Politisi Lintas Profesi

Aziz Syamsuddin
 
0
937

08 | Membuat Setiap Peran yang Berarti

Aziz Syamsuddin
Aziz Syamsuddin | Tokoh.ID

Dalam memaknai hidup dan kehidupan ini, kapan dan di mana pun berada, ada satu falsafah hidup yang selalu dipegang Aziz Syamsuddin: “Berusaha membuat sesuatu itu berarti bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.”

Tidak muluk-muluk obsesi hidup seorang Aziz Syamsuddin. Baik dulu sebagai bankir, advokat maupun saat ini sebagai politikus, dia hanya ingin agar setiap peran dan langkahnya dapat memberikan sesuatu yang berarti. Dia ingin mengisi hidup dan kehidupan ini dengan berbagai aktivitas yang berarti bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara.

Untuk berarti atau tidak berarti peranan yang seseorang mainkan, kata Aziz, ada sejumlah kriteria yang mesti dipenuhi.
Sesuatu yang berarti menurut kaca matanya belum tentu berarti bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang berarti bagi orang lain belum tentu memberikan arti bagi dirinya.

Karena setiap orang memiliki tolok ukur masing-masing, yang berbeda satu sama lain sesuai kemauan, kemampuan dan talenta masing-masing, dan tentu saja satu hal lagi yang tak bisa diabaikan: faktor tangan Tuhan.

Aziz berpandangan, ada lima pedoman yang sepatutnya dipegang setiap insan dalam memaknai hidupnya agar dapat memberikan hasil yang berarti.

Pertama, prestasi dalam arti kemampuan. Kedua, pengakuan dari lingkungan. Bahwa kemampuannya diakui, sebagai contoh seseorang kuliah, lulus, dan mendapatkan gelar kesarjanaan. Gelar itu kemudian diakui lingkungan memang diperoleh dari pendidikan di perguruan tinggi, bukan dari transaksi jual-beli.

Ketiga, berbekal kesarjanaan tersebut, seseorang bisa bekerja dan mencari pendapatan guna menghidupi keluarga.
Keempat, kemampuan melakukan pendekatan baik kepada lingkungan maupun kepada diri kita sendiri, dengan berbekalkan pada gabungan dari tiga hal tersebut di atas. Kelima, kemampuan membaca setiap peluang sesuai dengan empat hal yang telah lebih dulu kita miliki.

Contohnya, seseorang yang ingin makan buah durian yang masih tergantung di pohonnya harus melihat peluang yang ada: apakah hanya menunggu pasif dengan harapan buah durian akan jatuh ke tanah esok pagi ataukah dia secara aktif menjatuhkan durian ke tanah menggunakan galah untuk kemudian diperam. Peluangnya pun harus ditakar apakah memang sudah waktunya durian itu dimakan.

Tapi, proses menikmati durian itu harus dimulai dengan tahap memilih bibit, menanam, menyiraminya, memberinya pupuk, dan merawatnya dengan tidak menyampingkan faktor tangan Tuhan. Misalnya, jika datang banjir atau serangan hama, tidak jadi juga itu barang dinikmati. Kita harus pikirkan itu.

Banyak rekan Aziz mempertanyakan mengapa dia meninggalkan dunia advokat justru di saat berada pada posisi prestisius sebagai managing partner.

Advertisement

Dia menjelaskan bahwa dia tidak ingin menjadi orang yang hanya diam terpaku pada satu sektor saja. Dia ingin memasuki wilayah dengan skop yang lebih besar untuk kepentingan yang lebih besar.

Aziz tipe orang yang suka dengan tantangan. Tapi, tantangan yang akan dia ambil haruslah terukur, atau bisa diukur, berangkat dari pertanyaan apakah dia mampu menggeluti dunia yang baru itu.

“Pada saat saya memutuskan untuk terjun ke dunia politik, saya bertanya dalam hati: apakah saya mampu memerankan diri sebagai politikus sebagaimana mestinya?” kata Aziz.

Dengan penuh percaya diri, dia akhirnya mampu mengambil keputusan akhir, terjun ke dunia politik. Atas dasar itu, menurutnya, setiap orang harus mengukur setiap peluang yang ada, istilahnya mengukur baju.

Seseorang harus mempunyai naluri mengukur kapasitas diri, yakni segenap kemauan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Jadi kalaupun seseorang berspekulasi terhadap sesuatu, maka spekulasi itu terukur sifatnya sebab kesempatan itu terus berjalan seiring dengan waktu.

Seseorang harus bisa mengukur diri (kemauan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya) dalam menangkap setiap peluang yang terpampang di hadapannya.

Ibarat akan membeli baju, seseorang mesti sudah punya ukuran yang disesuaikan dengan ukuran tubuhnya, apakah S, M, L, XL, atau double XL. Sangat aneh jika sudah jelas bentuk tubuhnya kecil tapi meminta baju berukuran double XL. Tidak mungkin pas baju itu dengan tubuhnya.

Akhirnya, semua ukuran baju dicoba-coba karena tidak punya gambaran pasti berapa ukuran standar tubuhnya. Padahal, proses coba-coba tersebut menyita banyak waktu. Habis peluang. Momentumnya sudah hilang. Sudah tidak up to date. e-ti/af

Data Singkat
Aziz Syamsuddin, Advokat dan Anggota DPR-RI (2004-2014) / Politisi Lintas Profesi | Ensiklopedi | golkar, DPR, MPR, pengacara, KNPI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini