Bangun Pemudi Pemuda

[ Alfred Simanjuntak ]
 
0
1892
Alfred Simanjuntak
Alfred Simanjuntak | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria suku Batak kelahiran Parlombuan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 8 September 1920 itu. Hal itu setidaknya tercermin dari Karya Paparnya berjudul Membangun Manusia Pembangunan, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 di Jakarta.

Alfred Simanjuntak, seorang pencipta lagu yang berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. Saat menulis lagu Bangun Pemuda-Pemudi tersebut dia berusia 23 tahun (1943) dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr Bahder Djohan, Mr Wongsonegoro, dan Parada Harahap.

Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat sedang mandi Alfred terinspirasi menulis syair lagu itu. Kala itu dia seperti mendengar suara-suara melodi di telinganya. “Tuhan memberikan lagu ke kuping saya selagi lagi mandi. Saya cepat-cepat mandi, lalu saya tulis segera,” kisahnya.

Lagu Bangun Pemudi Pemuda itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. “Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!” tutur Alfred Simanjuntak di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten.

Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Sebab, gara-gara lagu yang dinilai sangat patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang untuk dihabisi.

Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan, termasuk pada setiap perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu. Juga oleh Paduan Suara Anak-anak Surya dalam album Kumpulan Lagu Wajib Indonesia Raya.

Alfred di masa kecil, hidup bersahaja tapi bahagia. Dia putera pasangan Guru Lamsana Simanjuntak-Kornelia Silitonga, delapan bersaudara. Dia mengenang saat makan nasi, daun singkong, dengan lauk ikan asin sebesar jari. Namun dia tetap mensyukuri ikan asin yang cuma seujung jari itu. Keluarga itu tetap hidup dalam sukacita.

Sukacita itu tercermin dari kegemarannya bernyanyi. Alfred sering tampil bernyanyi di acara Natal sejak duduk di Hollands Inlandsche School (HIS) di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara. Kemudian kemahiran musik Alfred berkembang ketika dia belajar di Hollands Inlandsche Kweek School atau semacam sekolah guru atas di Margoyudan, Solo, Jawa Tengah, 1935-1942.

Di sekolah itu jiwa nasionalisme Alfred menguat. Sebab di sekolah itu dia berkumpul dengan kawan-kawan dari berbagai daerah, suku dan budaya, seperti Manado, Ambon, Batak dan Jawa. “Rasa percaya diri kami sebagai satu bangsa sudah tertanam kuat,” kenang Alfred, yang akrab dipanggil Pak Siman dan fasih berbahasa Jawa.

Kemudian tahun 1950 – 1952, Alfred melanjut ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, MO Bahasa Indonesia, Jakarta. Lalu tahun 1954 – 1956 berturut-turut melanjutkan belajar di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke, Amsterdam, Nederland.

Pada tahun 1946-1949, dia sempat menjadi wartawan surat kabar “Sumber” di Jakarta. Sejak tahun 1950, ia bekerja penuh di Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Jakarta, dan sempat menjadi pimpinannya. Akan tetapi, dia tetap aktif di musik. Tahun 1967 turut mendirikan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan tahun 1985 memprakarsai Pesta Paduan Suara Rohani (Pesparani).

Dia juga juga terus menulis lagu. Pada tahun 1980, dia menulis lagu Negara Pancasila. Belakangan dia diminta Gus Dur menggubah Himne Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Alfred juga banyak mencipta lagu rohani. Bahkan dia pernah menulis lagu dalam irama dangdut, Terumbu Karang atas permintaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang akan disosialisasikan kepada masyarakat di kawasan pesisir Riau, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.

Alfred kini telah menjadi ompung (kakek) dari 11 cucu yang lahir dari empat anaknya, yaitu Aida, Toga, Dorothea, dan John. Putri sulungnya, Aida Swenson-Simanjuntak, dikenal sebagai penggiat kelompok Paduan Suara Anak Indonesia. < e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Membangun Manusia Pembangunan

CATATAN REDAKSI: Pada 10 Februari 2001, Alfred Simanjuntak menerima gelas Doctor HC dari Saint John University, dengan Karya Papar berjudul MEMBANGUN MANUSIA PEMBANGUN. Berikut ini naskah lengkap karya papar Alfred Simanjuntak tersebut.

