerah pendudukan Belanda dalam Agresi Militer I. Hasil perundingan itu menimbulkan sikap pro dan kontra Perjanjian Renville.

Pertentangan pun terjadi antara golongan yang setuju dan golongan yang tidak menyetujui perjanjian tersebut. Masalah lain yang menyebabkan jatuhnya kabinet itu adalah masalah dualisme militer yang terhimpun dalam TNI dan TNI “Bagian Masyarakat”. Amir Syarifuddin berpendapat bahwa TNI “Bagian Masyarakat” merupakan konsekuensi prinsip-prinsip pertahanan. Tentara harus mengenal politik agar mereka sadar membela kepentingan politik jika suatu saat pertentangan politik memuncak menjadi perang. Dualisme dalam tubuh TNI itu ditentang oleh PNI dan Masyumi yang menyebabkan kejatuhan kabinet itu.

Pasca jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin, ia kemudian berhenti sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan. Pada tahun 1948, hubungan antara Pemerintah RI dan Belanda tetap tegang walaupun sudah ada Persetujuan Renville. Perbedaan pendapat antara pihak yang pro maupun kontra tak dapat dihindarkan, hal itu pula yang di kemudian hari memicu perpecahan. Kelompok Amir Syarifuddin pun terpecah menjadi Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang terdiri dari organisasi-organisasi dan partai-partai kiri dan melakukan oposisi terhadap pemerintah, di bawah Amir Syarifuddin, dan Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) di bawah pimpinan Dr. Muwardi.

Karena berbeda politik dengan Amir Syarifuddin, Supeno memisahkan diri. Supeno kemudian diangkat sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden/Perdana Menteri Drs. Mohammad Hatta. Karena itu, ia dikecam oleh golongan kiri dan dituduh sebagai pengkhianat. Supeno menegaskan bahwa ia duduk dalam kabinet semata-mata atas kesadaran politik pribadi dan tidak mewakili golongan kiri. Program Kabinet Hatta antara lain adalah pelaksanaan Persetujuan Renville dan rasionalisasi dalam negeri, dan pembangunan.

Amir Syarifuddin kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia di bawah pimpinan Muso. Rasionalisasi tentara sangat ditentang oleh Muso dan FDR yang memuncak dalam Pemberontakan Madiun tahun 1948. Perlawanan PKI di bawah pimpinan Muso dapat dipatahkan dan Amir Syarifuddin yang menjabat sebagai sekretaris urusan pertahanan ditangkap kemudian dijatuhi hukuman mati.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer untuk kedua kalinya setelah perundingan-perundingan yang diadakan oleh kedua belah pihak dan diawasi oleh Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menemui jalan buntu. Belanda menyerang dan menduduki Yogyakarta. Beberapa orang pimpinan negara, antara lain Presiden dan Wakil Presiden tertangkap dan diasingkan ke luar Pulau Jawa.

Supeno bersama beberapa orang menteri lainnya seperti Susanto Tirtoprojo mengungsi ke luar kota, dan bergabung dalam Angkatan Perang dalam perlawanan gerilya. Pada 24 Februari 1949, rombongannya berada di desa Ganter, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Waktu itu Belanda melancarkan serangan ke desa tersebut. Menteri Pembangunan dan Pemuda, Supeno, beserta beberapa orang pengawai sedang mandi di pancuran. Ia ditangkap Belanda dan ditembak di tempat itu juga. Setahun kemudian, 24 Februari 1950, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Supeno dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.039/TK/Tahun 1970 tanggal 13 Juli 1970. e-ti

Data Singkat
Supeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam kabinet Hatta / Politisi Berpendirian Teguh | Pahlawan | pahlawan nasional, Pahlawan, AMS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here