Bertahan dengan Komik Lama

[ Erlina Marcus ]
 
0
144
Erlina Marcus
Erlina Marcus | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Generasi muda boleh jadi tak banyak mengenal komik dunia pewayangan, legenda, dan heroisme tokoh-tokoh lokal yang merupakan karya para komikus Indonesia. Deretan pengarang seperti RA Kosasih, Ganes TH, Hans Djaladara, Gerdi WK, dan masih banyak nama komikus lain relatif tak mereka kenal.

Selama hampir dua dekade terakhir ini, nama-nama komikus dan karya mereka telah hilang dari peredaran akibat serbuan komik-komik asing. Praktis generasi muda tak lagi mengenal tokoh-tokoh seperti Siti Gahara, Sri Asih, Si Buta dari Goa Hantu, atau Panji Tengkorak, yang pernah populer pada 1970-an. Apalagi komik cerita pewayangan seperti Mahabarata dan Ramayana.

Meski begitu, ternyata dunia komik Indonesia belum sepenuhnya terkubur. Komik-komik yang pernah berjaya pada era tahun 1970-an itu masih hidup dan punya peminat tersendiri.

“Masih ada penggemarnya walau tidak seramai dulu lagi,” kata Erlina Marcus, pemilik Penerbit Erlina.

Di tangan ibu empat anak dan nenek 10 cucu itu, sebagian dari perjalanan riwayat dunia komik di Indonesia dipertahankan. Padahal, jika dilihat latar belakangnya, ia sama sekali tak menguasai dunia penerbitan.

Penerbit Erlina merupakan satu-satunya penerbit di Bandung yang masih mempertahankan tradisi menerbitkan komik-komik Indonesia era 1970-an. Setidaknya ada 77 judul komik Indonesia yang entah sudah berapa puluh kali mengalami cetak ulang. Ini belum termasuk naskah-naskah lain yang belum sempat diterbitkan.

Sejak 1971

Erlina tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penerbit. Sebelum tahun 1996, kehidupan dia tak beda dengan ibu rumah tangga lain. Sehari-hari ia mengurus suami, anak-anak, dan bekerja di dapur. Satu-satunya kegiatan yang berhubungan dengan komik hanyalah kegemarannya membaca komik cerita lucu dengan tokoh utama Gareng dan Petruk.

Akan tetapi, setelah suaminya meninggal 13 tahun lalu, ia harus menyingsingkan lengan baju. Suaminya, Marcus Hadi, meninggalkan usaha penerbitan komik dengan percetakan kecil yang mempekerjakan beberapa karyawan. Usaha ini dirintis sejak tahun 1971.

Marcus pada masa mudanya adalah penggemar komik. Koleksinya mencapai ratusan buku dan tersimpan dalam peti khusus. Komik-komik itu dijual karena sudah tak dibaca lagi. Namun, belakangan ia berubah pikiran dan berusaha membeli kembali komik-komik tersebut. Ternyata ia harus menelan kekecewaan karena pembelinya tak mau melepaskan.

Marcus lalu mengumpulkan kembali koleksinya dengan membeli eceran. Dengan modal komik-komik itu, ia membuka usaha toko buku Maranatha. Oleh karena dia pun gemar menggambar, satu per satu komikus datang menawarkan karya mereka. Salah satu di antaranya RA Kosasih.

Komik-komik karya komikus Indonesia tersebut mencapai masa jayanya selama periode 1970-an, tetapi saat itu hubungan komikus dan penerbit memakai sistem jual habis. Jika disetujui, karya komikus tersebut langsung dibeli.

“Nilainya lumayan,” kenang Erlina tanpa menyebutkan jumlahnya. Ia hanya menunjuk contoh, dengan hasil penjualan dua judul komik cerita silat, pengarangnya bisa membeli Vespa.

“Saat itu Vespa paling keren dan harganya mahal,” katanya.

Ketika itu, cerita komik yang populer antara lain Si Buta dari Goa Hantu karya Yan Mintaraga. Dalam dunia pewayangan, komik karya RA Kosasih sudah lama berkibar dengan cerita Mahabrata dan Ramayana.

Akan ditutup

Sebagai ibu rumah tangga yang tak pernah menyentuh, apalagi terlibat dalam kegiatan bisnis suami, Erlina tak membayangkan harus mengelola dan mengembangkan warisan suaminya. Oleh karena itu, setelah Marcus meninggal, ia ingin menutup usaha itu. Para karyawan akan dirumahkan dan stok buku dihabiskan. Mesin-mesin percetakan hendak dijual karena tak seorang pun anaknya yang tertarik melanjutkan usaha sang ayah.

Erlina tak menduga komik-komik itu masih ada penggemarnya, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Karena itu, keputusannya menutup usaha yang ditinggalkan suaminya menimbulkan kekecewaan dari para agen yang selama ini setia menjadi penyalur. Mereka mendesak agar komik-komik itu diterbitkan kembali. Bahkan, salah seorang di antaranya, Sutawijaya, datang dari Semarang dan meminta dia membatalkan niatnya.

“Mulanya saya bingung karena tak mengerti soal penerbitan,” ujarnya.

Dengan pengetahuan “nol”, Erlina memutuskan melanjutkan usaha warisan suaminya. Karyawan yang sempat dirumahkan dipanggil kembali. Namun, tantangan yang harus dihadapinya tak ringan. Bulan madu komik-komik Indonesia tak berlangsung lama. Sejak tahun 1980-an, komik lokal harus menghadapi komik asing, yang justru lebih digemari generasi muda.

Akan tetapi, Erlina bukan tipe orang yang gampang menyerah walaupun usahanya tak bisa dibilang mendatangkan keuntungan besar. “Asal bisa beli kertas lagi, membayar karyawan dan ongkos cetak saja, sudah lumayan,” katanya.

Dengan prinsip sederhana itu, komik-komik tersebut secara periodik masih diterbitkan. Tiap kali cetak, jumlahnya tidak banyak karena peminatnya terbatas. Tiap kali cetak rata-rata 1.000 buku. Biasanya, dalam jangka waktu enam bulan komik itu sudah mengalami cetak lagi. Harga komik terbitan Erlina Rp 10.000-Rp 45.000 per eksemplar.

Untuk menyiasati pasar, Erlina membuat edisi mewah dengan tujuan memenuhi permintaan para kolektor. Caranya, tiap satu seri komik tersebut digabung menjadi satu, kemudian dijilid dengan sampul tebal. Kertasnya pun semi-HVS. Komik yang disebutnya edisi luks itu dijual dengan harga Rp 65.000-Rp 125.000. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 15 Agustus 2009 “Erlina, Bertahan dengan Komik Lama” | Her Suganda

Data Singkat
Erlina Marcus, Pengusaha / Bertahan dengan Komik Lama | Wiki-tokoh | Pengusaha, komik, penerbit

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here