HUT Ke-81 RI di Al-Zaytun, 210 Penari Tampilkan Kreasi Nusantara
Pendidikan sebagai Bagian dari Pengisian Kemerdekaan

Bagi Al-Zaytun, peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi agenda tahunan. Upacara juga menjadi kesempatan bagi peserta didik menjalankan tanggung jawab, mengambil bagian dalam kegiatan bersama, dan tampil dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan.
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, berlangsung Senin, 17 Agustus 2026, di Arena Olahraga Palagan Agung. Upacara dimulai pukul 07.00 dan diikuti berbagai unsur sivitas Al-Zaytun, mulai pimpinan, jajaran Yayasan Pesantren Indonesia, dosen, guru, karyawan, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu Koperasi Desa Kota Indonesia (KODEKO), wali santri, hingga para tamu undangan.
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, Umi Drs. Farida Al-Widad, S.Sos., M.P., para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, serta sejumlah unsur pimpinan dan sivitas Al-Zaytun hadir dalam kegiatan tersebut. Bertindak sebagai inspektur upacara Dato’ Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC, sedangkan komandan upacara dipercayakan kepada Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon bin Elpiadi, pelajar kelas XI-M-1 asal Serang, Banten.
Perangkat upacara juga melibatkan unsur sivitas Al-Zaytun. Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Ikhwan Triatmo, BIT, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 oleh Anis Khoirunnisa, S.Th.I., MAP, sedangkan Nilai-Nilai Dasar Negara Indonesia atau Pancasila dibacakan M. Nurdin A. Tsabit, S.Sos., M.A.P.
Untuk pengibaran Sang Merah Putih, Al-Zaytun menyiapkan 99 personel Paskibra yang terdiri atas 60 laki-laki dan 39 perempuan. Pelajar juga mendapat sejumlah tugas dalam rangkaian upacara tersebut.
Dalam amanatnya, Imam Prawoto mengajak peserta mengenang jasa para pahlawan nasional serta para pejuang pendidikan Al-Zaytun yang telah mendahului. Dari sana ia berbicara mengenai tanggung jawab generasi yang menikmati kemerdekaan sekarang.
“Kemerdekaan tidak hanya kita kenang sebagai peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah bagi setiap generasi untuk menjaga keberlanjutan bangsa melalui pembangunan manusia yang berilmu, terampil, berkarakter, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” kata Imam Prawoto.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi Indonesia sekarang berbeda dengan masa ketika para pendahulu berjuang merebut kemerdekaan. Perubahan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan persaingan global menjadi bagian dari keadaan yang harus mereka hadapi.
Dalam konteks itu, pendidikan ditempatkan sebagai salah satu jalan untuk mengisi kemerdekaan. Menurut Imam Prawoto, pendidikan tidak cukup berhenti pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang. Peserta didik juga perlu dipersiapkan agar mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan dan mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.
Ia juga menyinggung hubungan antara ilmu, keterampilan, dan karakter. Pengetahuan perlu dapat digunakan dalam tindakan, sementara karakter ikut menentukan bagaimana kemampuan itu dijalankan.
Para pelajar dan mahasiswa didorong terus mengembangkan diri. Dalam amanat tersebut, pendidikan diarahkan agar mereka memiliki pijakan keagamaan dan akhlak yang kuat sekaligus berkembang dalam ilmu, keterampilan, dan kemampuan fisik. Penguasaan bahasa-bahasa antarbangsa turut ditekankan agar mereka dapat berinteraksi dengan masyarakat dunia tanpa kehilangan pijakannya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Arah pendidikan tersebut sejalan dengan risalah Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi. Pendidikan di Al-Zaytun diarahkan untuk membentuk manusia yang merdeka ruh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu.
Proses pendidikan di lingkungan Al-Zaytun juga berlangsung di luar kelas. Kehidupan asrama, olahraga, kegiatan seni, dan berbagai kegiatan bersama memberi peserta didik kesempatan menjalankan tugas yang dipercayakan kepada mereka.
Kepercayaan kepada Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon untuk menjadi komandan upacara merupakan salah satunya. Ia memimpin rangkaian upacara di hadapan peserta dari berbagai unsur sivitas Al-Zaytun.
Rangkaian pokok upacara selesai sekitar pukul 07.23. Kegiatan kemudian berlanjut dengan penampilan seni. Sebanyak 210 penari yang tergabung dalam Tim Seni Tari Al-Zaytun STAR-Z membawakan tari kreasi Nusantara. Para penari berasal dari jenjang PAUD, MI, MTs, MA, mahasiswa, hingga guru.
Gerak tari, irama, dan busana yang digunakan menghadirkan keberagaman seni Nusantara dalam peringatan kemerdekaan tersebut. Penampilan itu membawa tema keberagaman Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Setelah STAR-Z, ibu-ibu KODEKO turut tampil melalui “Senam Kreasi”.
Bagi sebagian orang tua, penampilan anak-anak menjadi alasan tersendiri untuk hadir langsung di Palagan Agung. Vivi, salah seorang wali pelajar dari Karawang, berangkat sekitar pukul 02.30 untuk menyaksikan putrinya yang duduk di kelas II MI tampil dalam pertunjukan seni. “Karena kebetulan alhamdulillah anak saya yang kelas II MI ikut pentas tari, jadi ingin menyaksikan langsung keseruannya,” ujar Vivi.
Ia juga menyampaikan pengalamannya selama berada di lingkungan Al-Zaytun. Menurut Vivi, lingkungan pendidikan yang mandiri, bersih, dan nyaman merupakan hal yang ia harapkan dapat diterapkan lebih luas. “Harapannya seluruh pendidikan di Indonesia seperti di Al-Zaytun, yang mandiri, lingkungannya bersih, bebas polusi, dan pokoknya asyik banget,” katanya. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)



















