Data Singkat
Drs. Achmad Djunaidi, AK, Mantan Direktur Utama PT Jamsotek / Memimpin Jamsostek Lebih Fokus | 12 Jun 1943 | Direktori | A | Laki-laki, Islam, Sumatera Selatan, Dosen, BUMN, direktur, Jamsostek, Lemhannas, Unsri
Nama:
Drs. Achmad Djunaidi, AK
Lahir:
Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, 12 Juni 1943
Jabatan:
Mantan Direktur Utama PT Jamsotek
Agama:
Islam
Pendidikan Formal:
SD Negeri II Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1956
SMP Negeri I di Sekayu, Sumatera Selatan, 1959
SMA Negeri di Lahat, tamat 1962
Fakultas Hukum Universitas Sriwidjaya Palembang, sampai tingkat II tahun 1964
Akademi Ajun Akuntan Negara di Bandung, 1966
Institut Ilmu Keuangan Jurusan Akuntansi di Jakarta, 1972
Pendidikan Non-Formal:
Kursus Jabatan pembantu Akuntan Indonesia di Bandung, 1963
Penataran P4 Type A tahun 1982
Sespa Nasional Direksi BUMN
Kursus Reguler Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) angkatan XVlI, tahun 1984
Kursus-kursus lain seperti, Kursus Analisa Efek, Kursus Appraisal, Kursus Analisa Proyek, dll
Kursus dan Study Perbandingan Pasar Modal di Tokyo pada Nomura Securities (1983), Nikko Sec, (1985 dan Yamaichi Sec, 1991)
Kursus “Privatization on State Owned Enterprises” oleh UNDP di Washington DC, 1990
Kursus-kursus singkat di luar negeri seperti, Housing Finance Systems, FELT Centre, Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia, tahun 1992
Karir:
Direktorat Akuntan Negara, Departemen Keuangan RI 1963
Ditjen Pengawasan Keuangan Negara, Departemen Keuangan, 1 April 1963 s/d 1 April1973.
Kepala Unit Pemeriksaan H4 di Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) 1974-1978
Kepala Divisi Investasi Perum Astek, 1979-1982
Direktur Keuangan dan Investasi di PT Astek, 1983
Direktur Utama PT Jamsotek, sejak 2000
Dosen Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Departemen Keuangan RI
2008: Indonesia menghapus subsidi BBM untuk kapal ikan dan nelayan besar.
1990: Nelson Mandela dibebaskan dari penjara setelah 27 tahun.
1979: Revolusi Iran mencapai puncaknya dengan jatuhnya kekuasaan Shah secara penuh.
11 Februari
Suku Karo di Sumatera Utara menamai anak-anak mereka berdasarkan benda apa yang pertama dilihat saat anaknya lahir. Ada yang diberi nama "Kursi" karena benda itu yang ada di depannya. Diberi nama "Surat" karena sang ayah bekerja sebagai tenaga administrasi di Kecamatan, yang setiap hari surat-menyurat. Diberi nama "Timbul" karena lahir bertepatan dengan matahari timbul (baca: terbit). Meskipun sekilas terdengar lucu, semua nama itu mengandung harapan orangtua pada anaknya.