Desainer Berani Tampil Beda

Ghea Panggabean
 
0
338
Ghea Panggabean
Ghea Panggabean (FB@ghea.panggabean)

Sejarah mode Indonesia mencatat kiprahnya di tahun 80-an saat kebanyakan orang mulai terbuai dengan gaya berbusana ala Barat. Ghea, perempuan indo tamatan sekolah mode di Chelsea Academy of Fashion, London ini justru mengusung tradisi Indonesia dalam rancangannya. Namun siapa sangka, sesuatu berbau etnik yang mulanya dianggap kuno dan tak menarik, mampu disulapnya menjadi karya yang cantik, dinamis, sekaligus klasik. Dia percaya bahwa kerja keras akan membuka banyak pintu kesempatan dan keberuntungan. “Follow your heart, do the best,” prinsipnya.

Bagi kalangan pecinta busana, nama Ghea Panggabean tentunya sudah tak asing lagi. Desainer kelahiran Rotterdam, Belanda, 1 Maret 1955 yang sudah berkarya lebih dari empat puluh tahun ini konsisten mengangkat budaya Indonesia. Kain tradisional dari berbagai daerah di Tanah Air yang hampir punah tergerus zaman berhasil dibawanya ke panggung fashion dunia. Ghea, meski terlahir sebagai perempuan blasteran Sunda-Belanda, nyatanya ia amat mencintai kekayaan budaya Indonesia.

Putri pasangan Sutardi Sukarya dan Janne Jannie Horneman ini terlahir dengan nama Siti Giskaeni di klinik Carmenta, yang berada di Heemraad-singel, Rotterdam. Meski terlahir di Belanda, sebenarnya sejak kecil Ghea kerap berpindah negara mengikuti tugas ayahnya, seorang pegawai pajak yang kemudian diangkat menjadi diplomat. Ia pernah tinggal di Rotterdam, Yogyakarta, Jakarta, Bremen, Amsterdam, dan akhirnya kembali ke Jakarta. Ayahnya seorang muslim, ibunya nasrani, meski berbeda ras dan agama, kedua orangtua Ghea saling menghormati. “Kami merayakan natal bersama, kami juga merayakan lebaran. Buat saya kecil, hal itu sangat normal dan biasa saja,” kata Ghea. Justru dari keragaman itu, ia tumbuh menjadi pribadi yang bisa menghormati perbedaan sekaligus mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan.

Ghea juga banyak belajar tentang pentingnya pendidikan dari sang ayah yang banyak hidup prihatin di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Setiap liburan tiba, Ghea “dipaksa” untuk mengeksplorasi keragaman budaya yang ada di setiap negara yang dikunjunginya. Rasa bosan kadang menyergapnya, saat ayahnya selalu bercerita tentang sejarah, seni, hingga arsitektur. Ayahnya pernah mengatakan bahwa budaya adalah identitas bangsa yang harus dibanggakan, tidak boleh luntur oleh apapun. Selain itu, Ghea juga ditanamkan untuk rajin membaca karena buku merupakan investasi terbaik selain pendidikan.

Semasa kecil, sang ayah mengenang sosok Ghea sebagai gadis yang menyenangkan. Ghea kecil sangat hobi menyanyi, di mana saja ia berada ia selalu bersenandung, entah itu di rumah atau di dalam mobil. Bakat seninya yang lain adalah menggambar, ibunya bahkan menyimpan coretan-coretan Ghea di masa kecil. “Waktu itu saya berpikir kelak akan menjadi seniman,” kata Ghea mengenang masa kecilnya. Di kemudian hari bakat menggambarnya berhasil mengantar Ghea menjadi seorang desainer ternama.

Selain menonjol di bidang seni, Ghea juga anak yang pandai berkomunikasi, karena itu ia mudah berteman. Satu hal lagi yang menarik dari pribadi seorang Ghea di waktu kecil, Ghea seakan tak memiliki rasa takut. Orang-orang terdekat bahkan sering terkaget-kaget karena ulahnya yang memikat hati banyak orang. Misalnya saat pembukaan Sendratari Ramayana yang digelar di Yogyakarta tahun 1960 silam. Dari sekian banyak tamu yang hadir dalam acara kesenian tersebut, ada sosok Charlie Chaplin. Kala itu, Ghea kecil memikat hati Chaplin, ia tak malu-malu memperkenalkan diri kendati ia tak pernah mengenal Chaplin. Ghea yang supel seketika langsung akrab dengan Chaplin, bahkan sepanjang pergelaran ia duduk di pangkuan aktor film bisu ternama asal Inggris itu.

