Page 47 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 47


                                    BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006 47BERITA EKONOMIlah pengeluaran APBN sebesar Rp 28,73triliun untuk mencapai perimbanganneraca penerimaan dan pengeluaranAPBN. Untuk itu, pemerintah harusmelakukan penundaan pada sejumlahproyek APBN tahun 2006.Di Luar KebiasaanPernyataan ketidaksanggupan Kanwilkanwil Pajak untuk memenuhi targetpenerimaan pajak untuk APBN 2006,benar-benar di luar kebiasaan DirektoratJenderal Pajak. Sudah menjadi rahasiaumum jika Direktorat yang dipimpinDarmin Nasution ini, selalu mengestimasitarget pengumpulan pajak lebih rendahdari potensi yang bisa dikumpulkan. Danketika pajak yang dikumpulkan ternyatalebih tinggi dari target yang diestimasisebelumnya, maka Direktorat JenderalPajak akan dianggap berprestasi.Namun strategi pencitraan DirektoratJenderal Pajak itu, tampaknya tidakberlaku untuk APBN 2006. DirektoratJenderal Pajak telah secara terbukamenyatakan ketidaksanggupannya memenuhi target penerimaan pajak. Inisekaligus menunjukkan betapa seriusnyapembusukan kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2006.Pertumbuhan Ekonomi 2006 danPeran InvestasiBerkurangnya penerimaan pajak padatahun 2006 sekaligus memberikan gambaran bahwa kinerja perekonomian nasional tahun 2006 tidak seperti yang diharapkan. Pada APBN-P 2006, pemerintah bersama DPR yang menargetkanpertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% padaPDB, diperkirakan tidak akan tercapai.Laporan kinerja perekonomian nasionalyang diumumkan Badan Pusat Statistik(BPS) seperti dilaporkan Harian Kompas,Jumat (17/11) menyebutkan akumulasipertumbuhan Produk Domestik Bruto(PDB) selama kwartal I hingga Kwartal keIII 2006, hanya bertumbuh sebesar 5,14persen.Untuk itu, Kepala BPS Rusman Heriawan menyarankan agar pemerintah berusaha keras meningkatkan pertumbuhanekonomi pada triwulan IV hingga di atas6%. Hal itu dimaksudkan agar secaraakumulatif, pertumbuhan ekonomi tahun2006, dapat mencapai 5,8%, seperti yangditargetkan. Rusman menambahkan,faktor utama yang dapat mendorongpertumbuhan PDB pada triwulan IVadalah ekspansi fiskal pemerintah, yangdiharapkan menjadi stimulus untukkonsumsi di akhir tahun 2006.Namun sesungguhnya, solusi yangditawarkan Rusman, tidak serta mertadapat mendorong pertumbuhan ekonomi.Dibutuhkan waktu lebih dari satu kwartalagar kebijakan memperbaiki iklim investasi, misalnya, memberi dampak terhadappertumbuhan PDB. Artinya, jika pemerintah merealisasikan seluruh kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi pada akhir tahun ini, maka dampaknya baru akan terasa pada pertengahanatau kwartal II tahun 2007 mendatang.Sudah Diprediksi SebelumnyaTidak tercapainya target pertumbuhanekonomi tahun 2006, telah diperkirakanbanyak pihak sebelumnya. Bank Indonesia (BI), misalnya, memperkirakan peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar5,7% untuk tahun 2006 sulit diwujudkan,karena macetnya pembiayaan bank,ketidakmampuan pemerintah daerahmenstimulus pertumbuhan sektor rill,ditambah dengan terjadinya berbagaibencana.Pernyataan yang lebih pesimis lagi,datang dari Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Bambang PSBrojonegoro, seperti yang dilaporkanHarian Kompas, Selasa (25/6). “Melihatkondisi saat ini mencapai pertumbuhan5,5 persen saja cukup sulit,” katanya.Masalah terbesar yang menghadangkinerja pertumbuhan ekonomi tahun2006, dipicu macetnya pembiayaan bankuntuk sektor dunia usaha. Hal ini dapatdilihat dari rendahnya aliran kredit dariperbankan. Rendahnya pertumbuhaninvestasi dalam negeri ini, semakindiperburuk pula dengan kinerja investasiasing di Indonesia. Badan KoordinasiPenanaman Modal (BKPM), seperti dilansir Harian Suara Pembaruan, Rabu(15/11) mengakui bahwa terjadi penurunan realisasi investasi PenanamanModal Asing (PMA) pada tahun 2006dibadingkan dengan tahun 2005. Realisasi investasi PMA priode Januarihingga Oktober 2006 hanya 4,48 miliardolar AS dengan jumlah proyek sebanyak785 buah atau menurun hingga hampir50% dari nilai PMA pada periode yangsama tahun 2005 yang sebesar 8,55 miliardolar AS dengan jumlah proyek sebanyak770 buah. „ MHMasalah terbesar yang menghadang kinerja pertumbuhan ekonomi tahun 2006, dipicu macetnyapembiayaan bank untuk sektor dunia usaha.foto: dok
                                
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51