Musisi Balada Kontemplasi

[ Ebiet G Ade ]
 
0
1170
Ebiet G Ade
Ebiet G Ade | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Penulis syair sekaligus penyanyi lagu-lagu balada ini digelari sebagai musisi tragedi karena salah satu karyanya yang berjudul Berita kepada Kawan sering dijadikan “theme song” berita bencana alam. Semua lagu yang dinyanyikannya adalah hasil karyanya sendiri.

Seniman yang satu ini lebih suka disebut penyair ketimbang penyanyi. Ia adalah Ebiet G Ade. Pria yang lahir di Wanadadi, Banjarnegara, 12 April 1955 ini dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu balada. Ciri khas setiap lagu yang dibawakannya adalah syair yang sarat akan makna. Lagunya tidak melulu bertema cinta, tapi juga bercerita tentang alam, sosial-politik, bencana, religius, romantika keluarga, serta duka derita kaum pinggiran. Lewat lagu yang diciptakannya, ia berusaha menyampaikan pesan dan nilai moral.

Ebiet menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya, Banjarnegara. Setelah tamat sekolah dasar, ia melanjutkan studinya di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) di kota yang sama. Namun karena merasa tidak betah, dirinya memutuskan hijrah ke Yogyakarta dan bersekolah di SMP Muhammadiyah 3, kemudian melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1. Semasa sekolah, anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Aboe Dja’far dan Saodah ini termasuk siswa yang pandai. Ia juga aktif dalam organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia

Tapi sayang, keinginannya untuk melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada harus dikuburnya karena terbentur masalah biaya. Ayahnya yang harus menghidupi enam orang anak hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil sedangkan sang ibu mencari nafkah dengan berdagang kain. Walau demikian, Ebiet yang di masa kecilnya pernah bercita-cita menjadi insinyur, dokter, dan pelukis ini yakin kuliah bukan satu-satu jalan untuk menjadi orang sukses. Gagal kuliah, ia pun memilih untuk bergabung dengan sebuah grup vokal.

Nama asli Ebiet sebenarnya adalah Abid Ghoffar Aboe Dja’far. Nama Ebiet G. Ade didapatnya dari pengalamannya ketika kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya yang orang asing ketika itu biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Sementara nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, namun disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya. Nama populernya kemudian menjadi Ebiet G. Ade.

Seperti anak muda pada umumnya, Ebiet yang melalui masa remajanya di kota Gudeg sering bercengkrama dengan kawan sebayanya. Malioboro menjadi tempat pilihan kebanyakan anak muda saat itu terutama yang memiliki minat di bidang seni. Dari pergaulannya dengan banyak seniman muda itulah, Ebiet mulai tertarik untuk menggeluti dunia seni. Salah satu seniman muda yang menjadi sahabatnya adalah penyair ternama, Emha Ainun Najib.

Di masa awal karir Ebiet sebagai penyanyi, ia kerap melagukan syair-syair karya Emha. Namun ketika masuk dapur rekaman, syair-syair tersebut tak lagi dibawakannya.Hal ini karena Ebiet pernah disindir oleh teman-temannya untuk membuat dan menyanyikan karyanya sendiri.

Meskipun awalnya sering membawakan syair orang lain, bukan berarti Ebiet tak memiliki kemampuan dalam merangkai kata-kata. Sebaliknya, ia merupakan seorang penulis syair puisi yang handal. Namun demikian, ia tak bisa mendeklamasikan puisinya tersebut. Akhirnya, ia pun mencari cara lain untuk membacakan puisinya tanpa harus berdeklamasi, yakni dengan melagukannya.

Awal kiprahnya sebagai penyanyi, ia hanya tampil dari kampung ke kampung di panggung-pangung seputar Jawa Tengah dan Yogyakarta saja. Awalnya ia hanya berniat menyalurkan hobi menyanyinya, namun atas desakan dari para sahabat, Ebiet pun akhirnya bersedia memasuki dapur rekaman. Camelia I, adalah debut albumnya yang pertama sebagai penyanyi profesional. Album tersebut terbilang sangat sukses di pasaran dengan angka penjualan mencapai dua juta kopi.

Setelah berkiprah sekian lama, Ebiet sempat berhenti di tahun 1990. Kala itu ia merasa “gelisah” dengan Indonesia, hingga akhirnya memilih “menyepi” dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Setelah lima tahun berlalu tanpa karya, Ebiet kembali dengan album terbarunya di tahun 1995. Dua album berhasil ditelurkannya saat itu, masing-masing berjudul Cinta Sebening Embun – Puisi-Puisi Cinta, dan Kupu-Kupu Kertas. Dalam album Kupu-Kupu Kertas, Ebiet menggandeng sejumlah musisi papan atas seperti Ian Antono, Billy J. Budiardjo, Purwacaraka, dan Erwin Gutawa.

Setahun berselang, ia kembali merilis album bertajuk Aku Ingin Pulang – 15 Hits Terpopuler. Di tahun 1998, sebuah album bertajuk Gamelan kembali diluncurkannya. Nama Gamelan yang digunakannya sebagai nama albumnya merujuk pada alat musik yang digunakan untuk mengaransemen 5 tembang lawasnya yang dimuat dalam album tersebut.

Pada saat bumi Nanggroe Aceh Darussalam luluh lantak akibat terjangan tsunami, Ebiet turut ambil bagian dalam pembuatan album Kita Untuk Mereka, yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya bencana alam itu bersama dengan 57 musisi lainnya. Sebutan sebagai musisi spesialis tragedi melekat padanya, terlebih salah satu karyanya yang berjudul Berita kepada Kawan sering dijadikan “theme song” berita bencana alam.

Di tahun 2007, Ebiet merilis album terbarunya yang berjudul In Love: 25th anniversary. Album yang melibatkan musisi Anto Hoed itu dibuat untuk memperingati ulang tahun pernikahannya dengan sang istri, Yayuk Sugiarto. Di tengah maraknya kabar kawin cerai yang mewarnai rumah tangga para pesohor tanah air, ayah empat anak ini bersyukur tetap dapat mempertahankan pernikahannya.

Bakat bermusik Ebiet rupanya juga menurun pada anak sulungnya Abie. Abie sering melakukan check sound saat ayahnya ingin manggung. Dari situ kemudian Ebiet mulai mempercayakan Abie untuk ikut terlibat dalam produksi, serta memilih lagu mana yang layak masuk dalam album In Love: 25th anniversary.

Ebiet G Ade termasuk musisi yang produktif dalam berkarya. Sejak awal karirnya di tahun 70-an tercatat sudah puluhan album yang dihasilkannya. Yang lebih membanggakan lagi, semua lagu yang dinyanyikan merupakan hasil karyanya sendiri, ia tak pernah membawakan lagu ciptaan musisi lain, kecuali Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulisnya bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkat kontribusinya pada dunia musik, ia pun diganjar berbagai penghargaan. Selain belasan kali menyabet golden dan platinum record dari Jackson Record, Ebiet G. Ade juga mendapatkan tropi dari Anugerah Musik Indonesia di tahun 1997 untuk kategori penyanyi solo dan balada terbaik. Nama Ebiet juga menggema hingga ke tingkat Asia, terbukti dengan keberhasilannya meraih penghargaan dari Planet Muzik Award di Singapura tahun 2002. e-ti | muli, red

Data Singkat
Ebiet G Ade, Penyanyi, penyair, penulis lagu / Musisi Balada Kontemplasi | Selebriti | Pencipta Lagu, Penyanyi, balada

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here