Pendahuluan
Pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. H.R.M.G. Oemar Said. LL.M., D.D. sebagai Chairman of the Board of Trustees Saint John University, demikian pula kepada Bapak Harry Ganda Asi, Ph.D., Rektor Universitas Kertanegara. Kedua-duanya telah menyegarkan visi saya untuk menyerukan, baik kepada pemerintah maupun masyarakat supaya bukan hanya memperhatikan, tetapi bahkan mengutamakan pendidikan, kalau bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai ini mau kita angkat menjadi bangsa yang terpandang dan terhormat di antara jejeran bangsa-bangsa di dunia.

Segala kemajuan apakah itu di bidang ekonomi, industri ataupun budaya diawali dengan pendidikan dan pengajaran yang bermutu tinggi. Dan segala kemunduran atau keterbelakangan disebabkan oleh pendidikan yang kurang diperhatikan atau salah arah. Sebab itu yang kita mau gumuli pada saat ini adalah Membangun Manusia Pembangun. Kalau manusianya, orangnya berhasil kita didik, baik secara intelektual, kultural, mental dan spiritual, kita dapat melepaskan dia ke tengah masyarakat di mana dia kemudian dapat berkarya di bidang yang sudah dipelajarinya lebih dulu yang bermutu tinggi.

Membangun Manusia Pembangun
Trilogi buku (seri tiga buku), yang ditulis oleh Alvin Toffler, yaitu Future Shock (1970), The Third Wave (1980) dan Powershift (1990) cukup menyentak para pembaca di seluruh dunia dan mengalami terjemahan dalam berbagai bahasa. Buku Future Shock sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Kejutan Masa Depan.

Amati Akselerasi Kemajuan
Dalam buku Future Shock pengarang Alvin Toffler melukiskan betapa dahsyatnya lompatan-lompatan kemajuan yang dicapai manusia dari masa ke masa. Ia mencatat: sejak 10.000 tahun yang lalu manusia mulai tahu mengolah tanah menjadi lahan pertanian, kemudian 400 tahun yang lalu baru mahir menguasai ilmu cetak, 250 tahun yang lalu baru mampu mengukur waktu dengan tepat, 120 tahun yang lalu mengenal listrik, dan akhir-akhir ini berhasil menguasai tenaga nuklir dan mulai mengarungi ruang angkasa dengan peralatan yang serba canggih, dapat pula menemukan DNA (asam inti pembawa sifat), inti dasar dari segala yang hidup di dunia dan mulai bereksperimen dengan men-cloning domba dan hewan-hewan lain, meskipun mendapat reaksi dari pihak umat beragama karena dianggap manusia masuk dalam wilayah Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Dengan pembagian waktu itu, Alfin Toffler menggolongkan perkembangan umat manusia dalam tiga fase: Pertama, masa pertanian, yang dilakukan manusia sejak 10.000 tahun yang lalu, kedua, masa industrialisasi, sejak 250 tahun yang lalu, dan masa kini, yang disebutnya super-industrialisme, dan dicoba diuraikannya dalam buku The Third Wave.

Karena ulasannya cukup berani, buku ini dilarang di beberapa negara di dunia, tetapi justru menjadi bestseller dalam banyak negara, antara lain di Cina, di mana pada suatu waktu menjadi buku panduan bagi kaum intelektual yang reformis di negara itu. Di masa jabatannya Perdana Menteri Zhao Ziyang mengadakan seri konperensi untuk membicarakan buku itu, dan ia menganjurkan para pejabat dan pemimpin lainnya untuk mempelajarinya.

Stephen Hawking, ahli fisika yang kini sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak ilmuwan, baru-baru ini dalam suatu pertemuan di Bombay, India, meramalkan bahwa dalam masa 100 tahun yang akan datang manusia akan berhasil mengunjungi bahkan menghuni planet-planet lain, dan meningkatkan fisik manusia dalam milenium kita ini dengan cara mengutak-atik genetikanya. Bayi-bayi juga akan “ditumbuhkan” di luar kandungan manusia, meskipun ini akan menimbulkan pendapat kontroversial di berbagai kalangan.

Sebagaimana kita tahu, sejak umur 21 tahun Stephen Hawking menderita Lou Gehrig, penyakit syaraf yang disebut amyotrophic lateral sclerosis, yang menyebabkan paralysis, kelemahan otot dan tidak dapat bicara dengan baik. Ia dapat bergerak dengan kursi roda dan dengan jentikan jarinya dapat menyusun kata dan kalimat di layar komputer. Hawking menganjurkan untuk menahan laju penduduk dunia, yang kini dalam masa 40 tahun menjadi dua kali lipat. Tanpa tindakan drastis, pada tahun 2600 dunia ini akan penuh dengan manusia yang dapat berdiri secara “bahu membahu” dalam arti yang sesungguhnya, demikian Stephen Hawking.

Dua tokoh ini tidaklah sendirian dalam jalur pikiran sebagaimana disebut di atas, tetapi keduanya sangat jelas dan tegas menghimbau umat manusia untuk mengamati jalan sejarah di hadapan kita dengan merenungkan apa yang terjadi di belakang kita yang nyata berakselerasi sangat cepat. Sebagai salah satu contoh, kita perlu mencermati pertumbuhan penduduk Indonesia, yang pada tahun 1940 baru berjumlah 50 juta dan sekarang sudah melampaui 200 juta, empat kali lipat, akselerasi yang jauh lebih besar daripada yang disebut Stephen Hawking di atas.

“Tetapi,” demikian tulis Ninok Leksono dalam surat kabar Kompas baru-baru ini, “sementara para ilmuwan dan bangsa-bangsa di dunia telah terpesona oleh pemikiran Stephen Hawking yang elok nan canggih itu, bangsa Indonesia masih saja terus berkubang dalam usreg dan gonjang-ganjing politik yang membuatnya bukan saja going nowhere, tetapi dengan itu juga tertinggal jauh di belakang dalam semua wacana adi di lingkungan bangsa-bangsa lain pada tahun, abad dan milenium ini.”

Pengalaman Pribadi
Sebagai salah satu contoh konkrit apa yang dialami seseorang dalam mengarungi lintas waktu 80 tahun di bumi tercinta Indonesia ini, dan apa yang didapatnya berkat pendidikan yang diperolehnya mulai dari dusunnya sampai akhirnya di luar negeri, dan karyanya sebagai ucapan syukur atas bimbingan Tuhan itu, perkenankanlah saya untuk mencoba menggambarkan pengalaman saya sendiri dan pergumulan apa yang sempat saya tempuh.

Saya lahir tanggal 8 September 1920, jadi secara gembira sering saya katakan: “Saya baru 80 tahun.” Saya bahagia dan berterima kasih kepada Sang Pencipta untuk umur dan kesehatan prima yang dikaruniakan-Nya kepada saya. Saya lahir di Parlombuan, sebuah desa di Tapanuli, Sumatera Utara, yang sangat sederhana.

Sampai saya umur lima tahun, keluarga kami tidak mengenal piring, mangkok atau gelas, sendok dan garpu, meskipun ayah saya guru sekolah dasar di wilayah itu. Sebagai piring untuk seluruh keluarga dipakai piring kayu besar dan cukup tebal, yang dapat dikelilingi oleh empat sampai lima orang. Nasi ditaruh di tengah piring kayu itu, dan masing-masing mengambil dari bukit nasi itu sesuai dengan panggilan perutnya. Gelas atau mangkok tidak ada, untuk minum dipakai batok kelapa yang dibelah dua. Minyak tanah untuk lampu tidak ada, apalagi penerangan listrik. Sebagai alat penerang dipakai potongan pinus, yang memang dapat menyala lama sekali. Itu juga yang dipakai sebagai suluh kalau mau berkunjung dari rumah ke rumah, atau dari kampung ke kampung.

Penduduk waktu itu belum mengenal korek api. Yang dipakai sebagai sumber api adalah kawul, yang dapat disulut dengan menyentalkan atau menggosokkan sebatang besi ke batu api sehingga timbul percikan api yang membakar kawul itu.

Berjalan kaki sejauh 15-20 kilometer atau lebih jauh lagi merupakan perjalanan biasa, karena penduduk belum mengenal sepeda, apalagi mobil. Mobil pertama yang saya lihat adalah pada tahun 1926, dan kami anak-anak kecil begitu takut akan “dilihat” mobil itu, sehingga kami lari tunggang langgang bersembunyi dalam semak-semak dan baru berani keluar ketika mobil itu sudah cukup jauh.

Untuk manusia masa kini cerita kehidupan seperti ini dianggap masa purbakala, jauh di masa lampau dan hanya dapat dibaca dalam buku dan dilihat dalam film manusia primitif, padahal saya sendiri pernah mengalaminya sekitar 75 tahun yang lalu. Atau pengalaman yang mirip masih ada di pedalaman Irian Jaya?

Bayangkan kalau masih ada, sedangkan penduduk kota Jakarta misalnya sudah malang melintang dalam mobil, terbiasa naik kereta api atau barangkali kapal terbang, pesawat telepon dan televisi dianggap sebagai perangkat hidup sehari-hari.

Saya beruntung ketika pada tahun 1935 berangkat ke Solo untuk belajar di Sekolah Guru Atas, yang pada waktu itu disebut Kweekschool, tamat pada tahun 1941, kemudian melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1950, dan pada tahun 1954 di Stedelijke Universiteit di Amsterdam, Rijksuniversiteit di Utrecht, dan Universiteit di Leiden di Nederland. Itulah lintasan studi yang saya alami.

Pengalaman saya yang sangat berkesan sebagai guru antara lain adalah ketika di masa pendudukan Jepang mengajar di Semarang. Tamatan sekolah itu ada yang menjadi Duta Besar, Menteri, Jaksa Agung sampai Wakil Presiden, pejabat-pejabat tinggi di negara republik ini.

Pengalaman lain yang cukup membahagiakan adalah ketika menjadi dosen di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, dan beberapa tamatan dari sana kemudian menjadi Ketua Sinode Gereja-gereja di Indonesia. Demikian pula ketika sempat mengajar di Haggai Institute for Leadership Training di Singapore, di mana peserta-peserta dari berbagai negara, semuanya dari negara-negara berkembang, yang sudah terbukti menunjukkan keberhasilan di bidang-bidang tertentu, diajak untuk berbagi pengalaman dan visi. Surat-surat yang kemudian kami terima dari para peserta menyatakan rasa syukurnya atas leadership training seperti itu dan tekad mereka untuk lebih meningkatkan karya baktinya sangat menggembirakan.

Buku: Sahabat Mutlak Untuk Manusia
Berbicara mengenai karir, ada dua bidang yang pernah saya geluti, dua-duanya merupakan pelayanan, terutama untuk membangun manusia pembangun. Pada tahun 1950, bersama-sama dengan beberapa pemerhati, antara lain Dr. J. Verkuyl, kami mendirikan Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia sebagai lembaga kristiani yang ingin ikut mengisi kemerdekaan yang diproklamirkan oleh bangsa Indonesia pada tahun 1945. Penerbit ini mencoba ikut berpartisipasi dalam membangun dan melayani bangsa kita dengan antara lain menerbitkan buku “Pancasila,” buku yang pertama terbit di Indonesia mengenai Pancasila, yang cukup mendapat perhatian antara lain dari Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para pejabat negara RI yang lain-lain.

Menjelang akhir dasawarsa tahun 1950, BPK Gunung Mulia mengadakan seminar pemberantasan buta huruf dengan mengundang Dr. Frank Laubach, seorang ahli dari UNESCO, yang mempunyai pengalaman lama di Filipina. Kemudian dikirimlah Sdr. G.M.A. Nainggolan ke Wamena, Irian Jaya selama tiga bulan untuk memelajari gaya hidup dan cara berpikir penduduk di sana yang masih buta huruf, hidup sederhana dengan sekedar mamakai koteka dan mencari makan dengan berburu di hutan dan di sungai.

Kemudian BPK Gunung Mulia menerbitkan buku pemberantasan buta huruf, dengan kata-kata sehari-hari yang sederhana, dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik.

Ketika Irian Jaya sudah masuk dalam wilayah Republik Indonesia, Ds. Rumainum sebagai Ketua Sinode Irian Jaya dengan tegas menyatakan penghargaan atas pelayanan BPK Gunung Mulia, yang selama itu belum menjadi bagian Republik Indonesia, terus menerus
mengirim buku-buku yang diperlukan di sana, walaupun pengirimannya harus melalui pihak ketiga, karena hubungan resmi antara Jakarta dengan Irian belum diizinkan.

Ketika tahun 70-an Theological Education Fund yang berkedudukan di London menyediakan dana untuk menerbitkan buku-buku panduan untuk pendidikan teologi, maka di antara semua penerbit Kristen di antara negara-negara berkembang, Korea Selatan menerbitkan paling banyak judul dan Indonesia, dalam hal ini BPK Gunung Mulia menempati urutan kedua.

Ketika Pemerintah di tahun 70-an menganjurkan untuk menerbitkan bukubuku Inpres, yaitu bacaan untuk anak-anak Sekolah Dasar, yang disalurkan melalui sekolahsekolah, maka di antara semua penerbit yang berpartisipasi, BPK Gunung Mulia yang menerbitkan paling banyak judul dan eksemplar.

Ini hanya beberapa contoh, bagaimana BPK Gunung Mulia ingin mempunyai andil dalam membangun manusia pembangun. Meskipun berpredikat Kristen, penerbit itu sadar akan tugasnya sebagai lembaga komunikasi manusiawi dan ingin melayani setiap orang yang mempunyai kasih terhadap sesama manusia.

Belajar dari Tokoh-Tokoh Pemikir
Selama bekerja di BPK Gunung Mulia, dari tahun 1950 sampai 1985, saya mendapat kesempatan untuk bertemu atau berkenalan dengan beberapa tokoh yang saya kagumi sebagai pecinta manusia dan berbuat banyak sebagai ungkapan keprihatinan atau sumbang baktinya. Pada tahun 1958 saya sempat berjumpa dengan T. Kagawa pada suatu konferensi di Kobe, Jepang. Ia membaktikan seluruh hidupnya untuk membantu dan melayani orang-orang miskin yang banyak menderita, keluarga-keluarga yang berantakan karena berbagai masalah. Dunia menghormatinya karena pengorbanan yang diwujudkannya, meskipun kesehatannya sendiri cukup rapuh karena kelelahan bekerja dan kurang memperhatikan cara hidup yang teratur.

Pada tahun 1971 waktu berkunjung ke Santiago, Chile, Amerika Latin saya mendapat kesempatan mengikuti seminar, di mana pembicara utamanya adalah Paulo Freire, tokoh besar dunia, yang memperjuangkan nasib orang-orang kecil, petani dan buruh dengan ajarannya tentang conscientisasi, penyadaran hati nurani dan rasa harga diri manusia.

Karena pahamnya dianggap berbahaya, maka pemerintah Brazil, negara kelahirannya, mengusirnya dengan cara “menyarankannya” meninggalkan negara itu.

Apa yang diajarkannya terutama kepada kaum buta huruf, para petani dan buruh kecil? Kata Paulo Freire: tiap orang, tiap manusia, seberapa sederhanapun tingkat kehidupannya dan dianggap “bodoh” oleh masyarakat dan digolongkan sebagai anggota “kelompok bisu”, dapat berpikir kritis kalau diajak bicara dengan gaya setaraf yang oleh Paulo Freire disebut “dialogis” , dan selangkah demi selangkah sadar akan dirinya, tumbuh rasa percaya diri dan mempunyai harapan baru.
“Sekarang saya sadar bahwa saya manusia juga, manusia terpelajar”,
“Dulu saya buta, tetapi sekarang saya sudah melek”,
“Saya bekerja, dan sambil bekerja, saya ikut memperbaiki dunia ini”, demikian ucapan beberapa petani dan buruh.

Paham conscientisasi itulah yang dipakai para petani, buruh dan “kelompok bisu” untuk menghadapi propaganda dan ajaran kaum komunis, khususnya di wilayah Amerika Latin. Pikiran dan ajaran Paulo Freire itu dituangkannya dalam dua bukunya Pedagogy of the Oppressed dan Cultural Action for Freedom.

Tokoh lain yang pernah saya temui dalam kunjungan ke manca negara, yang cukup banyak menulis buku adalah Billy Graham, yang dianggap sebagai salah seorang penginjil utama abad-20. Pada tahun 1974 saya menghadiri konferensi Penginjilan Internasional di Lausanne, Swiss, dimana Billy Graham menjadi pembicara utama. Suaranya yang tenang membuka visi pendengar untuk memandang seluruh dunia ini sebagai ladang pelayanan.

Dalam deretan nama tokoh –tokoh dunia ini tak lupa saya menyebut dengan hormat nama Dr. J. Verkuyl, sahabat kerja yang ikut mendirikan BPK Gunung Mulia dan ikut mempelopori Universitas Kristen Indonesia. Verkuyl menulis tidak kurang dari 45 judul buku dalam bahasa Indonesia, antara lain: Komunisme, Kapitalisme, dan Injil Kristus. Pada waktu Indonesia clash dengan Belanda tahun 1974 , Verkuyl dengan berani pergi ke Jawa Tengah untuk menyatakan dukungannya terhadap perjoangan rakyat Indonesia. Untuk segala jasanya itu Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang kehormatan kepada Verkuyl.

Apakah hanya orang asing saja yang saya kagumi dan menjadi sumber inspirasi dalam hidup saya? Jawab saya tidak. Di antara tokoh Indonesia yang saya jumpai dalam hidup, terlalu banyak. Di antara sekian banyak yang ikut menempa diri saya, visi saya, cara berpikir saya, perkenankanlah saya menyebut dua nama. Yang satu tokoh lektur, yang satu lagi tokoh pergumulan jiwa rohani.

Tokoh bacaan yang menjadi sahabat saya adalah Pramoedya Ananta Toer, yang mungkin masih merupakan tokoh kontroversial di kalangan Indonesia masa kini. Dialah penulis Keluarga Gerilya, Cerita dari Blora, Cerita dari Jakarta, dan buku-buku yang lain. Buku-bukunya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, antara lain, Bahasa Inggris, Rusia, Jerman, Jepang, Cina dan Belanda.

Menurut penilaian saya, Pramoedya adalah pejoang orang kecil yang tertindas, yang menjadi bulan-bulanan orang-orang elit atau yang disebut sub-class feodal. “Bangkitkan rasa harga diri rakyat ini”, katanya kepada saya dalam percakapan baru –baru ini. Sejarah akan membuktikan benar-tidaknya pandangan Pramoedya yang dijalinkannya dalam sekian banyak buku karangannya.

Tokoh kedua yang takkan saya lupakan adalah paman saya, Peris Pardede, yang dalam pergumulan hidupnya sempat menjadi anggota CCPKI (Central –Comite- Partai Komunis Indonesia), tetapi pada tahun-tahun terakhir dari hidup-nya dalam penjara di Medan menjadi penginjil, dan cukup banyak tahanan penjara mengenal Kristus melalui kesaksiannya sampai akhir hayatnya. Pergumulan rohaninya dituangkannya dalam kesaksian yang diketiknya di penjara itu. Aneh tapi nyata, bahwa seseorang gembong komunis menjadi hamba Tuhan dan pewarta kasih Kristus.

Lagu Sebagai Unsur Pembangun
Bidang kedua di mana saya pernah berkecimpung adalah musik, terutama nyanyian. Tahun-tahun subur dimana saya mengarang cukup banyak lagu yang non-agama dan lebih bersifat patriotik adalah waktu saya menjadi guru di Semarang pada tahun-tahun 1943-1945 di masa pendudukan Jepang, antara lain: Lagu Bangun Pemudi-Pemuda, Indonesia Bersatulah.

Lagu Bangun Pemudi-Pemuda cukup dikenal masyarakat dan merupakan salah satu lagu wajib nasional. Lagu Indonesia Bersatulah pernah memberi andil dalam perjalanan negara kita, ketika terjadi pemberontakan PRRI, PERMESTA, dan RMS (Republik Maluku Selatan) pada tahun 1957-1960). Lagu ini oleh radio Republik Indonesia disiarkan paling sedikit tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan sore, kadang-kadang malam, sampai akhirnya semua pihak yang bertikai meletakkan senjata masing-masing.

Ketika pada tahun 1980 terjadi pembicaraan khusus mengenai dasar negara Indonesia dan akhirnya oleh Pemerintah ditetapkan bahwa azaz dan dasar negara ini adalah Pancasila, saya mengarang lagu Negara Pancasila. Di samping, tiga lagu ini masih banyak lagu-lagu yang saya karang, baik bersifat umum, maupun rohani.

Ketika pada tahun 1999 pemerintah mengizinkan untuk mendirikan partai-partai baru, saya diminta untuk mengarang Himne dan Mars untuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Untuk itu saya berkunjung ke tempat kediaman Bapak K.H. Abdurrahman Wahid di Ciganjur dan bercakap-cakap dengan beliau mengenai kejadian-kejadian di negara dan masyarakat ini dan apa sumbangan yang dapat diberikan PKB untuk dapat melangkah maju ke masa depan. PKB terbuka untuk siapa saja yang ingin membangun negara dan bangsa ini, demikian kata Pak Gus Dur. Saya sangat berterima kasih atas pertemuan itu dan saya gembira bahwa kemudian Pak Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.

Dapat saya tegaskan bahwa pembicaraan kami yang saya rasakan sebagai percakapan antar-manusia kemudian menghasilkan dua lagu, Himne dan Mars. Dalam beberapa pertemuan antara lain pada peringatan ulang tahun pertama PKB di Surabaya tahun lalu, Bapak Presiden menjelaskan bahwa himne PKB dikarang oleh seorang yang beragama Kristen. Itu membuktikan bahwa PKB terbuka untuk semua pihak, tidak pandang bulu, dari agama atau suku manapun.

Pada awal tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid minta perhatian semua pihak terhadap pengrusakan dan penghancuran terumbu karang, salah satu kekayaan Indonesia. Kemudian LIPI dan John Hopkins University/Center for Communication Programs minta saya untuk mengarang lagu Terumbu Karang berirama dangdut, yang sudah dipopularkan terutama di daerah pantai di Riau, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian.

Tekanan Kata Dalam Lagu
Dalam kaitan nyanyian dan lagu ini saya mempunyai pertanyaan yang menurut perasaan saya masih menunggu jawaban yang memuaskan, yaitu: di mana tekanan kata dalam nyanyian Indonesia?

Kalau kita ucapkan atau bacakan kalimat pertama dari lagu ini: Bengawan Solo, riwayatmu ini, maka suku-suku kata nga, so, yat, dan i itulah yang mendapatkan tekanan. Tetapi bila dinyanyikan, maka tekanan kata pindah ke wan, lo, mu, ni. Ini sesuai dengan metrum, tekanan ritme lagu ini. Banyak, bahkan sebagian besar lagu-lagu dalam bahasa Indonesia serba salah tekanan karakatanya, tidak ada aturannya atau dalam sehari-hari seenaknya saja, yang penting suku katanya sesuai dengan not lagunya. Tetapi lagu -lagu daerah tetap mempertahankan tekanan kata yang baik, sesuai dengan bahasa yang dipakai dalam hidup sehari-hari.

Di mana letak kejangggalan ini? Apakah boleh memindahkan tekanan kata begitu saja dalam nyanyian? Pertanyaan ini masih menunggu jawab yang lebih ilmiah.

Perlu Nada Dasar yang Sama?
Pertanyaan kedua yang ingin saya lontarkan ke tengah pemusik gamelan dan gondang Batak adalah : Apakah dirasa perlu, dan kalau jawabnya ya, kapan akan diberlakukan nada dasar yang diseragamkan dalam perangkat gamelan, demikian pula dalam gondang Batak

Nada dasar gamelan tidak sama. Gamelan Yogya lain dari gamelan Surakarta, lain pula di Madiun dan Semarang, dan tempat-tempat lain. Demikian penegasan Dr. Sri Hastanto, ahli musik gamelan. Begitu juga nada dasar gondang Batak. Di Angkola beda dari Samosir, lain pula di Simalungun atau Tanah Karo. Demikian hasil penelitian yang pernah dilakukan Dr. Liberty Manik.

Hal seperti itu, yaitu berlainlainan nada dasar pernah juga terjadi di Eropa, di mana pemusik Rusia lain nada dasarnya dari pemusik Itali atau Perancis. Tetapi suatu ketika dalam sejarah dan terutama dengan karya Johans Sebastian Bach yang disebut Well –tempered Clavier atau Wohl-temperiertes Clavier berdasarkan nada yang sudah ditentukan, yaitu 440 vibrasi per detik untuk nada a, maka ada satu ukuran untuk menentukan nada-nada dalam musik barat.

Pertanyaan mengenai keseragaman ini terbuka untuk para ahli dan para pemusik gamelan dan gondang. Mungkin hal seperti itu ada juga di daerah daerah lain di Indonesia.

Tantangan untuk Indonesia
Tema kita dalam paparan ini adalah: Membangun Manusia Pembangun, khususnya di dan untuk Indonesia. Tetapi manusia Indonesia pada masa ini tampaknya serba bingung, bahkan linglung, karena kejadian-kejadian sekitar dirinya. Kita mau kemana dengan masyarakat dan bangsa kita? Sumber daya alam yang cukup melimpah ruah dan sumber daya manusia (SDM) yang dua ratus juta lebih ini, mau dikemanakan?

Kualitas sumber daya masyarakat Indonesia sekarang ini, menurut ukuran Human Development Index (HDI) yang belum berapa lama berselang dipublikasikan UNDP amat rendah, yaitu berada di urutan ke-109 dari 173 negara di dunia setingkat lebih rendah dari Vietnam, yang berada di peringkat ke-108.

Dua negara tetangga kita , yaitu Singapura dan Thailand sedang giatnya mereformasi pendidikan nasionalnya, meskipun menurut peringkat HDI negara Thailand berada diperingkat ke 67. Motto yang dipakai Thailand sekarang adalah: Education for All-All for Education, Unity in Policy –Diversity in Implementation.

Singapura sendiri, menurut peringkat HDI berada pada urutan ke-22 (bandingkan dengan Indonesia di peringkat ke-109).

Dalam suatu penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS), negara yang paling maju, paling teratas dalam pendidikan Matematika adalah Singapura, negara tetangga kita. Indonesia berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti, nomor 5 dari bawah. Dalam pendidikan Science, negara paling tinggi peringkatnya adalah Taiwan, Singapore nomor 2, sedangkan Indonesia berada di urutan ke-32, nomor 7 dari bawah.

Hasil penelitian itu langsung ditanggapi oleh Mochtar Buchori dengan mengemukakan, bahwa sistem pendidikan Indonesia harus dirombak habis-habisan. Pendidikan di Indonesia masih penuh verbalisme, alat mengajar yang paling utama adalah kata-kata, rasa ingin tahu dari anak-anak dimatikan, murid-murid cukup menghafalkan atau menelan apa yang dikatakan sang guru, pada hal matematika dan science merupakan dasar untuk berpikir disiplin dan kritis, tidak ada yang “kira-kira” dalam matematika dan science.

Peringkat TIMSS itu menujukkan bahwa Indonesia sudah mendekati buta huruf, kata beliau. Sebab itu, menurut pengamatan kita, untuk secepat mungkin mengakselerasi kemajuan Indonesia, maka yang paling perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat adalah: Membangun Masyarakat Pembangun, dengan memberinya pendidikan.

Penutup
Pemberian Doktor HC ini merupakan suatu kehormatan bagi saya. Sebenarnya di luar dugaan saya sendiri. Tetapi saya berterima kasih dan terutama mengucap syukur pada Tuhan, kalau ada yang melihat hidup dan karya bakti saya sebagai salah satu produk pendidikan.

Sebab saya dapat mengenal dunia semancanegara karena pendidikan. Sudah enampuluh tahun saya menjadi guru, dan sampai sekarangpun masih mengajar, di tingkat sekolah dasar di mana saya dulu memulai karir saya.

Melalui papar sambutan ini dan pada kesempatan acara ini ingin saya anjurkan kepada Pemerintah dan masyarakat untuk mengutamakan pendidikan. Paling sedikit untuk satu rentang waktu sampai bangsa dan rakyat ini terangkat dari beradaannya sekarang.

Sekali lagi, terima kasih saya ucapkan atas pemberian gelar Doktor HC ini dan terima kasih juga kapada para hadirin yang telah dengan sabar mendengarkan papar sambutan ini.

Akhirulkalam: Terpujilah Nama Tuhan!.

***

Bangun Pemudi Pemuda
Ciptaan: A. Simanjuntak

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Data Singkat
Alfred Simanjuntak, Komposer (Pencipta Mars Bangun Pemudi Pemuda) / Bangun Pemudi Pemuda | Ensiklopedi | Pencipta Lagu, gereja, musik, komposer

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here