Pahlawan bagi Penderita Kusta

 
0
578
Maria Gisela Borowka
Maria Gisela Borowka | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Cinta dan kasih sayang termasuk mengorbankan diri sendiri demi menolong sesama, itulah prinsip yang dihidupi pelayan kemanusiaan, Maria Gisela Borowka. Perempuan asal Jerman ini menghabiskan separuh hidupnya melayani penderita kusta di Nusa Tenggara Timur. Demi pelayanannya, ia rela jauh dari sanak saudara dan menjadi warga negara Indonesia.

Sejak ribuan tahun lalu, kusta telah menjadi momok bagi manusia. Anggota tubuh seorang penderita kusta secara perlahan akan mengalami pembusukan. Pada saat itu, mereka akan mengalami rasa sakit yang luar biasa hebat. Penderitaan pun semakin bertambah dengan perlakuan orang-orang sekitar yang mengucilkan mereka. Tak sedikit orang yang menganggap penyakit kulit itu sebagai kutukan Tuhan. Penderita kusta tak ubahnya seonggok sampah yang harus segera disingkirkan dan dibuang jauh-jauh karena sifat penyakit ini yang mudah menular melalui kontak kulit langsung dengan si penderita maupun lewat udara.

Setidaknya sampai akhir abad ke-19, sejarah wabah kusta di seluruh dunia dipenuhi dengan kisah-kisah memilukan tentang manusia-manusia yang dikucilkan di suatu tempat pembuangan. Meski keadaannya tidak seekstrim masa itu, hingga kini para penderita kusta masih dipandang jijik dan dikucilkan.

Namun tidak demikian halnya bagi Maria Gisela Borowka. Rasa kemanusiaannya yang tinggi mengalahkan rasa jijiknya kala berhadapan dengan para penderita kusta. Wanita kelahiran Neisse, Jerman ini membaktikan sebagian besar waktunya untuk memperbaiki nasib para penderita kusta.

Sifat welas asih Maria Gisela terhadap penderita penyakit kusta telah tertanam sejak ia masih kanak-kanak. Ketika ia duduk di bangku sekolah dasar, ia membaca buku yang memuat kisah seorang pastor asal Belgia bernama Damian. Diceritakan dalam buku itu, pada tahun 1863, Pastor Damian de Veuster SSCC dikirim ke Hawaii. Saat itu banyak penderita kusta yang dibuang ke Pulau Molokai.

Dengan sukarela Pastor Damian kemudian menawarkan diri pergi ke Pulau Molokai agar bisa merawat para penderita kusta. Selama 16 tahun Damian membaktikan dirinya tinggal di pulau terkucil itu. Di akhir cerita, karena keterbatasan obat dan sarana lain, Damian pun harus meregang nyawa akibat penyakit ganas itu. Karena ketulusannya, Damian kemudian dijuluki pahlawan kusta dari Molokai.

Kisah Pastor Damian rupanya sangat menginspirasi Maria Gisela yang berulang tahun setiap tanggal 25 Agustus ini. Hatinya tergetar karena rasa haru sekaligus kagum atas pengorbanan pastor Damian. Maka ketika salah seorang teman Gisela semasa sekolah perawat di Jerman dulu, Isabella Diaz Gonzales, meminta bantuannya untuk menangani para penderita kusta di Lembata, NTT, Indonesia, tanpa pikir panjang ia menyambut baik ajakan itu.

Gisela yang kala itu tengah mengabdi di Ethiopia menepati janjinya. Sebelum berangkat ia terlebih dahulu mengurus izin keberangkatan dari organisasi yang menaunginya. Awalnya Gisela ditakuti-takuti dengan kondisi Lembata yang terpencil pada waktu itu. Namun karena tekadnya untuk mengabdi sudah bulat, ditambah jaminan dari seorang uskup asal Larantuka, ia pun berhasil meyakinkan atasannya.

Dengan menumpang kapal barang berpenumpang delapan orang, ia bertolak dari Amsterdam. Setelah tujuh minggu mengarungi lautan, Borowka tiba di Lembata pada 28 Agustus 1963. Setiba di kota kecil itu, Borowka yang kala itu masih berusia 29 tahun, disambut dengan pemandangan memilukan. Para penderita kusta ditempatkan jauh dari pemukiman warga, keadaan semakin menyayat hati saat mengetahui mereka dibiarkan tanpa pertolongan. Hari demi hari tubuh mereka hancur digerogoti kusta, para penderita kusta yang malang itu seakan hanya tinggal menunggu malaikat maut mencabut nyawa mereka. Di Lembata, Gisela dikenal dengan sebutan Mama Putih karena kulitnya yang putih. Sedangkan Isabela yang berkulit hitam dipanggil dengan Mama Hitam.

“Apakah Mama Putih tidak takut tertular kusta?” pertanyaan itu mungkin terbersit di pikiran setiap orang yang melihatnya. Untuk hal itu, dengan aksen Jermannya yang masih kentara, Mama Putih menjawab, “Meskipun ketika itu kami masih muda, saya melihat bahwa para penderita kusta itu tidak berdaya dan membutuhkan bantuan. Pekerjaan utama kami memang untuk mengobati mereka. Apakah kemudian kami tertular atau tidak, kami tidak terlalu memikirkan.”

Satu-satunya tempat perawatan yang memberikan sedikit pengharapan bagi para penderita kusta pada waktu itu adalah sebuah pondok reyot yang dibangun Isabela di tahun 1960. Di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Kusta itu, keadaan mereka pun tak kalah menyedihkan. Setiap hari mereka harus berjuang melawan rasa sakit. Perjuangan terasa semakin berat dengan kondisi penampungan yang tak layak. Selain manusia, kutu busuk, nyamuk, dan tikus juga ikut menghuni Pondok Kusta.

Selain merawat para penderita kusta, Gisela juga tak bosan mengampanyekan bahwa kusta bukanlah kutukan Tuhan seperti yang diyakini sebagian besar masyarakat kala itu.

Keadaan semakin bertambah parah saat musim hujan tiba. Mereka terpaksa berkubang lumpur karena atap pondok yang bocor sehingga tak mampu menahan derasnya butiran air hujan yang jatuh. Belum lagi dengan serangan tikus-tikus yang bergerilya di malam hari demi memburu daging para penderita yang telah busuk. Karena umumnya penderita kusta mengalami mati rasa, mereka tak sadar jika dagingnya telah menjadi santapan para tikus yang kelaparan. Cerita miris itu dialami Gisela dan Isabela selama 3 tahun.

Keadaan mulai membaik pada tahun 1966, ketika pemerintah Jerman memberikan bantuan untuk mendirikan rumah sakit kusta di Lewoleba. Karena sebagian besar bahannya terbuat dari besi dan eternit, masyarakat setempat kemudian menyebutnya “rumah besi”. Dua tahun kemudian pada Desember 1968, rumah sakit itu resmi beroperasi. Nama pahlawan kusta yang menjadi inspirator Maria Gisela, yakni pastor Damian disematkan pada nama rumah sakit khusus kusta itu.

Kehadiran rumah sakit itu meringankan beban Mama Putih dan Mama Hitam dalam menangani penderita kusta. Berkat kerja keras dan kasih sayang mereka, banyak nyawa yang berhasil diselamatkan. Para mantan penderita kusta itu dapat kembali menegakkan kepalanya menatap masa depan. Untuk membangun kembali rasa percaya diri yang sempat terampas oleh keganasan kusta, mereka pun kemudian membangun paguyuban mantan penderita kusta.

Panggilan Mama yang diberikan masyarakat pada Gisela memang dirasa pantas. Karena naluri keibuannya yang dengan sabar merawat para penderita kusta yang membutuhkan pertolongan. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi mereka yang tengah bergumul melawan kusta. Ia bahkan merelakan tempat tinggalnya menjadi penampungan para penderita kusta yang dikucilkan masyarakat atau bahkan oleh keluarga mereka sendiri. Tak berlebihan rasanya jika mereka yang berhasil sembuh seakan terlahir kembali.

Selain merawat para penderita kusta, Gisela juga tak bosan mengampanyekan bahwa kusta bukanlah kutukan Tuhan seperti yang diyakini sebagian besar masyarakat kala itu.

“Penyakit kusta bisa disembuhkan. Biarlah mereka hidup bersama kita. Mereka juga citra Tuhan. Tuhan sayang kita semua. Jangan lukai hati mereka. Mereka telah terluka. Orang-orang kusta tidak saja sakit fisik, tapi juga sakit hati,” seruannya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk memberantas penyakit kusta bukan penderitanya.

Kemuliaan hati Maria Gisela tidak hanya pada penderita kusta, tapi juga terhadap anak-anak terlantar dari keluarga tak mampu. Oleh Gisela, mereka ditampung di suatu tempat dan diberikan pendidikan hingga mereka dapat hidup mandiri. Semakin hari jumlah anak yang ditampungnya semakin bertambah. Rumah penampungan itu pun kemudian dibangun menjadi panti asuhan.

Karena keberhasilannya mengangkat derajat para penderita kusta, pamor wanita Jerman ini di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur bahkan mengalahkan kalangan pejabat hingga presiden sekali pun.

Setelah 17 tahun mengabdikan diri di Lembata, dan setelah berhasil menghidupkan kembali harapan orang yang hampir mati, Mama Putih merasa tugasnya telah selesai. Pada tahun 1980, setelah sebelumnya menyerahkan Rumah Sakit Kusta Damian yang dirintisnya kepada kongregasi suster-suster CIJ (Congregatio Imitationis Jesu), ia pun memutuskan kembali ke Jerman untuk berkumpul kembali dengan sanak saudaranya.

Kepergian Gisela diiringi isak tangis dari penduduk sekitar, terlebih mereka yang berhutang budi padanya. Lambaian tangan sebagai tanda perpisahan membuat suasana kala itu semakin mengharu biru. Setelah kepulangannya, hampir tidak ditemukan lagi kasus penyakit kusta yang mewabah di daerah itu.

Tapi pada tahun 1987, atas permintaan Uskup Kupang Mgr. Gregorius Monteiro, Gisela kembali menginjakkan kaki di tanah Flores. Misi Mama Putih kali ini adalah mengobati penderita kusta di Pulau Alor yang letaknya jauh lebih terpencil dibanding Lembata. Setibanya di Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Gisela memberikan pertolongan kepada penderita kusta di Kampung Kusta Benlelang.

Di desa ini, Gisela kembali disuguhi pemandangan memilukan seperti yang ia jumpai hampir seperempat abad sebelumnya saat tiba di Lembata. Kondisi fisik para penderita kusta semakin terlihat menyedihkan karena sebagian besar dari mereka sudah dalam keadaan cacat. Mama Putih semakin terharu melihat semangat mereka dalam mencari nafkah meskipun memiliki keterbatasan fisik.

Setelah tiga tahun lamanya berjuang, pemerintah Indonesia baru mulai tergerak memberikan bantuan. Dokter dari Rumah Sakit Kusta Sitanala Tangerang, Banten didatangkan untuk membantu Gisela dan kawan-kawan. Dengan bantuan dari Departemen Kesehatan RI, mereka kemudian melakukan operasi terhadap penderita kusta yang sudah terlanjur cacat. Pelayanan pun semakin meningkat seiring berdatangannya bantuan, baik dari dalam maupun luar negeri khususnya dari pemerintah Jerman.

Pada 20 September 1996, bertepatan dengan masa pensiunnya, Maria Gisela Borowka resmi menjadi warga negara Indonesia. Dengan kewarganegaraan barunya itu, langkahnya semakin mudah menjalankan misi kemanusiaan lainnya. “Saya percaya bahwa Tuhan telah mengatur semuanya dengan baik. Saya tidak lagi berpikir untuk pulang ke Jerman sebab saya masih dibutuhkan di Indonesia,” ujar Gisela.

Kenangan manis pada sosok Mama Putih telah terpatri dalam sanubari siapa pun yang mengenalnya. Terlebih bagi mereka yang merasa berhutang nyawa padanya. Di tengah rasa putus asa, Mama hadir bagaikan malaikat yang tak lelah menyuntikkan semangat hidup agar mereka dapat kembali mengarungi samudera kehidupan dengan optimis. Mama Putih tidak hanya menyembuhkan mereka dengan obat tapi kasih sayangnya yang tulus. Ia bahkan rela menahan kantuknya hanya untuk menemani seorang penderita kusta yang tengah berjuang melawan rasa sakit.

Sama seperti saat mengabdikan diri di Lembata, Mama juga membangun panti asuhan untuk anak terlantar di Alor. Sehingga mereka dapat tidur nyenyak di tempat tidur dan bermain di tempat yang layak.

Perempuan berpembawaan tenang ini telah mempersembahkan sebagian besar hidupnya untuk menolong orang lain. Semangatnya dalam berbagi mengalahkan ketakutan tertular kusta seperti yang ada di benak sebagian besar orang. Cinta dan kasih sayang adalah jalan terlurus menuju keselamatan umat manusia, tak peduli betapa jauh dan beresikonya, termasuk mengorbankan dirinya sendiri.

Di usia senjanya, Gisela berharap akan ada orang-orang yang meneruskan perjuangannya menangani kaum yang kurang beruntung. Kekhawatiran pada kelangsungan hidup anak asuhnya tersirat jelas di wajah perempuan renta itu. “Kali pertama saya harus mencari orang yang bisa menggantikan saya merawat dan mengobati para penderita kusta di Alor. Saya juga akan mencari orang yang bertanggung jawab merawat anak-anak yang saya rawat di panti asuhan seperti anaknya sendiri agar esok mereka tidak terlantar dan ada yang mendidik dan merawat mereka semua,” ujarnya. Melihat perjuangannya, tak berlebihan rasanya jikalau gelar pahlawan kusta dari Indonesia diberikan pada Mama Putih. e-ti | muli, red

Data Singkat
Maria Gisela Borowka, Pelayan Penderita Penyakit Kusta / Pahlawan bagi Penderita Kusta | Direktori | Pelayan, Jerman, Kusta, lepra, NTT, kemanusiaan, perawat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here