Page 39 - Majalah Berita Indonesia Edisi 21
P. 39
BERITAINDONESIA, 21 September 2006 39 Syaykh berharap, mari semua itu kitajadikan masa lalu dan kita tinggalkan.Sebab bangsa yang tidak sanggup dansiap meninggalkan masa lalunya, itumerupakan pertanda bahwa bangsatersebut tidak berkeinginan untukmenampilkan generasi yang kuat,berketahanan fisik, berkecerdasan pikirdan berkecepatan reaksi.“Mari kita tinggalkan paradigmapendidikan Indonesia masa lalu, dan kitapersiapkan bangsa ini melaluipendidikan, agar mereka mampu menjadileader (pemimpin) yang sesuai denganciri kepemimpinan abad ini. Minimaluntuk memimpin dirinya sendiri,”serunya.Arah dan KurikulumArah dan tujuan Al-Zaytun adalah:Mempersiapkan peserta didik untukberakidah yang kokoh kuat terhadapAllah dan syari’at-Nya, menyatu di dalamtauhid, berakhlakul karimah, berilmupengetahuan luas, berketerampilan tinggiyang tersimpul dalam ‘bashthotan fil ‘ilmiwal jismi’ sehingga sanggup siap danmampu untuk hidup secara dinamis dilingkungan negara bangsanya danmasyarakat antarbangsa dengan penuhkesejahteraan dan kebahagiaan duniawimaupun ukhrawi.Dalam mencapai arah dan tujuan itu,bentuk kurikulum yang diberikan di AlZaytun ini adalah kurikulum pendidikanIslam (bagi santri muslim) umum secarakomprehensif dan modern yang selalusensitif dan tanggap terhadapperkembangan zaman. Spesifikasi danciri khasnya adalah penguasaan Alquransecara mendalam, terampilberkomunikasi menggunakan bahasabahasa antarbangsa yang dominan,berpendekatan ilmu pengetahuan,berketerampilan teknologi dan fisik,berjiwa mandiri, penuh perhatianterhadap aspek dinamika kelompok danbangsa, berdisiplin tinggi sertaberkesenian yang memadai.Sebagaimana dirasakan bahwaIndonesia secara realita masih tertinggaldari sisi ekonomi, teknologi dan ilmupengetahuan. Maka Al-Zaytun inimenitikberatkan kurikulumnya kepadapencapaian ilmu dan teknologi yangdijiwai dengan iman dan takwa.Menurut Syaykh, menitikberatkankurikulum pada masalah ilmupengetahuan, ekonomi dan teknologi bagiAl-Zaytun adalah suatu keharusan. “Bilatidak, akan berkepanjangan kita inimenjadi pewaris kebodohan dankemiskinan, yang menurut bahasa Allahdalam Alquran generasi DzurriyahDli’afan, yang siapa pun akan merasatakut dan cemas bila itu terjadi,” kataSyaykh.Dari aksentuasi kurikulum yangmemadukan ilmu pengetahuan,teknologi, iman dan takwa kepada Allah,maka Al-Zaytun dirancang harus mampuberjalan di atas sistem yakni tidak bolehmelangkah tanpa persiapan (moralmaterial) program yang jelas dan kontrolyang pasti. Tiga item ini harus berjalanmenyatu menjadi satu kesatuan yangharus ditempuh. Tidak ada yang utamadan terutama dan jika salah satudikesampingkan, gagallahpencapaiannya.Untuk menjalani sistem ini, Al-Zaytuntidak berdiri sendiri atau bekerjasendirian melainkan selalu bekerja samadengan lembaga-lembaga pendidikanIslam dan lembaga pendidikan non-Islamyang telah ada dengan selalu mengacupada bimbingan-bimbingan instansiterkait sehingga akan terwujud kesamaandan kebersamaan dalam menyikapiperbaikan mutu pendidikan di Indonesia.Menurut Syaykh, menghadapitantangan besar wajib dengan persiapan,sebab kerja besar tanpa dipersiapkanlebih cenderung gagal. “Kita sudahpahami bahwa tantangan besar itu wajibdihadapi dan diatasi. Maka persiapanuntuk menghadapi itu menjadi wajib pulaadanya,” katanya.Untuk itu, di sisi persiapan moralmaterial, para perintis dan pendiri AlZaytun telah siap moral-spiritual, denganselalu berpadu kepada petunjuk danbimbingan Allah serta bimbingan danarahan dari para pimpinan sertacendikia-cendikia Indonesia maupunantarbangsa. Sebab mereka sadarsesadar-sadarnya keterbukaan moralspritual untuk menuju sesuatu yang besaritu merupakan landasan dari segalabangunan yang akan ditegakkan diatasnya.Dari sisi persiapan material juga tidakkalah pentingnya harus ditempuh.Karena, kata Syaykh, bila kami hari inimempersiapkan sarana pembelajaran,baik itu gedung-gedung untukkepentingan kelas pembelajaran, asramaasrama, perpustakaan dengan segalakelengkapannya, laboratorium, bengkel,sarana olahraga dan lahan-lahanpraktikum, semuanya adalah hanya untukmenuju kepada perbaikan kualitaspendidikan umat Islam, bukan mengarahkepada kemewahan.Juga bukan berarti Al-Zaytun akanmenuju kepada prinsip bisnis pendidikanatau komersialisasi pendidikan, yaknipendidikan biaya mahal yang padaakhirnya hanya dapat ditempuh olehkelompok-kelompok elit yakni kelompokyang berkemampuan saja. Sehingga citacita perbaikan kualitas pendidikan umatIslam akan menjadi lambat tercapainya.“Insya Allah, sosialisasi Al-Zaytun initetap berorientasi kepada hakikatkemanusiaan, yang tidak membedabedakan status sosial keadaan manusiaitu sendiri, kaya, miskin, bodoh, pintardan sebagainya. Semua input (santri)akan ditampung berdasarkankebersamaan yang saling menjunjungtinggi dan memahami hakikat masingmasing, namun sudah barang tentu akanditempuh penyaringan-penyaringansecara wajar berdasarkan persiapan yangtersedia,” jelas Syaykh Al-Zaytun.Dalam usaha mencapai tujuanpendidikan yang telah digariskan, kataSyaykh, kita tidak boleh bersikaptradisional, yang selalu dengan sertamerta menolak perkembangan (yangtidak terbendung). Sikap tradisional,yang selalu khawatir terhadap cepatnyaperubahan dan kemajuan zaman, yangselalu membanding-bandingkan masalalu yang serba lamban.Syaykh berprinsip untuk mencapaitujuan pendidikan yang telah digariskanitu, harus terampil memperbaharuisecara berkelanjutan terhadap praktikpraktik lama yang telah kedaluarsa, yangselanjutnya perubahan dan pembaruanyang dilaksanakan itu dapatmenghasilkan perkembangan sikap ataubudaya yang bermakna. Kurikulum Al-Zaytun menganutflexible and integrated curriculum(kurikulum yang fleksibel danterintegrasi). Merupakan kurikulumpendidikan yang komprehensif, moderndan selalu sensitif serta tanggap terhadapperkembangan zaman, sehingga selalu upto date (‘ashry) adanya. Kurikulumtersebut dititikberatkan kepadapencapaian ilmu dan teknologi yangdijiwai dengan iman dan takwa kepadaAllah.Sejak mula Al-Zaytun telahmenerapkan kurikulum yang terintegrasidan fleksibel. Terintegrasi bermaknamengadopsi keseluruhan kurikulumpendidikan nasional (Diknas tahun 1994)dan kurikulum Departemen Agama danditambah lagi dengan kurikulum muatanlokal seperti tahfidh Alquran,pendalaman bahasa, pembahasan KitabKuning, jurnalistik dan metodik didaktik.Ketiga kurikulum yang terintegrasi ituditerapkan dengan menyesuaikan waktuyang tersedia serta pencapaian yangdikehendaki sesuai visi dan misipendidikan Al-Zaytun.Pertanyaan muncul, mampukahpeserta didik mengikuti 21 sampai 26mata pelajaran setiap pekan? Ternyata,dengan sistem berasrama, efektivitaswaktu dapat dimaksimalkan dengan tidakmengesampingkan kesihatan dan jiwaberkesenian bagi peserta didik. Terbuktijuga bahwa prestasi peserta didik jugacukup memuaskan. Belum lagi, hanyadalam beberapa tahun telah banyak diantara peserta didik yang berhasilmenghapal Alquran 30 juz dari waktuenam tahun yang ditargetkan.Sedangkan kurikulum fleksibelbermakna, bahwa kurikulum yangditerapkan menerima koreksi danperubahan-perubahan sesuai dengantarget yang akan dicapai. Dalam kaitanLENTERA

