Gentengisasi?
Bukan soal gentengnya, tapi cara berpikirnya.
Negara ingin mengganti atap rumah rakyat. Lebih adem, katanya. Lebih rapi dilihat dari langit. Tapi rakyat tidak hidup di atap.
Presiden menyebutnya gentengisasi. Rumah-rumah rakyat yang beratap seng akan diganti dengan genteng tanah liat. Supaya lebih estetis. Lebih nyaman. Lebih layak, katanya. Pernyataan ini disampaikan dalam semangat pembangunan. Dalam misi memperbaiki kualitas hidup rakyat kecil. Tapi seperti banyak hal lain, yang disentuh duluan adalah tampilan.
Bukan soal gentengnya. Tapi cara berpikirnya.
Ketika pemerintah bilang anggaran terbatas, lalu justru memulai dari atap, wajar kalau ada yang bertanya: mengapa ini yang diprioritaskan?
Banyak rumah rakyat bahkan belum punya lantai. Banyak keluarga masih hidup tanpa toilet layak. Ada yang mandi di sungai, bukan karena ingin dekat alam, tapi karena belum ada saluran air. Tapi yang diprioritaskan adalah genteng. Karena itu yang mudah dilihat dari langit.
Negara terlalu sering bekerja seperti itu. Trotoar dirapikan, padahal jalan rusak. Pot bunga ditambah, padahal air bersih belum mengalir. Seragam dibagikan, padahal kursi belajar tak cukup. Yang kasatmata lebih dulu disentuh. Yang mendasar, menunggu giliran.
Genteng bisa dipotret. Dihitung. Dimuat dalam laporan. Masuk grafik target pembangunan. Tapi rakyat tidak hidup dari genteng. Mereka hidup dari apa yang bisa dimasak hari ini. Dari apakah anaknya bisa sekolah tanpa pingsan karena lapar. Dari apakah puskesmas bisa memberi obat, bukan hanya diagnosis.
Negara tidak sedang salah niat. Tapi mungkin keliru urutan.
Dalam hidup, orang makan dulu sebelum mengganti tirai. Minum dulu sebelum mengecat dinding. Tapi ketika yang diganti dulu adalah atap, rakyat berhak bertanya: apakah kami sedang dibangun, atau sedang dipoles?
Gentengisasi bukan soal benar atau salah. Tapi soal: kenapa ini duluan?
Jika niatnya membangun dari bawah, maka ukurannya bukan ademnya atap, tapi cukupnya dapur. Karena yang paling dasar itu dan kadang justru tidak kelihatan.
Sebagian orang mungkin akan bilang: ini soal kenyamanan. Tapi kenyamanan bukan prioritas ketika kebutuhan dasar belum selesai. Genteng tidak jadi penting kalau nasi hari ini masih harus dihemat.
Rakyat tidak meminta yang mewah. Mereka tidak menuntut rumah modern. Tidak menunggu arsitektur. Kadang mereka hanya ingin air bersih, harga terjangkau, dan sekolah yang tidak kosong gurunya.
Gentengisasi menjadi contoh sederhana tentang bagaimana negara sering melihat rakyat: Dari jauh. Dari layar. Dari data. Dari udara.
Padahal kehidupan terjadi di bawah. Di lantai rumah. Di dapur. Di kasur sederhana. Di pikiran orang tua yang masih menghitung apakah besok bisa beli telur.
Negara mengurus genteng karena itu bisa dihitung. Bisa diklaim. Bisa ditampilkan. Tapi di balik itu, ada hal yang lebih penting, lebih mendesak, dan lebih sulit dihadirkan: keberpihakan.
Karena memperbaiki genteng tak selalu butuh empati. Tapi memperbaiki kehidupan, ya. Dan mungkin karena itulah, genteng lebih dulu disentuh. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)


Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

