Surat Terbuka Kepada Ephorus HKBP

Usulan Strategis Penulisan Ulang Sejarah Misi di Tanah Batak – Menuju Narasi yang Jujur, Adil, dan Kristus-Sentris.
Ruas HKBP Ch. Robin Simanullang, yang penulis buku HITA BATAK: A CULTURAL STRATEGY, menulis SURAT TERBUKA kepada Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan berisi “Usulan Strategis Penulisan Ulang Sejarah Misi di Tanah Batak – Menuju Narasi yang Jujur, Adil, dan Kristus-Sentris”. Surat terbuka bernomor 02/CRS/V/2026 tertanggal Jakarta, 4 Mei 2026 juga dikirimkan langsung melalui JNE ke Kantor Pusat HKBP. Surat itu juga dilampiri dua foto PARA MISIONARIS yang mendukung usulan strategis penulisan ulang sejarah misi di Tanah Batak tersebut.
Ch. Robin Simanullang mengajukan Enam Dasar Pertimbangan dan Tiga Usulan Substantif Penulisan. Di antaranya, mengusulkan Metodologi Induktif yang wajib merujuk pada dokumen primer dan manuskrip objektif, melampaui biografi romantis deduktif yang sering kali merupakan konstruksi narasi kolonial. Juga tentang Narasi Inkulturasi dan Jati Diri yang menegaskan bahwa Injil hadir sebagai Sira (garam) dan Sondang (terang) yang menggenapi dan menguduskan nilai luhur Batak seperti Dalihan Na Tolu, bukan menghapusnya. Bahwa orang Batak memuji Allah dengan dila (lidah) dan adat-budayanya sendiri. Serta tentang Visualisasi Kolektif, dengan mengusulkan mengganti publikasi paradigma “pahlawan tunggal” dengan pengakuan terhadap lebih dari seratus misionaris serta peran krusial para pemuka adat dan jemaat lokal Batak yang telah memiliki literasi dan spiritualitas yang siap menerima Injil.
Selengkapnya, demikian surat terbuka yang ditembuskan kepada Para Pendeta/Parhalado/Cendekiawan HKBP dan Gereja-Gereja Batak lainnya, Seluruh Ruas HKBP dan Jemaat Gereja-Gereja Batak lainnya, serta Pers dan Media Publikasi lainnya tersebut:
Kepada Yth:
OMPUI EPHORUS HKBP
PDT. DR. VICTOR TINAMBUNAN
Kantor Pusat HKBP
Pearaja, Tarutung – Sumatera Utara
Dengan hormat,
Teriring salam dan doa semoga Ompui Ephorus senantiasa dalam penyertaan Kasih Tuhan Yesus Kristus dalam memimpin gereja-Nya. Menyambung ‘diskusi singkat’ kita pada Jumat, 1 Mei 2026 di Sopo Marpingkir Jakarta, mengenai pentingnya pelurusan ulang sejarah misi, saya sangat menghargai keputusan Ompui Ephorus yang telah membentuk Tim Sejarah Misi.
Demi mendukung kerja Tim tersebut agar menghasilkan karya yang substantif, jujur, dan terbebas dari bias narasi lama (kolonial), izinkan saya menyampaikan Dasar-Dasar Pertimbangan dan Usulan sebagai berikut:
-
Dasar Pertimbangan
Pertama, Restorasi Fakta Misionaris Perintis: Sejarah harus mengakui secara jujur bahwa I.L. Nommensen bukanlah satu-satunya perintis, apalagi yang pertama. Jauh sebelumnya, para misionaris perintis seperti Gerrit van Asselt, W.F. Betz, Dammerboer, dan J. Ph. D. Koster, juga Johann Carl Klemmer dan Carl Wilhelm Heine, telah menanam benih Injil dan membaptis ratusan orang Batak melalui proses evangelisasi murni. Dilanjutkan lebih 100 misionaris lainnya. Mengabaikan mereka adalah ketidakadilan sejarah yang mengkhianati cara Kasih bekerja melalui banyak tangan.
Kedua, Dekolonisasi Narasi (Pemisahan Misi dari Penjajahan): Penulisan sejarah baru harus berani membedah simbiosis mutualisme antara misi dan kolonialisme. Istilah Expeditio Sacra (Perang Suci) yang digunakan Nommensen dalam kolaborasinya dengan militer Belanda untuk menganeksasi Tanah Batak Merdeka harus diletakkan dalam konteks sejarah yang jujur. Hal ini penting agar gereja tidak mewarisi “cacat” narasi kolonial yang memandang budaya Batak sebagai paganisme paling biadab.
