Page 37 - Majalah Berita Indonesia Edisi 21
P. 37


                                    BERITAINDONESIA, 21 September 2006 37LENTERAmencari solusi untuk mewujudkankualitas pendidikan nasional. Namun,tegasnya, dalam aplikasi selama ini,sesuatu yang dicari dan didambakanmasih belum kunjung wujud. Banyak halmemang yang menjadi penghalang.Menurutnya, banyak penanggungjawab dan pelaku pendidikan yang masihmenganggap sepele kepada sarana danprasarana pendidikan. Masih banyakyang menyimpulkan hal itu tidakmerupakan problem krusial, sehinggaperwujudannya tampak dan terasa sangatapa adanya, tidak mengikutiperkembangan hajat dan zaman. Saranapendidikan, yakni segala sesuatu yangdapat dipergunakan sebagai alat dalammencapai maksud atau tujuanpendidikan, yang selama inipengadaannya di sekolah-sekolahIndonesia khususnya di pedesaan, sudahsangat kedaluarsa, justru dengan saranayang ada itu, dapat melumpuhkan maknadan cita-cita pendidikan itu sendiri(dalam kata lain menciptakankebodohan).Sarana yang tersedia di sekolah-sekolahpedesaan (juga di perkotaan) tidakmencerminkan kesanggupan dankesiapan bangsa Indonesia menyambutgegap gempitanya perubahan zaman.Zaman manual berubah kepadakecerdasan otak dan ilmu pangetahuan,namun sarana pengantar ke arah itubelum diekspos di dalam pembelajaranformal. Zaman yang serba bersih dansihat, dan sekolah belum mempersiapkansarana untuk membiasakan hidup bersihdan sihat. Zaman serba disiplin, sekolahjuga belum menciptakan sarana yangdapat menunjang ke arah itu.Juga prasarana pendidikan, sesuatuyang merupakan penunjang utamaterselenggaranya suatu prosespendidikan. Kita dapat mencermatikeberadaannya. Bangunan-bangunanfisik sekolah khususnya di pedesaanterkesan rapuh, tidak bervisi pendidikanyang luas, lokasinya tidak strategis dalampandangan pendidikan, asal-asalan.Bahkan banyak orang Indonesiaberpandangan bahwa bangunan fisikpendidikan tidak menentukan hasil dankualitas pendidikan. Jika pandangan itudianut oleh banyak orang sudah barangpasti apa yang terjadi dan kita rasakanselama ini tentang terhambatnya kualitaspendidikan nasional kita akan terus abadibercokol.Syaykh yakin, bangunan fisik sekolahtetap punya peranan penting untukmengantar pencapaian pelaksanaanpendidikan yang berkualitas. Fisikbangunan sekolah harus terprogramdengan baik, kokoh, dapat mewadahi visipendidikan yang berjangka panjang kedepan. Itulah sebabnya sarana danprasarana dibangun selengkap mungkindi Al-Zaytun.Di samping itu, perihal pelaku didik(guru) juga masih sarat masalah. Syaykhmengutip Prof. Mahmud Yunus dalambuku panduan pendidikan (Al-Tarbiyahwa Al-Ta’lim) mengatakan: Sistemmaupun metode lebih penting dari padamateri ajar, namun guru dan pendidiklebih penting dari keduanya. “Tidak siapapun yang mengerti pendidikan,meletakkan guru sebagai unsurpendidikan yang tidak bermakna, darizaman ke zaman guru menjadi pemegangperanan terpenting dalam prosespendidikan. Guru dapat mengantarsuasana belajar menjadi favorable,”katanya.Dia menekankan, guru mesti dihargaidan dihormati dalam arti seluas-luasnya.Namun, diingatkan, dalam menetapkanguru sebagai pelaku didik harus melaluiproses seleksi yang jelas, berdasar citacita dan tujuan pendidikan. Sebab, kalautidak, dari guru juga akan dapatmenciptakan berbagai aktivitas yangkontra produktif terhadap makna dantujuan pendidikan. Berbagai kejadiansering kita temukan dalam pengalamanmendidik keseharian dalam sekolahmaupun kelas.Guru dalam kegiatannya sebagai pelakudidik, akan meningkat kualitasnya jikaselalu tampil sebagai the facilitatordalam elemen dasar action learning,pada pembimbingan team (grup pesertadidik) dalam menghadapi problembelajar, menciptakan tim mampubertanya dan berproses merefleksiproblem, memfasilitasi tim untukmemiliki kebulatan tekad (resolusi)mengambil tindakan, dan memfasilitasitim agar selalu memiliki komitmenbelajar yang tinggi.Belakangan ini, di zaman kebebasandan reformasi, guru justru dapatmenciptakan suasana kontraproduktifdalam pelaksanaan proses belajarmengajar. Guru dapat menciptakan liburtotal pada hari-hari yang mestinya untukbelajar, hanya karena dorongankebebasan menyampaikan pendapatberbentuk demonstrasi yang memakanwaktu lama dan melibatkan seluruh gurudan murid dari segala lapisan yang adadalam satu wilayah pemerintahan daerah.Menurutnya, biasanya guru, dalammemecahkan problem, selalu tampildengan metode pendidikan yang elegan,baik berupa tekanan maupun dukunganterhadap orang lain yang dihadapi,namun kenyataan yang berjalan disebuah wilayah daerah di Indonesia yangsedang terjadi adalah pemogokan prosesbelajar mengajar, bahkan mendapatdukungan dari berbagai pihak yangmestinya ikut menyelesaikan persoalanyang sedang terjadi. “Semoga semua itudapat dijadikan pelajaran bagi semuapihak, dan “peradaban” the end justifiesthe means tidak merasuk ke dalamtataran kehidupan unsur pokokpengemban pendidikan,” katanya.Masalah lainnya adalah keseimbangandana. Menurut Syaykh, dalammenghadapi Indonesia modern, tuntutanmasyarakat terhadap pemerintahsemakin meningkat, dalam bentukpeningkatan anggaran pendidikan.Memang idealnya anggaran pendidikanyang disediakan pemerintah harussetinggi mungkin. Namun jika itudilaksanakan juga, akan menjadi satudilema. Sebab untuk memenuhi anggaranbelanja dan pendapatan, pemerintahbelum siap memerintah tanpa utang luarnegeri. Itu artinya semakin ditingkatkanberbagai macam anggaran perbelanjaan,semakin membengkak jumlah utang yangakan ditanggung oleh rakyat, dansemakin dalam jurang kemiskinan rakyatIndonesia.Dalam hal ini, kata Syaykh, rakyatIndonesia pun terbagi menjadi berbagaisikap. Ada yang bersikap segala sesuatumborongkerso apa yang telah disikapioleh pemerintah. Ada pula yang bersikapsegala sesuatu yang dilakukan olehpemerintah selalu tidak cocok bagipemikirannya, namun tidak pernahmenampilkan jalan keluar, atau jalankeluarnya hanya berbentuk kritik dankritik, yang kalau kritiknya itu diserahkankepadanya untuk melaksanakannya inaction juga tidak dapat dilakukannya.Namun, kata Syaykh lebih lanjut, pastiada sekelompok bangsa Indonesia yangsanggup dan dapat berbuatmenggabungkan dua kelompok yangberbeda dalam menghadapi problempendanaan pendidikan Indonesia modernyang dicita-citakan bersama tersebut.Yakni membuat anggaran pendapatandan belanja pendidikan yang seimbang:Yang tidak menyerahkan kepada utangluar negeri saja, tapi juga tidak hanyaterus-menerus menekan pemerintahuntuk menaikkan anggaran pendidikandengan tanpa mau tahu apa yangdiperbuat.Syaykh mengutip nasihat tetua bangsaIndonesia dalam soal pendidikan kepadabangsanya agar mampu tampil: Ingngarso sung tulodo Ing madyo mangunkarso Tutwuri handayani (Ki HajarDewantara). Menurut, Syaykh, nasihat inisepertinya diartikan dalam ruang lingkupsempit oleh bangsa Indonesia. Biasanyahanya dipergunakan dalam urusan guru,bahkan lebih sempit lagi untuk guru yangsedang mengajar dalam kelas.Padahal, katanya, kalau kita semuamencerna secara mendalam nasihat itu,cakupannya amat-sangat luas. Termasukjuga dalam urusan mencipta,menggerakkan, dan menata segalasesuatu yang berkenaan dengan urusanpendidikan secara luas, termasuk didalamnya adalah urusan pendanaanpendidikan. Menciptakan dana penuhkemandirian, menggerakkan danapendidikan pada gerakan yang sihat dantepat, dan menata serta mengelola dana
                                
   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41