Nene Royal, Gadis Kecil dengan Gitar dan Mimpi Besar
Dari Pasar Malam Phuket ke Panggung Dunia
Dunia akhirnya mengenal Nene Royal. Namun, yang lebih mengharukan adalah perjalanan panjang seorang gadis kecil yang tekun mengasah bakatnya, tanpa kehilangan kesederhanaan dan kerendahan hatinya.
Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang America’s Got Talent (AGT) 2026, Nene Royal langsung tersungkur di atas panggung. Gadis yang sepanjang kompetisi begitu percaya diri memainkan gitar listrik itu rupanya tidak menyangka akan pulang sebagai juara. Ia bahkan semula hanya berharap bisa mencapai babak final. Malam itu, 23 September 2026 waktu Amerika Serikat, remaja berusia 16 tahun asal Phuket, Thailand, tersebut mencatat sejarah sebagai orang Thailand pertama yang memenangkan AGT.
Di Phuket, Nene sudah cukup lama dikenal sebagai gadis kecil yang gemar bermain gitar di Naka Weekend Market. Hampir setiap akhir pekan ia datang bersama ayahnya, Narong Amloy, untuk memainkan lagu-lagu rock di tengah keramaian pasar. Kini anak yang dahulu biasa tampil di hadapan para pengunjung pasar malam itu menjadi perhatian dunia. Teman-teman sekolah dan orang-orang yang mengenalnya sejak kecil ikut bergembira menyaksikan keberhasilannya.
Nene, yang bernama asli Rattikarn Amloy, sebenarnya mengenal gitar karena sebuah kebetulan. Ketika berusia tujuh tahun, ia ingin mengikuti kursus komputer dalam program musim panas yang diselenggarakan pemerintah kota Phuket. Namun, saat datang mendaftar, kelas komputer sudah penuh. Kelas-kelas lain juga sudah tidak menerima peserta, kecuali kelas musik yang masih menyediakan tempat untuk belajar gitar akustik.
Narong pun harus mencari gitar untuk putrinya. Ia sendiri mengaku ketika itu bahkan tidak tahu banyak tentang gitar akustik dan tidak tahu di mana harus membelinya. Setelah bertanya kepada beberapa teman dan mencoba mencari di pusat perbelanjaan, ia akhirnya menemukan gitar yang dijual di sebuah toko alat tulis. Ia memilih yang paling murah, seharga sekitar 1.900 baht. Kondisinya tidak terlalu bagus, lehernya sedikit bengkok dan posisi senarnya kurang nyaman dimainkan. Gitar itu baru dikeluarkan dari kotaknya ketika Nene hendak mengikuti pelajaran pertama.
Hanya dalam tiga hari belajar, Nene sudah bisa memainkan sebuah lagu. Lagu pertamanya adalah Zombie milik The Cranberries, yang bertahun-tahun kemudian kembali dimainkannya ketika mengikuti audisi AGT. Narong mulai menyadari bahwa putrinya mempunyai kemampuan musik yang patut dikembangkan. Ia pun mencarikan guru gitar, termasuk kesempatan belajar secara daring, sementara Nene sendiri senang mempelajari permainan para gitaris melalui video YouTube.
Masa-masa awal Nene belajar gitar juga terekam dalam sebuah video dari tahun 2017. Di sana, Nene kecil terlihat duduk sambil memegang gitar akustik. Rambutnya dikepang dua, dengan mainan balok warna-warni di dekatnya. Sesekali ia berbicara ke arah kamera. Rekaman itu memperlihatkan seorang anak yang masih begitu kecil, dengan gitar yang perlahan mulai menjadi bagian dari kesehariannya.
Kesukaannya pada musik rock banyak dipengaruhi ayahnya, yang gemar memutar lagu-lagu rock ketika mengemudi. Dari kebiasaan mendengarkan musik bersama itulah Nene mengenal lagu-lagu yang kemudian dipelajarinya sendiri. Ketika mulai memainkan gitar listrik, ia semakin menikmati musik rock dan terus mengembangkan kemampuannya. Narong menyediakan ruang latihan di rumah dan berusaha mencarikan kesempatan agar putrinya bisa tampil di hadapan penonton.
Narong sendiri pernah mempunyai keinginan menjadi musisi. Melihat kesungguhan Nene, ia kemudian banyak mencurahkan waktunya untuk mendampingi putrinya. Kegiatan olahraga yang dahulu digemarinya pun ia kurangi. Hampir setiap pekan mereka pergi ke Naka Weekend Market, tempat Nene mulai memperoleh pengalaman bermain musik di hadapan orang banyak. Tidak sedikit pengunjung yang kemudian mengenal dan mengikuti perkembangan gadis kecil tersebut.
Nene juga mengikuti berbagai kompetisi musik di Thailand. Ia pernah tampil dalam acara televisi Super 10, mengikuti Overdrive Guitar Contest, dan memperoleh penghargaan Outstanding Player pada kompetisi THE POWER BAND. Kegiatan sekolah tetap berjalan, sementara waktu di luar sekolah banyak dihabiskannya untuk berlatih dan bermain musik.
Suatu hari pada awal 2023, Jon Elron dan istrinya sedang berjalan-jalan di Naka Weekend Market ketika mendengar permainan gitar yang menarik perhatian mereka. Setelah mencari asal suara itu, keduanya menemukan seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang masih mengenakan seragam sekolah, sedang memainkan Enter Sandman milik Metallica. Anak itu adalah Nene, yang ketika itu menggunakan nama panggung Angel of Music Rock.
