BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    31.4 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Beranda Berita Al-Zaytun Supranalar Syaykh Al-Zaytun: Perlawanan Filosofis terhadap Tradisi Penurunan Bendera

    Supranalar Syaykh Al-Zaytun: Perlawanan Filosofis terhadap Tradisi Penurunan Bendera

    0
    Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang (pegang mic) menegaskan bahwa bendera Merah Putih seharusnya berkibar selamanya. Bukan dikibarkan pagi hari lalu diturunkan sore harinya.
    Lama Membaca: 7 menit

    Oleh: Ali Aminulloh

    Ketika bangsa Indonesia beramai-ramai menurunkan Sang Merah Putih pada sore 17 Agustus, Syaykh Al-Zaytun justru mengajukan pertanyaan yang tidak lazim: mengapa bendera yang pagi harinya dinaikkan dengan penuh kehormatan harus diturunkan hanya beberapa jam kemudian? Pertanyaan sederhana itu membongkar sebuah ironi besar, bangsa ini menyanyikan tekad agar Merah Putih terus berkibar, tetapi pada hari yang sama menurunkannya melalui prosesi resmi. Inilah supranalar Syaykh Al-Zaytun, cara berpikir yang melampaui kebiasaan umum dan melahirkan apa yang disebutnya sebagai “perlawanan filosofis”.

    Perlawanan itu tidak diwujudkan melalui demonstrasi atau tindakan fisik. Pada Senin petang, 17 Agustus 2026, ketika Istana Merdeka dan kantor-kantor pemerintahan menggelar upacara penurunan bendera, Ma’had Al-Zaytun memilih menyelenggarakan selamatan kemerdekaan di Selasar Masjid Rahmatan lil ‘Alamin. Acara tersebut dihadiri 81 orang, sesuai dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia, terdiri atas Syaykh Al-Zaytun, Umi dan keluarga, para eksponen, pejabat Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia, kepala sekolah, mudabbir asrama, pimpinan organisasi pelajar, koordinator lapangan karyawan, serta perwakilan masyarakat.

    Di tengah selasar telah tersaji tumpeng nasi kuning sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan 81 tahun kemerdekaan. Namun, sebelum ramah tamah dimulai, para peserta diajak memasuki ruang perenungan melalui lagu “Berkibarlah Benderaku”, Mars Al-Zaytun, Mars Universitas Al-Zaytun Indonesia, serta Mars dan Hymne Politeknik Tanah AIR (Tanah Al-Zaytun Indonesia Raya. Lagu). Lagu tersebut bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan pintu masuk untuk menguji konsistensi bangsa terhadap semboyannya sendiri.

    “Biasanya orang melakukan renungan pada malam menjelang Hari Proklamasi. Hari ini kita mengadakan pendalaman pemahaman setelah melaksanakan upacara peringatan ulang tahun kemerdekaan yang ke-81, menjelang penutup hari,” tutur Syaykh Dr. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P.

    Syaykh menjelaskan bahwa dalam perhitungan Masehi, hari berakhir pada pukul 00.00, sedangkan dalam perhitungan Qamariah, pergantian hari dimulai ketika matahari terbenam. Karena itu, menjelang ghurubusy-syams, Al-Zaytun menutup 17 Agustus dengan pendalaman makna kemerdekaan, bukan dengan menurunkan simbol kebangsaan.

    “Semakin kita dalami perjalanan kemerdekaan ini, semakin kita mengerti bahwa apa yang diucapkan bangsa Indonesia pada pagi hari, sorenya dilanggar sendiri. Pagi diucapkan, sore dilanggar,” ungkap Syaykh.

    Menurutnya, lagu perjuangan merupakan syiar, semboyan, sekaligus cerminan filsafat hidup bangsa. Dalam lagu “Berkibarlah Benderaku” terdapat ungkapan, “Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela.” Namun, dalam praktiknya, negara beserta perangkatnya justru menyelenggarakan prosesi resmi untuk menurunkan bendera.

    “Ini adalah kebiasaan tanpa nalar, tanpa diikuti logika yang sehat. Bangsanya sejak awal menyampaikan bahwa bendera Merah Putih harus berkibar selamanya. Namun, di pusat pemerintahan, bendera dikibarkan pagi hari dan sore harinya secara resmi diturunkan,” tegasnya.

    Syaykh memandang bendera bukan sekadar selembar kain, melainkan liwa’ atau panji yang mewakili kehormatan, kedaulatan, semangat, dan cita-cita bangsa. Karena itu, ia mempertanyakan dasar filosofis tradisi penurunan bendera tersebut. Bangsa Indonesia dinilainya perlu menguji kembali kebiasaan yang telah mengakar, termasuk tradisi resmi negara, apabila pelaksanaannya justru bertentangan dengan pesan dan semboyan kebangsaan.

    Advertisement

    “Nah, mengapa kita mengadakan selamatan petang ini? Ini adalah perlawanan filosofis. Secara filosofis kita menentang bahwa simbol-simbol bangsa yang sudah disepakati jangan pernah diturunkan,” ujarnya.

    Tumpeng yang dihadirkan dalam selamatan itu pun mendapatkan pemaknaan filosofis. Bentuknya menggambarkan pohon kehidupan: bagian bawah sebagai akar, bagian tengah sebagai batang, dan bagian puncak sebagai buah. Syaykh menghubungkannya dengan kesadaran tauhid yang mencakup rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah. Selamatan tersebut dengan demikian bukan sekadar makan bersama, melainkan pernyataan sikap melalui simbol budaya yang dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia.

    “Supaya kita mengerti makna, menjalankan makna, dan apabila tindakan bertentangan dengan makna, kita selalu melawannya. Ini adalah perlawanan yang ilham,” pesan Syaykh.

    Gagasan tersebut mendapat tanggapan dari Datuk Imam Prawoto. Ia menilai refleksi Syaykh bukan sekadar kritik terhadap prosesi penurunan bendera, tetapi amanah kebangsaan yang memiliki jiwa dan daya hidup. “Tanggapan saya secara pribadi terhadap amanah yang baru saja disampaikan oleh pimpinan kita, Syaykh Al-Zaytun yang terhormat, adalah bahwa gagasan ini sangat-sangat berjiwa adanya,” ungkap Datuk Imam Prawoto. Baginya, perlawanan filosofis itu menghidupkan kembali kesadaran bahwa setiap seremoni kebangsaan seharusnya memiliki hubungan yang utuh antara ucapan, simbol, dan tindakan.

    Ali Aminulloh menilai pemikiran Syaykh Al-Zaytun tersebut sebagai bentuk “supranalar” (meminjam istilah Robin Simanullang), karena mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang jarang dijangkau orang lain. “Syaykh selalu memaknai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, termasuk mengkritisi tradisi penurunan bendera yang telah mengakar dan dilembagakan negara,” ujarnya.

    Menurut Ali, kritik tersebut memiliki dasar pemikiran yang logis, terutama apabila ditinjau dari pesan lagu “Berkibarlah Benderaku”. Merah Putih sebagai simbol dan panji negara semestinya terus dipertahankan berkibar, tetapi justru diturunkan melalui prosesi formal yang dilaksanakan negara beserta seluruh perangkatnya.

    “Inilah perlawanan filosofis, sebuah supranalar yang perlu dikembangkan di kalangan intelektual. Kita tidak harus selalu menerima sesuatu hanya karena telah menjadi tradisi, tetapi harus berani mengkritisinya secara logis dan berdasar,” tegas Ali Aminulloh.

    1. Pancasila M. Nurdin Tsabit memandang pertemuan tersebut sebagai bagian dari tradisi evaluasi yang selalu ditanamkan Syaykh Al-Zaytun. Menurutnya, Syaykh tidak pernah membiarkan suatu kegiatan berlalu sebagai seremoni tanpa makna, tetapi selalu mengajak seluruh civitas melakukan evaluasi dan membandingkannya dengan pelaksanaan kegiatan serupa di tempat lain.

    “Pada hari ini kita diajak oleh Syaykh Al-Zaytun untuk mengevaluasi acara yang kita lakukan pada pagi hari. Terhadap acara apa pun, Syaykh selalu melakukan dan mengajak kita untuk berevaluasi,” ujar Abu Tsabit.

    Ia menuturkan, sejumlah sahabat yang datang dari berbagai daerah merasa gembira dan bersyukur dapat mengikuti peringatan kemerdekaan di Al-Zaytun. Mereka menilai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan memiliki makna mendalam karena mampu mempertebal rasa kebangsaan sekaligus menghadirkan cara yang lebih substantif dalam memperingati 17 Agustus.

    “Bagi kita mungkin kegiatan seperti ini terasa biasa karena rutin dilaksanakan. Namun, di tempat lain belum tentu kegiatan seperti yang dilakukan Al-Zaytun dapat diselenggarakan. Mungkin karena tidak memiliki tempat atau memang tidak memiliki keinginan untuk melaksanakannya,” ungkapnya.

    Menurut Abu Tsabit, seluruh rangkaian peringatan kemerdekaan di Al-Zaytun merupakan proses pendidikan kebangsaan lintas generasi. Kehadiran peserta didik mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya disampaikan melalui pelajaran di ruang kelas, tetapi ditanamkan melalui pengalaman langsung.

    “Acara itu membekali anak-anak sejak dini. Dari PAUD sampai orang dewasa semuanya terlibat. Itu berarti semuanya adalah pendidikan untuk mengentalkan kebangsaan,” katanya.

    Abu Tsabit juga menyoroti cara Syaykh mendidik anak dan merawat keluarga. Syaykh, menurutnya, selalu mengingatkan bahwa seorang anak tidak boleh sekadar dipandang sebagai anak kecil, tetapi harus diperlakukan sebagai manusia utuh yang memiliki potensi kecerdasan, martabat, dan masa depan. Pelibatan anak-anak dalam kegiatan kebangsaan menjadi bagian dari proses menanamkan kesadaran nasional sejak usia dini.

    Lebih jauh, Abu Tsabit menilai kritik Syaykh terhadap tradisi penurunan bendera mengandung pesan kuat tentang kesinambungan antara ucapan dan tindakan. Bangsa Indonesia tidak boleh hanya pandai menyampaikan semboyan, tetapi gagal mewujudkannya dalam kehidupan. Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an, lima taquluna ma la taf‘alun, mengapa mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan.

    “Mengkritisi bendera yang pagi hari dinaikkan, tetapi sore harinya diturunkan, merupakan cara Syaykh mengingatkan kita tentang pentingnya mewujudkan apa yang telah diucapkan,” jelasnya.

    Menurut Abu Tsabit, ketajaman pemikiran tersebut berakar pada kepedulian Syaykh terhadap persoalan kebangsaan. Sejak kecil, Syaykh dinilainya telah memiliki kepekaan yang kuat terhadap kemanusiaan, nasionalisme, dan religiositas. Ketiga nilai tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan kehidupan bersama di Al-Zaytun.

    “Syaykh sangat peduli kepada bangsa. Beliau memiliki jiwa yang kental terhadap kemanusiaan, nasionalisme, dan religiositas. Ke depan, bangsa Indonesia mestinya memiliki karakter seperti itu,” tegasnya.

    Abu Tsabit menambahkan, konsistensi dalam menjaga simbol, semboyan, dan tujuan kemerdekaan memiliki hubungan erat dengan cita-cita mewujudkan keadilan sosial. Keadilan sosial dan kesejahteraan tidak akan terwujud apabila bangsa terus mengalami pertentangan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.

    Dwi Hananto dari Jawa Tengah memandang refleksi tersebut sebagai awal perjalanan baru dalam memahami kemerdekaan. Menurutnya, Syaykh telah memperlihatkan keberanian luar biasa ketika masyarakat pada umumnya masih terpaku pada kebiasaan yang telah berlangsung lama.

    “Tatkala orang selalu berpijak pada kebiasaan, Syaykh dengan keberaniannya menunjukkan kebenaran yang sejati. Syaykh pada hari ini menegakkan kembali filosofi itu dan melakukan perlawanan terhadap kebiasaan yang telah keluar dari filosofi sesungguhnya,” ujar Dwi Hananto.

    Ia menilai prosesi penurunan bendera yang dilakukan dengan pakaian lengkap, tata upacara formal, dan penghormatan kenegaraan justru memperlihatkan adanya pertentangan antara seremoni dan pesan filosofis Merah Putih. Karena itu, refleksi Syaykh diharapkan dapat didengar dan direnungkan oleh masyarakat Indonesia sehingga menjadi pintu masuk bagi perubahan bangsa menuju keadaan yang lebih maju dan berjaya.

    Tanggapan yang lebih personal disampaikan Latif WH. Ia mengenang sebuah peristiwa pada akhir 2012 atau awal 2013 ketika masih bertugas sebagai administrator Jammas. Pada suatu pagi sekitar pukul 09.00, ia datang ke Masikhoh untuk melaporkan perkembangan Jammas kepada Syaykh. Ketika tiba di tangga, Latif melihat Syaykh sedang menggendong cucunya, Green Havarim Khalilurrahman, yang saat itu belum genap berusia satu tahun.

