Supranalar: Mati adalah Keuntungan
Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab (4)

Pengajaran Rasul Paulus tentang “dalam Kristus, mati adalah keuntungan” juga hanya dapat dipahami dengan supranalar. Pengajaran Rasul Paulus yang sangat terkenal ini merupakan salah satu puncak dari paradoks supranalar dalam seluruh teologi Perjanjian Baru. Bagi nalar kemanusiaan yang sekuler maupun eksistensial, pernyataan ini bukan sekadar tidak logis, melainkan aneh dan melanggar insting paling dasar dari makhluk hidup: mempertahankan eksistensi.
Secara nalar alami (human reason), kematian adalah akhir dari segala peluang, kehilangan yang absolut, tragedi terbesar, dan musuh utama yang harus ditakuti serta ditunda kedatangannya sedapat mungkin. Bagaimana mungkin sebuah kehilangan total disebut sebagai “keuntungan” (gain)?
Paulus mendobrak logika itu melalui kacamata iman yang supranalar (bukan suppranatural, not irrational) dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, yang secara teologis kita sebut sebagai Nats Fondasi Paradoks Supranalar: Filipi 1:21: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Untuk memahami mengapa ini disebut supranalar, kita harus melihat ayat-ayat kelanjutannya yang memperlihatkan kalkulasi spiritual Paulus yang menjungkirbalikkan logika dunia: Filipi 1:22-23: “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari kedua belah pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik;” Kita memahaminya: HIDUP ADALAH BERBUAH, MATI ADALAH KEUNTUNGAN.
Mengapa kalkulasi Paulus hanya bisa dipahami dengan Supranalar?
Pertama, Re-definisi Nilai “Keuntungan” (The Transcendent Currency): Nalar dunia mengukur keuntungan berdasarkan apa yang bisa ditambahkan ke dalam hidup di bumi: kekayaan, reputasi, kesehatan, atau umur panjang. Namun, kalkulasi supranalar Paulus menggunakan mata uang yang berbeda, yaitu Kristus sendiri.
Jika tujuan tertinggi dan kebahagiaan terbesar dari hidup adalah keintiman dengan Kristus (“hidup adalah Kristus”), maka kematian fisik bukanlah kehilangan. Kematian justru menjadi “jembatan emas” yang menyingkirkan sekat tubuh fana, sehingga ia dapat bersatu dengan Kristus secara sempurna dan langsung. Secara matematika surgawi: Kehilangan dunia + Memperoleh Kristus secara penuh = Keuntungan Terbesar.
Kedua, Menghilangkan “Sengat” Teror Kematian. Nalar (reason) manusia lumpuh di hadapan ketakutan akan maut (Ibrani 2:15). Tetapi supranalar iman melihat bahwa melalui kebangkitan Kristus, maut telah ditaklukkan dan diubah fungsinya. Maut tidak lagi menjadi algojo yang membinasakan, melainkan sekadar “pelayan” yang mengantarkan orang percaya masuk ke dalam kemuliaan yang kekal. Paulus mengejek batas ketakutan manusiawi ini dalam 1 Korintus 15:55: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”
Ketiga, Sukacita di Tengah Penjara (Supra-Emosi): Perlu diingat bahwa Paulus menulis surat Filipi ini dari dalam penjara Roma, menghadapi kemungkinan hukuman mati eksekusi oleh Kaisar. Secara psikologis dan nalar sehat, seseorang dalam posisi itu akan mengalami kecemasan hebat atau depresi. Namun, karena fondasi berpikirnya bersifat supranalar, surat Filipi justru dikenal sebagai “Surat Sukacita”. Langit logika manusia tidak bisa merumuskan bagaimana seseorang yang menghadapi tiang gantungan bisa menulis: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).
Sifat supranalar dari teologi Paulus ini berbeda tajam dengan paham nihilisme atau kecenderungan bunuh diri (suicidal thought). Orang yang putus asa ingin mati karena ‘membenci’ hidup di dunia. Paulus ingin mati bukan karena membenci dunia, melainkan karena ia begitu mencintai Kristus. Oleh karena itu, di ayat berikutnya (Filipi 1:24), ia segera kembali pada keseimbangan tugas sejarahnya di bumi: “Namun lebih perlu karena kamu, aku tetap tinggal di dunia ini.” Inilah letak keseimbangan Supranalar: Bukan Eskapisme [Eskapisme adalah mekanisme pertahanan mental berupa kecenderungan untuk menghindari kenyataan atau masalah hidup dengan mencari hiburan dan ketenangan. Istilah ini berasal dari kata bahasa Inggris escape (melarikan diri)]
Ini adalah sintesis supranalar yang agung: Siap untuk mati setiap saat karena itu adalah keuntungan, namun sangat siap untuk hidup dan menderita setiap hari demi memberi buah bagi sesama. Supranalar: Hidup memberi buah, mati adalah keuntungan
Amen
Jurnalis, Penulis Buku Hita Batak: A Cultural Strategy
Bersambung (5): Supranalar: Konstruksi Berpikir Baru
Sebelumnya (3): Supranalar: Anak Domba diantara Serigala


















