BerandaLorong KataKalau Sudah Tahu Bau, Kenapa Masih Dimakan?

Kalau Sudah Tahu Bau, Kenapa Masih Dimakan?

Sebuah logika nirempati dan berdarah dingin

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 5 menit

Ketika anak-anak sakit setelah memakan makanan yang diberikan melalui sebuah program publik, pertanyaan tentang mengapa mereka tetap memakannya terasa lebih mudah daripada bertanya bagaimana makanan itu bisa sampai kepada mereka.

Ada pertanyaan yang secara tata bahasa terdengar sederhana, tetapi secara moral dapat memperlihatkan sesuatu yang sangat serius tentang cara seseorang memandang sebuah peristiwa. “Kalau sudah tahu bau, kenapa masih dimakan?” mungkin terdengar seperti pertanyaan tentang kehati-hatian. Namun ketika kalimat itu muncul dalam forum yang membahas dugaan keracunan massal setelah pembagian makanan program Makan Bergizi Gratis, dengan lebih dari 160 siswa dan guru dilaporkan mengalami keluhan, pertanyaan tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih problematis.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan orang dewasa yang dengan sadar membeli makanan yang mencurigakan di pinggir jalan. Yang dibicarakan adalah anak-anak yang menerima makanan dari sebuah program resmi, kemudian sakit setelah memakannya.

Di situlah kalimat tersebut terasa ironis. Ia terdengar sederhana karena menyimpan sebuah anggapan yang tidak sederhana: bahwa anak-anak itu sudah mengetahui makanan tersebut bermasalah, memahami risikonya, lalu tetap memilih untuk memakannya. Benarkah demikian?

Rapat Dengar Pendapat di DPRD Tana Toraja pada Jumat, 4 September 2026, semestinya mengarah pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana makanan yang diduga bermasalah bisa sampai kepada para penerimanya? Di mana pengawasan tidak bekerja, bagaimana makanan diproses dan didistribusikan, siapa yang bertanggung jawab memastikan kelayakannya, dan apa yang harus diperbaiki agar kejadian serupa tidak berulang.

Tetapi pertanyaan “kalau sudah tahu bau, kenapa masih dimakan?” justru menggeser pusat persoalan ke keputusan anak-anak yang berada di ujung rantai: mengapa mereka tetap makan? Perpindahan kecil dalam sebuah kalimat itu sebenarnya memindahkan sesuatu yang jauh lebih besar: beban tanggung jawab.

Bayangkan seorang penumpang hendak bepergian dengan kendaraan yang disediakan sebuah operator. Ia naik karena kendaraan itu dianggap layak jalan. Penumpang tidak memeriksa remnya, tidak mengetahui kapan terakhir kali kendaraan diservis, dan tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan kendaraan tersebut aman.

Di tengah perjalanan, ia merasakan ada yang tidak beres pada rem, tetapi kendaraan terus berjalan hingga akhirnya mengalami kecelakaan. Kita mungkin dapat mengatakan bahwa penumpang seharusnya turun jika memang menyadari ada masalah. Tetapi kita tidak akan menjadikan keputusan penumpang untuk tetap berada di kendaraan sebagai jawaban utama atas pertanyaan mengapa kendaraan yang bermasalah bisa beroperasi.

Kita akan bertanya kepada operator. Mengapa kendaraan itu dinyatakan layak jalan? Mengapa kerusakan tidak ditemukan sebelumnya? Mengapa sistem keselamatannya gagal?  Pilihan terakhir penumpang tidak menghapus tanggung jawab pihak yang mengendalikan kendaraan. Begitu pula dengan makanan.

Anak yang menerima makanan tidak berada di dapur ketika makanan itu dipersiapkan. Ia tidak memilih bahan baku, tidak mengatur penyimpanan, tidak menentukan bagaimana makanan dimasak dan dikemas, tidak mengendalikan perjalanan makanan dari tempat pengolahan ke sekolah, dan tidak mempunyai kewenangan untuk menyatakan bahwa makanan tersebut layak dikonsumsi.

Ia menerima makanan yang memang disediakan untuknya melalui sebuah program resmi. Di sana ada kepercayaan yang wajar: makanan yang diberikan kepadanya telah melalui proses yang membuatnya layak dan aman untuk dimakan.

