Menatap Wajah Sang Causa Prima YHWH-DEBATA
Manifestasi Transendental Tradisi Yudeo-Kristen dan Batak

Ketika kesadaran manusia berhasil melompat dari konsep abstrak menuju pengenalan akan sesosok Pribadi, Sang Causa Prima tidak lagi dibicarakan dalam rumus-rumus yang kaku. Ia disapa dalam keintiman iman melalui nama-nama suci yang dinyatakan dalam sejarah wahyu maupun kearifan luhur peradaban manusia. Tradisi Yudeo (Lokal)-Kristen (Universal) menyebutnya YHWH dan Kosmologi luhur tradisi Batak (Lokal) menyebutnya DEBATA.
Mari kita bedah secara mendalam dua manifestasi transendental dari Sang Penyebab Pertama (Causa Prima) yang memiliki kemiripan filosofis yang sangat presisi dan menakjubkan antara Tradisi Yudeo-Kristen dan Kosmologi Luhur Batak:
-
YHWH (Alfa – Omega): Sang Otoritas Absolut Melampaui Waktu
Dalam tradisi Yudeo-Kristen, ketika logika supranalar manusia mencari tahu siapakah Sang Causa Prima itu, Alkitab memperkenalkannya melalui sebuah nama misterius yang agung (homi, hahomion): “Aku Ada” atau “Akulah Aku” – Ehyeh asher ehyeh (Perspektif Allah – Orang Pertama), lalu YHWH (“Dia Ada” atau “Dia yang mendatangkan keberadaan”, (Perpektif Manusia – Orang Ketiga). (Keluaran 3:14-15)
Ketika Musa bertanya bagaimana ia menyebut nama-Nya di hadapan semak belukar yang menyala, Tuhan tidak memberikan nama geografis atau nama kultural yang sempit. Dia menjawab (Kel 3:14): “Akulah Aku” (Eyeh asher Eyeh/I Am That I Am). Ini adalah sebuah proklamasi filosofis paling radikal dalam sejarah teologi. Melalui nama ini (Kel 3:15), YHWH (Dia Ada, atau Dia yang mendatangkan keberadaan) sedang menegaskan bahwa Dia adalah Eksistensi Mutlak yang mandiri—Dialah Sang Penyebab Pertama yang ada karena diri-Nya sendiri, yang tidak membutuhkan sebab lain untuk membuat-Nya ada, melainkan Dialah Sang Penyebab Keberadaan. Ini adalah tradisi kultural religius lokal Yudeo (Yahudi), sebelum menjadi universal setelah inkarnasi Sang Firman menjadi Anak Manusia dalam nama Yesus Kristus.
Kesadaran supranalar ini pun disempurnakan dalam teks Wahyu dengan sebutan “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Yang Awal dan Yang Akhir.”
Alfa (alpha) adalah huruf pertama dalam alfabet Yunani, menyimbolkan bahwa Dialah hulu dari seluruh jaring sebab-akibat. Sebelum waktu, ruang, dan materi diciptakan, YHWH telah ada. Omega (omega) adalah huruf terakhir, menegaskan bahwa Dialah hilir tempat segala sesuatu kembali dan bermuara.
Dengan mengimani YHWH sebagai Alfa dan Omega, manusia supranalar sedang memproklamirkan bahwa Sang Pencipta berada di luar dimensi materi, ruang dan waktu linier manusia. Materi, ruang dan waktu adalah makhluk yang diciptakan oleh-Nya, sehingga Dia—sebagai Sang Pencipta—mutlak tidak boleh dikurung oleh materi, ruang dan waktu.
-
DEBATA Mulajadi Nabolon: Kejeniusan Kosmologi Luhur Batak
Lompatan supranalar yang sama, secara luar biasa, juga terekam dalam DNA spiritual nenek moyang suku bangsa Batak di Nusantara. Jauh sebelum bersentuhan dengan peradaban modern atau teologi Barat, leluhur Batak telah memiliki konstruksi filsafat ketuhanan yang sangat jenius, kokoh, dan melampaui zaman melalui pengenalan akan Debata Mulajadi Nabolon.
