Ulama Pejuang dari Tasikmalaya

[ KH Zaenal Mustofa ]
 
0
2997
KH Zaenal Mustofa

Dia adalah simbol perlawanan masyarakat Tasikmalaya, Jawa Barat terhadap kekejaman penjajah Belanda dan Jepang. Puluhan santri tewas dan ratusan ditangkap dalam pertempuran yang dikenal dengan sebutan Pemberontakan Singaparna. Pemimpin pemberontakan tersebut, KH Zaenal Mustofa ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Umri alias Hudaemi yang kemudian lebih terkenal dengan nama Kyai Haji Zaenal Mustofa lahir pada tahun 1899 di kampung Bageur, desa Cimerah, Kewedanan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya dari pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah. Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia kemudian belajar di beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Diantaranya Pesantren Gunung Pari selama 7 tahun, Pesantren Cilenga, Singaparna selama 3 tahun, Pesantren Sukaraja, Garut selama 3 tahun, Pesantren Sukamiskin, Bandung selama 3 tahun, dan Pesantren Jamanis selama 1 tahun. Pada tahun 1927, ia menunaikan ibadah haji dan sesudah itu memakai nama Haji Zaenal Mustofa.

Sepulangnya dari Mekah, ia mendirikan sebuah pesantren di Bageur yang dikenal dengan nama Pesantren Sukamanah. Nama Sukamanah merupakan nama pemberian dari orang yang mewakafkan tanah pesantren tersebut. Beberapa tahun kemudian, tahun 1933 KH Zaenal Mustofa bergabung dengan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, Nahdlatul Ulama (NU), dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

Melalui pesantren Sukamanah, KH Zaenal Mustofa berusaha memajukan masyarakat Islam Indonesia, dengan memberikan pengetahuan agama sekaligus menanamkan semangat kebangsaan. Pemerintah Belanda menjadi curiga dan menuduh Zaenal Mustofa menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah. Pada 17 November 1941, ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara Sukamiskin di Bandung. Dia sempat bebas pada 10 Januari 1942, namun sebulan kemudian ditangkap lagi bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung) atas tuduhan yang sama dan dimasukkan ke penjara Ciamis.

Pemerintah Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia Maret 1942 membebaskan KH Zaenal Mustofa dengan harapan ia dapat membantu Jepang. Namun ia malah memperingatkan para pengikut dan santrinya bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda. Ia juga sangat menentang pelaksanaan seikerei yakni memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan membungkukkan diri 90 derajat (seperti ruku dalam shalat) ke arah matahari terbit. Dalam kepercayaan masyarakat Jepang kuno, matahari dipandang sebagai Dewa Amiterasu Omi Kami yang menurunkan bangsa Jepang. Menurutnya, penghormatan itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu, ia menentang pengerahan tenaga rakyat atau romusha. Karena orang yang dikirim sebagai romusha dipaksa bekerja keras sehingga tidak mampu kembali ke kampung halamannya. Seperti para pemuda di daerah Singaparna yang dijadikan romusha dan disuruh melakukan pekerjaan berat. Tak jarang dari mereka yang harus meregang nyawa karena diperlakukan secara tidak manusiawi oleh tentara Jepang.

Penderitaan serta ketidakadilan yang terus menerus dialami oleh bangsanya, membuat jiwa KH Zaenal Mustofa berontak. Ia terpanggil untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Jepang. Pada 25 Januari 1944, ia mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah Jepang yang isinya meminta Jepang untuk memerdekakan Pulau Jawa.

Persiapan pun dilakukannya untuk melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Jepang, salah satunya dengan membentuk Pasukan Tempur Sukamanah.

Persiapan pun dilakukannya untuk melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Jepang, salah satunya dengan membentuk Pasukan Tempur Sukamanah. Murid-murid pesantren dilatih beladiri pencak silat dan disuruh berpuasa untuk mempertebal iman. Mereka juga mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu.

Rencananya ia akan melancarkan serangan tepat pada 1 Maulud Nabi yang jatuh pada 25 Februari 1944. Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik.

Namun, sebelum sempat melaksanakan rencananya, pemerintah Jepang sudah terlebih dahulu mengetahui desas-desus mengenai perlawanan yang akan dilancarkan KH Zaenal Mustofa bersama segenap pasukannya. Upaya pencegahan pun dilakukan dengan mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Kemudian pada tengah hari, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan hanya seorang yang dibiarkan hidup untuk menyampaikan ultimatumnya yakni Jepang mesti memerdekakan pulau Jawa pada 25 Februari 1944. Kalau tidak, maka perang akan berkobar.

Mengetahui hal tersebut, pemerintah Jepang menjadi marah. Menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00), penjajah Jepang mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dari Tasikmalaya, Garut, dan Bandung untuk menumpas ancaman KH Zaenal Mustofa. Pertempuran sengit pun terjadi. Kurangnya pengalaman dan persenjataan yang memadai menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak KH Zaenal Mustofa yang terdiri dari rakyat dan para murid pesantren. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang. Bahkan sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya.

Karena tindakannya melawan penjajah Jepang, KH Zaenal Mustofa ditangkap kemudian dijatuhi hukuman mati. Namun, sebelum ia sempat dieksekusi pemerintah Jepang, KH Zaenal Mustofa telah terlebih dahulu dipanggil Sang Khalik pada 25 Oktober 1944 di Jakarta. Pada 10 November 1974, kuburannya dipindahkan ke Taman Pahlawan Tasikmalaya.

KH Zaenal Mustofa merupakan salah satu dari sedikit tokoh di zaman kependudukan Jepang yang berani melakukan perlawanan terhadap kekejaman penjajah. Meskipun ia tidak berhasil bahkan wafat dalam usia yang relatif muda, semangat juangnya mengobarkan para pejuang-pejuang Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Kyai Haji Zaenal Mustofa dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.064/TK/Tahun 1972, tanggal 6 November 1972. Untuk menghormati dan mengenang jasa kepahlawanannya, nama KH Zaenal Mustofa diabadikan sebagai nama jalan di jantung utama Kota Tasikmalaya. Bahkan sebuah film yang mengangkat perjuangan Pahlawan Nasional KH Zaenal Mustofa sudah diluncurkan pada 11 Maret 2017. Film itu diproduksi oleh Sultan 21 Picture dan Yayasan Sukamanah. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

Data Singkat
Kyai Haji Zaenal Mustofa, Pahlawan Nasional, Ulama Pendiri Pesantren Sukamanah / Ulama Pejuang dari Tasikmalaya | 1899 – 25 Oktober 1944 | Pahlawan | Z | Laki-laki, Islam, Singaparna, Tasikmalaya, pahlawan, ulama, pejuang, pesantren, penjajahan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here