    “Tangan kiri beliau menggendong Abang Green, sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah bendera di depan Masikhoh. Syaykh kemudian menyanyikan ‘Berkibarlah Benderaku’ dengan suara tegas,” kenang Latif.

    Pemandangan itu membuatnya tercengang sekaligus terharu. Tidak ada upacara, panggung, kamera, maupun kerumunan orang. Hanya seorang kakek, seorang cucu, dan Merah Putih yang berkibar di hadapan mereka. “Seumur hidup saya belum pernah melihat seorang kakek momong dan menimang cucunya dengan cara seperti itu,” tuturnya.

    Menurut Latif, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme Syaykh bukan pencitraan atau sekadar sikap yang ditampilkan di hadapan publik. Nilai kebangsaan telah ditanamkan dari lingkungan keluarga, bahkan kepada seorang cucu yang masih sangat kecil. “Pengalaman yang saya lihat bertahun-tahun lalu itu rupanya memiliki tindak lanjut pada hari ini. Tidak berhenti pada saat itu saja,” ujar Latif.

    Rangkaian tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa supranalar Syaykh bekerja dengan mengajak masyarakat keluar dari rutinitas seremoni menuju kedalaman makna. Sesuatu tidak otomatis benar hanya karena telah lama dilakukan, diterima banyak orang, atau diselenggarakan secara resmi. Setiap tradisi tetap harus diuji dengan nalar, filsafat, tujuan, dan konsistensinya terhadap nilai yang hendak ditegakkan.

    Syaykh mengibaratkan ketidakkonsistenan itu seperti seseorang yang pagi hari memintal benang, tetapi sore harinya menguraikan kembali hasil pintalannya. Pagi membangun, sore meruntuhkan; pagi menegakkan, sore menurunkan. Akibatnya, pekerjaan terus diulang, tetapi tidak pernah mencapai tujuan.

    Refleksi tersebut juga dikaitkan dengan pemikiran sejarawan Arnold Toynbee. Menurut Syaykh, masyarakat tidak menjadi primitif semata-mata karena tidak memiliki kebudayaan. Sebuah bangsa dapat bergerak menuju keprimitifan ketika pernah mencapai kemajuan besar, tetapi gagal mengembangkannya, bahkan merusak pencapaian itu melalui sikapnya sendiri.

    Indonesia pernah tampil sebagai pelopor kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika. Proklamasi 17 Agustus 1945 membangkitkan keberanian bangsa-bangsa terjajah untuk berdiri merdeka. Namun, kejayaan sejarah tersebut akan kehilangan makna apabila Indonesia tidak mampu menjaga kesesuaian antara semboyan, pemikiran, dan tindakannya.

    Karena itu, perlawanan filosofis tersebut juga berhubungan dengan gagasan besar Al-Zaytun mengenai transformasi revolusioner pendidikan berasrama. Pendidikan tidak boleh hanya mengajarkan anak menghafal semboyan, tetapi harus menumbuhkan keberanian untuk memahami, mempertanyakan, dan menjalankan maknanya dalam kehidupan. Melalui pendidikan, generasi bangsa dipersiapkan agar tidak mudah menerima kebiasaan tanpa nalar, tetapi mampu mengembangkan pemikiran kritis yang bertanggung jawab.

    Petang pun bergerak menuju matahari terbenam. Refleksi ditutup dengan doa keselamatan, ramah tamah, dan menikmati tumpeng nasi kuning bersama-sama. Namun, gagasan yang lahir dari pertemuan itu tidak ikut berakhir bersama tenggelamnya matahari.

    Selamatan tersebut mungkin hanya dihadiri 81 orang, tetapi pertanyaan yang dilahirkannya ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia: apakah kita sungguh-sungguh memahami simbol yang setiap tahun kita hormati, atau sekadar mengulang seremoni tanpa menyelami maknanya?

    Pada sore 17 Agustus 2026 itu, Al-Zaytun memilih tidak menurunkan makna kemerdekaan. Sebab Merah Putih tidak cukup hanya dinaikkan pada pagi hari. Nilai-nilainya harus terus dikibarkan dalam pikiran, pendidikan, ucapan, dan tindakan bangsa. Itulah supranalar Syaykh Al-Zaytun, keberanian melakukan perlawanan filosofis agar Indonesia tidak lagi mengucapkan sesuatu pada pagi hari, lalu melanggarnya pada sore hari.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini