BerandaLorong KataJokowi: Saya Tahu Dalamnya Partai

Jokowi: Saya Tahu Dalamnya Partai

Dari kebanggaan mengetahui isi partai hingga perkara penyadapan yang kembali mengundang pertanyaan.

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Tahu dalamnya partai ternyata tidak menjamin tahu apa-apa soal penyadapan.

Pada 2017, Susilo Bambang Yudhoyono meminta penjelasan kepada Joko Widodo mengenai dugaan penyadapan percakapannya dengan Ma’ruf Amin yang kemudian muncul dalam persidangan Ahok. Jokowi menjawab, “Yang bicara itu kan pengacara. Lha kok barangnya dikirim ke saya. Ya enggak ada hubungannya.” Jawaban itu membuat urusan penyadapan terdengar berada di luar jangkauannya, seolah presiden hanya kebetulan menerima pertanyaan yang salah alamat.

Enam tahun kemudian, di hadapan relawan Seknas Jokowi, suasananya berbeda. Jokowi mengaku mengetahui isi dan arah partai-partai politik. “Saya tahu dalamnya partai seperti apa, saya tahu,” katanya. Menurut pengakuannya, informasi yang diterima sangat lengkap. BIN, intelijen Polri, BAIS TNI, serta berbagai sumber lain memasok laporan, termasuk angka, data, dan survei, yang langsung masuk ke meja presiden. Jokowi menegaskan, informasi semacam itu hanya dimiliki presiden.

Cara Jokowi menceritakannya terdengar seperti seseorang yang sedang membuka kartu istimewa. Isi partai, arah politik, serta berbagai informasi yang tak tersedia bagi orang biasa digambarkan berada dalam jangkauan seorang presiden. Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan ketika ia berkata, “Saya tahu dalamnya partai.”

Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan tahu dalamnya partai? Informasi mengenai dinamika internal, pertarungan kepentingan, dan arah politik tentu bisa diperoleh dari berbagai sumber. Pengetahuan tentang percakapan tertutup dan wilayah privat politik membawa persoalan berbeda. Jokowi tidak menjelaskan sejauh mana informasi dikumpulkan ataupun apa yang sesungguhnya terkandung dalam laporan yang disebutnya komplet. Ia lebih menekankan kelengkapan laporan dan akses eksklusif presiden terhadapnya. Pertanyaan tentang batas kerja intelijen serta netralitas presiden dalam politik kepartaian pun muncul. Jokowi kemudian menjelaskan bahwa laporan rutin kepada presiden merupakan hal biasa, tetapi penjelasan itu tidak serta-merta menghapus kesan yang telanjur muncul dalam pidatonya di depan relawan.

Kini, nama Listyo Sigit Prabowo muncul dalam perkara penyadapan. Listyo pernah menjadi Kapolresta Solo ketika Jokowi menjabat wali kota, kemudian menjadi ajudan presiden, dan pada 2021 diusulkan Jokowi sebagai calon tunggal Kapolri. Setelah meninggalkan jabatan Kapolri, ia dipercaya Prabowo memimpin Kantor Staf Presiden. Pada November 2026, Listyo ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan penyadapan ilegal terhadap Prabowo dan sejumlah tokoh lain bersama dua perwira polisi. Penyidik juga mengungkap dugaan penghapusan data hasil sadapan. Perkara ini masih berjalan, sementara motif maupun pihak yang memerintahkan penyadapan masih belum terungkap.

Nama Jokowi ikut disebut publik karena kedekatannya dengan Listyo. Kedekatan itu tidak membuktikan keterlibatan Jokowi dalam perkara sekarang, apalagi bahwa Listyo pernah memasok laporan intelijen kepartaian kepadanya. Orang yang pernah ia pilih memimpin Polri kini menjadi tersangka dalam perkara penyadapan terhadap presiden penggantinya, sementara Jokowi pernah membanggakan informasi dari aparat yang masuk langsung kepadanya.

Anda Mungkin Suka

Saat ditanya mengenai perkara Listyo, Jokowi menjawab, “Kita semuanya ikuti proses hukum yang ada.” Jawaban itu terdengar akrab. Dalam perkara ijazah, ketika pertanyaan publik terus bermunculan, ia berulang kali merujuk persoalan tersebut kepada proses hukum. Saat SBY meminta penjelasan soal penyadapan pada 2017, Jokowi juga mengambil jarak dari persoalan itu.

Pada 2023, ia tampil sebagai presiden yang mengetahui begitu banyak hal, bahkan isi partai-partai politik. Laporan intelijen seolah membuka hampir semua pintu. Kini, ketika penyadapan menjadi perkara besar, jawaban yang muncul kembali mengarah ke proses hukum.

Begitu banyak yang bisa diketahui seorang presiden, begitu sedikit yang bisa dijawabnya. Ck, ck, ck…

(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

Lorong Kata adalah ruang esai dan refleksi di TokohIndonesia.com, tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari persoalan publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi, di sini kata mencari keseimbangannya sendiri. Berpijak pada semangat Merdeka Roh, Merdeka Pikir, dan Merdeka Ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Pintu masuk Sistem Sunyi akan dimuat saat tab dibuka.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.1%), Jokowi (19.3%), Gusdur (15%), Soeharto (9.9%), Megawati (9.6%)
Artikulli paraprak

Populer (All Time)

Terbaru