Politisi Lintas Profesi

[ Aziz Syamsuddin ]
 
0
233
Aziz Syamsuddin
Aziz Syamsuddin | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dia politisi muda berwawasan lintas profesi. Meski masih muda Aziz Syamsuddin sudah menekuni beberapa profesi, mulai dari bankir, advokat sampai anggota DPR-RI. Namun dalam aneka profesi itu, dia selalu konsisten untuk menempatkan diri in lining dengan level ground basic-nya di bidang keuangan dan hukum.

Karier politik pria kelahiran Jakarta, 31 Juli 1970, bernama lengkap HM Aziz Syamsuddin, ini tergolong luar biasa. Masih muda dan baru pertama kali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2004, penyandang empat gelar SE, SH, MH, MAF, ini langsung mendapat kepercayaan besar dari rakyat.

Lebih luar biasanya lagi, Aziz Syamsuddin melenggang ke Senayan (istilah popular untuk Gedung DPR/MPR-RI yang berlokasi di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat) sebagai anggota DPR-RI periode 2004-2009, dengan meraup dukungan sebesar 46, 261 suara (11, 30 % dari total suara pemilih).

Pada Pemilu Legislatif 2004, peraih gelar Master Applied Finance (MAF) dari University of Western Sydney, Australia (1998) ini menempati nomor urut dua untuk Daerah Pemilihan (Dapil II) Provinsi Lampung dari Partai Golkar.

Dapil II Lampung meliputi Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Utara, dan Kabupaten Lampung Tengah.

Begitu mengetahui dirinya terpilih sebagai wakil rakyat, perasaan bahagia dan bangga tentu saja membuncah di dadanya.

“Alhamdulillah, berkat kehendak Allah SWT, saya mendapatkan kepercayaan masyarakat Lampung sebagai anggota DPR untuk periode 2004-2009,” ungkap Aziz.

Namun, seiring dengan itu, pria penggemar olah raga joging, treadmill, dan golf ini mengaku, perasaan was-was sempat mendera jiwanya.

Pertanyaan retoris, “apakah saya mampu menjaga amanah dan memperjuangkan apirasi rakyat Lampung yang telah memilih saya pada Pemilu 2004 lalu?”, menurutnya, senantiasa mengiringi setiap tuturan dan tindakannya sebagai wakil rakyat.

Penyandang Magister Hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung, ini selalu menanamkan dalam batinnya: dia harus mau dan mampu menjaga dan memperjuangkan amanah rakyat yang memilihnya, dan semoga kehendak rakyat dan kemauannya mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Kesuksesan seorang Aziz Syamsuddin tak lepas dari kegandrungannya untuk tak henti-hentinya memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan, yang diperolehnya dari jalur pendidikan.

Belajar itu hukumnya wajib, tanpa dibatasi ruang dan waktu, sejak dari buaian ibunda hingga akhirnya maut menjemput dan jasad dimasukkan ke liang lahat.

Kemauan besar untuk terus belajar merupakan syarat mutlak dari kesuksesan. Setiap ada kesempatan, dia selalu belajar dan belajar. Sejumlah gelar yang tertera di belakang namanya merupakan indikasi betapa gemarnya seorang Aziz menyerap ilmu pengetahuan.

Apalagi, dia selalu meyakini bahwa Allah SWT memberikan kebebasan kepada umat-Nya untuk memperbanyak ilmu pengetahuan, sampai-sampai ada pesan ilahi: “Tuntutlah ilmu bahkan sampai ke negeri Cina”.

Berangkat dari motivasi spiritual itulah, Aziz Syamsuddin memperdalam ilmu ekonomi (S-1 dan S-2) dan ilmu hukum (S-1, S-2, dan S-3) sebagai bekal dirinya mengaktualisasikan diri.

Dan, konsekuen dengan basis keyakinan tersebut, dalam mengaktualisasikan diri di dunia politik praktis dan bisnis, Aziz mendayagunakan segenap kapasitas wawasan dan talentanya di bidang applied finance dan hukum.

“Berbekal prinsip dan semangat itu, saya akan berjuang agar pendidikan dasar di negeri ini digratiskan sehingga tidak ada lagi rakyat yang buta huruf,” cetus kandidat doktor (S-3) pada Program Pascasarjana, Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, yang tengah menyusun tesis bertema: “Tinjauan Yuridis Lokalisasi Judi dari Perspektif Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang”, ini.

Aziz berpandangan, walaupun bergiat di pentas politik dan di dunia bisnis, seseorang mesti memiliki wawasan legal ground basic atau basis keahlian yang memadai. Tanpa dasar yang kuat, orang akan kehilangan arah.

Bila seseorang yang memutuskan untuk berkecimpung di dunia bisnis, politik, atau organisasi tidak mempunyai keahlian dasar yang kuat, atau talenta yang andal, di bidang-bidang yang digeluti tadi maka pekerjaan yang dilakoninya relatif tidak akan memberikan hasil maksimal karena sifatnya trial and error.

Walaupun hal itu tidak bisa digeneralisasi secara kaku, sebab setiap orang memiliki keberuntungan (fortune) berbeda-beda satu sama lainnya, namun keberuntungan diri sendiri haruslah bersifat terukur.

Maksudnya, diri harus bisa menakar sejauh mana peluang target-target yang ditetapkan dapat tercapai dengan mendasarkan pada besaran kapasitas keilmuan dan talenta yang dimiliki.

“Bila kita mengharapkan datangnya keberuntungan itu dan menganggapnya hanya sebagai keajaiban tangan Tuhan, tanpa ada ikhtiar sama sekali, itu merupakan sikap yang sangat fatal dan justru membahayakan diri sendiri,” ungkap Aziz berargumen.

“Kita juga memang tidak bisa mengesampingkan adanya faktor kekuasan tangan Tuhan yang niscaya sifatnya. Sekuat apapun kita berusaha, bila Tuhan memutuskan tidak, maka tidak. Tapi tanpa usaha yang terukur, Tuhan pun tidak akan mengabulkan doa dan permohonan kita. Tidak ada ceritanya, orang yang hanya duduk-duduk santai bisa sukses.”

Aktivitas berzikir atau mendekatkan diri secara ikhlas kepada Tuhan cenderung dijalankan pada malam hari. Sangat jarang dilakukan pada siang hari sebab pada siang hari itu harus diisi dengan bekerja dan berusaha secara nyata.

Aktualisasi Diri Berbasis Keilmuan
Setelah berkantor di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Aziz juga diberi kepercayaan oleh Partai Golkar menjadi Koordinator Hubungan Wilayah (Hubwil) Sumatera dalam struktur kepengurusan Fraksi Partai Golkar DPR-RI.

Dengan jabatan itu, Aziz bertanggung jawab melakukan koordinasi seluruh anggota DPR dari Partai Golkar yang berasal atau mewakili enam provinsi: Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Riau.
Secara eksternal, Aziz ditugaskan partainya bergabung ke Komisi III DPR yang membawahi bidang Hukum, Perundang-undangan, dan Keamanan.

Dia terima dan jalani tugas tersebut dengan sepenuh hati tanggung jawab, dan suka cita. Dia tidak menemui kesulitan sama sekali bertugas di Komisi III karena kebetulan bidang yang dibawahi sangat berkaitan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman praktisnya selama ini, yakni ekonomi dan hukum.

Dalam menjalankan tiga fungsi utamanya: pengawasan (controling), penetapan anggaran (budgeting), dan penyusunan perundang-undangan (legislation), Komisi III bermitra kerja dengan banyak instansi dan lembaga pemerintah yang berkaitan dengan bidang-bidang hukum, perundang-undangan, dan keamanan.

Sebut saja, antara lain, Departemen Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung RI, Kepolisian RI, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Nasional HAM, Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Hukum Nasional, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan, dan Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Segenap pengetahuan dan wawasan ekonomi dan hukum yang dimilikinya ternyata sangat bermanfaat dan menunjang kinerjanya sebagai anggota Dewan.

Misalnya, dalam hal proses pembuatan undang-undang dan dalam pelaksanaan fungsi pengawasan kepada mitra-mitra kerja Komisi III, karena memiliki basis pengetahuan dan pemahaman yang kuat, dia mengaku dapat mengerti teknis permasalahan dan aturan main yang melingkupi mitra-mitra kerja Komisi III.

Sekadar contoh, ketika menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja Polri, salah satu mitra Komisi III yang membawahi bidang keamanan, dia mengetahui bagaimana hukum beracara di kepolisian.

Pengalaman praktisnya sebagai advokat atau pengacara membuatnya sangat memahami apa dan bagaimana ketentuan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Dari segi ekonomi, katakanlah mengenai persoalan pasar modal, Aziz memiliki basis keilmuan di bidang applied finance. Tak hanya itu. Dunia pasar modal juga sangat berkaitan dengan aspek hukum, bukan melulu teknis ekonomi.

Meski sebagai anggota legislatif, dia merasa tetap dapat mengkritisi berbagai kebijakan pasar modal yang ditetapkan dan diterapkan pemerintah, baik dari perspektif ekonomi maupun dari sudut pandang hukum, dengan pendekatan fungsi pengawasan dan fungsi legislasi (perundang-undangan) DPR.

Misalnya, bila terjadi permasalahan insider trading atau money laundering (tindak pidana pencucian uang) di pasar modal, yang notabene bersinggungan dengan aspek hukum, dia tetap mampu menyikapinya, mengkritisinya, dan mengemukakan pandangan dan argumentasinya dari perspektif hukum.

Singkatnya, pilihan Aziz untuk bergabung di Komisi III sangat tepat karena segenap persoalan dan sebagian besar instansi/lembaga pemerintah yang menjadi mitra kerja Komisi III berhubungan erat dengan konstelasi hukum, yang bisa dia soroti berbekal basis pengetahuan dan pengalaman hukum yang dia peroleh dari jalur pendidikan serta aktivitas profesi.

Dia berpandangan, lebih baik mengawasi atau mengkritisi kinerja pihak-pihak lain dengan ukungan basis keilmuan dan pengetahuan yang memadai.

Sehingga, pada gilirannya, dia dapat mengontrol bagaimana satu aturan main yang telah disepakati bersama idealnya diberlakukan. Dengan demikian, dia sudah punya parameter baku dalam melaksanakan fungsi pengawasan.

Sebaliknya, jika bergabung ke komisi-komisi lain, yang mengurusi bidang-bidang di luar basis keilmuan dan pengetahuan yang dia miliki (hukum dan keuangan), maka Aziz sangat menyadari konsekuensinya: dia harus mereka-reka lagi dan praktis belajar dari nol kembali bidang-bidang tersebut.

Karena itulah, ketika ada proses pemilihan komisi di tubuh Fraksi Partai Golkar, Aziz Syamsuddin cenderung memilih Komisi III (bidang hukum) atau Komisi XI (bidang keuangan) sebagai wujud konsistensi untuk menjadi seorang politikus yang berwawasan profsional.

Selaras dengan konsistensi sikapnya itu Aziz pun dipercaya sebagai anggota Departemen Hukum Lembaga Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar.

Bisnis Berorientasi Profesional
Di setiap interaksi sosialnya baik dalam kehidupan bermasyarakat, beroganisasi, maupun berpolitik, Aziz Syamsudin senantiasa berorientasi profesional selaras dengan dasar keilmuan yang dimilikinya (hukum dan finance). Dalam dunia bisnis pun, dia hanya mau menggeluti bidang bisnis yang in line dengan pijakan ilmu finance-nya.

Dia tidak akan mau berbisnis di bidang teknologi informasi (information technology/IT), misalnya, karena tidak mengerti dan tidak mempunyai pengetahuan ihwal seluk-beluk IT.

Tapi, untuk usaha di bidang konsultan hukum, pasar modal, atau sekuritas, dia mau dan mampu berkecimpung di sana.

Misalnya, dia bisa mengukur berapa fluktuasi nilai uang dan nilai pasar, serta bisa memprediksi berapa keuntungan yang dapat dicapai dari pengukuran tersebut. Walaupun hal tersebut tidak bisa diukur secara persis berdasarkan rasio, tapi paling tidak dia punya tolok ukur atau kriteria dalam melakukan prediksi terhadap trend pasar. Ada sejumlah faktor yang bisa dikategorisasikan. Spektrumnya bisa ditentukan. e-ti/anis fuad

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here