Kelebihan lain yang ada dalam dirinya adalah kreativitas yang bahkan sudah terlihat di usianya yang masih belia. Setiap ada keluarga yang berulang tahun, ia dibiasakan untuk membuat kartu ulang tahun sendiri yang bertuliskan kata-kata indah. Soal kemampuannya dalam merangkai kata, Ghea mewarisinya dari sang ayah yang pernah bercita-cita menjadi penyair.

Wujudkan Mimpi Menjadi Desainer

Buku cerita perjalanan 40 tahun berkarya Ghea Panggabean berjudul Asian Bohemian Chic: Indonesian Heritage Becomes Fashion. (Ghea Panggabean)

Memasuki usia remaja, Ghea yang melalui sebagian masa remajanya di kota Amsterdam, Belanda mulai menunjukkan ketertarikannya pada bidang fashion. Saat itu sekitar tahun 60-an, negeri Kincir Angin tengah dilanda demam berdandan ala bohemian. Ghea dengan cepat terkesima dengan gaya berbusana yang terbilang unik di masa itu. Tak mau ketinggalan tren, Ghea pun membeli baju militer, kalung India, hingga tas tentara yang kemudian dicoret-coret dengan kalimat: love and peace.

Bukan cuma soal gaya busana yang berubah, namun juga karakter Ghea yang kemudian menjadi sulit diatur. Ia cenderung menjadi pemberontak dan menolak gaya berpakaian yang diajarkan ibunya saat itu, paduan twinset dan rok kotak-kotak ala anak sekolah di Inggris lengkap dengan sepatu Lacknya. Walau di hati kecilnya ia tahu bahwa ibunya sangat sedih melihat penampilan baru Ghea. Tapi mau bagaimana lagi, Ghea terlanjur berpikiran jika anak-anak remaja di masa itu kalau tidak berdandan bohemian dianggap tidak ‘in’.

Advertisement

Seiring waktu, Ghea pun tumbuh menjadi sosok wanita yang tak hanya ikut-ikutan tren tapi justru dengan kreativitas sendiri, dia berhasil menciptakan gaya dan penampilannya sendiri.

Kreativitas Ghea terus berlanjut saat pulang ke Indonesia dan meneruskan sekolahnya di SMA Tarakanita, Jakarta. Kekayaan imajinasinya dalam bidang fashion membuat Ghea kerap membantu teman-teman sekolahnya menyiapkan kostum-kostum pentas. Sejak itulah, keinginan untuk menjadi seorang desainer terlintas di benaknya. Cita-cita itu tergolong langka, mengingat ketika itu sekitar tahun 60-an, infrastruktur mode belum terbentuk di Indonesia. Masyarakat masih belum mengenal desainer, kecuali tukang jahit pakaian. Meskipun demikian, Ghea tetap kukuh dengan pendiriannya.

Sayang, semua tidak berjalan semulus yang ia kira lantaran ayahnya tidak mengizinkan Ghea untuk mengambil sekolah mode. Hal itu bisa dipahami karena ketika itu profesi desainer belum ada pakemnya. Belakangan Ayah Ghea mulai melunak dan memberi izin Ghea untuk masuk sekolah mode asal ia berhasil menyelesaikan pendidikan formal terlebih dahulu. Syarat itu langsung disanggupi Ghea. Ia lantas memilih untuk berkuliah di Teknik Seni Rupa Trisakti, dibanding dengan jurusan Sastra Prancis di Universitas Indonesia, dengan pertimbangan bahwa seni rupa dekat dengan dunia desain.

Namun, perkiraan Ghea meleset, karena jurusan yang diambilnya ternyata mengajarkan menggambar teknis secara matematis. Ghea pun tak sanggup, kendati sudah habis-habisan ingin menyelesaikan kuliah demi mengejar sekolah mode. Hingga akhirnya ia menyerah, tapi sang ayah tetap tegas dengan pendiriannya: harus menyelesaikan pendidikan formal dan mendapat pekerjaan. “Kamu seorang perempuan, harus bisa bekerja. Tidak boleh tergantung laki-laki atau suami. Kamu harus punya pegangan,” kata Ghea mengutip ucapan sang ayah.

