Page 48 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 48


                                    48 BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006BERITA DAERAHTidak Hanya SekaPesta Irau dan HUT Kabupaten Malinau yang berlapegelaran adat, peresmian gedung Christian CentJakarta. Apa tanggapan masyarakat?da sembilan sukuinduk Dayak yangmendiami Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Mereka adalah Dayak Kenyah,Lundaye, Tidung, Kayan, Punan, Murut, Tahol, Berusu,dan Tegalan. Setiap suku bergantian menggelar upacara adatdi alun-alun kantor bupati,sehingga pengunjung sulit rasanya untuk meninggalkan agendakegiatan perayaan Hari UlangTahun (HUT) VII KabupatenMalinau 2006 dan Irau IV yangdilaksanakan selama seminggudalam sekali dua tahun, di alunalun Kantor Bupati Malinau,awal November lalu.Sulit dibayangkan bahwa beberapa tahun lalu, kota Malinau, Ibukota Kabupaten Malinau hanyalah merupakan sebuah ibukota kecamatan. Beberapa bangunan Pemerintah Kecamatan masih dibiarkan berdiri kokoh menjadi saksi bisuatas perjalanan sejarah di daerah ini. Demikian pula susunanrumah-rumah penduduk yangdibangun di pinggir SungaiMalinau merupakan bukti bahwa konon ibukota dari 14 kecamatan ini pernah menjadi kota perdagangan wilayah pedalaman dengan transportasi air.Kabupaten Malinau denganluas wilayah 42.620,70 Kmpersegi terletak di Utara Kalimantan Timur, berbatasan dengan 6 kabupaten dan duanegara bagian Sabah dan Serawak Malaysia Timur. Padatanggal 12 Oktober 1999, Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri ad interim FeisalTanjung melantik pejabat Bupati Malinau Drs H Asmuni Alidi Jakarta dan 17 bulan kemudian, tepatnya 12 Maret 2001,dengan suara mayoritas diDPRD Kabupaten Malinaumenetapkan DR Drs MarthinBilla, MM dan Enci Mohammad Yunus, BA sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati definitif Kabupaten Malinau periode 2001-2006.Untuk keduakalinya puteraasli dari suku Dayak Kenyah inidipercaya menakhodai perahupemerintahan di Bumi Intimung yang dihuni sekitar50.623 jiwa. Ia bersama pasangannya H Dt Mohammad Nasir, SH. MAP menang mutlakdalam pemilihan umum Bupatidan Wakil Bupati untuk periode2006-2011. Dalam tempo yangrelatif pendek, Malinau berubah menjadi kota metropolitanyang serba menakjubkan.Di kota ini Anda bisa menemukan komplek perkantoranterpadu, gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) berhadapan denganKantor Pemerintah DaerahKabupaten bersama seluruhdinas diapit kantor KomandoDinas Militer (Kodim) 0911dan Markas Polisi Resort (Mapolres) Malinau. Deru mesinpembangunan tiada hentihentinya membelah kesunyianmenjadikan Malinau kota yangtermegah di Wilayah UtaraProvinsi Kalimantan Timur.Tidak lama lagi, masyarakatKabupaten Malinau bakal punya stadion utama olahragayang bisa menampung 8.000penonton. Begitu juga RumahSakit Umum, pembangunanfisik diharapkan rampung pada Februari 2007 mendatang.Pembangunan Kota Malinauyang berjalan sekarang hanyalah salah satu dari tiga pilarutama pembangunan. Ketigapilar ini adalah, PembangunanInfrastruktur, PeningkatanSumber Daya Manusia danPertanian dalam arti luas. Diharapkan, dapat membawaperubahan bagi 106 desa dari14 kecamatan yang ada di Kabupaten Malinau. “Kita telahmengadakan launching Gerbang Dema (Gerakan Pembangunan Desa Mandiri) kemudian mensosialisasikan program tersebut di 14 kecamatan. Hal itu dilakukan agarsegenap komponen masyarakat dapat memahami dan mengerti maksud dari programtersebut, karena pengertiandesa mandiri adalah desa yangdapat berdiri sendiri dengankemampuan yang dimiliki melalui partisipasi masyarakatuntuk membangun perekonomiannya, budayanya,” kataDR Drs Marthin Billa, MM.Lambang PersatuanMasyarakat MalinauPada prosesi dua upacaraadat dari suku Dayak Kenyah,yakni “Mamat”, suatu upacarapenyambutan pahlawan darimedan perang, dan upacaramendirikan “Pedeng Belaka”artinya, monumen kebesaranterbuat dari ulin (kayu besi)bulat berdiameter satu meterdengan tinggi 15 meter, diukirkhas daerah dan di atasnya ditaroh patung burung enggang,yang didirikan di halaman rumah dinas bupati. Menurut Bupati Marthin Billa, itu merupakan lambang persatuan dankesatuan masyarakat Malinau.“Ini adalah lambang dari kesatuan, persatuan dan kegotongroyongan yang diwariskan nenek-moyang yang terus diwarisimasyarakat Malinau. Suatulambang kebersamaan dalammembangun daerah, membangun masyarakat, membangundirinya di dalam masa-masayang akan datang,” katanya.Kemudian, untuk upacarapenyambutan pahlawan darimedan perang, selain melestarikan kebudayaan juga ditujukan untuk memberikan semangat kepada para pemudayang akan menjadi pahlawanpahlawan pembangunan. “Mereka diberikan nasehat, petuahagar mampu membangun dirinya, membangun daerahnyadan memerangi kemiskinandan kebodohan. Jadi bukanhanya sekadar menari, tetapibagaimana kita membangunMalinau yang sangat kuat,bersatu padu dalam Bumi Intimung sesuai hakekat dari intimung itu sendiri adalah membangun bersama-sama,” kataAKepala Besar: Seorang tokoh adat lengkap dengan pakaiankebesaran menyampaikan dukungan dan harapan masyarakat Malinaukepada Pemerintah Kab Malinau.
                                
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52