Page 49 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 49


                                    BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006 49BERITA DAERAHadar Menariangsung selama seminggu sangat meriah. Selainter, juga diselingi olahraga dan hiburan artis dariPerbedaanadalah KekuatanNama Malinau tiba-tiba mencuat. Hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur tahun 1999 itu sebelumdimekarkan memang merupakandaerah terbelakang, bahkan bolehdisebut sebagai daerah tertinggal.Tapi kini, Malinau mampu bersaingdengan daerah-daerah lain, bahkan untuk Wilayah Utara ProvinsiKaltim, daerah yang memiliki luas42.620,70 Kilometer persegi inibisa dikatakan merupakan daerahtermaju dan paling pesat pembangunannya.Melihat geliat pembangunanKabupaten Malinau sebelum dansesudah pemekaran serta prospekdi masa datang, Malinau dipastikan akan mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara,mengingat kekayaan yang dikandungnya serta ditetapkannya Kabupaten Malinau sebagai wilayahkonservasi internasional. Berbagaiterobosan kini sedang dilakukan,seperti pembangunan infrastrukturtermasuk pembangunan rohaniyang dinahkodai pasangan DR DrsMarthin Billa, MM dengan H.DatukMohammad Nasir, SH. MAP. Inidapat dibuktikan dengan dibangunnya gedung megah IslamicCenter di Malinau Seberang yangdiresmikan penggunaannya beberapa bulan lalu serta Christian Center di Tanjung Lapang yang diresmikan bersamaan pesta Irau, bulan lalu.Peresmian gedung atau lebihtepat disebut pentabisan ChristianCenter, ditandai dengan penandatanganan prasasti, dibarengi bunyilonceng gereja membuat suasanaterasa damai. Acara peresmian disaksikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Malinau, Drs Jhonny LaingImpang, MSi, Wakil Bupati H DatukMoh Nasir, SH MAP serta paratokoh agama Islam, Kristen danKatolik. Acara kemudian dilanjutkan dengan kebaktian umum. Gedung yang mempunyai kapasitaslima ribu orang itu nampak sempitsebab tidak kurang dari sepuluhribu orang memadati gedung yangdibangun bertingkat dua ini.Dalam sambutannya, BupatiMalinau DR Drs Marthin Billa, MMmengatakan, untuk membangungedung yang megah dan indah itumenghabiskan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Namun, kemegahan dan kelengkapan gedung itutidak ada artinya jika tidak dibarengi jiwa-jiwa yang memiliki “cintakasih”. Masyarakat Malinau harusmampu hidup dalam kasih. “Kasihadalah inti dari ajaran Nasrani. Segenap umat Kristen, khususnyaMalinau harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Mampuhidup berdampingan secara rukundan damai. Adanya perbedaansuku dan agama bukanlah menjadiperpecahan dan rintangan tetapimenjadi sesuatu kekuatan dalammembangun bangsa dan negaradan secara khusus Malinau,” kataMarthin Billa.Wakil Bupati Malinau H DatukMoh Nasir, SH. MAP dalam percakapannya dengan SL Pohan dariBerita Indonesia mengatakan, kerukunan umat beragama di Malinau sangat baik. Ia berharap agarpara pendatang jangan ada yangmencoba-coba merusak tatanankehidupan masyarakat yang sudahterjalin dari jaman dahulu begituharmonis dan akrab. “Islamic Center ada di mana-mana, di setiapdaerah. Tetapi, yang namanyaChristian Center untuk Indonesiamungkin hanya dapat kita jumpaidi Malinau,” katanya bangga. „SLPnya kepada SL Pohan dariBerita Indonesia.Ketua Perayaan HUT-Irauyang juga Sekretaris DaerahKabupaten Malinau Drs Yansen TP MSi, mengatakan bahwa Irau itu sendiri mempunyaidua tujuan. Pertama, sebagaiungkapan rasa syukur masyarakat Malinau kepada TuhanYang Maha Esa. Jadi, bukansekadar pesta. Kedua, pelaksanaan irau itu sendiri mengeluarkan biaya yang besar, baikdana, tenaga dan pikiran. “Kitaingin memanfaatkan momenirau ini, bagaimana potensipotensi daerah itu kita galisupaya bisa jadi aset pembangunan,” tutur Yansen. Dalampandangan Sekkab Malinauini, keberadaan irau tahun inimeningkat dari sebelumnya,sudah lebih presentatif.Lalu, apa kata masyarakattentang perhelatan akbar itu?Pada umumnya masyarakatyang dimintai tanggapannyamenyambut positif dan merasapuas. “Kesenian dan budayakita dapat bertahan di sampingkita bisa termotivasi melihatperkembangan pada kecamatan-kecamatan lewat pameranyang ada,” kata Pui Ncau, wargaKecamatan Long Pujunganyang mengaku melakukan perjalanan selama dua minggunaik perahu ke Malinau.Dalam pandangan SudaAnye (63) warga Dayak Kenyah dari Tanjungselor Bulungan, pelaksanaan Irau lebihtepat dikatakan sebagai ucapan syukur bagi masyarakatdan intropeksi bagi pemerintah dalam mengevaluasi kinerjanya. “Masa dua tahunmerupakan waktu yang sangattepat bagi pemerintah, sehingga seorang bupati dalam masajabatannya dapat bertemu duakali dengan semua masyarakatnya,” katanya.Menurut Ketua LVRI Kabupaten Bulungan ini, burungenggang yang dalam bahasaDayak Kenyah disebut “belawing” merupakan burung pemimpin. Itu sebabnya mengapa masyarakat Dayak menjadikan burung enggang sebagai lambang karena di antarasemua burung yang ada, enggang dapat memimpin. Kalauenggang hinggap di suatu tempat mencari makan, burungburung kecil datang berkerumun untuk mendapat bagian.Dari sini, lewat pemancanganpedeng belaka (tiang monumen) dan patung belawing diatasnya, yang didirikan dihalaman rumah dinas bupatiMalinau, menunjukkan seorang pemimpin haruslahmenjadi panutan dan tempatberlindung rakyatnya. „ SLPKasih: Gedung Christian Center, tempat belajar mengasihidan melayani sesama.Monumen kebesaran: Upacara Pedeng Belaka sebagai simbolkepemimpinan. Nampak, tiang ulin (kayu Besi) sedang didirikan dalamupacara adat Dayak Kenyah.
                                
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53