BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    26.9 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Publikasi Buku Allah Bertindak Membentengi Jiwa Kita

    Allah Bertindak Membentengi Jiwa Kita

    Pengantar Penulis Ch. Robin Simanullang

    0
    Phroureo Jiwa dan Akal Budi
    Lama Membaca: 3 menit

    Kata Pengantar Penulis Buku “Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab”. Buku ini lahir bukan dari sekadar kontemplasi filsafat atau akademis yang dingin di atas meja kerja. Sebagai seorang jurnalis yang dalam perjalanan hidup dianugerahi keyakinan atas ilham Ilahi serta ke­sempatan menikmati dimensi pengalaman iman secara nyata—khususnya dalam perjuang­an sebagai penyintas kanker—saya mengalami sendiri bagaimana kuasa Ilahi bekerja (membumi) secara nyata.

    Ketika nalar dan kalkulasi manusiawi kita mentok pada jalan buntu atau tantangan masalah berat, di situlah realitas supranalar meng­ambil-alih. Ini adalah pergeseran (reorientasi) dari Problem-Centered menuju Presence-Centered: sebuah kondisi di mana kedamaian tidak didasarkan pada selesainya krisis, melainkan pada kesadaran akan Kehadiran Allah di tengah krisis.

    Tulisan (buku) ini adalah bentuk pengakuan (penye­rahan diri) dan refleksi teologis bahwa Allah Bertindak Membentengi Jiwa Kita melalui damai sejahtera-Nya (phroureo) yang melampaui segala akal. Ketika badai kehidupan menghancurkan kalkulasi empiris, kedamaian supranalar hadir sebagai benteng spiritual yang menjaga hati dan pikiran kita agar tidak ambruk.

    Buku ini “Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab” adalah kelanjutan dan “pembuktian” dari buku “Supranalar: Melampaui Batas Langit Logika, Sebuah Gagasan Diksi”. Keduanya, buku Supranalar, yang  ditulis jauh melampaui batas tingkat (jenjang, strata) akademis formal (verbal) dan tingkat kemampuan kapabilitas filosofis-teologis pribadi penulis. Maka bagi penulis pribadi, proses penulisan buku ini adalah proses belajar berpikir baru (supranalar). Learning by writing, suatu proses (metode dan kesempatan) menggunakan kegiatan menulis sebagai alat utama untuk mencari, memahami, memproses, dan mendalami informasi baru, dalam konteks buku ini, mendalami karakteristik supranalar dalam Alkitab. Sebuah kesem­patan emas (dalam usia 75 tahun) “learning by writing” dari para penafsir Alkitab fenomenal dunia, di antaranya, Thomas Aquinas (Summa Theologiae), Karl Barth (Church Dogmatics), C.S. Lewis (Mere Christianity), G.K. Chesterton (Orthodoxy), John Paul II (Ensiklik Fides et Ratio), Martin Luther (Heidelberg Disputation), dan Søren Kierkegaard, Gordon D. Fee, Donald B. Kraybill,  Tertullian, John Calvin, Dietrich Bonhoeffer, Donald B. Kraybill, Paul Tillich, serta puluhan lainnya.

    Sekaligus berusaha me­nempatkan diri sebagai “Murid Pengalaman” (“Disciple of Experience” – “Discepolo della Sperienza”), sebagai seorang yang jatuh-bangun (bagai debu biji sesawi) mengimani Tuhan Yesus, seharus­nya adalah seorang murid Kristus. Di bawah kesadaran (ketertundukan religius), bahwa cara berpikir supranalar itu adalah anugerah (khen, kharis, grace, ulibasa) Ilahi (YHWH, Debata) Mulajadi Nabolon, Sang Khalik Maha-Agung.