Ketiga, Pengakuan Kedaulatan dan Literasi Bangsa Batak: Bangsa Batak bukanlah objek pasif yang “kosong” saat Injil tiba. Sejarah perlu mencatat bahwa orang Batak telah memiliki aksara, lektur (literasi), serta sistem religi dan nilai budaya tinggi yang membuat Hita Batak mampu merespons pengajaran baru secara cerdas dan adaptif. Kemajuan peradaban di Tanah Batak adalah hasil dari pertemuan antara Kabar Baik dan kesiapan batin bangsa kita sendiri. Sebelum Injil, amsal leluhur Batak dalam keseharian bahwa: “Saluhut panggulmit ni ngolu, saguru tu lomo ni Debata do”.
Keempat, Peran Krusial Pemimpin dan Pengajar Lokal. Keberhasilan misi tidak mungkin terjadi tanpa peran strategis para guru jemaat, sintua, dan tokoh adat pertama dari putra daerah. Mereka adalah jembatan budaya yang sesungguhnya, yang menerjemahkan kasih Kristus ke dalam bahasa dan batin orang Batak. Sejarah harus berhenti memusatkan kemuliaan hanya pada figur asing, apalagi mengultuskan nama seseorang yang antagonistis, juga mengakhiri narasi kolonial seolah Raja Imam Sisingamangaraja anti-misi Kristen (Bukti primer induktif: Tidak); dan mulai menonjolkan peran “Anak ni Raja” dalam membangun gerejanya sendiri. Contoh ahistorical dan Unbiblical, penyebutan seorang misionaris paling antagonistis sebagai rasul; Juga cocokologi, sebutan HKBP seolah dari akronim nama misionaris 7 Oktober 1861.
Kelima, Koreksi Paradigma Teologis: Kristus-Sentris. Publikasi yang masih menonjolkan “foto tunggal” seorang misionaris (Nommensen-Sentris) berisiko menciptakan pengultusan individu yang mengalahkan teologi Kristus-sentris. Penulisan ulang ini harus menempatkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan Roh Kudus sebagai penggerak utama sejarah, di mana para misionaris hanyalah hamba-hamba yang bekerja di ladang-Nya. Juga pengajaran HKBP mestinya bertransformasi: Paradigma Teologis Kristus Sentris (Paradigma Injil, mengakhiri Injil Berparadigma Taurat).
Keenam, Merayakan Kemandirian (1930 & 1940): HKBP adalah gereja lokal pertama di Nusantara (Hindia Belanda) yang mampu berdiri mandiri. Baik secara yuridis pada 1930 maupun secara faktual pada 1940, kemandirian ini adalah bukti kedewasaan iman bangsa Batak yang dilepaskan dari hegemoni zending Eropa melalui jalan keadilan Tuhan yang tidak terduga (Perang Dunia I dan Perang Dunia II).
-
Usulan Substantif Penulisan
Pertama, Metodologi Induktif: Wajib merujuk pada dokumen primer dan manuskrip objektif, melampaui biografi romantis deduktif yang sering kali merupakan konstruksi narasi kolonial.
Kedua, Narasi Inkulturasi dan Jati Diri: Menegaskan bahwa Injil hadir sebagai Sira (garam) dan Sondang (terang) yang menggenapi dan menguduskan nilai luhur Batak seperti Dalihan Na Tolu, bukan menghapusnya. Bahwa orang Batak memuji Allah dengan dila (lidah) dan adat-budayanya sendiri.
Ketiga, Visualisasi Kolektif: Mengusulkan mengganti publikasi paradigma “pahlawan tunggal” dengan pengakuan terhadap lebih dari seratus misionaris serta peran krusial para pemuka adat dan jemaat lokal Batak yang telah memiliki literasi dan spiritualitas yang siap menerima Injil.
Penutup
Penulisan ulang sejarah ini adalah momentum “Pertobatan Sejarah” bagi HKBP (Gereja-Gereja Batak lainnya). Dengan mengungkapkan fakta yang jujur dan adil, HKBP akan tampil sebagai gereja yang merdeka secara intelektual dan spiritual—gereja yang memuji Tuhan dengan lidah dan adat-budayanya sendiri.
Demikian usulan ini saya sampaikan, dengan harapan Tim yang dibentuk bekerja dengan independensi penuh kasih demi kemuliaan Nama-Nya.
Hormat saya,
Drs. Ch. Robin Simanullang
Ruas HKBP, Penulis Buku Hita Batak: A Cultural Strategy
Tembusan Kepada Yth:
– Para Pendeta/Parhalado/Cendekiawan HKBP dan Gereja-Gereja Batak lainnya
– Seluruh Ruas HKBP dan Jemaat Gereja-Gereja Batak lainnya
– Pers dan Media Publikasi lainnya
PDF SURAT TERBUKA KEPADA EPHORUS HKBP




















