BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    29.3 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Lama Membaca: 7 menit
    Beranda Berita Horas Indonesia Injil yang Mendarat di Tanah Batak

    Injil yang Mendarat di Tanah Batak

    Sebuah Renungan atas 1 Tesalonika 2:8–12

    0
    Injil yang mendarat di Tanah Batak (1 Tesalonika 2:8–12)
    Lama Membaca: 7 menit

    Sebuah Renungan atas 1 Tesalonika 2:8–12

     

    Ada sesuatu yang terjadi ketika Firman Tuhan dibacakan di tengah jemaat. Kata-kata itu tidak jatuh ke ruang hampa. Ia mendarat di tanah yang nyata — di tanah yang sudah lama dibajak oleh doa-doa nenek moyang, di tanah yang sudah lama disirami oleh air mata para ibu yang melahirkan anak-anaknya dalam kesunyian, di tanah yang sudah lama dipijak oleh langkah-langkah perantau yang pulang membawa rindu. Tanah itu bernama budaya kita. Tanah itu bernama Batak.

    Dan ketika Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika tentang hidup menurut kehendak Allah, ia tidak sedang berbicara dari menara gading. Ia sedang berbicara dari tengah debu perjalanan, dari tenda yang ia tenun sendiri, dari malam-malam yang ia habiskan bersama orang-orang yang ia kasihi. Ia sedang berbicara dari dalam hidup. Dan hidup itu, Saudara, ternyata punya banyak titik singgung dengan hidup kita — orang Batak yang percaya, yang mengasihi, yang bekerja, yang menghormati.

    Mungkin kita perlu duduk sebentar. Menengok ke belakang. Mendengarkan suara-suara yang sudah lama kita lupa.

    Ada satu kata yang sering kita ucapkan tanpa benar-benar merasakannya: holong. Kita mengucapkannya ketika menyapa anak, ketika memeluk cucu, ketika melepas orang tua atau anak yang pergi jauh. Tapi pernahkah kita bertanya: apa sebenarnya holong itu?

    Holong bukan sekadar kasih. Holong adalah kasih yang melekat, yang tidak mudah lepas, yang tumbuh dari daging ke daging, dari darah ke darah (mangkuling mudar, suara darah). Seorang ibu Batak mengasihi anaknya dengan holong — bukan karena anaknya pintar, bukan karena anaknya berjasa, bukan karena anaknya akan membalas budi. Ia mengasihi karena anaknya adalah bagian dari dirinya sendiri, tampuk ni pusupusu (tampuk buah hati).

    Paulus, ketika menulis kepada jemaat Tesalonika, memakai kata yang nyaris sama. Ia berkata: “Kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu…” Kata aslinya menggambarkan kerinduan seorang ibu kepada bayi yang disusuinya. Paulus, sang rasul yang tegas, yang berani berdebat dengan para nabi palsu, yang tidak gentar menghadapi penjara, tiba-tiba berbicara seperti seorang ibu. Ia berkata: kami bukan saja membagikan Injil kepada kamu, tetapi juga hidup kami sendiri.

    Di sinilah Firman itu menohok kita. Sebab kita hidup di zaman ketika membagikan Injil menjadi sangat mudah — cukup satu ketukan jari, satu kali teruskan, satu kali kirim. Kita bisa membagikan firman Tuhan kepada lima puluh orang sekaligus sebelum sarapan. Tapi membagikan hidup? Itu mahal. Duduk dua jam mendengarkan seorang sahabat yang sedang hancur terasa seperti kemewahan. Mengunjungi jemaat/rekan yang sakit, mengantar makanan pada tetangga yang berduka, hadir di rumah duka bukan sekadar tanda tangan buku tamu — semua itu terasa semakin berat.

    Padahal holong yang menurut kehendak Allah adalah holong yang rela terganggu. Holong yang rela menjadi sedikit lebih miskin waktu, sedikit lebih lelah, sedikit lebih repot, demi seseorang yang dikasihi Kristus. Dan holong itu tidak boleh dihitung-hitung dengan sistem kekerabatan semata. Ia melampaui garis marga. Ia menjangkau orang yang bukan hula-hula, bukan dongan sabutuha, bukan boru, bukan aleale— melainkan siapapun, tetapi tetap dikasihi karena Kristus.

    Mungkin minggu ini kita perlu bertanya: kepada siapa saya harus membagikan hidup saya — bukan hanya kata-kata, bukan hanya materi, tetapi kehadiran saya?

     

    Advertisement

    ***

    Lalu ada satu hal lain yang juga sangat lekat dengan kita: kerja keras. Nenek moyang kita membuka ladang di tanah yang tandus. Mereka merantau ke tanah orang dengan modal nekat dan doa. Mereka bekerja tanpa banyak mengeluh, memeras tenaga, memeras keringat, demi menghidupi keluarga. Ada umpama yang sering kita dengar: “Halak na padot mangula, i do na bosur mangan” — orang yang rajin bekerja, dialah yang akan kenyang makan.

    Ini bukan sekadar pepatah. Ini adalah teologi kerja yang sudah hidup dalam darah kita. Kita mengenal nilai marsitutu — berusaha dengan sungguh-sungguh, tekun, giat. Kita mengenal ringgas — rajin, cekatan. Kita mengenal mangula — bekerja. Dan semua itu kita lakukan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, untuk marga, untuk generasi yang akan datang.

    Paulus pun melakukan hal yang sama. Ia menenun tenda siang malam. Ia bekerja dengan marsitutu, agar tidak menjadi beban bagi jemaat. Ia ingin Injil yang ia beritakan tidak dicurigai sebagai dagangan. Dan di sinilah Firman itu menyentuh budaya kita dengan indah: kerja keras orang Batak bukan sekadar untuk menumpuk harta, bukan sekadar untuk menaikkan status sosial, tetapi supaya kita tidak menjadi beban bagi sesama dan justru menjadi saluran berkat.

    Ada tradisi indah bernama marsiadapari — gotong royong, di mana orang-orang bekerja bersama, baik di ladang maupun dalam berbagai kegiatan, untuk saling menopang. Injil hari ini memanggil kita untuk menghidupi marsitutu dan marsiadapari itu dengan integritas: bekerja keras secara jujur, hidup sederhana, dan memastikan bahwa kesuksesan kita tidak dibangun di atas penderitaan orang lain.

    Mangula yang diinjili adalah kerja keras yang rendah hati. Kerja keras yang membuat kita bisa tidur nyenyak, karena kita tahu: saya berusaha sungguh-sungguh oleh kasih karunia Tuhan, saya tidak merugikan siapa pun, dan hidup saya menjadi berkat.

     

    ***

    Lalu ada satu hal yang paling kita jaga: hasangapon. Kehormatan. Hormat. Ini nilai yang sangat indah, dan juga sangat berbahaya.

    Indahnya, karena hasangapon mengajarkan kita untuk hidup bermartabat, untuk tidak sembarangan, untuk menjaga nama baik keluarga dan marga. Berbahayanya, karena kadang hasangapon membuat kita lebih peduli pada “tampak baik” daripada “menjadi baik.” Kita lebih takut malu daripada takut berdosa. Kita lebih takut dihina hula-hula daripada dihukum Allah. Kita lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga hati.

    Paulus hari ini menantang kita dengan keras: “Kamu adalah saksi, dan demikian juga Allah…” Ia memanggil dua saksi sekaligus. Dan ini adalah teguran bagi kita yang kadang lebih takut pada saksi manusia saja daripada saksi ilahi.

    Hasangapon yang sejati bukanlah tentang apa kata orang. Bukan tentang seberapa megah pesta kita, bukan tentang seberapa tinggi jabatan kita, bukan tentang seberapa banyak orang yang hormat pada kita. Hasangapon yang sejati adalah hidup yang suci di hadapan Allah, adil di hadapan sesama, dan tak bercacat — artinya, tidak ada yang perlu disembunyikan.

    Orang Batak yang hidup menurut kehendak Allah adalah orang yang bisa tidur nyenyak, bukan karena ia kaya, bukan karena ia berkuasa, tetapi karena ia tahu: tidak ada ruang gelap di hidupnya yang belum dilihat oleh Allah. Ia tidak perlu takut diperiksa. Ia tidak perlu takut ketahuan. Ia tidak perlu takut pada saksi — baik saksi manusia maupun saksi ilahi — karena hidupnya transparan.

    Inilah hasangapon yang diinjili: bukan kehormatan yang dibangun di atas pencitraan, tetapi kehormatan yang tumbuh dari integritas. Bukan kehormatan yang membuat kita sombong, tetapi kehormatan yang membuat tondi kita tenang.

     

    ***

    Dan ketenangan tondi itu, membawa kita pada satu hal yang paling dalam dari budaya kita.

    Ada kesalahpahaman yang sering kita warisi di zaman ini: bahwa tiga berkat utama dalam budaya Batak — Hagabeon, Hamoraon, dan Hasangapon — adalah sekadar target materialistis. Bahwa orang Batak hanya mengejar kekayaan, keturunan yang banyak, dan kehormatan duniawi.

    Padahal, jika kita menelusuri ke dalam, ke akar yang paling dalam, leluhur kita adalah orang-orang yang sangat religius. Mereka memahami dengan sangat sungguh sebuah amsal klasik: “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do” — segala liku-liku kehidupan bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah. Mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa diperoleh tanpa pasupasu dari Sang Pencipta.

    Bukti paling nyata dari spiritualitas ini terdapat dalam ucapan salam tradisional kita: “Horas tondi madingin, pir tondi matogu.”

    Perhatikan kata kuncinya: Tondi. Roh. Jiwa. Kata “pir” adalah padanan yang sangat dalam dari kata “horas”. Keduanya, “horas tondi” dan “pir tondi”, secara tegas menekankan pada keselamatan, kedamaian, dan kekuatan roh. Bagi leluhur Batak, keselamatan dan kesejahteraan “tondi” adalah jaminan utama bagi keselamatan dan kesejahteraan jasmani. Jika tondi damai dan kuat, kehidupan lahiriah akan mengikuti.

    Ini bukan takhayul (sepelebegu) sebagaimana dinistakan misionaris antagonistis. Ini adalah teologi yang sangat alkitabiah. Ini adalah kesadaran bahwa yang paling penting bukan apa yang kita miliki, bukan apa yang kita capai, bukan apa yang orang katakan tentang kita — tetapi bagaimana tondi kita di hadapan Allah (Hidup dalam Roh).

     

    Dan di sinilah Injil datang untuk menggenapi pemahaman rohani yang luhur itu. Ketika Paulus berkata, “supaya kamu hidup secara layak di hadapan Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya,” ia sedang berbicara tentang “Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon” yang sejati:

    Hamoraon yang sejati bukanlah tumpukan harta yang fana, melainkan pasupasu pemeliharaan Tuhan yang memampukan kita hidup berkecukupan, tidak menjadi beban, dan justru menjadi saluran berkat (Parbahulbahul na bolon). Ini adalah kekayaan tondi yang tahu bahwa segala miliknya adalah titipan Allah.

    Hagabeon yang sejati bukanlah sekadar banyaknya keturunan secara biologis, melainkan keberlanjutan hidup yang diberkati (gabe), di mana generasi demi generasi dibesarkan dalam takut akan Tuhan, meneruskan iman, dan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

    Hasangapon yang sejati bukanlah pujian manusia atau gengsi marga, melainkan martabat yang datang dari hidup yang selaras dengan kehendak Debata. Kehormatan yang membuat tondi kita tenang, karena kita tahu hidup kita berkenan di hadapan Allah.

     

    ***

    Dan semua itu — kasih yang membagikan hidup, kerja keras yang rendah hati, kehormatan yang transparan, berkat yang rohaniah — bermuara pada satu hal: relasi.

    Kearifan leluhur kita merumuskan relasi itu dengan sangat lengkap: “Dalihan Na Tolu Paopat Sihalsihal.”

    Kita tahu tiga batu tungku itu: hula-hula, dongan sabutuha, boru. Tapi tiga batu saja bisa tidak presisi atau bergeser ketika menahan beban periuk kehidupan yang berat. Di sinilah kehadiran unsur keempat yang sangat krusial: Sihalsihal, batu pengela, batu penyangga. Mereka adalah dongan sahuta, ale-ale, semua pihak di luar garis kekerabatan darah yang mengikat kita dalam kebersamaan. Nilai yang dijunjung tinggi di sini adalah satia mardongan — setia dalam kebersamaan.

    Inilah yang membuat Dalihan Na Tolu bukan sekadar sistem hierarki sosial yang kaku, melainkan sebuah sistem kasih kekerabatan yang hidup, saling menopang, dan penuh kesetiaan.

    Paulus, dalam pelayanannya di Tesalonika, bertindak persis seperti sihalsihal yang setia. Ia tidak menjaga jarak sebagai “Rasul yang suci dan tak tersentuh”. Ia masuk ke dalam kehidupan jemaat, menyangga kelemahan mereka, dan mengikat mereka dengan kasih. Ia berkata: “Seperti seorang bapa terhadap anak-anaknya, kami menasihati kamu, menguatkan hatimu, dan memberi kesaksian.”

    Menasihati bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meluruskan langkah. Menguatkan hati adalah menjadi sihalsihal yang menyangga ketika beban hidup membuat tondi seseorang hampir ambruk. Memberi kesaksian adalah hidup yang bisa diandalkan, yang membuat orang lain merasa aman berada di dekat kita.

     

    ***

     

    Injil tidak datang untuk mencabut identitas kita sebagai orang Batak. Injil datang untuk menyempurnakan yang terbaik dari budaya kita, dan memulihkan yang perlu dipulihkan.

    Holong kita disempurnakan menjadi kasih yang membagikan hidup, bukan hanya membagikan Injil.

    Mangula kita disempurnakan menjadi kerja keras yang marsitutu dan ringgas, yang tidak menjadi beban bagi sesama.

    Hasangapon kita disempurnakan menjadi integritas yang transparan di hadapan Allah dan manusia.

    Dalihan Na Tolu Paopat Sihalsihal kita disempurnakan menjadi relasi yang membimbing dengan hati bapa, bukan menguasai.

    Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon kita disempurnakan menjadi jalan menuju Kerajaan dan kemuliaan Allah, dengan kesadaran penuh bahwa “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do.”

    Maka, mari kita melangkah bukan hanya sebagai orang Kristen, tetapi sebagai orang Batak yang diinjili. Mari kita hidup bukan hanya menurut adat, tetapi menurut kehendak Allah. Mari kita mengasihi bukan hanya menurut tradisi, tetapi menurut teladan Kristus.

    Dan ketika kita menyapa sesama, mari kita ucapkan salam itu bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan keyakinan iman yang dalam:

    “Horas tondi madingin, pir tondi matogu.”

    Biarlah keselamatan dan kekuatan tondi kita yang ada di dalam Kristus menjadi jaminan bahwa hidup kita — dalam segala aspeknya, dalam segala liku-likunya — sedang berjalan menurut kehendak Allah, menuju Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

    Tuhan memberkati kita semua. Amin.

     

    Ch. Robin Simanullang, penulis buku Hita Batak, A Cultural Strategy; dan buku Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab. 

     

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini