Bersahabat dengan Siapa Saja

[ John N. Palinggi ]
 
0
53
John Palinggi
John Palinggi

Pengusaha sukses yang humoris ini sudah delapan periode presiden membangun persahabatan dengan siapa saja tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurutnya, kejujuran, kerendahan hati, siap bekerja keras, dan pandai berterima kasih/bersyukur, menjadi kunci dalam menjalani kehidupan yang berhasil dan diterima oleh berbagai kalangan. Wakil Ketua Dewan Penasehat KADIN DKI Jakarta (2019-2024) dan Ketua Umum DPP Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor (ARDIN) ini juga gencar menyuarakan Pancasila sebagai komponen penting yang menyatukan seluruh elemen bangsa yang berbeda-beda.

DR. John Palinggi MM., MBA., lahir di Toraja, Sulsel, dimana tanggal lahirnya bertepatan dengan tanggal lahir Pancasila yaitu 1 Juni. Ayahnya, Yohanes Palinggi dan ibunya, Ruth, mendidik John Palinggi dengan keras, disiplin dan penuh kasih sayang. Ayahnya dikenal sebagai tokoh panutan di lingkungan gereja Toraja, jujur dan banyak membantu orang.

Meski lahir dari keluarga sederhana, John Palinggi dididik menjadi pribadi yang mempunyai prinsip: dilarang mengemis, menipu dan mengeluh dalam hidup. Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, bertanggung jawab dan hidup rendah hati. Kedua orang tua John Palinggi mengajarkan, apabila menumpang di rumah orang (rumah Om atau Tante), dia harus tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti mengepel, menyapu, isi bak mandi, dan sebagainya. Bahwa tidaklah baik menumpang di rumah orang dan tidak berbuat apapun untuk membantu si tuan rumah.

Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN) ini meyakini bahwa seorang anak yang menghormati orang tua akan diberkahi panjang umur dan murah rejeki. Sedangkan anak yang tidak menghormati orang tua akan kesulitan menemukan beras dalam hidupnya, mengalami kekecewaan hidup bahkan menjadi gelandangan. “Dengan menghormati orang tua, kita memuliakan Tuhan Allah,” kata John Palinggi kepada wartawan Tokoh Indonesia. Setelah menghormati orang tua, barulah kita berbicara menghormati orang lain atau sesama.

Buah dari menghormati orang tua, benar-benar sudah John Palinggi rasakan. Anak petani ini dimudahkan dalam pekerjaan sejak muda hingga sekarang. Dia sering menjadi yang terbaik dan dipercaya menduduki jabatan-jabatan strategis. Salah satunya saat dia diterima bekerja di perusahaan milik Presiden RI kedua, Soeharto. John Palinggi menceritakan pengalamannya melamar pekerjaan dengan mengikuti tes wawancara di rumah Presiden Soeharto. Perusahaan tempat dia melamar hanya membutuhkan tiga orang karyawan sedangkan yang melamar ada 76 orang. Para pelamar kebanyakan dari sekolah-sekolah yang bagus dan punya pengalaman. Karena merasa punya saingan yang hebat-hebat, John Palinggi memilih menepi, duduk di samping pot bunga sambil menunggu dipanggil wawancara. Saat itu, ada tiga penguji wawancara.

Setelah menunggu beberapa lama, seseorang menghampiri John Palinggi dan mengajukan beberapa pertanyaan. John Palinggi kemudian menjawab sebaik-baiknya. Setelah mendengar jawaban John Palinggi, orang tersebut kemudian berkata kepada salah satu penguji yang berpangkat Kolonel TNI, “Orang ini satu, kamu tinggal cari dua lagi.”

Mendengar hal itu, John Palinggi menjadi kaget. Dia bahkan semakin kaget setelah mengetahui bahwa yang mewawancarai dia tadi adalah Presiden Soeharto sendiri. Saat itu, John belum terlalu kenal dengan wajah Presiden Soeharto.

Contoh lain ‘kemudahan’ yang dia rasakan adalah saat John Palinggi mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan di LEMHANAS (seangkatan dengan Alm. Jend (Purn) Ari Kumaat) pada tahun 1985. Dia menjadi lulusan terbaik dan dipercaya menjadi Tenaga Ahli Pengajar di situ.

