Page 58 - Majalah Berita Indonesia Edisi 12
P. 58
BERITA FEATURE58 BERITAINDONESIA, 4 Mei 2006Jepara, Jawa Tengah,1903. Perempuan berparas ayu itu mengajukan syarat kepadalelaki yang meminangnya. Tidak ada upacaraberlutut dan menyembah kakimempelai pria dan ia akan berbahasa Jawa ngoko dengan suaminya. Syarat yang terlampau radikalbagi masa itu.Lelaki itu, Bupati Rembang Raden Mas Adipati Aryo Djojo Adhiningrat menyetujuinya. Maka, 11November 1903, sang bupati menikahi perempuan itu sebagai isterikeempat.Perempuan ayu yang berpikiranmaju itu, Raden Ajeng Kartini,dilahirkan pada 21 April 1879 diMayong bagian Jepara, anak perempuan kedua dari Bupati Jepara,Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Ia anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Darikesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak, termasukorang yang mula-mula mengecap peradaban Barat dan diangkat menjadibupati dalam usia 25 tahun.Setelah menikah dengan RMAA DjojoAdhiningrat, Kartini pindah ke Rembangmengikuti suaminya. Pada 17 September1904, Kartini meninggal di usia 25 tahun,empat hari setelah melahirkan puterapertamanya. Namun masa hidupnya yangsingkat itu tidak serta merta turut menguburkan pemikiran-pemikirannya yangprogresif untuk memajukan kaum perempuan di negerinya.Di masanya, kewajiban kaum perempuan hanya bekerja untuk rumah tanggaserta mengasuh anak-anaknya. Gadisgadis dididik untuk berbakti kepadasuaminya, mereka harus menyerah dalamsegala perkara dan tetap harus sabar.Kartini yang berpikiran moderen inginmemajukan kaumnya melalui jalan pendidikan. Ia menulis kepada salah seorangsahabat penanya, Nyonya Van Kool,Agustus 1091: “Alangkah besar bedanyabagi masyarakat di negeriku bila kaumperempuan dididik baik-baik. Dan untukkeperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yangsangat supaya disediakan pelajaran danpendidikan, karena inilah yang akanmembawa bahagia baginya.” Untungnya, suaminya mengerti keinginan Kartini. Ia diberi kebebasan dandidukung mendirikan sekolah wanita disebelah timur pintu gerbang komplekskantor kabupaten Rembang, atau disebuah bangunan yang kini digunakansebagai Gedung Pramuka.Kemoderatannya tercermin pula dalampergaulannya dengan keluarga. Ia berusaha mengubah adat istiadat yang lama.Bahasa Jawa yang digunakan seharihari di masa itu memiliki tingkatantingkatan dari kromo inggil (halus)sampai ngoko (sejajar). Terhadap keluarganya yang lebih tua, Kartini masihmenggunakan bahasa kromo inggil bilabercakap-cakap. Tetapi ia tidak memperbolehkan adik-adiknya mengikuti tatacara itu.Pergaulannya dilakukan setara denganorang kebanyakan yang dianggap lebih bersahabat. Menurutnya, cara demikianlah yang dapat menimbulkanpertalian yang teguh dan hubungan yang erat sebagai bahasa persaudaraan setara.Meski ia seorang bangsawan, tetapiKartini tidak terpengaruh pada kebangsawanannya.“Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran danbangsawan budi. Tidaklah yang lebihgila dan bodoh menurut pendapatsaya daripada melihat orang yangmembanggakan asal keturunannya.”Demikian suratnya kepada Stella, 18Agustus 1899.Semangat kesetaraanSurat-surat Kartini yang kemudianhari dikumpulkan dan diterbitkandengan judul “Door Duisternis TotLicht” oleh Mr. J.H. Abendanon,Menteri Kebudayaan, Agama danKerajinan Hindia Belanda, yangmerupakan sahabat Kartini. Pujangga Baru Armijn Pane kemudianmenerjemahkan dengan judul “HabisGelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran.”Pada perkenalan dengan Estelle”‘Stella’Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaummuda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas dudukdi bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang takdikenal, dan harus bersedia dimadu.Pandangan-pandangan kritis lain yangdiungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. IaPuteri yang Menyingkap KegelapanPemikirannya yang progresif tentang rasionalisme dan pembebasan hak-hakperempuan serta pribumi mampu membuka zaman baru bagi Indonesia.“Jika saja masih anak-anak ketika kata‘emansipasi’ belum ada bunyinya, belumberarti lagi bagi pendengaransaya, karangan dan kitab-kitab tentangkebangunan kaum putri masih jauh dariangan-angan saja, tetapi di kala itu telahhidup di dalam hati sanubari saya satukeinginan yang kian lama kian kuat,ialah keinginan akan bebas, merdeka,berdiri sendiri.”(Surat Kartini kepada Estelle ‘Stella’Zeehandelaar, 25 Mei 1899)RADEN AJENG KARTINI:Memperjuangkan pembebasanhak-hak perempuan sertapribumi.

