BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    28.2 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Beranda Berita Al-Zaytun Antitesis dan Solusi Pendidikan Nasional

    Antitesis dan Solusi Pendidikan Nasional

    Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd.

    0
    Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd: Al-Zaytun adalah sebuah antitesis dan solusi bagi dunia pendidikan nasional
    Lama Membaca: 5 menit

    Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd. mengatakan bahwa Al-Zaytun adalah sebuah antitesis dan solusi bagi dunia pendidikan kita saat ini. Dia menyampaikan pandangan obyektif tentang Grand Design Pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama yang Terintegrasi Sebagai Poros Human Capital Indonesia Menuju Indonesia Abadi yang digagas oleh Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang dan dibahas/divalidasi oleh 50 Profesor dari berbagai universitas ternama dalam simporium, pelatihan dan konfrensi hampir setiap pekan selama satu tahun sejak 1 Juni 2025 hingga berpuncak pada 1 Juni 2026 di  Masjid Rahmatan Lil’Alamin, Kampus Al-Zaytun.

    Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd. mengatakan, saya sama sekali tidak merasa ragu atau takut ketika membaca cetak biru program pembangunan 500 titik Al-Zaytun (Sekolah Berasrama) yang akan disebar di berbagai wilayah di Indonesia. Asalkan, ada satu sarat utama yang terpenuhi: Syaykh berkenan untuk melahirkan putra-putri terbaik yang ideologis.

    Artinya, lanjut Prof Imam, seluruh khazanah keilmuan Syaykh, yang diiringi dengan berkah doa-doa Beliau, diwariskan seutuhnya kepada 500 santri lulusan terbaik dari sini. Mereka inilah yang nantinya akan disebar ke seluruh pelosok Indonesia untuk mendirikan institusi serupa. Jika kaderisasi ideologis ini berjalan, maka pembangunan 500 titik Al-Zaytun akan terwujud dengan sendirinya tanpa harus mencemaskan anggaran triliunan rupiah.

     

    Syukur Ada Panji Gumilang

    Berikut narasi selengkapnya Kata Sambutan Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Pd. pada Konfrensi Pendidikan Nasional di Kampus Al-Zaytun tersebut:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alamin, washalatu wasalamu ala asrafil ambiya’i wal mursalin, Sayyiduna wa Maulana Muhammadin, wa ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

    Yang kita muliakan bersama, Buya Abdussalam Raden Panji Gumilang beserta seluruh keluarga besar; yang kami hormati Datuk Imam Prawoto, segenap pengurus Ma’had Al-Zaytun, para Guru Besar dan Profesor yang berkenan hadir pada kesempatan ini, para santri, serta seluruh tamu undangan yang berbahagia.

    Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt., serta selawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada uswatun hasanah kita, Nabi Agung Muhammad saw.

    Syaykh, setiap kali saya menginjakkan kaki di tempat ini, hati saya selalu diselimuti rasa haru yang mendalam. Setiap kali pulang dari sini, saya tidak pernah putus berdoa, memohon kepada Allah agar Syaykh senantiasa dianugerahi umur yang panjang, kesehatan yang prima, sehingga dapat terus memimpin dan melanjutkan perjuangan besar ini.

    Advertisement

    Jujur, saya merasa sangat bersyukur bahwa di negeri ini kita memiliki sosok seperti Syaykh Panji Gumilang. Tanpa adanya kucuran anggaran dari pemerintah—yang jika dikalkulasikan secara materi mungkin bernilai triliunan rupiah—Beliau mampu membangun dan mewujudkan lembaga pendidikan semegah ini secara mandiri. Ini adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa, Syaykh.

    Oleh karena itu, saya sama sekali tidak merasa ragu atau takut ketika membaca cetak biru program pembangunan 500 titik Al-Zaytun (Sekolah Berasrama) yang akan disebar di berbagai wilayah di Indonesia. Asalkan, ada satu sarat utama yang terpenuhi, Syaykh berkenan untuk melahirkan putra-putri terbaik yang ideologis.

    Artinya, seluruh khazanah keilmuan Syaykh, yang diiringi dengan berkah doa-doa Beliau, diwariskan seutuhnya kepada 500 santri lulusan terbaik dari sini. Mereka inilah yang nantinya akan disebar ke seluruh pelosok Indonesia untuk mendirikan institusi serupa. Jika kaderisasi ideologis ini berjalan, maka pembangunan 500 titik Al-Zaytun akan terwujud dengan sendirinya tanpa harus mencemaskan anggaran triliunan rupiah.

    Inilah pandangan objektif saya, Syaykh. Kita belajar dari rekam jejak Syaykh Panji Gumilang; ketika sebuah karya besar dimulai tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal, hasilnya justru terwujud nyata seperti yang kita saksikan hari ini. Mungkin dahulu, pembangunan ini tidak diawali dengan kalkulasi angka-angka yang rumit, dan karena tidak terbebani oleh hitungan matematis itulah, lembaga ini justru menjelma menjadi realitas. Sering kali, ketika segala sesuatu terlalu dihitung di awal, manusia justru dilingkupi rasa takut untuk memulai. Padahal, jika kita memiliki aset berupa kekayaan sumber daya manusia (orang-orang yang militan), maka manusia-manusia unggul itulah yang akan melakukan hal-hal terbaik, sebagaimana yang telah dipelajari dari Syaykh Panji Gumilang.

     

    Hadapi Tantangan Berat

    Bapak dan Ibu sekalian, dunia pendidikan formal kita sejatinya menghadapi tantangan yang sangat berat. Mengapa mendidik itu menjadi urusan yang sulit? Jawabannya adalah karena subjek yang dididik adalah manusia. Al-Qur’an sendiri telah memberikan gambaran yang jelas bahwa manusia memang makhluk yang tidak mudah untuk dididik.

    Dalam Al-Qur’an, ketika manusia disebut dengan istilah insan, karakter-karakter dasarnya digambarkan dengan cukup pelik: Innal insana lirabbihi lakanud—manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya. Innal insana layathgha—cenderung melampaui batas. Innal insana lafi khusrin—berada dalam kerugian. Innal insana khuliqa halu’a—diciptakan bersifat keluh kesah. Manusia juga disebut la dzulmun mubin (nyata kezalimannya), dzaluman jahula (sangat zalim dan bodoh), kafura (ingkar), jidala (suka membantah), serta dha’ifa (lemah).

    Memang ada satu ayat yang memuji manusia, yaitu laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim (Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Namun, ayat tersebut belum selesai, karena langsung diikuti oleh kelanjutannya: tsumma radadnahu asfala safilin (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya).

    Melihat kompleksitas karakter manusia tersebut, metode yang diterapkan oleh Al-Zaytun selama ini sudah sangat tepat: dicoba dahulu, dikerjakan dahulu, hingga mewujud menjadi karya nyata. Setelah karya itu berdiri kokoh, barulah para guru besar dan profesor diundang untuk mendiskusikan dan membedahnya secara ilmiah. Ini adalah sebuah lompatan metode yang luar biasa.

    Saya sangat optimis, dengan lahirnya generasi ideologis penentu masa depan yang dicetak langsung oleh Syaykh, 500 titik “Al-Zaytun†akan tumbuh dan berkembang subur di seluruh Indonesia. Bahkan andai kata gagasan ini belum mendapatkan respons cepat dari pemerintah, saya tetap meyakini bahwa kemandirian sistem ini akan berjalan mandiri dengan mereplikasi apa yang telah dicontohkan oleh Syaykh.

    Antitesis dan Solusi

    Di mata saya, Al-Zaytun adalah sebuah antitesis dan solusi bagi dunia pendidikan kita saat ini. Banyak pihak mengkritik bahwa mutu pendidikan kita kian merosot dan kehilangan arah kualitasnya. Mengapa lembaga pendidikan formal sering kali gagal melahirkan lulusan yang cerdas dan terampil? Mohon maaf, barangkali analisis saya keliru, namun faktanya: dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, para siswa dan mahasiswa kita sehari-hari hanya diajak “ngomong” (berteori). Mereka dijejali penjelasan, mendengarkan kuliah, dan berdiskusi di dalam kelas selama delapan semester. Setelah delapan semester penuh dengan teori verbal, mereka dinyatakan lulus.

