Sistem Sunyi adalah cara menata batin agar seseorang dapat melihat dirinya dengan lebih jernih di tengah hidup yang bergerak cepat. Ia tidak mengajarkan doktrin atau metode khusus, tetapi memberi ruang agar seseorang mengenali apa yang sudah bekerja di dalam dirinya.
Kerangka dasarnya terdiri dari Spiral Kesadaran dan empat Orbit. Spiral membantu seseorang memahami tahap batin tempat ia sedang berada. Orbit menunjukkan bagaimana sunyi hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari stabilitas batin, relasi yang sehat, laku berkarya yang selaras, hingga kemampuan melihat makna yang lebih dalam.
Tulisan-tulisannya hadir dalam beberapa bentuk: Inti Sistem Sunyi sebagai kerangka, Esai Resonansi untuk menajamkan kepekaan, Seri Fraktal untuk laku kecil sehari-hari, Jejak Sunyi di Luar untuk sikap hening yang muncul di luar sistem, dan Studi Kasus untuk contoh nyata. Terakhir, tidak kalah pentingnya, Dialektika Sunyi, untuk membaca ulang istilah/konsep populer melalui orbit kesadaran Sistem Sunyi.
Sistem Sunyi juga memiliki dua peta besar yang menjadi semacam hub untuk mendalami Sistem Sunyi yaitu Sistem Sunyi Atlas dan Kamus Besar Dialektika.
Ada pula tiga ruang praktik yang menjaga ritme: ‘Latihan Sunyi’ sebagai jeda singkat, ‘Ritme Sunyi’ yang mengikuti waktu dan kondisi seseorang, serta ‘Satu Napas’ yang menghadirkan satu kalimat praktis sebagai jangkar cepat.
Sistem Sunyi juga menyediakan fitur pencarian yang membantu pembaca menemukan tulisan yang paling sesuai dengan keadaan batinnya, tidak hanya berdasarkan kata kunci, tetapi juga rasa dan orbit.
Tujuannya sederhana: menjaga keseimbangan rasa, menjernihkan makna, dan membantu seseorang tetap menemukan arah pulang.
Titi Qadarsih, Pemimpin dan guru Titi Studio Club (1978 -2000) / Embah Modelling Indonesia | 22 Sept 1945 | Direktori | T | Perempuan, Islam, Jawa Timur, Guru, film, pemain, peragawati, pengisi, suara
Theresia Esi Samkakai, Anggota DPRD Provinsi Irja (1987-1992) / Guru Masyarakat Empat Zaman | 1953 | Direktori | T | Perempuan, Kristen Protestan, Papua, Politisi, Guru, DPRD
Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini dalam tiga tahun berturut-turut, mendapat Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata atas tiga esai yang ditulisnya. Yakni: "Kaula Gusti" (2004) dimuat di Pikiran Rakyat, "Kebanggaan Bernama Indonesia" (2005) dan "Amarah" (2006) di Kompas. Selain itu, tulisannya berjudul "Trias Politika Sunda" yang dimuat di Pikiran Rakyat, juga masuk nominasi.
Nanny Anistasia Lubis, Pemimpin Grup Senam dan Balet Namarina (1956-1993) / Pendiri Sekolah Tari Namarina | 24 Nov 1926 - 1993 | Direktori | N | Perempuan, Islam, Jawa Tengah, Guru, penari, ballet, tari, Namarina
Pak Koen, panggilan akrabnya, seorang ilmuwan yang berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu antropologi di Indonesia. Sehingga ia diberi kehormatan sebagai Bapak Antropologi Indonesia. Hampir sepanjang hidupnya disumbangkan untuk pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesukubangsaan di Indonesia.
Prof Dr Koentjaraningrat, Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999) / Bapak Antropologi Indonesia | 15 Jun 1923 - 23 Mar 1999 | Ensiklopedi | K | Laki-laki, Islam, DI Yogyakarta, Guru Besar, UGM, Guru, UI, penulis, antropologi