Jon kemudian berkenalan dengan keluarga Nene dan menawarkan bantuan untuk mengembangkan karier musiknya. Ia mulai mendampingi Nene, termasuk mengusahakan kesempatan mengikuti America’s Got Talent. Mereka harus mencoba lebih dari sekali sebelum akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan audisi.
Selama proses itu, Nene tetap bersekolah dan bermain musik di Phuket. Ia juga mulai mendapatkan perhatian dari orang-orang yang menyaksikan penampilannya di pasar malam. Salah satunya seorang penggemar asal Denmark yang pada 2024 memberinya gitar Ibanez Musician MC300. Gitar tersebut kemudian ikut menemani Nene tampil di panggung AGT.
Ketika akhirnya mendapat kesempatan mengikuti AGT 2026, Nene memilih membawakan Zombie, lagu yang pertama kali dipelajarinya ketika berusia tujuh tahun. Dengan gitar listrik dan vokal rock-nya, ia berhasil memperoleh empat persetujuan juri. Penampilannya menarik perhatian penonton dan rekaman audisinya menyebar luas di internet. Ia kemudian membawakan Hysteria milik Muse dan Black Hole Sun milik Soundgarden. Lagu terakhir itulah yang membuat Mel B menekan Golden Buzzer dan membawanya langsung ke babak final.
Jon menangis ketika menyaksikan Nene memperoleh Golden Buzzer. Ia teringat anak perempuan berseragam sekolah yang ditemuinya di pasar malam Phuket lebih dari tiga tahun sebelumnya. Ketika Nene kembali ke belakang panggung dan melihat Jon menangis, keduanya saling berpelukan.
Menjelang final AGT, Nene tetap menjalani kegiatan sekolahnya di Kajonkiet International School. Sepulang sekolah, ia berlatih hampir setiap hari, biasanya mulai pukul lima sore hingga sembilan atau setengah sepuluh malam. Pada 12 September 2026, beberapa hari sebelum kembali berangkat ke Amerika Serikat, ia masih tampil bersama OZONE Band di Naka Weekend Market. Hujan sempat turun sebelum pertunjukan, tetapi para pendukungnya tetap datang untuk menyaksikan Nene bermain di tempat yang selama bertahun-tahun menjadi panggungnya.
Di sekolah, Nene dikenal sebagai anak yang tidak suka menonjolkan diri. Kepala sekolahnya, Gareth Eynon, menceritakan bahwa Nene tidak selalu ingin berada di depan ketika mengikuti pertunjukan musik. Ia juga senang membantu dan menyemangati teman-temannya yang belum berpengalaman tampil. Ketika Nene memenangkan AGT, para guru dan murid berkumpul di sekolah untuk menyaksikan pengumumannya. Anak-anak dari berbagai kelompok usia ikut bersorak untuk teman mereka yang sedang berada jauh di Amerika Serikat.
Pembawaan Nene di luar panggung memang berbeda dengan penampilannya ketika bermain musik. Ia bisa begitu ekspresif membawakan lagu-lagu rock, tetapi dalam wawancara masih terlihat sebagai remaja yang sederhana. Ketika ditanya mengenai pengalaman paling berkesan selama mengikuti AGT, ia justru mengenang audisi pertamanya, saat membawakan Zombie dan melihat para penonton berdiri menikmati penampilannya.
Pada babak final, Nene membawakan Seven Nation Army milik The White Stripes. Ia juga berkesempatan tampil bersama Linkin Park, grup musik rock yang sudah dikenal dunia. Ketika akhirnya dinyatakan sebagai pemenang, ia tersungkur karena terkejut. Sesudahnya, ia mengaku sangat bahagia dan emosional.
Narong tentu mempunyai banyak cerita tentang putrinya. Dari kebingungannya mencari gitar akustik untuk pelajaran musik pertama Nene, mengantarnya bermain di pasar malam hampir setiap pekan, hingga akhirnya mendampinginya mengikuti kompetisi di Amerika Serikat. Jon pun ikut menyaksikan keberhasilan anak perempuan yang dahulu ditemuinya ketika masih mengenakan seragam sekolah di Phuket.
Nene masih berusia 16 tahun. Ia ingin terus mengembangkan kemampuan bermusiknya dan suatu hari merilis lagu-lagunya sendiri. Kemenangan AGT tentu membuka banyak kesempatan baru, termasuk kemungkinan tampil bersama musisi-musisi yang selama ini dikaguminya. Namun, ia juga masih seorang pelajar yang mempunyai keluarga, teman-teman, dan kehidupan yang sudah akrab dengannya di Phuket.
Melihat Nene tersungkur ketika namanya diumumkan sebagai juara, rasanya sulit untuk tidak ikut bergembira. Apalagi setelah mengetahui perjalanan panjangnya bersama sang ayah, dari sebuah gitar murah yang dibeli di toko alat tulis hingga akhirnya berdiri di panggung AGT. Di usianya yang masih begitu muda, ia sudah mencapai sesuatu yang luar biasa. Dan melihat kegembiraan serta kepolosannya malam itu, kita seperti masih bisa mengenali gadis kecil yang dahulu begitu senang memainkan gitarnya di pasar malam Phuket. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)


Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