John Palinggi mengisahkan, saat mengikuti BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diketuai oleh Jenderal Sarwo Edhi saat itu, dia dididik untuk menjadi penatar tingkat atas untuk membumikan Pancasila. Di sinilah John Palinggi menjadi paham bahwa seluruh penyelenggaraan kenegaraan harus dijiwai oleh Pancasila. Bagaimana Pancasila menyentuh semua sendi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Tidak hanya terbatas pada pengetahuan tentang Pancasila saja tapi sampai pada tahap mengimplementasikan Pancasila. Sebab, hanya Pancasila yang bisa menyatukan seluruh komponen bangsa.

Seiring dengan berjalannya waktu, kariernya di perusahaan Pak Harto terbilang mulus. Dia pun menapaki karier sebagai pengusaha di kota Samarinda, Kalimantan. Di Pulau yang kaya dengan hasil hutan dan kayu itu, dia pernah dipercaya sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) kota Samarinda (1975) dan ketua KADIN Provinsi Kalimantan Timur (1981) di usia yang masih muda, 28 tahun. Setelah berhasil menjalankan bisnis di Kalimantan, John Palinggi ingin mengembangkan sayap bisnisnya dengan pindah ke Ibukota Jakarta.

Advertisement

Selain disibukkan dengan berbagai kegiatan di dunia bisnis, John Palinggi juga terbilang vokal dalam menyuarakan pendapat pada isu-isu yang sedang hangat seperti politik, sosial, ekonomi, serta kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Itulah sebabnya, dia pernah dipercaya mengemban tugas-tugas yang justru tidak terkait dengan bisnis. Misalnya, dia pernah dipercaya menjadi tenaga ahli di media center Habibie. Bersama Mayor Jenderal Sudrajat dan Letnan Jenderal Yunus Yosfiah, dia pernah memberikan pembinaan kepada media dan wartawan saat itu. John Palinggi juga pernah dipilih menjadi moderator dan presenter di televisi dalam kampanye Dialogis Pemilu tahun 1997. Dia bersyukur bisa tampil terus menerus selama 16 hari diliput seluruh media televisi.

Lewat berbagai pengalaman itulah, John Palinggi perlahan-lahan memupuk hubungan baik dengan banyak orang tanpa memandang suku dan agama, baik penguasa, pengusaha, pemuka agama dan masyarakat, dan pejabat TNI-Polri. Hubungan baik itu dia jalin dari masa pemerintahan Soeharto hingga sekarang. Menurut John Palinggi, kunci memelihara hubungan baik adalah dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih. “Saya berteman dengan para petinggi bukan saat mereka sudah sukses, tetapi mulai dari pangkat letnan sampai mereka pensiun. Harus pandai memelihara hubungan. Jangan datang ke orang itu saat ada perlu saja,” kata penerima penghargaan ASEAN Development Citra Award 2004-2005 (pebisnis berprestasi di tingkat ASEAN) ini.

John Palinggi juga percaya bahwa semua pejabat negara dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga kalau ada pejabat yang kurang baik, dia tidak ikut-ikutan menghujat bahkan menghakimi. Biarlah itu menjadi urusan hukum dan Tuhan saja.

John Palinggi menceritakan bahwa dulu di jaman Pak Harto ada orang Tionghoa yang rutin mengajarinya prinsip-prinsip kehidupan. Bahwa untuk menjadi pengusaha yang sukses harus memperbanyak saudara. “Perhatikan bahwa seribu teman tidaklah cukup, satu musuh terlalu banyak. Kalau kita banyak saudara atau teman, nanti kalau kita jatuh di pinggir jalan, pas dia lewat kita akan diangkat atau ditolong,” kisahnya.

Prinsip hidup ‘mempunyai seribu teman’ itulah yang John Palinggi praktikkan dalam hidup sehari-hari. Tatkala pandemi Covid-19 merajalela, John Palinggi menunjukkan kepeduliannya dengan membantu meringankan beban hidup para karyawan (security, office boy, cleaning service, dan petugas parkir) di lokasi gedung perkantorannya.

Dia juga memperluas sayap silaturahmi dan persaudaraan dengan berbagai lembaga termasuk lembaga keagamaan. Salah satunya Kantor Pusat Pengurus Besar NU (PBNU) di Jalan Kramat Senen, Jakarta Pusat. Di sana, Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) ini pernah memberi bingkisan kasih sayang berisi Sembako lebaran masker dan uang pada Mei 2020.

Luar biasanya lagi, John Palinggi dan keluarga mengadakan “Open House” pada momen Natal. Bagi kebanyakan orang, hal ini tidaklah lazim. John Palinggi tidak hanya menerima keluarga, relasi dan kawan, tetapi juga tokoh masyarakat RT/RW dan warga sekitar kompleks rumahnya (termasuk satpam dan petugas kebersihan) di Kedoya, Jakarta Barat. Bahkan warga yang sempat melintas dan membaur juga ikut mendapatkan bingkisan makanan dan berkat. Pada momen Natal 25 Desember 2022 misalnya, selain diisi kidung rohani Natal, acara Open House diisi dengan ceramah kebangsaan yang dibawakan ulama, Ustad Said Mochtar SH.

John Palinggi
Pada 2 Oktober 2022 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memberi John Palinggi gelar Raden Satya Santika

Pergaulannya yang luas dan upaya terus menerus untuk menjalin erat tali persaudaraan juga ditandai dengan berbagai gelar penghargaan yang sudah disematkan padanya. Pada 2 Oktober 2022, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memberi dia gelar Raden Satya Santika, gelar bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Kerajaan Mulawarman. Gelar itu diberikan dalam acara akbar di Kesultanan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sebuah gelar istimewa yang tidak sembarang orang memakainya.

Gelar lain yang sudah disematkan padanya datang dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 27 Februari 2022. Dia diberi gelar Kanjeng Raden Aryo (KRA) John N Palinggi Wiryonegoro dalam upacara adat Tingalandalem Jumenengan ke-18 Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Buwono (PB) XIII.

John Palinggi sempat dua kali menolak diberi gelar tersebut namun akhirnya luluh setelah diminta langsung oleh Sinuhun PB XIII. Gelar tersebut dimaknai John Palinggi sebagai tugas untuk terus membangun persaudaraan dan silaturahmi dengan keluarga Kasunanan Surakarta.

Saat ditanya soal apa prinsipnya sebagai pengusaha yang sukses selama kurang lebih 45 tahun, John Palinggi mengambil contoh masa-masa sukar saat pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia. Meski sedang sulit, John Palinggi mengatakan bahwa kita harus tetap bekerja keras, tetap tekun/ulet mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Contohnya, dia tetap bangun subuh dan seringkali sudah masuk kantor jam 5.30 pagi. Selama pandemi Covid-19 pun, dia tetap masuk kantor.

Dalam hal kerja keras, dia mengibaratkan, “mau ikan kecil, harus umpannya kecil. Mau ikan besar, harus umpannya besar”. Artinya, jika kita ingin memiliki rejeki yang besar, kita harus bekerja keras, tidak malas-malasan. Sebab banyak orang yang rajin berdoa kepada Tuhan tapi pemalas sehingga tidak mendapat hasil apapun. “Jika Anda ingin rejeki kecil, bangun jam 10 pagi. Kalau mau rejeki besar harus bangun pagi-pagi berangkat kerja. Karena kalau bangun kesiangan, dipatuk ayam rejekinya,” katanya menjelaskan.

Selain itu, kalau mau sukses, John Palinggi menekankan pentingnya sikap rendah hati, pandai berterima kasih dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Dalam hal pandai berterima kasih, John Palinggi mengibaratkan “kalau minum air, kita mesti tahu sumbernya”. Dengan tahu sumbernya, kita bisa memelihara sumber itu agar terus mengalir. Contohnya, jangan buat susah orang yang sudah menghidupi Anda.

Menutup perbincangannya, John Palinggi mengaku sudah memperoleh banyak hal lebih dari yang dia butuhkan. Bahkan dia sudah mendapat kebahagian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. (nita, cid, e-ti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here