Page 43 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 43
BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006 43BERITA NASIONALLumpur Terus MengancamPascaledakan pipa gas Pertamina, dua ancamanmenghadang di depan mata. Yakni amblesnya tanah disekitar semburan lumpur dan jebolnya tanggul disertailuapan lumpur. Pemerintah diminta lebih aktif.umpur panas Lapindo terusmeluap dan makin mengganas.Semburan lumpur dan amblesnya tanah menyebabkan pipagas Pertamina meledak disertai semburanapi, Rabu (22/11) malam lalu. Korban punberjatuhan dengan kondisi mengenaskan.Tercatat 13 orang meninggal dan sejumlahkorban lainnya mengalami luka bakarserius.Di antara korban meninggal adalahDanramil Balongbendo Kapten Afandi,Serda Navis dari Yon Zipur-5 Brawijayadan Tri Iswandi serta sejumlah karyawanJasa Marga yang saat itu sedang bertugas.Kawasan itu pun akhirnya ditetapkansebagai daerah bencana.Tidak hanya itu. Ledakan pipa yangmemasok kebutuhan gas 25 perusahaanbesar, diantaranya Petrokimia dan PLN,otomatis membuat industri di Jawa Timurnyaris lumpuh karena berkurangnyapasokan listrik atau kebutuhan energi.Ledakan pipa gas juga membuat tanggulbobol. Selain menggenangi rumah penduduk, luapan lumpur juga menenggelamkan jalan tol. Akibatnya, jalan itu takmungkin lagi digunakan untuk lalulintaskendaraan.Walau telah berlangsung enam bulanlebih, amukan lumpur panas akibatkelalaian PT Lapindo Brantas Inc inibelum menunjukkan akan berhenti.Sementara penderitaan demi penderitaanterus menerpa penduduk di sekitarnya.Tercatat sedikitnya 4.182 KK (15.674 jiwa)di delapan desa yang tergusur lumpur.Mereka kehilangan rumah, pekerjaan danbahkan sebagian masa depannya.Semula diperkirakan lumpur bisa diatasi dalam waktu tiga bulan denganmembangun relief well untuk menutupsemburannya. Namun hingga kini semburan tersebut belum juga teratasi danpenderitaan warga pun menjadi semakinpanjang.Semburan lumpur Lapindo tak ayalmenguras energi Bupati Sidoarjo WinHendarso. Lebih dari enam bulan, waktunya habis untuk mengatasi masalah yangseakan tiada akhir. Dia pun larut merasakan penderitaan penduduk Sidoarjoyang menggantungkan nasib kepadanya.Sebagai orang pertama di kabupatenitu, Win Hendarso pun bersuara kerasmeminta pemerintah pusat maupunprovinsi, segera bertindak mengatasidampak ledakan pipa gas tersebut. “Inimasalah yang berat, pemerintah daerah(kabupaten) tidak sanggup bila harusmenyelesaikannya sendiri.Upaya yangkami lakukan hanya terbatas pada kemampuan lokal,” keluhnya seperti ditulisSinar Harapan (23/11).Meledaknya pipa gas sebetulnya tidakperlu terjadi seandainya Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo(PSLS) bertindak cepat.Menurut Ketua Asosiasi PerusahaanMigas Nasional (Aspermigas) EffendiSiradjudin, soal pipa gas ini sudah dibahasdalam pembicaraan dengan ahli geologiDr Andang Bachtiar dan Staf Ahli MenkoPerekonomian Ahmad Husein beberapahari sebelum kejadian. Kesimpulannya,pipa gas ini merupakan salah satu masalah yang harus cepat diantisipasi.“Selain karena penanganan yang lamban, peninggian tanggul penahan lumpurpanas yang terus dilakukan telah menimbulkan beban yang melebihi daya tahanpipa,” jelas Sirajuddin seperti dikutipRepublika (24/11).Secara teoritis, jika tanggul terusditinggikan, pipa saluran gas tersebutakan pecah karena kuatnya tekanan daridalam dan luar pipa. “Baru dua hari kitabicara tentang kemungkinan itu, ledakanpipa gas sudah terjadi,” ungkap Siradjudinyang didampingi Sekjen Aspermigas SamSimorangkir.Musibah ledakan pipa gas yang meminta korban belasan orang itu jugamenjadi perhatian wakil rakyat di Senayan. Komisi VII DPR yang menggelarrapat kerja dengan Timnas PSLS Rabu(29/11) lalu berkesimpulan Timnas PSLSyang dibentuk berdasarkan KeppresNo.13/2006 telah gagal menjalankantugas. DPR meminta Timnas melakukankoreksi atas kegagalan itu. Ketua KomisiVII Agusman Effendi juga mendesak agarwarga di delapan desa yang menjadi korban segera direlokasi, (Republika, 30/11)Siradjudin memprediksi ada dua ancaman yang menghantui di depan mata.Yakni amblesnya tanah di sekitar lokasisemburan lumpur dan jebolnya tangguldisusul banjir lumpur ketika musim hujantiba. Untuk mengatasi itu diperlukanpenanggulangan yang cepat dan efektif.“Ini harus segera dilakukan karena keduanya dipastikan hanya menunggu waktuuntuk terjadi,” ujarnya.Selain mencari alternatif solusi untukpemecahan kedua ancaman itu, juga tidakboleh mengabaikan masalah pokoknya.Yakni semburan lumpur panas yangbelum berhasil dihentikan. SPLLuapan lumpur menenggelamkan jalan tol.

