BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    31.8 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Beranda Berita Berita Tokoh In Memoriam Ustad Abdul Halim: Jembatan Emas yang Berpulang

    In Memoriam Ustad Abdul Halim: Jembatan Emas yang Berpulang

    0
    Ustad Abdul Halim: Jembatan Emas yang Berpulang
    Lama Membaca: 2 menit

    Ada orang-orang yang dihadirkan Tuhan ke dunia bukan untuk menjadi riuh, melainkan menjadi jembatan. Mereka berdiri kokoh di antara dua tepi, memisahkan prasangka, dan menghubungkan pemikiran dengan ketulusan yang sunyi. Bagi saya, sepertiga malam perjalanan intelektual dan jurnalistik saya di Ma’had Al-Zaytun adalah kisah tentang jembatan itu. Kisah tentang seorang sahabat sejati: Ustad Abdul Halim.

    Lebih dari dua dekade lalu, tepatnya pada kilasan takdir 14 Februari 2002, kaki saya pertama kali menapak di tanah Al-Zaytun. Di sanalah, untaian surat-surat korespondensi kami mewujud menjadi jabat tangan yang hangat. Ustad Abdul Halim menyambut saya bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai seorang pemburu kebenaran yang harus dibukakan jalannya.

    Dengan kearifan yang tenang, beliau membisikkan sebuah saran yang kemudian menjadi jangkar ziarah jurnalistik saya:

    “Sebaiknya, silakan meninjau lapangan terlebih dahulu, sebelum bertemu dan mewawancarai Syaykh Panji Gumilang.

    Itu bukan sekadar saran protokoler; itu adalah undangan bagi sebuah tinjauan induktif primer. Beliau menuntun saya untuk menyentuh realitas sebelum merumuskan kesimpulan. Bersamanya, ‘ruang-ruang otak’ Al-Zaytun terbuka lebar. Saya menelisik lembar demi lembar kurikulum, membedah buku teks pelajaran, dan menguji sejauh mana napas Pancasila dihidupkan di sana.

    Bahkan, ketika dunia luar riuh berbisik tentang mitos basement Masjid Rahmatan Lil’Alamin—yang kala itu masih berkalang semen dan besi pembangunan—sebagai bunker misterius yang menembus samudera, Ustad Abdul Halim membawa saya turun ke kedalamannya. Beliau membiarkan mata jurnalis saya bicara dengan bukti-bukti primer, meluruhkan segala selubung isyu negatif sebelum saya duduk berhadapan langsung untuk menyelami samudra pemikiran Syaykh AS Panji Gumilang.

    Kesetiaan di Atas Jembatan Emas

    Sejak momentum itu, Ustad Abdul Halim adalah Jembatan Emas. Beliau bukan sekadar Sekretaris Yayasan; beliau adalah penafsir sunyi yang nyaris tak pernah gagal memahami kedalaman gelombang pikiran Syaykh Al-Zaytun.

    Di atas jembatan emas itulah hubungan kami merawat sebuah etika yang luhur. Dedikasi dan loyalitas beliau yang tanpa pamrih, saya sambut dengan kesetiaan persahabatan yang mutlak. Puluhan tahun berselang, saya tidak pernah sekali pun mengetuk pintu pemikiran Syaykh tanpa sepengetahuan dan fasilitasi dari Ustad Abdul Halim. Begitu sakralnya fungsi jembatan ini, hingga detik ini, saya merasa tidak pernah butuh menyimpan nomor telepon langsung Syaykh Panji Gumilang. Bagi saya, menghormati Ustad Abdul Halim adalah menghormati jembatan yang telah menghubungkan dua jiwa.

    Kini, jembatan emas itu telah usai menunaikan tugasnya di dunia. Ustad Abdul Halim telah berpulang, melangkah tenang menuju keharibaan Allah SWT.

    Advertisement

    Saat ingatan saya memutar kembali pita rekaman lebih dua dekade kebersamaan kita, tak ada satu pun goresan kesalahan yang tersisa. Yang tertinggal hanyalah putihnya ketulusan dan kokohnya kesetiaan.

    Selamat jalan, Sahabat Jembatan Emas. Semoga arwahmu disambut dengan hamparan rahmat di sisi Allah SWT, dilipatgandakan segala amal salehmu, dan kedamaian abadi menjadi tempat peristirahatanmu yang terakhir.

    Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

    Sahabat Dedikasimu

    Ch. Robin Simanullang

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini