Di sebuah ruang kelas kecil, anak-anak sedang menggambar. Pensil warna berpindah dari tangan ke tangan, meja ke lantai, lantai ke pangkuan. Ketika waktunya selesai, seorang anak bangun, memegang satu pensil yang bukan miliknya, berjalan ke depan, dan memasukkannya kembali ke kotak yang sama dengan ia mengambilnya tadi. Lalu ia kembali duduk, tanpa mengucapkan apa-apa.
Anak kecil belum diajari semua konsep: disiplin, tertib, kerapihan bersama. Mereka belajar lewat contoh, bukan teori. Banyak yang hanya meninggalkan pensil di meja atau memberikan ke guru, merasa tugas selesai ketika gambar selesai.
Tapi anak ini punya satu langkah tambahan: mengembalikan.
Bukan karena takut dimarahi. Bukan karena harus. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang memperhatikan. Begitu sederhana sampai sering luput dari pujian, dan mungkin itu yang membuatnya murni.
Tindakan kecil ini tidak punya simbol besar. Tidak mengajarkan apapun ke kelas lain. Tapi ia merawat sesuatu yang ia gunakan meski tidak memilikinya.
Dalam Sistem Sunyi, ini sejalan dengan inti dasar rasa: menjaga apa yang kita sentuh, meski sebentar, meski kecil.
Beberapa sikap terasa dekat dengan dasar Sistem Sunyi: kedalaman lebih penting daripada sorak, proses lebih jujur daripada deklarasi.
- mengembalikan sesuatu bukan karena aturan, tapi karena merasa itu tepat
- menganggap alat umum seperti milik sendiri
- memahami bahwa selesai bukan hanya berhenti memakai, tapi merapikan kembali
- bergerak tanpa berharap perhatian atau tepuk tangan
- mulai belajar bahwa kebaikan tidak perlu disadari orang lain
Kotak pensil tetap penuh. Ruang tetap rapi. Anak itu kembali ke dunianya yang sederhana. Tidak ada perasaan berhasil. Tidak ada kesadaran tentang “nilai moral”. Hanya kebiasaan kecil yang tumbuh diam-diam.
Dan kadang, hal seperti ini lebih kuat daripada kata-kata besar yang diajarkan orang dewasa.
Kutipan
Sebelum belajar menulis kata “baik”, beberapa anak sudah melakukannya.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi di Luar: ruang observasi ringan untuk mencatat karya atau fenomena yang berada di luar struktur Sistem Sunyi, namun bergerak dalam nada yang sejalan dengan disiplin diam, proses, dan ketenangan batin.
Jejak ini tidak termasuk inti sistem. Ia hanya penanda kecil bahwa kesunyian kadang muncul tanpa nama dan tanpa rencana di tempat lain.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.



