BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    27.8 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Publikasi Majalah Koalisi Melelahkan

    Koalisi Melelahkan

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 67
    Majalah Berita Indonesia Edisi 67 - Koalisi Melelahkan
    Lama Membaca: 3 menit

    VISI BERITA (Riuhnya Koalisi, 16 Mei – 15 Juni 2009) – Terasa sangat melelahkan melihat riuhnya dinamika komunikasi politik yang dipertontonkan para elit partai dalam dua bulan terakhir ini. Mereka melakukan manuver dan komunikasi politik yang amat riuh. Terkadang malah menjengkelkan lantaran mereka maju-mundur penuh sandiwara, sindir-menyindir dan ancam-mengancam. Ditambah lagi dengan pertikaian internal partai. Syukur, akhirnya proses koalisi antarparpol itu pun berakhir untuk memenuhi target waktu yang ditentukan KPU.

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 67 | Basic HTML

    Memang, riuhnya proses kesepakatan pembentukan koalisi itu, tidaklah harus dipandang sebagai suatu hal yang menjengkelkan atau buruk. Proses komunikasi politik itu bisa juga dimaknai sebagai suatu proses pembelajaran politik, baik bagi para politisi itu sendiri maupun bagi publik. Karena dengan menyaksikan dan membaca tingkah-polah para politisi itu, publik tahu dan akhirnya memiliki pengetahuan atau landasan penilain mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga publik makin mengenal watak, jati diri, integritas, komitmen dan sikap para politisi dan partainya. Dengan demikian bisa terpandu dalam menentukan pilihan pada Pilpres 8 Juli mendatang.

    Memang, jika menyaksikan lakon para politisi itu dalam dinamika komunikasi politik dalam rangka membangun kerjasama politik (koalisi) Pilpres pekan-pekan terakhir ini, amat tampak telanjang bahwa masih banyak politisi negeri ini yang belum juga beranjak dewasa. Walaupun tidak sekanak-kanak perangai taman kanak-kanak, sebagaimana pernah diistilahkan oleh Gus Dur. Tetapi paling tidak masih tampak kurang dewasa. Misalnya, masih ada yang suka ancam-mengancam maju-mundur, merengek, dan mutung, manakala keinginan mereka tidak terpenuhi atau karena kurang merasa dihormati dalam penyampaian informasi keputusan politik. Namun, ketika dibelai, dibujuk rayu, dan disanjung langsung memuji-muji dan saling berpelukan dan cium-mencium.

    Sebaliknya, ada pula yang selalu menyatakan diri paling santun dan sopan berpolitik, tetapi mengambil keputusan secara sepihak tanpa lebih dulu mengajak mitra koalisinya berembuk. Kurang menempatkan mitra koalisinya dalam posisi sepadan dan setara, tetapi seakan menempatkannya sebagai subordinasi partainya. Hal ini paling tampak terlihat, ketika SBY, Capres Partai Demokrat memberitahu pilihan calon pendampingnya, Boediono, kepada partai-partai yang sebelumnya menyatakan diri berkoalisi dengan Partai Demokrat. Para petinggi partai itu bereaksi keras, mengancam akan hengkang, membentuk koalisi alternatif bahkan segera mendekat dengan koalisi lainnya.

    Mula-mula mereka menuding SBY terlalu sombong, terlalu percaya diri dan tak memenuhi etika komunikasi politik. Kemudian, merengek mengatakan pilihan atas Boediono itu tidak mencerminkan perpaduan nasionalis-relijius (Islam). SBY dan Boediono tidak dianggap sebagai seorang muslim yang taat (relijius), tidak pantas disebut merepresentasikan umat (Islam). Mereka menganggap SBY terlalu percaya diri dan medikte. Tetapi sebaliknya mereka tidak pernah merasa juga ingin mendikte SBY. Padahal, publik menyaksikan bahwa SBY dan Partai Demokrat, tidak pernah terlihat kasak-kusuk mengajak mereka berkoalisi. Melainkan merekalah yang datang menawarkan diri dan Partai Demokrat mengatakan selalu membuka pintu kepada partai mana pun yang ingin ikut bergabung.

    Selain itu, SBY juga sebelumnya sudah menyatakan koalisi akan dibangun berdasarkan platform, bukan ideologi partai. Dan, partai-partai itu pun sudah menyepakati dan sering kali menyatakan niatnya berkoalisi dengan SBY bukan semata-mata untuk ikut bagi-bagi kursi kekuasaan tapi demi kemaslahatan bangsa.

    Tapi, ya, itulah proses dinamika politik, yang bisa kita jadikan sebagai pembelajaran politik, untuk meningkatkan kedewasaan politik ke depan. Berbeda pendapat tentulah sebuah keniscayaan dalam berdemokrasi. Tetapi hendaklah dalam tataran prinsip, jati diri dan komitmen partai, tidak sekadar karena sebuah kehormatan berkomunikasi atau kepentingan pribadi dan golongan yang sempit. (red/BeritaIndonesia)

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 67

    Dari Redaksi

    Visi Berita

    Advertisement

    Surat Pembaca

    Berita Terdepan

    Highlight/Karikatur Berita

    Berita Utama

    Berita Tokoh

    Berita Hukum

    Lentera

    Berita Khas

     Berita Politik

    Berita Ekonomi

    Berita Kesehatan

    Berita Daerah

    Berita Mancanegara

    Berita Iptek

    Berita Lingkungan

    Berita Publik

    Berita Hiburan

    Berita Buku

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini