Di sebuah halte, seorang sopir ojek menunggu pesanan. Angin sore membawa debu tipis, motor lewat pelan, dan suara notifikasi kadang terdengar. Di kursi halte, ada bungkus es krim dan bonggol kayu kecil tertinggal. Ketika ia bangkit hendak pergi, ia mengambil bonggol itu, berjalan dua langkah ke tempat sampah, lalu kembali naik motor.
Halte adalah ruang transisi: orang datang, duduk sebentar, pergi. Tidak semua meninggalkan jejak bersih. Sampah kecil sering tertinggal. Bukan karena niat buruk, hanya karena sebagian orang menganggap ruang umum sebagai ruang “bukan milik siapa pun”.
Sopir ojol itu tidak mengeluh. Tidak melirik sekitar untuk memastikan ada saksi. Tidak mengangkat barang bukti “kesadaran sosial”. Ia hanya melihat benda kecil yang tidak pada tempatnya, lalu mengembalikannya ke tempat sampah.
Sebuah tindakan yang memakan waktu kurang dari lima detik. Tapi membuat satu sudut kota sedikit lebih layak dipakai orang lain.
Dalam Sistem Sunyi, ini mendekati inti gerak batin: merawat sesuatu yang bukan milik pribadi tanpa mengumumkan alasan.
Beberapa sikap terasa dekat dengan dasar Sistem Sunyi: kedalaman lebih penting daripada sorak, proses lebih jujur daripada deklarasi.
- tidak menganggap sampah kecil sebagai urusan orang lain
- memberi perhatian pada ruang bersama tanpa panggung moral
- melakukan pencegahan kecil sebelum jadi masalah besar
- bergerak ringan, tidak mengharapkan komentar
- merawat setapak hidup kota tanpa menjadi “aktivis kebersihan” dadakan
Halte tidak berubah banyak. Tidak menjadi bersih sempurna. Hanya satu potongan kecil hilang dari pandangan. Tapi sering kali, peradaban bertahan bukan karena hal besar, melainkan karena orang seperti ini: yang memilih merapikan apa yang bisa dirapikan, lalu melanjutkan hari tanpa merasa telah berbuat sesuatu yang penting.
Mungkin itulah bentuk paling sederhana dari kepedulian: tidak menambah beban yang sudah cukup banyak.
Kutipan
Kadang yang menjaga kota bukan petugas, melainkan seseorang yang berhenti sebentar sebelum jalan lagi.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi di Luar: ruang observasi ringan untuk mencatat karya atau fenomena yang berada di luar struktur Sistem Sunyi, namun bergerak dalam nada yang sejalan dengan disiplin diam, proses, dan ketenangan batin.
Jejak ini tidak termasuk inti sistem. Ia hanya penanda kecil bahwa kesunyian kadang muncul tanpa nama dan tanpa rencana di tempat lain.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.