Ghea pun menurut, meski pada akhirnya ia pindah jurusan dan berkuliah di Stamford Secretary and Management di Singapura. Kali ini Ghea tak menemukan kendala, hingga akhirnya ia berhasil merampungkan kuliahnya. Setelah lulus, ia bekerja sebagai sekretaris Prof. Dr. Priyatna Abdurrayid, SH, PhD, seorang ahli hukum aeronatika di Jakarta. Semua kerja keras itu dilakukannya semata-mata demi meyakinkan sang ayah. Di kemudian hari, meski awalnya dijalani dengan setengah hati, Ghea merasakan manfaat ilmu yang didapatnya di bangku kuliah, “Ternyata pendidikan ini sangat berguna untuk saya, baik untuk membuat surat untuk klien, presentasi, maupun dalam manajemen,” ujar Ghea sebagaimana dikutip dari blog Rustika Herlambang.

Dengan keberhasilannya menyelesaikan kuliah, Ghea pun dapat mewujudkan impiannya menjadi seorang desainer. Ia kemudian mulai mendalami ilmu tata busana di Lucie Clayton College of Dress Making dan Chelsea Academy of Fashion, London, hingga lulus. Saat cita-citanya belum juga terwujud, ia memutuskan untuk menikah dengan Doddy Sukasah hingga melahirkan buah cintanya, si kembar Amanda dan Janna. Mungkin karena masih sangat muda, baik secara emosi maupun usia, pernikahan Ghea-Doddy hanya mampu bertahan selama 15 tahun.

Usung Kekayaan Tradisi Indonesia

Ghea Panggabean Usung Kekayaan Tradisi Indonesia (FB@ghea.panggabean)

Setelah bertahun-tahun bermukim di Eropa, Ghea akhirnya pulang dan memilih untuk berkarya di Indonesia. Keputusan itu didasari kerinduan dan ketertarikannya pada keragaman budaya Indonesia, sesuatu yang tak ditemukannya di Eropa. Dengan bermodal satu buah mesin jahit, Ghea pun merintis kariernya sebagai desainer.

“Ada dua hal dalam pikiran saya. Pertama, saya seorang desainer Indonesia, harus mengangkat sesuatu dari Indonesia. Saya tak malu kendati tak banyak orang berpikiran seperti itu. Kedua, saya ingin karya saya tidak sekadar seni (art), tapi harus memenuhi unsur seni dan klasik. Seperti lukisan, meski sudah 10 tahun, ia masih bisa dinikmati,” ucapnya berapi-api.

Ia kemudian memilih kain Lurik Jawa sebagai bahan kreativitas pertamanya. Harga kain lurik yang terbilang murah, dirasa cocok dengan kemampuan finansialnya yang saat itu belum memadai, kecuali uang sebanyak Rp500 ribu, yang didapat dari hasil pernikahannya. Tanpa berpikir apa-apa kecuali membuat sesuatu yang baru dengan “bekal” pendidikan yang dipelajarinya di Inggris, kain dengan harga murah itu kemudian diberi sentuhan hingga menjadi karya yang lebih progresif. Namun betapa girangnya dia ketika busana itu berhasil terjual dengan harga Rp18 ribu rupiah.

Keberhasilan pertama itu kemudian kian memacu semangatnya untuk terus menghasilkan karya berkualitas. Sekitar pertengahan tahun 80-an, Ghea muda melakukan gebrakan baru di dunia fashion yakni dengan mengeksplorasi kain jumputan. Lewat sentuhan tangan kreatifnya, kain tradisional itu tampil lebih menarik dan modern dengan motif yang semakin berkembang dan variatif. Karya inovatif itu berhasil membuat Ghea memenangkan Aparel Award sebagai Indonesia’s Best Ready to Wear Designers 1987.

Konsistensi mantan konsultan Pasaraya ini untuk terus menggali kekayaan tekstil Indonesia pada akhirnya menghantarkannya keliling dunia. Dia rutin hadir dalam fashion show di kota-kota besar Eropa untuk melihat kecenderungan busana yang akan menjadi trend di tahun berikutnya. Di dalam negeri, bersama sejumlah desainer lokal, Ghea sering diajak dalam perjalanan promosi kebudayaan oleh pemerintah. Ia juga pernah mendapat kesempatan dari Departemen Perindustrian untuk berkunjung ke perajin tekstil di Padang.

Misi tersebut membawa pesan kreatif agar para perajin lebih melek mode, warna, dan rancangan busana. Meski tetap memperhatikan pakem tradisional agar tidak kehilangan identitasnya, namun pakem tersebut dibuat lebih fleksibel agar mudah diterima lebih banyak kalangan. Agar terus dapat berinovasi, Ghea tak lelah untuk menggali dan mengeksplorasi kain-kain tradisi Indonesia seperti batik Lasem, Ulos Tapanuli, kain Aceh, motif Sumba, Gringsing Bali, Peranakan, Songket Limar, dan masih banyak lagi.

Keinginan Ghea untuk mempopulerkan kekayaan fashion tradisional Indonesia sempat berbenturan dengan belanja metropolitan yakni saat merek Eropa menjadi primadona yang kelasnya seakan berada jauh di atas produk dalam negeri. Walaupun demikian, dengan penuh kesabaran ia terus mengkreasikan kain-kain tradisional sebagai busana “ethnic ready to wear deluxe”.

Meski dalam perjalanannya, hambatan dan rintangan kerap dihadapinya. Salah satunya adalah memperjuangkan keyakinannya dalam mengolah inspirasi tradisi. Seperti saat berkreasi dengan kain jumputan yang dibuatnya tidak hanya pada fabrics asli, namun juga dalam bentuk print lantaran menurutnya untuk membuat kain jumputan membutuhkan waktu yang lama. “Apakah saya harus menunggu berminggu-minggu untuk menunggu satu kain jadi? Lalu bagaimana saya harus mengisi satu toko dengan beberapa rak yang harus diisi? Tak apa saya bikin ready to wear untuk tradisi. Kadang kita harus berpikir secara industri.”

Sebagai insan kreatif, Ghea juga kerap dibuat kesal karena maraknya pembajakan. Karya yang dibuat dengan keringat dan kerja keras selama berbulan-bulan hingga akhirnya dianggap sukses, tiba-tiba saja ada di pasaran dengan harga sangat murah. Awalnya ia ingin marah, tapi akhirnya berusaha berpikir positif. “Bila sampai karya saya ditiru, ini artinya barang bagus. Saya percaya, orang juga ingin produk asli, sehingga pasar saya masih ada. Ini juga tantangan supaya kita berkarya lebih baik lagi. Saya yakin, hidup terus berjalan, kreativitas saya akan terus berkembang. Fashion itu bukan saling mencontek, tapi saling memberikan inspirasi. Kita harus mengikuti tren, tapi harus ada unsur-unsur orisinil yang lahir dari karakter desainer tersebut,” ucapnya.

Persoalan tadi hanya segelintir dari setumpuk masalah yang harus ditanggungnya sebagai sebuah risiko pekerjaan. Layaknya manusia pada umumnya Ghea acapkali merasa tertekan. Namun ia punya cara jitu untuk mengatasi segala tekanan itu yakni dengan terapi bersyukur, menerima segala sesuatu dengan penuh rasa syukur dan yakin bahwa semua sesuatu yang terjadi atas dirinya sudah digariskan Sang Pencipta.

Selain itu, untuk menjaga keseimbangan hidup, ia menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya dengan Body Language, minum Noni Juice, belajar Reiki, Meditasi, dan Yoga, di samping mendengarkan musik sambil bergoyang-goyang mengikuti irama, suatu hobi yang membuat Ghea selalu merasa muda dan bahagia. Tak hanya sebagai pelepas penat, musik juga menemaninya berkarya, khususnya musik-musik tahun 1970-an.

Dari musik pula Ghea mendapat inspirasi membuat baju muslim. Inspirasi diakuinya datang setelah mendengar lagu-lagu irama padang pasir. Pada Juli 2011, ia ikut ambil bagian dalam peragaan busana muslim yang digelar Islamic Fashion Festival (IFF) dengan tema “Eastern Treasures”, di Hotel Mandarin Oriental Hyde Park, London, Inggris. Tak dinyana, meski umat muslim Inggris terbilang kaum minoritas, busana muslim rancangan Ghea ternyata amat diminati. Yang lebih membanggakan, para peminat itu datang dari wanita kalangan atas, salah satunya Putri Charlotte Casiraghi dari Monako.

Ghea di Mata Buah Hatinya

Si Kembar Amanda Soekasah dan Janna Soekasah, Anak Desainer Ghea Panggabean (IG @jannasoekasah.joesoef)

Karier cemerlang ditambah kehidupan keluarga yang bahagia, membuat hidupnya nyaris sempurna. Senyumnya semakin sumringah mengingat kerja kerasnya selalu mendapat dukungan salah satunya dari Janna dan Amanda, dua putri kembarnya yang bahkan tak hanya memberi dorongan moril tapi juga langsung bertindak sebagai rekan kerja yang hebat.

Janna dan Amanda yang sudah terbiasa melihat kesibukan Ghea yang luar biasa mulanya tak berniat mengikuti jejak sang Ibu menjadi wanita karier. Saat kecil, mereka sering dititipkan pada neneknya. Sementara Ghea melanglang ke berbagai negara untuk mempromosikan kreasinya. Meski tak pernah merasa kesepian, suatu kali mereka bertanya,”Mama, mengapa mama sibuk sekali? Kenapa Mama tidak seperti mama-mama temanku yang lain?” Kala itu, Ghea menjawab dengan penuh kasih sayang, “Karena mama ingin kamu bisa memiliki apa-apa yang juga dimiliki oleh anak lainnya.”

Janji pada dua putrinya itu pun ditepati Ghea. Hal inilah yang membuat kedua putri kembarnya merasakan bahwa ibunya selalu memperhatikan mereka. “Mama selalu punya cara untuk mewujudkan keinginan kami, Kolam renang, misalnya, mama buatkan dengan caranya sendiri. Atau ketika kami ingin ke Disneyland, kami benar-benar menikmati liburan bertiga dengan sangat menyenangkan.”

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi putri kembarnya terjadi di Paris, tahun 2001. Ketika itu, aktor Hollywood kesayangan kedua putrinya, Mark Wahlberg, berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat raut muka kedua putrinya memerah karena kegirangan, Ghea mendatangi Mark, yang sedang dalam proses syuting film The Truth About Charlie. Ia memperkenalkan diri, lalu berkata, “Hi Mark, anak-anakku sangat mengagumimu. Maukah kamu bertemu dan berkenalan dengan mereka?”

Bagi Ghea, anak-anak adalah prioritas pertamanya. Mantan suaminya, Doddy, menyebut Ghea adalah ibu yang baik untuk anak-anaknya. Ia dianggap memiliki kepedulian yang lebih terhadap anak-anaknya. Upaya ini dilakukan Ghea, seperti yang dikatakannya, untuk menebus rasa bersalah karena terlalu sibuk sehingga jarang menghabiskan waktu bersama buah hatinya.

Di mata kedua putrinya, selain pekerja keras, Ghea adalah sosok yang berkeinginan kuat, selalu bekerja sepenuh hati dan perfeksionis. Sifat perfeksionisnya kadang membuat Ghea terlihat emosional. Ia spontan marah bila menghadapi masalah. “Kemarahan” dilakukan karena ia ingin mendapatkan hasil terbaik dari setiap hal yang dilakukan. Namun, ia juga mudah bangkit dari kesulitan.

Hidup Penuh Keberuntungan

Ghea Panggabean Go International (Fashionmag)

Dari sekian banyak hal tentang dirinya, yang paling menarik adalah keberuntungan yang selalu menaungi perjalanan hidupnya. seperti yang dikatakan salah satu putrinya, Janna. Misalnya  Ghea berkesempatan untuk bertemu dengan Pangeran Albert saat menggelar show di Eropa, mendapat kiriman champagne dari Raja Arab, selalu bisa lolos overweight pesawat, dijamu petinju Muhammad Ali pada tahun 1973 karena sarung tangan yang dilempar Ali jatuh di tangannya, bahkan pernah duduk berdekatan dengan mendiang Lady Diana.

Semua cerita keberuntungan itu sesungguhnya berawal dari keinginan yang kemudian diwujudkan lewat upaya. Penampilan dan wawasannya yang luas adalah salah satu modal utamanya. Selain menguasai 5 bahasa secara aktif, yakni Belanda, Jerman, Inggris, Indonesia, dan Prancis, ia dikenal memiliki pendekatan persuasif yang baik. Tanpa kepandaian ini, tentu sebuah armada Eropa tidak akan memindahkan tiket kelas ekonomi ke kelas eksekutif dengan cuma-cuma, seperti pengalaman yang dirasakan oleh Chossy Latu bersama Ghea sepulang dari show di Kopenhagen. Atau sebuah gedung mau menyalakan lagi lampu-lampunya dan air mancurnya pada pukul 2 dini hari demi melayani keinginan Ghea berpose di depan gedung bersejarah di Stockholm itu.

“Mungkin tak banyak orang yang mengerti. Di balik seluruh keberuntungan yang selalu menaungi, ada kerja keras di sana. I really really really work hard, tidak pernah berhenti, berdedikasi, dan perfeksionis. Follow your heart, do the best,” kata peraih 10th Best of ASEAN Designers Award di Singapura ini.

Hidup terasa kian lengkap bagi Ghea setelah kehadiran Baringin Panggabean, pria yang kini menjadi suami sekaligus ayah dari putra ketiganya Igor Panggabean. Sosok Baringin yang dewasa, pendiam, rendah hati, dan memiliki pengetahuan bisnis yang baik dirasa cukup tangguh menjadi pendamping hidup seorang wanita super aktif seperti Ghea. e-ti | muli, cid, red (berbagai sumber termasuk blog Rustika Herlambang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini