Page 40 - Majalah Berita Indonesia Edisi 95
P. 40


                                    40 BERITAINDONESIA, Mei-Juni 2016LENTERALenteradiperbendaharai atas apa yang saya pelajari,saksikan dan alami sendiri, baik selamaberinteraksi intensif dengan keluarga besarAl-Zaytun, mulai dari Syaykh Al-Zaytun,para eksponen (pengurus yayasan), guru,santri, karyawan, relawan dan simpatisannya, dalam kurun waktu lebih satudasawarsa; dan/maupun dalam berinteraksidengan masyarakat (muslim) lainnya dalamrangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” tulis penulisnya.Kemudian, penulisnya menegaskan, bukan berarti dia tidak mau tahu atas isu NIItersebut. “Bahkan sebagai seorang warganegara Republik Indonesia yang berprofesijurnalis, saya membaca berbagai referensitentang NII, mengobservasi dan investigasi,juga mendalami (analisis) berbagai pemberitaan tentang isu keterkaitan Al-Zaytundengan NII. Tetapi semua itu saya pahamidan maknai di bawah pencerahan hatinurani dan akal sehat saya sendiri yangdalam banyak hal, justru menjadi sumberinspirasi.” kata penulisnya, yang di dalamcatatat kaki tentang jurnalis ditegaskan:“Jurnalis itu, bagi saya, selain sebagaipembawa suara kenabian, juga pengamathandal dan pemburu informasi (fakta) yanggesit (hunter) tanpa batas ruang dan waktuyang sering kali lebih jeli (intelek) dariseorang intelijen.”Sempurna, baik dari unsur ilmiah, jurnalistik, maupun hati nurani dan akal sehatserta lebih jeli dari intelijen. Begitulahpenulisnya hingga tiba pada epilog: AlZaytun Incompatible NII. Apalagi kesimpulan ini dikemukakan dengan memaparkan dan menganalisis penelitian Kementerian Agama dan penelitian Mejelis UlamaIndonesia (MUI) tentang Al-Zaytun.Serta mengutip pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali yang meyakini bahwaAl-Zaytun tidak terkait NII. SuryadharmaAli mengatakan tidak menemukan keterkaitan Al-Zaytun dengan NII KW 9 yangradikal. Dia pun memastikan kesimpulantersebut juga bersumber dari penelitianKementerian Agama yang komprehensif danvalid (Hlm 478).Dalam kaitan ini, penulisnya justru mempertanyakan sikap ambivalen beberapapejabat tinggi negeri ini terhadap Pancasila.“ Maka jika hanya mengikuti apa kata orangdan apa yang ramai terjadi (di-opini-kanpublik), timbul pertanyaan: Ideologi apasesunguhnya yang menjadi pedoman (asas)bagi bangsa ini, terutama para penyelenggara negara di negeri ini? Apakah bangsa ini,terutama para pejabat tinggi negeri ini masihbersikap ambivalen terhadap Pancasila?”(Hlm 481).Terakhir, saya kutip rangkaian kalimatakhir epilog buku ini: “Seluruh rangkaian isibuku ini amat jelas menunjukkan bahwa AlZaytun Compatible Pancasila (NKRI) danIncompatible NII. Ibarat perangkat teknologi komputer, apa pun casing dan mereknya, yang terpenting adalah apakah prosesornya kompatibel dengan perangkat hardware dan software lainnya? Atau apakahperangkat hardware-nya kompatibel dengan software-nya? Atau apakah softwareyang satu kompatibel dengan softwarelainnya. Jika tidak kompatibel, tentu tidakdapat berfungsi dengan baik.Jika disimak, bagaimana Al-Zaytun (dalam seluruh isi buku ini) hanya compatible(kompatibel, mampu bergerak dan bekerjadengan keserasian, kesesuaian, laiknyamesin dan komputer) dengan Pancasila danUUD 1945. Sebaliknya, sangat incompatible(tidak cocok, berlawanan, canggung, tidaksesuai, tidak serasi, bertentangan) denganNegara Islam Indonesia (NII), yang memangmemandang Pancasila dan Negara RepublikIndonesia sebagai ideologi dan negarathoghut (kafir).Kiranya buku ini berguna, tidak hanya bagikeluarga besar Al-Zaytun, melainkan jugaberguna sebagai sumber inspirasi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bagisemua orang, terutama pembaca yangadalah orang-orang bijaksana.” Saya akhiri:Ini adalah buku yang amat mencerdaskansikap toleransi sekaligus meneguhkanprinsip iman setiap orang, sesuai keyakinanagama masing-masing. „Judul Buku:Al-Zaytun Sumber InspirasiBermasyarakat, Berbangsadan BernegaraPenulis:Drs. Ch. Robin SimanullangPenerbit:Pustaka Tokoh IndonesiaSampul:Hard coverIsi Full Colour:i-xiv dan 1-498 halamanISBN:978-602-97122-5-4Cetakan Pertama, 30 Juli2015
                                
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44