Maka ketika kemudian anak itu sakit, sangat janggal jika pertanyaan pertama justru diarahkan kepadanya: mengapa masih dimakan? Lebih janggal lagi ketika yang harus menanggung akibatnya adalah tubuh anak itu sendiri.

Anda Mungkin Suka

Anak-anak yang menjadi korban bukan hanya kehilangan kesempatan untuk menikmati makanan yang seharusnya memenuhi kebutuhan mereka. Mereka harus mengalami sakit, ketidaknyamanan, ketakutan, dan dalam kasus yang lebih berat harus mendapatkan penanganan medis.

Mereka berada dalam posisi sebagai penerima manfaat sebuah program, tetapi tubuh merekalah yang akhirnya menerima akibat ketika ada sesuatu yang diduga gagal dalam proses penyediaannya.

Di hadapan kenyataan seperti itu, pertanyaan “kenapa masih dimakan?” terdengar bukan hanya salah arah, melainkan dingin. Seolah-olah setelah sebuah makanan berada di tangan anak, tanggung jawab atas keamanan makanan itu tiba-tiba berubah menjadi tanggung jawab anak untuk mengenali apakah sistem sebelumnya telah gagal.

Sistem justru dibuat untuk menghadapi keterbatasan semacam itu. Orang yang akan memakan makanan tidak mungkin mengetahui seluruh proses yang terjadi sebelum makanan itu sampai kepadanya. Kita membuat pemeriksaan karena penerima tidak berada di dapur. Kita membuat pengawasan karena konsumen tidak memiliki kewenangan untuk mengaudit seluruh rantai produksi dan distribusi.

Manusia memang menggunakan penilaian pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi penilaian pribadi tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan sistem keselamatan yang seharusnya bekerja sebelum sesuatu diserahkan kepada mereka.

Karena itu, mengatakan seseorang “sudah tahu” juga tidak sesederhana yang terdengar. Tahu bahwa makanan berbau tidak sama dengan mengetahui bahwa makanan tersebut berbahaya. Apalagi mengetahui penyebab dan tingkat risikonya.

Seorang anak dapat mencium sesuatu yang berbeda tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada makanan tersebut. Ia mungkin menganggapnya sebagai bau dari jenis makanan tertentu, bumbu, kemasan, atau sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya. Bahkan jika ia merasa ada yang aneh, ia belum tentu memahami bahwa sesuatu yang aneh itu berarti makanan tersebut berbahaya.

Lebih dari itu, seorang anak yang menerima makanan dari program resmi berada dalam situasi yang berbeda dari seseorang yang secara sadar membeli makanan yang ia curigai sendiri. Ada kepercayaan yang bekerja sebelum makanan itu disentuh: bahwa makanan tersebut telah diperiksa oleh orang-orang yang memang memiliki pengetahuan, kewenangan, dan tanggung jawab untuk memastikannya aman.

Maka ketika pertanyaan “kalau sudah tahu bau, kenapa masih dimakan?” digunakan untuk membaca peristiwa tersebut, kita perlu berhati-hati terhadap kata “tahu” di dalamnya. Tahu apa? Tahu bahwa baunya berbeda, atau tahu bahwa makanan itu berbahaya?

Menyadari ada sesuatu yang aneh, atau memahami bahwa sesuatu yang aneh itu merupakan tanda bahaya? Memiliki pilihan untuk tidak makan tidak sama dengan memiliki pengetahuan dan kewenangan untuk memastikan makanan itu memang tidak layak. Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena ada perbedaan besar antara mempunyai pilihan dan memegang tanggung jawab.

Seorang penumpang mempunyai pilihan untuk tidak naik kendaraan. Seorang pembeli mempunyai pilihan untuk tidak membeli barang. Seorang anak mempunyai pilihan untuk tidak menghabiskan makanan. Tetapi pilihan terakhir tidak otomatis menjadikan mereka penyebab kegagalan yang terjadi sebelumnya.

Jika logika “seharusnya bisa memilih” dijadikan dasar untuk memindahkan tanggung jawab, setiap sistem yang gagal akan selalu memiliki jalan keluar yang mudah: mencari orang yang berada paling dekat dengan akibat. Itulah nalar yang perlu dicurigai dari kalimat tersebut.

Ia mengambil keputusan terakhir seseorang dan menggunakannya untuk mengecilkan seluruh rangkaian keputusan yang mendahuluinya. Ia tidak bertanya mengapa makanan yang diduga bermasalah dapat sampai kepada anak-anak, tetapi mengapa anak-anak tetap memakannya. Ia tidak mulai dari kegagalan sistem yang berada di belakang makanan, tetapi dari perilaku korban yang berada di depannya. Padahal orang yang berada paling dekat dengan akibat belum tentu orang yang paling dekat dengan penyebab.

Jika memang makanan tersebut sudah menunjukkan tanda yang semestinya dapat dikenali, pertanyaan yang lebih masuk akal justru menjadi semakin sederhana: mengapa makanan itu tidak dihentikan sebelum sampai kepada anak-anak?

Pertanyaan itu mengarah kepada proses, bukan korban. Ia memeriksa pengolahan, penyimpanan, distribusi, penerimaan, pengawasan, dan seluruh titik yang seharusnya bekerja untuk mencegah makanan yang tidak layak sampai ke meja anak.

Di situlah pemeriksaan semestinya dimulai. Bukan pada anak yang memakan makanan itu, tetapi pada titik-titik yang seharusnya mencegah makanan tersebut sampai kepadanya. Dan ada satu hal yang membuat kasus ini tidak bisa diperlakukan seperti sekadar perdebatan tentang konsumen yang kurang hati-hati: yang berada di ujung rantai itu adalah anak-anak.

Mereka bukan sekadar konsumen dalam pengertian ekonomi. Mereka adalah penerima manfaat sebuah program publik yang makanan dan keamanannya semestinya menjadi bagian dari tanggung jawab sistem yang menyelenggarakannya.

Karena itu, ketika mereka sakit setelah memakan makanan tersebut, respons yang pertama-tama dibutuhkan bukan mencari alasan mengapa mereka tetap makan. Yang pertama dibutuhkan adalah memastikan apa yang terjadi pada makanan itu sebelum sampai kepada mereka.

Tentu anak-anak tetap perlu diajarkan untuk mengenali makanan yang tidak layak dan berani menolaknya. Nasihat seperti “kalau makananmu berbau aneh, jangan dimakan” adalah bagian dari kehati-hatian yang wajar. Tetapi nasihat kepada anak tidak boleh berubah menjadi pembenaran bagi sistem untuk melepaskan tanggung jawabnya.

Kita boleh berharap seorang anak cukup peka untuk mengenali sesuatu yang janggal. Tetapi kita tidak boleh membuat keselamatan sebuah program bergantung pada seberapa tajam penciuman anak yang menerima hasil akhirnya.

Sistem dibuat justru karena penerima tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi di belakangnya. Jika makanan harus menunggu anak untuk mencium bau sebelum dinyatakan bermasalah, maka ada sesuatu yang terbalik dalam cara kita memahami tanggung jawab. Anak yang berada di ujung rantai tidak seharusnya menjadi pemeriksa terakhir dari rantai yang dibangun oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan, kewenangan, dan tanggung jawab jauh sebelum makanan itu sampai ke tangannya.

Maka pertanyaan dalam judul tulisan ini perlu dikembalikan ke tempat semestinya. Anak-anak tetap perlu belajar berhati-hati. Mereka tetap memiliki pilihan untuk tidak memakan sesuatu yang mereka curigai. Tetapi sebelum menanyakan mengapa seorang anak tetap memakan sesuatu yang katanya sudah ia tahu berbahaya, kita perlu memastikan terlebih dahulu satu hal yang jauh lebih mendasar: benarkah anak itu tahu bahwa makanan tersebut berbahaya?

Dan jika jawabannya belum tentu, ada pertanyaan lain yang semestinya tidak boleh dilewati: kalau memang sudah bau, mengapa makanan itu masih sampai kepada anak-anak?

Sebab anak boleh diajarkan untuk mengenali bahaya. Tetapi keselamatan anak tidak boleh diserahkan kepada kemampuan anak untuk menemukan bahaya yang seharusnya sudah ditemukan orang dewasa sebelum makanan itu diberikan. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.5%), Jokowi (19.1%), Gusdur (15.5%), Megawati (9.9%), Soeharto (9.6%)

Populer (All Time)

Terbaru