    Padahal, sekadar berbicara atau berteori tidak akan pernah membuat seseorang menjadi terampil dan pintar. Seseorang baru menjadi ahli jika mereka melakukan sesuatu—mempraktikkan apa yang seharusnya dikerjakan.

    Di Al-Zaytun, saya melihat Syaykh Panji Gumilang tidak hanya mengajak para santri berbicara. Di sini, pengajaran beragama langsung diwujudkan dengan mengajak mereka memakmurkan masjid ini untuk beribadah. Ketika iduladha tiba, hewan kurban disembelih, dan para santri sendiri yang diterjunkan langsung untuk mengelola dan mendistribusikannya. Mereka diajarkan kepedulian sosial dengan membagikan beras secara nyata. Jika pendidikan agama hanya sebatas ceramah tentang pentingnya memakmurkan masjid, pentingnya zakat, kurban, atau sedekah tanpa pernah menyentuh ranah praktik, maka kita tidak akan pernah melahirkan generasi yang saleh secara substantif.

    Hal yang sama berlaku pada sektor keilmuan lainnya. Di sini, teori pertanian, peternakan, hingga teknologi perkapalan tidak hanya berhenti di papan tulis. Kegiatannya ada, lahannya nyata, dan industrinya berjalan. Ada wujud bendanya, ada produk yang dihasilkan. Al-Zaytun tidak sekadar berbicara, melainkan menunjukkan wujud konkret dari apa yang dibicarakan.

    Prinsip ini sangat selaras dengan firman Allah dalam Surat As-Saff ayat 2-3: Limataquluna mala taf’alun, kabura maqtan ‘indallahi an taqulu mala taf’alun (Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan). Santri-santri di Al-Zaytun dididik untuk tidak sekadar pandai berwacana, melainkan segera mengejawantahkan apa yang mereka katakan ke dalam tindakan nyata.

    Banyak lembaga pendidikan saat ini yang terjebak pada rutinitas mendengarkan guru dan membaca buku teks. Padahal, mendengarkan dan membaca barulah tahap awal, belum masuk pada esensi ilmu yang sejati. Sesuatu baru dapat disebut sebagai ilmu yang hidup jika sudah meresap hingga ke tingkat “rasa”. Dan rasa itu hanya akan diperoleh ketika seseorang telah mengalami dan mempraktikkannya secara langsung melalui pengalaman empiris.

    Al-Zaytun telah berhasil melampaui jebakan verbalisme itu. Di sini, santri tidak hanya diajak kaya akan kata-kata, tetapi mereka paham wujud bendanya dan menguasai proses kerjanya. Mereka tidak sekadar diajari tentang beragama, tentang peternakan, tentang ekonomi, tentang koperasi, atau tentang pertanian. Di Ma’had Al-Zaytun, para santri diajarkan untuk langsung beragama, beternak, berekonomi, berkoperasi, dan berpertanian.

    Oleh karena itu, merupakan kegembiraan yang luar biasa bagi saya dapat hadir dalam forum simposium yang sangat berharga ini. Terima kasih kepada Syaykh, Ibu, serta seluruh keluarga besar atas kesempatan yang diberikan. Saya sangat optimis, dengan lahirnya generasi pejuang ideologis dari rahim Al-Zaytun, visi besar ini akan terus tumbuh, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya kehidupan bangsa yang damai, tenteram, bersatu, dan sejahtera.

    Terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangan.

    Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Kampus Al-Zaytun, 1 Juni 2026

    Prof. Dr. Imam Suprayogo, MPd.

     

    Editor: TSL/Sastra Suganda, TokohIndonesia.com

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini