Ingin Melepas Figur Oneng
Rieke Diah Pitaloka
[DIREKTORI] Sebelum terjun ke dunia politik, perempuan yang populer lewat perannya sebagai gadis blo’on dan lugu bernama Oneng dalam serial Bajaj Bajuri dan Salon Oneng ini dikenal sebagai bintang sinetron, teater, aktivis dan pembawa acara program televisi. Dalam kiprahnya sebagai anggota DPR periode 2009-2014, ia banyak menyoroti masalah-masalah yang berkaitan dengan kaum perempuan.
Rieke Diah Pitaloka Intan Permatasari lahir di Garut, Jawa Barat pada 8 Januari 1974. Ia mengawali karirnya sebagai aktris sinetron. Dari sekian banyak sinetron yang pernah dibintanginya, sitkom Bajaj Bajurilah yang paling mengorbitkan namanya. Dalam sinetron komedi yang tayang di Trans TV itu, ia beradu akting dengan komedian Mat Solar yang berperan sebagai seorang supir bajaj bernama Bajuri.
Di sinetron besutan Aris Nugraha itu, Rieke berperan sebagai Oneng, istri Bajuri, yang berkarakter polos bahkan terkesan blo’on. Peran yang kerap mengundang tawa itu akhirnya berhasil memancing kekaguman pemirsa atas aktingnya. Penghargaan dari Forum Film Bandung 2003 sebagai Aktris Wanita Terpuji pun berhasil disabet Rieke.
Selain sinetron, Rieke juga menjajal dunia teater. Di samping untuk terus menggali potensinya dalam berakting, ia juga ingin melepaskan imej Oneng yang selama bertahun-tahun melekat padanya. Meski terbilang sukses, nampaknya peran tersebut lama kelamaan membuatnya jengah. “Aku ingin image Oneng yang o’on hilang dari diriku makanya lewat pementasan ini aku akan coba mengikis image tersebut sedikit demi sedikit,” ungkapnya pada acara jumpa pers pementasan teater yang berjudul ‘Cipoa’ yang digelar di pertengahan Juni 2007.
Tandem presenter Ferdy Hasan dalam acara Good Morning Trans TV ini mengakui masyarakat memang sudah mengenal dirinya sebagai Oneng dan itu tidak dapat dipungkiri namun menurutnya hal itu tidak baik kalau dibiarkan terus menerus. Rieke mencontohkan Didi Petet yang waktu itu sudah melekat dengan tokoh bencong bernama Emon yang ia perankan dalam film Catatan Si Boy. Namun karena sedikit demi sedikit dikikis akhirnya image tersebut hilang dari diri Didi Petet. “Aku ingin mencontoh langkah Kang Didi yang sukses menghilangkan image tokoh Emon,” demikian Rieke mengungkap tekadnya seperti dikutip situs kapanlagi.com.
Dalam panggung teater, ia pernah ikut dalam pementasan teater bertajuk Jangan Menangis Indonesia bersama Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya pada tahun 2003. Di tahun yang sama, Rieke juga tampil dalam pertunjukan teater Ekstrim!! bersama Shakespeare Theatre, kemudian bersama Teater Bejana, ia tampil dalam pertunjukan bertajuk Cairan Perempuan. Jika sebelumnya ia hanya tampil sebagai pemain di tahun 2008, Rieke mulai mengembangkan kemampuannya sebagai pemain sekaligus produser dan penulis naskah dalam pertunjukan teater Monolog Perempuan Menuntut Malam.
Dari panggung teater, Rieke lalu merambah ke layar lebar. Debutnya dimulai saat menjadi salah satu aktris pendukung dalam film garapan Nia Dinata, Berbagi Suami. Di film itu, ia berperan sebagai Dwi, seorang perempuan yang rela dipoligami. Setelah itu, Rieke kembali berakting dalam film antologi karya empat sutradara perempuan berjudul Lotus Requiem, yang kemudian judulnya diubah menjadi Perempuan Punya Cerita. Film tersebut menampilkan kisah empat perempuan, yakni Sumantri (Rieke Diah Pitaloka), Safina (diperankan Kirana Larasati), Esi (Shanty), dan Laksmi (Susan Bachtiar).
Setelah dunia seni peran, jebolan Sastra Belanda Universitas Indonesia ini mulai merambah dunia politik. Ketertarikan Rieke pada politik tak main-main atau hanya sekadar latah mengekor jejak rekan seprofesinya yang lebih dulu berkecimpung sebagai politikus.
Dalam sebuah kesempatan di pertengahan tahun 2007, ia menceritakan awal partisipasinya dalam kancah perpolitikan Tanah Air, “Awalnya, saya gregetan dengan hukum Indonesia yang berjalan tidak sesuai koridor. Saya juga sedih karena ada stigma bahwa di dunia politik artis cuma digunakan sebagai pajangan, hanya disuruh nyanyi, menghibur, jadi MC-nya saja. Tanpa ditanya apa punya gagasan atau diajak rapat. Saya miris melihatnya,” tutur Rieke seperti dikutip dari situs infoartis.com.
Terlebih lagi diakuinya, dunia politik bukanlah hal yang baru sebab pengagum Bung Karno ini telah mempelajari seluk beluk ilmu politik sejak tahun 1995. Pada saat terjadi pergolakan yang dimotori mahasiswa yang berujung runtuhnya rezim Orde Baru, Rieke pun ikut ambil bagian. Saat itu Rieke masih berstatus mahasiswa dan tergabung dalam Gerakan Mahasiswa UI Aliansi Pro Demokrasi Anti Militerisme. Oleh karena itu, ia membantah jika ada sebagian kalangan yang mencapnya sebagai politikus instan. “Saya nggak buta-buta banget soal politik,” tegasnya.
Rieke mengaku, selama aktif dalam bidang politik, ia sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan lantaran terlalu vokal menyuarakan aspirasi rakyat. Ancaman pun kerap ia dapatkan dari oknum-oknum yang berseberangan pemikiran dengannya. Tapi hal itu tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus menyuarakan aspirasi rakyat.
Keseriusan dan komitmennya dibuktikan dengan berbagai jabatan yang pernah diamanatkan padanya. Rieke pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar. Belakangan ia mengundurkan diri dari partai berbasis massa Islam tersebut untuk kemudian bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri. Partai berlogo banteng itulah yang kemudian mendukung pencalonannya sebagai caleg pada Pileg tahun 2009. Berbekal popularitasnya sebagai selebriti, Rieke yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat II berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR periode 2009-2014.
Dalam melakukan tugas sebagai anggota dewan, perlu ditopang oleh kemampuan intelektualitas. Untunglah, sosok Rieke di kehidupan nyatanya memang amat berbeda jauh dengan sosok lugu Oneng yang terlanjur melekat pada wanita berdarah Sunda ini. Selain kritis, ia juga figur yang amat mementingkan pendidikan. Di tengah puncak karirnya, Rieke tetap berusaha menimba ilmu. Setelah berhasil meraih gelar sarjana di bidang filsafat dan sastra, perempuan yang kerap disapa Keke ini meneruskan studinya ke jenjang S-2 jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI).
Bahkan tesisnya yang berjudul Banalitas Kejahatan: Aku yang tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara sudah dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat terbitan Galang Press. Peluncuran buku tersebut dilakukan pada 19 Oktober 2004 bertempat di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Membukukan tesisnya memang impian Rieke sejak lama. Sejak lulus pada Agustus 2004, ia memang getol menawarkan tesisnya ke penerbit tapi sempat tidak ada yang tertarik. Baru dua minggu kemudian penerbit Galang Press mau menerbitkannya. Menurut Rieke, buku ini ia persembahkan untuk Indonesia anti-kekerasan. “Saya sangat prihatin bahwa kini kekerasan juga tak hanya dilakukan oleh aparat tapi juga oleh kita semua, malah dalam lingkungan keluarga,” katanya.
Acara peluncuran bukunya dihadiri sejumlah tokoh seperti dua kakak beradik seniman kondang asal Yogyakarta Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto, mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa serta mantan presiden Abdurrahman Wahid dan istri.
Di sela-sela padatnya aktivitas, Rieke juga aktif menulis. Selain tentang politik, politikus yang vokal memperjuangkan nasib kaum hawa ini juga gemar merangkai kata menjadi sebuah puisi indah. Pada Desember 2001, ia mempublikasikan kumpulan puisi-puisinya dalam sebuah buku berjudul Renungan Kloset untuk pertama kali. Dua tahun kemudian, April 2003, Rieke meluncurkan ‘sekuel’ buku kumpulan puisi Renungan Kloset yang diberi tajuk Dari Cengkeh sampai Utrecht. Selanjutnya, Rieke kembali meluncurkan karyanya, masih berbentuk kumpulan puisi yang kali ini diberi judul UPS! pada Desember 2005.
Selain rajin menelurkan karya tulisnya dalam bentuk buku, bintang iklan sebuah merk minuman kesehatan ini juga mendirikan Yayasan Pitaloka, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.
Di samping soal popularitasnya sebagai aktris yang kemudian terjun sebagai politikus, kehidupan pribadi Rieke pun tak luput dari sorotan media. Rieke mengakhiri masa lajangnya setelah menerima pinangan seorang dosen filsafat Universitas Indonesia bernama Donny Gahral Adian pada Sabtu, 23 Juli 2005, di kediaman orangtua Rieke di Garut, Jawa Barat. Di tengah kabar bahagia itu, sempat berhembus kabar tak sedap yang dihembuskan Exel J Permadi, mantan kekasih Rieke yang belakangan mengaku masih berstatus sebagai tunangannya.
Menurut pria yang berprofesi sebagai sutradara itu, pertunangannya dengan Rieke yang telah terjalin sejak 11 Januari 2002 belum resmi putus. Maka saat ia mendengar kabar bahwa Rieke telah menikah, Exel pun tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Meski sang mantan kekasih terus menerus memojokkannya, Rieke hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Cobaan pun tak berhenti hingga saat itu saja. Rieke yang menikah di usia kepala 3 ini amat mendamba hadirnya momongan sebagai penerus keturunannya. Setelah menanti cukup lama serta mengalami dua kali keguguran, ia melahirkan bayi pertamanya pada 11 Maret 2009 pukul 15.20 WIB di Rumah Sakit Boromeus Bandung. Bayi berjenis kelamin laki-laki dengan berat 2,9 kg dan panjang 51 cm itu diberi nama Sagara Kawani Adiansyah, yang dalam bahasa Sunda berarti lautan keberanian.
Selain pernah disorot soal masalah asmara, Rieke juga pernah beberapa kali berurusan dengan hukum. Seperti saat ia bersama anggota dewan lainnya yakni Ribka Tjiptaning dan Nur Suhud berkunjung ke Pondok Pesantren Al Qadiri 1 di Banyuwangi pada 23 Juni 2010. Kunjungan tersebut dimaksudkan Rieke untuk mensosialisasikan materi mengenai hak masyarakat memperoleh kesehatan secara gratis dan juga RUU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial yang sedang dibahas DPR. Ketika acara baru berlangsung selama setengah jam, segerombolan massa dari Front Pembela Islam (FPI) bersama Forum Banyuwangi Cinta Damai dan LSM Gerak melakukan penyerangan kemudian membubarkan paksa acara tersebut dengan alasan berbau komunis.
Rieke dkk tentu saja keberatan dengan tudingan tak mendasar tersebut dan melaporkan insiden itu ke kepolisian. Rieke merasa kasus ini bukan hanya menimpa dirinya secara pribadi namun saat ia sedang menjalankan tugas kenegaraan selaku anggota DPR RI.
Ia juga amat menyayangkan kasus tersebut. Menurut Rieke, undangan yang hadir dalam acara tersebut berasal dari berbagai elemen namun ada beberapa peserta yang berasal dari keturunan keluarga bekas anggota PKI. Rieke menjelaskan, kegiatan sosialisasi kesehatan gratis tersebut merupakan kegiatan umum dan bisa dihadiri siapa saja, termasuk bekas anggota atau keturunan PKI. “Saya menyayangkan sikap yang dilakukan FPI karena bekas anggota atau keturunan PKI juga warga negara Indonesia,” katanya.
Terlebih saat mendengar tuduhan dari seseorang yang mengaku sebagi Ketua FPI Banyuwangi, yang menyatakan sosialisasi kesehatan gratis hanya kedok dan pertemuan itu merupakan kegiatan terselubung untuk menumbuhkan semangat komunisme lagi karena banyak peserta dari luar Kabupaten Banyuwangi yang datang.
Beberapa bulan sebelumnya, Rieke juga sempat bolak-balik ke kantor polisi atas laporan pelecehan seksual atas dirinya yang dilakukan oleh seorang dokter bernama Rasyidin saat melakukan kunjungan kerja ke RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan pada 8 Maret 2010. Rieke melaporkan kasus tersebut ke Ditreskrim Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Makassar keesokan harinya, 9 Maret 2010. Selain ke polisi, Rieke juga akan melaporkan oknum dokter tersebut ke Dewan Etik Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Menurut Rieke, dalam kunjungan ke RSUD Labuang Baji, Komisi IX DPR melakukan pertemuan dengan sejumlah dokter dan tenaga medis Rumah Sakit tersebut. Usai pertemuan, sejumlah dokter mengajaknya berfoto bersama. Sebagai orang yang juga terjun di dunia hiburan, Rieke pun maklum dan memenuhi ajakan berfoto bersama itu.
“Tapi usai foto bersama, tiba-tiba ada seorang dokter memeluk saya dari belakang. Saya marah dan berontak,” ungkap Rieke. Namun, sambung Rieke, dokter tersebut bukannya meminta maaf malah mengulangi perbuatannya. Bahkan kali ini lebih parah. Dokter bernama Rasyidin itu malah berusaha mencium Rieke.
“Saya marah, tapi dia malah bilang Anda kan publik figur,” ungkap Rieke. Rieke menegaskan, tindakan dokter tersebut tidak bisa ditolerir lagi. Karena itu, dia kemudian memutuskan melaporkan tindakan pelecehan seksual tersebut. “Ini bentuk pelecehan dan diskriminasi terhadap perempuan. Harus ada proses hukum agar pelaku jera,” tukas Rieke.
Sementara itu Rasidin, sang dokter yang dituduh telah melecehkan Rieke membantah tuduhan tersebut. Dalam pembelaannya ia mengatakan, ia tidak pernah mencium Rieke. “Ketika itu kami berdesak-desakan sehingga saya menyentuh Rieke. Inilah mungkin yang dia sebut saya ingin menciumnya,” katanya. Ia juga membantah ucapan Rieke yang menuduh dirinya mengatakan akan melakukan sun alias ciuman. “Saya tidak pernah bilang sun seperti yang diucapkan Rieke di media,” ujarnya. Ia juga mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan Rieke dan hanya memanggil dengan nama Oneng. “Namun sepertinya Oneng tidak suka dengan panggilan itu, inilah yang membuat ia marah,” kata sang dokter.
Namun sayang, laporan Rieke itu menggantung begitu saja karena dianggap kurang cukup bukti. Rieke menilai jika ada kasus yang hanya disimpan di dalam laci kepolisian termasuk kasus yang dia alami berarti ada yang salah dengan sistem keadilan di Indonesia. Kasus itu bukan hanya persoalan pelecehan perempuan, tetapi juga masalah hukum yang belum bisa melindungi masyarakat.
Berkaca pada kasus pelecehan yang pernah ia alami, Rieke mengajak kaum perempuan untuk berani melaporkan jika menjadi korban pelecehan. Tidak hanya memendam kekecewaan dalam hati karena perasaan takut. “Perempuan harus berani keluar dari kotak kecil dan mentalitas sebagai korban. Pembelajaran untuk jangan takut melapor jika terjadi tindak pelecehan, jangan hanya ngedumel,” tegasnya seperti dikutip dari situs kapanlagi.com
“Kita punya aparat hukum, untuk para korban jangan takut karena ada saya dan orang lain yang siap membantu. Selama ini perbandingannya sangat mencolok banyak kasus terjadi tetapi hanya sedikit yang melapor,” pungkas Rieke. eti | muli, red