Mari kita bedah secara mendalam nama dan rumusan filosofis kearifan luhur Batak ini:
- Mulajadi Nabolon: Secara etimologis berarti “Pencula/Penyebab Awal segala sesuatu yang menjadi (ada), Yang Maha Agung.” Nama ini adalah padanan sempurna (presisi) dari istilah filosofis Causa Prima. Leluhur Batak memahami bahwa di balik semua dewa-dewa alam bawah atau penguasa horizontal, ada satu otoritas tertinggi, DEBATA (Dewa Tinggi, The High God, Allah Tinggi), yang memulai segala eksistensi.
- So Marmula So Marujung (Na so marmula jala na so marujung): Ini adalah rumusan dogma teologi Batak yang sangat dahsyat. Artinya: “Yang tidak bermula (tidak diawali) dan yang tidak berakhir.”
Perhatikan betapa presisinya logika vertikal ini. Kalimat Na so marmula (Yang tidak bermula) adalah jawaban telak untuk memutus rantai kemunduran tanpa batas (Regressus in Infinitum). Ketika sains modern hari ini masih kebingungan mencari tahu apa penyebab sebelum setitik api Big Bang, leluhur Batak berabad-abad lalu sudah mematok jawabannya dengan tegas menggunakan supranalar mereka: Sang Penyebab Pertama (Causa Prima) itu wajib berstatus So Marmula—Dia tidak boleh memiliki awal atau sebab, karena Dialah Sang Awal itu sendiri.
Sementara kalimat na so marujung (yang tidak berakhir) adalah padanan langsung dari konsep Omega, bahkan bermakna lebih dalam So Marujung (Tidak Berakhir, bukan Yang Akhir), yang menegaskan sifat-Nya yang kekal dan tak terbatas oleh kehancuran materi fisik atau apa pun.
-
Titik Temu Supranalar: Sebuah Kesimpulan Universal
Pertemuan antara teologi Yudeo-Kristen (Alfa-Omega) dengan kosmologi luhur Batak (So Marmula – So Marujung) membuktikan sebuah kebenaran universal: Bahwa ketika rasionalitas manusia diasah hingga ke tingkat yang paling radikal, ia akan bermuara pada kesimpulan teologis yang sama.
Kedua konsep ini meruntuhkan keangkuhan kaum ateis modern yang mengira iman adalah produk kebodohan lokal. Melalui dua manifestasi transendental ini, kita diperlihatkan bahwa iman adalah puncak dari kecerdasan berpikir yang universal. Baik seorang nabi di Timur Tengah maupun seorang leluhur bijak di tanah Batak, ketika mereka menggunakan rasionya menembus langit logika, mereka sama-sama bersujud di hadapan Pribadi yang sama: Sang Causa Prima yang Maha Agung.
Hal ini suatu Daya Tarik Kultural yang menyajikan kedalaman antropologis yang sangat memikat. Menyejajarkan diskursus teologi Yudeo-Kristen yang berskala lokal/global dengan suatu bobot orisinalitas filsafat Batak kuno yang sangat tinggi.
Hal ini, semestinya menginspirasi kita (di atas nalar) untuk membenamkan ego dogmatis kaku, lalu bersujud menyalakan antena dogma supranalar menerima sinyal api gelombang roh Ilahi dari Langit; Yang bahkan kasat mata telah membumikan Anugerah, Sang Firman menjadi Manusia, yang diberi nama Yesus Kristus, Sang Immanuel. Yang membawa kita ke pemahaman kebenaran universal YHWH (Lokal Yudeo) dan/atau DEBATA (Lokal Batak) yang kita kenal dalam nama universal Tuhan Yesus Kristus, Sang Causa Prima Kasih Agape.
Penulis: Ch. Robin Simanullang, Cuplikan Buku SUPRANALAR, Bab Tiga 3.2.



