    Melalui lembaran-lembaran buku ini, penulis belajar (Learning by Writing dan Disciple of Experience) mendalami dan sekaligus meng­ajak pembaca mene­lusuri bagaimana prinsip-prinsip supranalar secara utuh dan terstruktur mengakar dalam teks Alkitab:

    Pertama,  Karakteristik Utama Supranalar dalam Alkitab (Bab 1 & Bab 2): Pembahasan diawali dengan menegaskan jarak tak terhingga antara pikiran Allah dan nalar manusia, benturan epistemis antara hikmat Ilahi dan hikmat dunia, serta rahasia iman dan inkarnasi. Tiga ciri utama supranalar—yaitu berbasis wahyu (gerakan vertikal dari atas ke bawah), melampaui logika tanpa merusaknya (above reason, not counter-logical), dan diterima oleh iman—menjadi fondasi utama bahwa rasio sejatinya adalah pelayan, bukan tuan.

    Kedua, Damai Sejahtera yang Melampaui Akal (Superreason Peace) (Bab 3): Menelaah bagaimana damai sejahtera Allah (eirene tou Theou) bekerja sebagai barikade atau garnisun mental yang melin­dungi psike manusia di tengah pengepungan tekanan hidup. Ini adalah bentuk pergeseran fokus dari problem-centered menjadi presence-centered, sebuah revolusi spiritual yang mendahului fakta empiris.

    Ketiga, Misi dan Etika Supranalar (Bab 4 & Bab 5): Supranalar bukan sekadar konsep pasif, melainkan panggilan aktif. Dalam pengutusan sebagai “anak domba di tengah-tengah serigala”, kita dipanggil menolak logika kekerasan dunia serta mempraktikkan etika radikal: mengasihi musuh, membalikkan logika pembalasan, dan memberi tanpa mengharap kembali. Senjata perjuangan kita bukanlah yang bersifat duniawi (sarkikos), melainkan kuasa yang bersandar pada Allah (dynatos tō Theō).

    Keempat, Kemenangan atas Kematian dan Konstruksi Berpikir Baru (Bab 6 & Bab 7): Puncak dari logika supranalar terlihat pada perombakan kalkulasi duniawi melalui ungkapan “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Perspektif ini melahirkan konstruk berpikir baru—sebuah “logika Ruang Mahakudus”—yang membalikkan hukum sebab-akibat duniawi dan menemukan kekuatan sejati di dalam kerentanan.

    Advertisement

    Kelima, Buku ini diikhtiarkan dengan Rangkuman Sintesis Supranalar metafora Biji Sesawi “Iman yang membumikan Kerajaan Allah”: Iman sekecil biji sesawi adalah benih awal di dalam sanubari manusia, dan ketika ia dibiarkan hidup serta bertumbuh, ia menjelma menjadi pohon Kerajaan Allah yang nyata di bumi. Allah tidak menuntut kehebatan atau kapasitas nalar yang megah, melainkan kerendahan hati untuk membawa titik iman terkecil kita agar Ia tenun menjadi karya keselamatan yang merangkul dan menghidupkan semesta.

    Keenam, Lalu ditu­tup sebuah Epilog mengenai Trinitas Kebajikan Supranalar (Iman, Harapan, dan Kasih) yang membumikan otoritas dan kemuliaan Allah dalam keseharian. Inilah potret utuh dari manusia yang marbisuk—arif, tajam, dan bijaksana sejati. Manusia yang gemilang otaknya (IQ), matang karakternya (EQ), dalam kearifan batinnya (SQ), serta tak tergoyahkan eksistensinya karena imannya memiliki dasar (FQ), jiwanya memiliki sauh di belakang tabir, dan seluruh hidupnya dihangatkan serta digerakkan oleh energi tertinggi di alam semesta: Kasih. Marbisuk berjalan di bumi untuk menaklukkan kemustahilan zaman, meninggalkan jejak peradaban yang abadi dan memberkati generasi demi generasi.

    Kiranya buku ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang sedang mencari pegangan di atas jalan buntu duniawi. Juga semoga karya sederhana ini menjadi penghiburan, penguatan, dan panduan berpikir bagi setiap jiwa yang sedang merindukan benteng perlin­dungan Allah di tengah badai kehidupan. Horas! Soli Deo Gloria.

    Jakarta, 18 Desember 2026

     

    Drs. Ch. Robin Simanullang

    Jurnalis dan Penulis Buku Hita Batak: A Cultural Strategy; dan Buku Supranalar: Melampaui Batas Langit Logika (Sebuah Gagasan  Diksi)

     

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini