Pejabat Presiden RI (RIS)

[ Assaat ]
 
0
989
Mr. Assaat
Mr. Assaat | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Mr. Assaat. lahir di Dusun Pincuran Landai, Kanagarian Kubang Putih, Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904 dan meninggal di  Jakarta, 16 Juni 1976. Dia adalah tokoh pejuang Indonesia, yang pernah menjabat Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan Badan Pekerja (1946-1949), Pejabat Presiden Republik Indonesia yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) di Yogyakarta (Desember 1949 – Agustus 1950), Anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Menteri Dalam Negeri Kabinet Natsir (September 1950 – Maret 1951).[1]

Assaat mangawali pendidikan di sekolah agama Adabiah di Padang. Kemudian melanjut ke MULO Padang. Lalu hijarah ke Jalarta untuk melanjut ke School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Namun, karena erasa tidak cocok menjadi seorang dokter, dia keluar dari STOVIA dan melanjutkan ke AMS (SMA). Setelah dari AMS, Assaat meneruskan studinya ke Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi, yang kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Jakarta. Setelah itu melanjutkan study ke Belanda hingga memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr) atau Sarjana Hukum.

Saat mahasiswa di Rechts Hoge School, Assaat sudah aktif dalam gerakan kebangsaan yakni dalam gerakan pemuda, Jong Sumatranen Bond. Dia pun aktif sebagai anggota Pengurus Besar Perhimpunan Pemuda Indonesia. Lalu, ketika Perhimpunan Pemuda Indonesia bersatu dalam Indonesia Muda, dia dipercaya menjadi Bendahara Komisaris Besar Indonesia Muda.

Lalu bergabung dalam gerakan politik Partai Indonesia (Partindo), bersama Adenan Kapau Gani, Adam Malik, Amir Sjarifoeddin dan lain-lain. Akibat kegiatan politik pergerakan kebangsaan tersebut diketahui oleh pengajar dan pihak kolonial Belanda, sehingga dia tidak diluluskan. Padahal dia sudah belajar sungguh-sungguh dan telah pula beberapa kali mengikuti ujian akhir.

Merasa tersinggung atas perlakuan itu, dia memutuskan meninggalkan Rechts Hoge School Jakarta dan melanjutkan pendidikan ke Belanda hingga memperoleh gelar “Meester in de Rechten” (Mr) atau Sarjana Hukum. Sekembali dari Belanda (1939), Mr. Assaat juga sempath aktif sebagai advokat (pengacara) hingga masuknya Jepang ke Indonesia (1942). Kemudian, pada zaman pendudukan Jepang, dia diangkat menjadi Camat Gambir, kemudian Wedana Mangga Besar di Jakarta.

Aktivitas perjuangannya berpuncak pada tahun 1946-1949 saat dia menjabat Ketua Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang merupakan cikal-bakal parlemen (DPR-MPR) Indonesia. Lalu, dia Terpilih menjadi Ketua KNIP kedua dan terakhir (1946-1949). Pada masa revolusi, KNIP dan Badan Pekerja KNIP dua kali hijrah karena situasi agar Revolusi Indonesia tetap berjalan. Awalnya berkedudukan di Jakarta, dengan tempat bersidang di bekas Gedung Komedi (kini Gedung Kesenian Jakarta) di Pasar Baru dan di gedung Palang Merah Indonesia di Jl. Kramat Raya. Sekitar tahun 1945 KNIP hijrah ke Yogyakarta, lalu sempat pindah lagi ke Purworejo, Jawa Tengah. Lalu, kembali lagi ke Yogyakarta karena situasi di Purworejo sudah kurang aman. Pada saat itu Mr. Assaat duduk sebagai anggota sekretariatnya. Tidak lama kemudian dia ditunjuk menjadi ketua BP-KNIPdan Ketua KNIP.

Saat perang gerilya PRRI di hutan-hutan Sumatera Barat dan Sumatera Utara tersebut, Mr. Assaat sudah sering sakit. Dia pun tertangkap, dalam keadaan fisik lemah. Kemudian dia dipenjara di Jakarta selama empat tahun 1962-1966. Mr.Assat baru keluar dari penjara, setelah Orde Lama ditumbangkan Orde Baru.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II. Mr. Assaat ditangkap Belanda bersama Bung Karno, Bung Hatta serta pemimpin Republik Indonesia lainnya, kemudian diasingkan ke Manumbing, Pulau Bangka.

Kemudian, di masa perjuangan itu, Mr. Assaat gelar Datuk Mudo menikah dengan Roesiah, dari Sungai Pua di Rumah Gadang Kapalo Koto, 12 Juni 1949, Pasangan ini dikaruniai dua orang putera dan seorang puteri.

Saat berlakunya Konstitusi RIS dan terbentuknya RIS (Republik Indonesia Serikat), Mr. Assaat sempat aktif sebagai Pejabat (Acting) Presiden Republik Indonesia yang merupakan bagian dari RIS, berkedudukan di Yogyakarta (Desember 1949 hingga Agustus 1950). Saat menjadi Pejabat (Acting) Presiden RI, Assaat sempat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Posisinya sebagai Penjabat Presiden RI berakhir pada Agustus 1950, demikian juga jabatannya selaku Ketua KNIP dan Badan Pekerja KNIP, berakhir. Sebab pada bulan Agustus 1950 tersebut, negara-negara bagian RIS melebur diri (bersatu kembali) dalam Negara Kesatuan RI. Kemudian, Setelah ibukota RI (Undang-Undang Dasar Sementara) kembali ke Jakarta, Mr. Assaat sempat menjadi anggota parlemen (DPR) dan menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Natsir September 1950 – Maret 1951. Setelah Kabinet Natsir bubar, dia pun kembali menjadi anggota Parlemen.

Lalu, pada tahun 1955, dia menjabat sebagai formatur Kabinet bersama Soekiman Wirjosandjojo dan Wilopo untuk mencalonkan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri. Karena waktu itu terjadi ketidak puasan daerah terhadap beleid (kebijakan) pemerintahan Pusat. Daerah-daerah mendukung Bung Hatta, tetapi upaya tiga formatur tersebut menemui kegagalan, karena secara formal, ditolak oleh Parlemen.[2]

Kemudian, saat Presiden Soekarno mulai menjalankan Demokrasi Terpimpin, Assaat tidak dapat menerimanya, dia menentangnya. Dia pun menentang politik Bung Karno yang dia rasa lebih condong ke sayap kiri Partai Komunis Indonesia. Sikap tegasnya tersebut, membuatnya merasa dikekang, ditekan dan diawasi. Sehingga dia berusaha kembali ke Sumatera Barat. Dia dan keluarga melarikan diri dengan berpura-pura “akan berbelanja”. Mereka, secara berturut-turut naik becak dari Jl. Teuku Umar ke Jl. Sabang, dari sana dilanjutkan menuju Stasion Tanah Abang.[3]

Kemudian menyeberang ke Sumatera. Dia pun sempat tinggal beberapa hari di Palembang, Sumatera Selatan. Ketika itu, di beberapa wilayah Sumatera telah berkembang ketidakpuasan atas pemerintahan pusat (Presiden Soekarno) yang dinilai sangat kurang memperhatikan pembangunan daerah di luar Jawa. Maka ketika itu di Sumatra Selatan sudah terbentuk “Dewan Gajah” yang dipimpin oleh Letkol Barlian; Di Sumatra Barat sudah ada “Dewan Banteng” yang dipimpin Letkol Ahmad Husein: Di Sumatera Utara telah terbentuk “Dewan Gajah” dipimpin Kol. Simbolon: Sementara di Sulawesi sudah ada “Dewan Manguni” (Burung hantu) yang dipimpin Kol. Sumual.

Kemudian, dewan-dewan tersebut bersatu membentuk PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) menentang pemerintahan pusat Soekarno yang sangat dipengaruhi oleh PKI. Lalu, Assaat yang ketika itu baru tiba di Sumatera Barat bergabung dengan PRRI dan ikut aktif melancarkan perang gerilya melawan pasukan pemerintah pusat.

Saat perang gerilya PRRI di hutan-hutan Sumatera Barat dan Sumatera Utara tersebut, Mr. Assaat sudah sering sakit. Dia pun tertangkap, dalam keadaan fisik lemah. Kemudian dia dipenjara di Jakarta selama empat tahun 1962-1966. Mr.Assat baru keluar dari penjara, setelah Orde Lama ditumbangkan Orde Baru.

Sepuluh tahun setelah keluar penjara, Mr. Assaat meninggal di rumahnya yang sederhana di Warung Jati Jakarta Selatan, pada tanggal 16 Juni 1976. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dengan upacara kebesaran militer. Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

Footnote:
[1] Pejanat Menteri: Mr. Assaat: http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/cabinet_personnel/popup_profil_pejabat.php?id=113&presiden_id=1&presiden=sukarno
[2] Assaat, http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat
[3] Mr. Assaat. Sumber: Buletin Sungai Puar 15 Juni 1986, Disadur Oleh: Erwin Moechtar; http://www.cimbuak.net/content/view/204/106/

Data Singkat
Mr. Assaat, Ketua KNIP dan Mendagri / Pejabat Presiden RI (RIS) | Ensiklopedi | Advokat, KNIP, Mendagri, PRRI, Pejabat Presiden RI, Partindo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here