Page 49 - Majalah Berita Indonesia Edisi 68
P. 49
BERITAINDONESIA, 16 Juni - 20 Juli 2009 49BERITA POLITIKeranglain yang kerap berbicara soal perdamaian. Jika hanya pidato, katanya, memang banyak orang yang pandai bicara.“Tapi, begitu ada konflik, semua lari,hanya tinggal di Jakarta,” kecamnya.“Cuma bisa buat darurat sipil.” Bedadengan dirinya yang terbukti telah mendamaikan tiga konflik di daerah berbeda.JK memaparkan, konflik Maluku berhasildidamaikannya selama 17 hari dan Posomemakan waktu dua pekan. Sedangkankonflik di Aceh membutuhkan waktuenam bulan utuk mendamaikannya.“Karena itu, saya memaknai perdamaiandari hati, tidak hanya di mulut.”Dalam kampanye di Nanggroe AcehDarussalam (NAD), 13/6, JK kembalimenyatakan kalau dia paling berperandalam perdamaian di Aceh. Peran tersebut salah satunya terlihat dari kesediaannya menandatangani nota perdamaian. Klaim JK sontak mendapatrespon dari kubu SBY. JK disebut tidakberetika. Tim sukses SBY-Boediono malahmenegaskan bahwa keberhasilan perdamaian di Aceh terwujud di bawahkomando SBY. Perdamaian di Aceh terjadikarena adanya keputusan presiden (keppres), bukan keputusan wakil presiden.Kubu JK kembali membalas denganmengatakan, SBY dan tim suksesnyamemang pintar mengklaim apa yang tidakdilakukannya menjadi pekerjaan mereka.JK juga menyentil pasangan SBY,cawapres Boediono. Dalam acara penutupan Rapat Kerja dan KonsultasiNasional Asosiasi Pengusaha Indonesia(Apindo) di Balikpapan, Kaltim, JKmengaku pernah sangat marah kepadamenko perekonomian yang saat itu dijabat Boediono. Penyebabnya, Boedionotidak menyetujui pemberian jaminanterhadap pembangunan listrik 10.000MW. JK mengaku marah karena negaratidak mau mengupayakan listrik untukrakyat, sementara kepada perbankan,Boediono merengek-rengek memintadiberi jaminan 100 persen untuk mengatasi krisis.“Itulah pandangan liberal. Tidak usahberteori soal neoliberal. Tapi lihat praktiknya, menjamin perbankan, rakyat yangmenanggung. Saya hampir lempar, sayapukul meja. Walau dia bilang sudahdisetujui pimpinan, saya tidak peduli,”kata JK. Sentilan JK ini praktis membuatpanas kuping SBY dan tim suksesnya.Andi Mallarangeng, anggota tim suksesSBY keceplosan saat ‘menyerang’ balikkubu JK. Dalam kampanye cawapresBoediono di GOR Mattoangin, Makassar,Rabu (1/7), Andi menyebutkan orangSulawesi Selatan (Sulsel) belum saatnyamenjadi Presiden RI periode 2009-2014.“Bagaimana dengan anak Sulawesi Selatan? Ada waktunya masing-masing,perjalanan masih panjang. Banyak anakSulsel yang bisa memimpin negeri inisuatu ketika,” kata Andi.Pernyataan Andi Mallarangeng inilangsung mendapat kecaman karenadinilai rasis. Forum Rektor IndonesiaSimpul Sulsel, Koalisi Rakyat Sulsel AntiRasis, mahasiswa, sejumlah tokoh danaliansi di luar Sulsel, menuntut Andi agarmeminta maaf atas pernyataannya itu.Hingga tulisan ini diturunkan, Andi tetapbersikukuh tidak akan meminta maaf.Tidak BermutuPakar komunikasi Effendi Ghozalimenilai, pencitraan melalui semua iklandan kampanye tim sukses capres-cawapres sebetulnya tidak memiliki banyakpesan bermanfaat. Isi sebagian iklan itusebagian didominasi oleh pujian atasmasing-masing capres-cawapres untukmenggaet dukungan masyarakat. “Komunikasi politik saat ini relatif kosong.Isinya hanya 20 persen. Itu kayak iklanlotion yang bisa memutihkan kulit dalamtujuh hari, padahal tidak mungkin,”katanya.Mengenai saling serang antartim sukses dalam sebagian iklan dan isu kampanye, menurut Effendi, masih wajar danmemang seharusnya dilakukan. Dalamilmu komunikasi politik, saling serangakan mendorong terjadinya pembandingan (contrasting). Masing-masingtim akan menampilkan kelebihan caprescawapres pilihannya dan mengungkapkelemahan pesaing. Masyarakat akhirnya bisa lebih mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangansemua capres-cawapres.Selain itu, saling serang dinilai mampumeningkatkan tingkat partisipasi masyarakat pemilih dalam pemilu. Hal itukarena masyarakat mendapat informasicukup dan tidak menjadi apatis terhadappemilihan capres-cawapres. Namun,saling serang seharusnya dilakukan secarapositif dan tidak negatif. Saling serangmenjadi negatif jika data yang digunakankeliru, diarahkan pada isu yang tidak adakaitannya dengan kemampuan caprescawapres dalam memimpin, dan terlaluberlebihan.Effendi menjelaskan, saling serang itupenting jika menggunakan data yangbenar sehingga mendukung proses demokratisasi dalam pemilu. Saling serangseharusnya lebih fokus pada kinerja dangagasan. Bila saling serang dilakukansecara positif, menjadi kontribusi dalampendidikan demokrasi bagi masyarakat.Masyarakat menjadi terdorong untukmengkritik berbagai data yang terungkapdalam kegiatan saling serang antartimsukses. ROY

