Page 39 - Majalah Berita Indonesia Edisi 95
P. 39
BERITAINDONESIA, Mei-Juni 2016 39LENTERAmendambakan budaya toleransidan perdamaian serta mencintaiIbu Pertiwi: ‘Indonesia HarusKuat’ dan menjadi rahmat bagisemesta alam.Setelah membaca buku ASI ini,saya sependapat dengan apa yangdisebut dalam pengantarnya tersebut. Sebagaimana harapan penulisnya dan keyakinan penerbitnya bahwa buku ini sungguhmencerahkan, tidak hanya bagikeluarga besar Al-Zaytun, melainkan juga berguna sebagai sumber inspirasi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bagi semuaorang, setidaknya ’pembaca yangbijaksana’. “Buku ini menjernihkan nurani dan akal, mencerdaskan dan memperluas wawasan,yang membuat para pembaca bijaksana bertambah bijak dan bajik(tidak tersesat oleh isu) dalammeniti langkah ke depan,” sayamengamini pengantar buku ini.Buku ini menjelaskan apa danbagaimana Al-Zaytun secara tuntas. Sebuah monografi Ponpes AlZaytun yang ditulis oleh seorangjurnalis yang nonmuslim, seorangkristiani, atas pengenalan danpersahabatan yang intens denganpara pengasuhnya, khususnyadengan Syaykh Panji Gumilang.Dalam catatan kaki (Prolog, hlm.3), penulisnya mencatat sejakpertama kali mengunjungi AlZaytun dan bertemu (wawancara)dengan Syaykh AS Panji Gumilang,pada 19 Februari 2004 sampaiApril 2015, penulisnya telah mengunjungi Al-Zaytun sebanyak 63kali dan berdialog dengan Syaykh sebanyak49 kali dalam durasi waktu rata-rata dua jamsetiap kali berbincang.Dalam bahasa ilmiah, ini menunjukkanbetapa luas dan dalamnya penelitian yangdilakukan penulis untuk menulis buku ini.Yang oleh penulisnya dibahasakan sebagaikunjungan, komunikasi dan dialog intensif,yang tentu sebagai seorang jurnalis memilikikepekaan dan ketajaman akal dan instinguntuk mengetahui (menyelidiki, investigasi)fakta (kebenaran) dengan rumus: 5W+1H(What, Who, When, Where, Why; How);yang oleh penulisnya dikembangkan (ditambah) lagi dengan 2A (Analysis and Appreciation).Rumus jurnalistik 5W+1H+2A yang diterapkan penulisnya tersebut diparipurnakanlagi dengan kata hati dan akal sehat. Sebagaimana diuraikan penulisnya dalam Epilog:Al-Zaytun Incompatible NII (Hlm.471)bahwa sesungguhnya sejak awal dia tidakbegitu tertarik (memusatkan perhatian)tentang isu NII (Negara Islam Indonesia)yang sering kali dikait-kaitkan dengan AlZaytun. Sebab penulisnya lebih tertarik danyakin pada kata hati nurani dan akal sehatnya tentang visi dan tujuan baik lembagapendidikan Islam modern ini, sebagaimanaterpampang dengan tegas di gapura pintugerbangnya: Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi danPerdamaian; Serta terlihat dari ‘buahnya’yang laksana pohon yang baik, tentu kelihatan dari buahnya.“Hati nurani dan akal sehat saya tersebutRESENSI

