Fufufafa Dua Periode
Mendukung 1.000 Persen Katanya
Ada restoran yang belum selesai menyajikan pesanan, tetapi penggemarnya sudah ramai membicarakan cabang kedua.
Dalam politik kita, restoran semacam itu rupanya punya pelanggan setia. Pemilu presiden masih tiga tahun lagi, tetapi urusan Prabowo Subianto dua periode sudah mulai dibicarakan. Golkar lebih dahulu menyatakan dukungan. PKB menyusul dengan semangat yang tampaknya tak ingin kalah. Wakil Ketua Umum PKB Faisol Riza bahkan menyebut dukungan partainya mencapai 100 persen, atau kalau perlu, 1.000 persen, untuk pencalonan kembali Prabowo pada 2029.
Seribu persen. Angka yang luar biasa untuk sebuah dukungan politik, terutama ketika masa jabatan yang sedang berjalan belum sampai di garis akhir. Rupanya, seratus persen masih menyisakan ruang bagi keraguan. Tambahkan satu angka nol, barangkali keraguan itu ikut merasa tidak punya tempat lagi.
Kalau begitu, kita perlu mengapresiasi keberanian PKB memperluas fungsi matematika dalam kehidupan berbangsa. Selama ini angka dipakai untuk menghitung hasil, mengukur capaian, dan membandingkan kenyataan dengan janji. Kini, angka juga bisa dipakai untuk mengukur kesetiaan. Hasil pengukurannya pun mengesankan: sepuluh kali lipat dari penuh, meskipun pertandingan belum selesai.
Dalam Kamus Lorong Kata, gejala semacam ini layak masuk wilayah fufufafa. Istilah itu tidak semata-mata menunjuk ucapan yang absurd. Ia juga cocok untuk perilaku yang begitu yakin pada kebesarannya sendiri sampai kehilangan rasa proporsi. Dalam politik, salah satu bentuknya adalah ketika kesanggupan memuji seolah-olah sudah menjadi prestasi yang tak kalah penting dari pekerjaan yang sedang dinilai.
Kita bisa memahami bahwa partai politik punya kepentingan menjaga koalisi dan menyiapkan dukungan bagi calon yang dianggap layak. Faisol Riza, misalnya, mengaitkan dukungan PKB dengan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat. Itu alasan yang boleh disampaikan dan tentu boleh pula diuji. Namun, ada jarak antara mendukung program yang sedang dijalankan dan memastikan seseorang harus kembali memimpin sebelum periode pertamanya selesai. Jarak itulah yang belakangan terasa bisa dilompati hanya dengan satu angka nol.
Sementara itu, di Kalimantan, persoalan kebakaran hutan dan lahan belum selesai. Kabut asap meluas hingga Malaysia dan Singapura, bahkan dilaporkan mencapai Filipina bagian selatan. Kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk, warga menghadapi gangguan kesehatan, dan sekolah di negara tetangga sempat ditutup. Pemerintah juga mengerahkan upaya penanganan kebakaran. Artinya, pekerjaan itu sedang berlangsung, sementara akibatnya masih dirasakan manusia yang harus hidup di tengah asap.
Di satu sisi, ada pekerjaan yang menuntut penanganan nyata. Di sisi lain, sudah ada yang sibuk menghitung peluang periode kedua. Tentu, dua hal itu tidak harus saling meniadakan. Namun, melihat betapa cepatnya dukungan politik memperoleh angka fantastis, kita bisa bertanya-tanya: jangan-jangan dalam politik, memastikan masa depan pemimpin memang lebih mudah daripada memastikan semua urusan hari ini beres.
Barangkali nanti dukungan politik perlu dilengkapi sertifikat. Surat keputusan partai saja tidak cukup; yang dicari adalah bukti bahwa pemiliknya sudah berhasil mendukung melampaui batas kewajaran. Ada kategori seratus persen untuk pendukung biasa, lima ratus persen untuk pendukung berpengalaman, dan seribu persen untuk mereka yang tak ingin meninggalkan celah sekecil apa pun bagi penilaian kritis. Gelar kehormatan bisa menyusul dan kalau perlu, sebelum masa jabatan selesai sudah tersedia penghargaan atas kesetiaan kepada masa jabatan berikutnya.
Persoalannya terletak pada pertunjukan dukungan yang begitu bernafsu mendahului penilaian, bukan pada hak untuk mendukung dua periode. Pemilu masih jauh, pekerjaan masih berjalan, dan kenyataan belum berhenti menyediakan bahan evaluasi. Namun, sebagian orang tampaknya sudah lebih sibuk memastikan kelanjutan kekuasaan daripada menunggu apa yang akan ditunjukkan oleh kekuasaan itu sendiri.
Lucu sekaligus getir, dukungan semacam itu tidak banyak menuntut bukti dari masa depan. Ia bisa disampaikan sekarang, berdasarkan keyakinan bahwa pemimpin yang sama pantas kembali memimpin. Sementara itu, warga yang berhadapan dengan persoalan hari ini masih menunggu hasil kerja yang bisa dirasakan, bukan sekadar diumumkan. Mereka tidak bisa menghirup seribu persen dukungan untuk menggantikan udara bersih.
Dalam Kamus Lorong Kata, di sinilah fufufafa perlu dibaca lebih tajam. Ia bukan sekadar ucapan konyol, kemunafikan, atau sanjungan yang kelewat tinggi. Fufufafa muncul ketika seseorang begitu sibuk menunjukkan keberpihakan kepada kekuasaan sampai kehilangan jarak untuk menilai apa yang sedang dilakukan kekuasaan itu. Kesetiaan dipertontonkan sebagai prestasi, pujian mengambil alih fungsi penilaian, dan keyakinan bahwa pemimpin layak melanjutkan jabatan datang lebih cepat daripada bukti yang semestinya mendasarinya.
Seribu persen itu akhirnya bukan cuma angka dukungan yang kebablasan. Ia menjadi ukuran betapa jauh kesetiaan bisa berlari meninggalkan penilaian. Pemimpin belum menyelesaikan periode pertamanya, tetapi pendukungnya sudah lebih dahulu mencapai garis finis untuk periode kedua.
Adapun restoran tadi, cabang keduanya boleh saja direncanakan. Namun, sebelum memesan papan nama baru, ada baiknya memastikan pelanggan di cabang pertama sudah mendapat makanan mereka.
Kecuali, tentu saja, tepuk tangan seribu persen memang sudah bisa dijadikan menu.
(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)



