Pribumi Perintis Toko Kacamata

[ A Kasoem ]
 
0
305
A Kasoem
A Kasoem | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] A Kasoem merupakan orang pribumi pertama yang merintis usaha toko kacamata di Indonesia. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 1930-an itu kemudian berkembang dengan berbagai merk, seperti A Kasoem, Lily Kasoem, dan Cobra.

Nama toko kacamata Kasoem pasti sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia terutama bagi mereka yang tinggal di kota Garut dan Bandung. Namun, mungkin tak banyak yang tahu kalau toko yang kini telah tersebar di berbagai penjuru Tanah Air ini dirintis oleh seorang tokoh pengusaha asal Jawa Barat bernama Atjoem Kasoem atau yang lebih dikenal dengan nama A Kasoem.

A Kasoem lahir di Desa Bojong, Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 9 Januari 1917. Penghasilan ayahnya yang bekerja sebagai petani, membuat Kasoem kecil terbiasa hidup sederhana. Untuk urusan pendidikan pun, hanya berhasil ditempuhnya hingga tingkat Taman Dewasa Perguruan Taman Siswa. Meski demikian, keterbatasan ekonomi tak membuatnya patah semangat.

Sebelum dikenal luas sebagai pengusaha sukses, A Kasoem ikut membela kemerdekaan Indonesia. Hal itu bahkan telah dilakukannya sejak masih menimba ilmu di Taman Siswa dengan terlibat aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Dari situ, ia kemudian berkesempatan untuk mengenal banyak tokoh perjuangan seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

Setelah tamat sekolah, Kasoem bekerja di sebuah toko kacamata yang terletak di Jalan Braga, Bandung. Toko tersebut merupakan milik pria berkebangsaan Jerman bernama Kurt Schlosser. Dari sang majikanlah, Kasoem kemudian banyak belajar tentang seluk beluk bisnis kacamata. Pelan-pelan, dengan bermodal sepeda, Kasoem mulai merintis usahanya dengan cara keliling dari pintu ke pintu untuk menjajakan kacamata dagangannya.

Sebelum dikenal luas sebagai pengusaha sukses, A Kasoem ikut membela kemerdekaan Indonesia. Hal itu bahkan telah dilakukannya sejak masih menimba ilmu di Taman Siswa dengan terlibat aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Dari situ, ia kemudian berkesempatan untuk mengenal banyak tokoh perjuangan seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

Akhirnya, setelah beberapa tahun, berkat semangat kerja keras dan kesungguhannya, Kasoem berhasil membuka toko kacamata sendiri di Jalan Pungkur yang merupakan toko kacamata pertama yang dibuka oleh orang pribumi. Bisnis kacamatanya perlahan-lahan berkembang dan berhasil melakukan ekspansi cabang ke sejumlah kota besar di Indonesia seperti Solo, Yogyakarta, sampai ibukota Jakarta. Usahanya yang terus berkembang itu memberi dia kesempatan untuk membantu orang-orang yang aktif di pergerakan nasional. Karena kontribusinya itu, pergaulannya di kalangan para pejuang pun semakin meluas. Dalam perjalanan karirnya, Kasoem memang banyak membantu dan dibantu sejumlah tokoh pergerakan.

Saat tentara Jepang masih berkuasa di Indonesia, Kasoem dapat memiliki toko kacamata di Jalan Braga, Bandung atas bantuan Ki Hajar Dewantara dan Bung Hatta. Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali ingin menguasai Indonesia. Dalam masa revolusi itulah, Kasoem ingin aktif di Palang Merah Indonesia. Namun belakangan, ia terpaksa mengungsikan keluarganya ke Klaten, Jawa Tengah, ketika peristiwa Bandung Lautan Api meletus pada 24 Maret 1946. Kemudian, atas saran Bung Hatta yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Presiden, Kasoem membuka toko kacamata di Yogyakarta serta pabrik penggosok kacamata di daerah Klaten.

Setelah pengakuan kedaulatan RI, Kasoem kembali ke Bandung. Sayangnya, toko kacamatanya di Jalan Braga sudah dikuasai oleh orang Cina. Tak mau begitu saja menerima nasib, Kasoem berusaha merebutnya kembali dengan mengajukan gugatan ke pengadilan hingga akhirnya berhasil mendapatkan kembali toko tersebut. Tahun 1955, ia membuka kembali tokonya itu dan membuka jaringan di berbagai daerah.

Lima tahun kemudian, ia berangkat ke Jerman Barat untuk menambah pengalaman dan wawasan karena merasa tidak puas dengan keahliannya. Di sana ia belajar optik dan magang di pabrik milik Dr. Herman Gebest sampai akhirnya mampu menguasai ilmu pembuatan kacamata baik secara teoritis maupun praktis. Setelah merasa mendapat cukup ilmu, Kasoem kembali ke Tanah Air. Pada tahun 1970, dengan bantuan modal dari bank, ia mendirikan pabrik lensa bifokus di kampung halamannya, Kadungora, Garut, Jawa Barat. Pabrik tersebut merupakan pabrik pertama di Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia pada masanya. Namun, krisis pada tahun 1997 yang mengguncang perekonomian Indonesia turut berimbas pada kelangsungan pabrik tersebut. Badai krisis yang teramat dahsyat, pada akhirnya membuat pabrik yang diresmikan oleh Adam Malik itu mengalami kebangkrutan.

Di sela kesibukan membangun bisnis yang dirintisnya sejak tahun 30-an itu, antara tahun 1961-1971, A Kasoem masih menyempatkan waktunya untuk menjadi dewan kurator atau pembina mahasiswa sejumlah perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan Tanah Air, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan serta Himpunan Mahasiswa Indonesia.

A Kasoem meninggal dunia di Bandung pada 11 Juni 1979. Bisnis kacamatanya kemudian diteruskan oleh delapan putra-putri serta para cucu dengan menggunakan merk dagang yang berbeda, diantaranya A Kasoem, PT Kasoem, Lily Kasoem dan Cobra yang hingga kini telah tersebar di sejumlah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, serta beberapa kota di luar pulau Jawa. Kasoem memang telah menularkan semangat bisnisnya pada kedelapan anaknya sejak dini. Menurut salah satu putrinya yang bernama Ruba’ah, ayahnya tidak akan memberikan uang jajan kepada anak-anaknya jika belum membantu bekerja di optik. muli, red

Data Singkat
A Kasoem, Pengusaha optik / Pribumi Perintis Toko Kacamata | Ensiklopedi | ITB, Unpad, Pengusaha, Kurator, optik, kacamata

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here