
Melalui eksplorasi tekstual yang tajam, penulis mengajak
pembaca untuk melakukan “Pendalaman Supranalar
Alkitab” melalui empat dimensi teologis yang
saling mengunci: dari pembongkaran jarak ontologis
pikiran Allah dan manusia, benturan hikmat ilahi
versus hikmat dunia, misteri inkarnasi, hingga mendaratkan
supranalar dalam bentuk damai sejahtera yang
membentengi jiwa di tengah krisis.
Penulis mengawalinya dalam Prolog: “Supranalar:
Kerangka Berpikir Baru” dengan pertanyaan: Apakah
iman Kristen bertentangan dengan akal sehat?
Sejarah mencatat betapa seringnya iman dituduh
sebagai bentuk “kebutaan intelektual” (blind faith),
sementara rasionalisme sekuler berusaha mereduksi
segala kebenaran Ilahi agar muat dalam laboratorium
logika manusia yang terbatas. Padahal, Alkitab secara
konsisten menawarkan sebuah kerangka berpikir baru
yang jauh lebih megah: Supranalar.

