Memimpin Jamsostek Lebih Fokus

[ Achmad Djunaidi ]
 
0
145
Achmad Djunaidi
Achmad Djunaidi | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Bercita-cita jadi ahli sejarah, malah jadi akuntan. Kini ia menjadi Direktur Utama PT Jamsostek. Di bawah kepemimpinannya, PT Jamsostek lebih progresif dan lebih fokus sebagai perusahaan jasa jaminan sosial tenaga kerja.

Achmad Djunaidi lahir pada tanggal 12 Juni 1943 di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Ia adalah anak satu-satunya dari pasangan A. Lamsyari (ayah) dan Halimah Kartodimedjo (ibu). Meskipun kini ia menjadi orang nomor satu di PT Jamsostek, sebelumnya ia tidak pernah bercita-cita berkarir di bidang keuangan. Ketika masih kecil, Djunaidi bercita-cita menjadi ahli sejarah. Ia dengan tekun mengumpulkan tu1isan-tu1isan kuno yang ada di daerahnya. “Tu1isan Ulu namanya”, kata Djunaidi untuk menyebutkan tu1isan itu terdapat di daun. Selain mengumpulkan tu1isan kuno, ia juga gemar mengunjungi perkampungan bawah tanah yang terdapat di Pasemah, Sumatera Selatan, bekas daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Cerita masa silam dan bukti-bukti sejarah yang begitu sering dijumpai Djunaidi sejak kecil, membuatnya amat menyukai bidang sejarah. Namun, karena kondisi yang tidak mendukung, impiannya itu harus dikubur dalam-dalam.

Ketika ia lulus SMA pada tahun 1962, ia tidak dapat meneruskan pendidikan ke jurusan sejarah. Sebab, jurusan sejarah hanya ada di perguruan tinggi di Pulau Jawa. Sementara itu, sebagai anak tunggal, orangtuanya merasa berat untuk mengirimkannya ke Pulau Jawa. Keterbatasan dana pun menjadi pertimbangan lain dari orangtuanya yang bekerja sebagai panitera pengadilan. Akhirnya, ia memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang.

Belum genap setahun kuliah di sana, Djunaidi membaca berita di koran mengenai tawaran mengikuti Kursus Djabatan Pembantu Akuntan (KDPA) di Bandung. Program studi ini menawarkan ikatan dinas bagi peserta yang lulus testing. Melihat peluang itu, Djunaidi lalu berdiskusi dengan orangtuanya. Ayahnya mengatakan bahwa, profesi akuntan masih langka di Indonesia. Karena itu, prospek masa depannya sangat cemerlang. Akhirnya, Djunaidi mendapat restu untuk berangkat ke Bandung.

Syarat penting yang harus dipenuhi oleh calon peserta kursus adalah nilai selama di SMA harus minimum rata-rata tujuh. Bagi Djunaidi, syarat ini tidak menjadi masalah karena ia adalah siswa lulusan terbaik, nomor satu di sekolahnya, dengan nilai rata-rata di atas tujuh.

Ia berhasil diterima di KDPA. Setelah lulus pendidikan selama setahun, Djunaidi kembali ke Palembang. Ia menjadi pegawai Akuntan Negara Departemen Keuangan RI, sesuai dengan program ikatan dinas. Sambil bekerja, ia pun kembali meneruskan kuliah di FH Universitas Sriwijaya, Palembang yang sempat ditinggalkannya.

Teringat nasehat ayahnya yang pemah mengatakan bahwa profesi akuntan masih langka di Indonesia, Djunaidi memutuskan berkonsentrasi pada pekerjaannya sebagai pembantu akuntan di Palembang. Kuliah di FH Universitas Sriwijaya akhirnya kembali ia tinggalkan.

Setelah bekerja selama dua tahun, Djunaidi berangkat kembali ke Bandung untuk memperdalam ilmu akuntansi di Akademi Ajun Akuntan Negara. Dua tahun kemudian ia berhasil lulus dan balik lagi bekerja di posnya semula. Keinginannya untuk terus memperdalam ilmu akuntansi mendorongnya untuk meneruskannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 1972 Djunaidi lulus menjadi Sarjana Ilmu Keuangan Akuntansi di Institut Keuangan Jurusan Akuntasi di Jakarta. Setelah lulus, kali ini ia tidak kembali ke Palembang melainkan, langsung bertugas di Kanwil Ditjen Pengawasan Keuangan Negara Jakarta. Jabatannya adalah sebagai Akuntan Pemeriksa Golongan III A.

Di tempat kerja yang baru, Djunaidi lagi-lagi menunjukkan prestasi yang membanggakan. Setahun di Departemen Keuangan, Djunaidi langsung mencuri perhatian Soemardjo yang menjabat Ketua BPK (Badan Pengawas Keuangan). Prof. Soemardjo kemudian menarik Djunaidi ke BPK dan menempatkannya sebagai Kepala Unit Keuangan H4 (bidang keuangan daerah wilayah Indonesia Timur).

Ketika Umar Wirahadikusumah (Mantan Wakil Presiden RI Kabinet Pembangunan IV) menjabat sebagai Ketua BPK, Djunaidi malah menjadi rebutan. Pasalnya, meskipun Djunaidi bertugas di BPK tetapi ia sering ikut menyusun organisasi dan anggaran dasar Yayasan Jaminan Sosial, yang kemudian dilebur menjadi Perum Astek yang kemudian berubah menjadi PT Astek (persero) dan kini menjadi PT Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Karena itu, Moes Joenoes, Dirut Perum Astek saat itu, menginginkan Djunaidi pindah kerja ke tempat yang dipimpinnya. Jelas, Umar yang juga mantan Pangdam Jakarta dan Kepala Staf Angkatan Darat, tidak setuju.

Djunaidi tak dapat berbuat apa-apa. Sebab, kedua orang yang “memperebutkannya” itu adalah atasannya. Dalam satu kesempatan main golf antara Umar dan Joenoes, mereka sepakat mempertaruhkan Djunaidi. Siapa yang memenangkan pertandingan go1f, berhak menentukan di mana Djunaidi harus berkantor. Pertandingan dimenangkan Joenoes.

Maka sejak tahun 1978, Djunaidi pun pindah ke Astek. Ia dipercaya menempati posisi Direktur Keuangan dan Investasi. Tugasnya adalah melakukan berbagai pembenahan mulai dari dasar, yaitu penyusunan struktur organisasi, job discription, manual akuntansi, anggaran, dan manual investasi, komputerisasi akuntansi, perluasan jaringan dan sarana kantor, dan lain-lain. Semua ini dilakukan Djunaidi agar dapat mengimplementasikan ilmu akuntansi dan manajemen secara baik dan benar, berdaya guna dan berhasil guna.

Ketika itu, sebagai Direktur Keuangan dan Investasi, ia tidak saja harus memutar otaknya menyediakan uang untuk membayar seluruh kewajiban Astek, tetapi ia juga senantiasa dituntut menemukan celah dan menemukan peluang guna mengembangkan dana publik yang terkumpul, antara lain dengan menginvestasikan uang Astek di beberapa tempat yang memungkinkan uang nasabahnya bisa berkembang. Kejelian dan kepiawaian Djunaidi dalam hal ini, akan berdampak positif, bukan saja terhadap perusahaannya, tetapi juga terhadap nasabahnya. Dengan berkembangnya keuangan, maka Astek dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan pendiriannya, yaitu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya.

Djunaidi mengambil kebijakan untuk menanamkan uang di pasar modal untuk mengembangkan Astek. Dan kepiawaian Djunaidi kemudian teruji, karena ia berhasil meraih keuntungan dari uang yang ditanamkannya. Tahun 1989 misalnya, Djunaidi berhasil meraih keuntungan bersih sebesar Rp58 miliar. Keuntungan ini meningkat seratus persen dari tahun sebelumnya dengan keuntungan bersih sebesar Rp24,5 miliar. Sebagian besar untung yang diraih itu, diperoleh dari Bursa Efek Jakarta.

Keberhasilan Djunaidi mengelola dan mengembangkan uang Astek, membuat Astek menjadi salah satu lembaga keuangan bukan bank yang mendapatkan kepercayaan dari pemerintah. Bukti dari kepercayaan itu terlihat dari diberikannya izin pada Astek untuk memutar uangnya di lantai bursa dalam jumlah besar, sampai Rp 250 miliar. Tanpa prestasi tersebut tidak mungkin pemerintah memberikan izin tersebut. Jasanya itu membuat dirinya bertahan cukup lama di posisi Direktur Keuangan dan Investasi PT Astek.

Kini, setelah PT Astek berubah menjadi PT Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), nama A. Djunaidi, Ak semakin berkibar dengan menduduki posisi Direktur Utama.

Pengamat Bursa

Djunaidi tidak hanya piawai berdansa di lantai bursa, tetapi ia juga memiliki pengetahuan yang luas serta pengamatan yang tajam terhadap gerak-gerik yang terjadi di pasar modal. Tidak mengherankan, kalau Djunaidi kemudian sering dimintai pikirannya mengenai upaya mengembangkan pasar modal Indonesia. Para wartawan sering meminta pandangannya mengenai situasi yang terjadi di pasar modal atau hal-hal yang perlu diupayakan dalam mengembangkan pasar modal Indonesia. Djunaidi menguasai persoalan pasar modal secara utuh. Karena itu pula, pikiran-pikiran yang dilontarkannya dalam wawancara pers, seminar atau kolom-kolom surat kabar, menarik untuk dijadikan sebagai bahan rujukan, baik untuk kepentingan praktis, maupun kepentingan teoritis.

“Sistem kalender” dalam pemberian ijin penerbitan saham, adalah salah satu pikiran yang pemah dikemukakan Djunaidi dalam rangka mendinamisasi pasar bursa. Tujuan usulan yang ditujukan Djunaidi kepada Bapepam (Badan Penanaman Modal) itu agar mengadakan pengaturan jarak waktu tertentu terhadap perusahaan yang “go publik”.

Sistem kalender dikemukakan ketika berduyun-duyunnya perusahaan yang go publik. Hal ini membuat sahamnya tidak bisa diserap pasar. Sebagai contoh kasus, Djunaidi mengemukakan realitas yang dihadapi oleh Semen Gresik yang ketika itu baru memasuki masa penawaran dan mendapat respon cukup baik. Tiba-tiba terdengar kabar Semen Padang dan Semen Tonasse juga akan memasuki pasar modal. Berita ini menyebabkan investor asing yang semula berniat memborong saham Semen Gresik, akhirnya berpaling ke Semen Padang dan Tonasse. Dengan menerapkan sistem kalender ini, maka jarak waktu antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang mau go publik bisa diatur, dan kejatuhan pun bisa dihindari sejak dini!

Kader Pemimpin

Tahun 1984, Djunaidi dipanggil mengikuti pendidikan Lemhannas. Ia dinilai sebagai seorang yang layak mengikuti pendidikan. Sebagaimana diketahui, Lemhannas adalah lembaga penggodokan kader pemimpin bangsa. Semua menteri mesti lulus dari lembaga itu lebih dulu. Djunaidi mujur bisa satu kelompok dengan sejumlah tokoh nasional yang kini menduduki posisi penting seperti Mayjen Syaukat Bandjaransari (Sekmil Presiden RI), Letjen Sahala Rajagukguk (Wa KSAD), Letjen Soekarto (Gubernur Lemhannas), Ir. J. Parapak (Deparpostel RI), Ir. Soeyitno, dan Barnabas Suebu, SH (Mantan Gubemur Irian Jaya).

Dari mereka, Djunaidi banyak mendapat masukan yang penting. Ia mengagumi pendekatan ke bawah yang dilakukan oleh Barnabas Suebu, terutama dalam hal memotivasi rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Dari Rajagukguk, Djunaidi mendapat konsep keterpaduan dalam penyusunan program dan koordinasi dalam tahap-tahap pelaksanaannya. Sementara dari Syaukat, Djunaidi belajar tentang konsep kewaspadaan nasional Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara serta ketepatan perkiraan situasi yang dihadapi.

Motto: Belajar Sambil Bekerja

Kepiawaian Djunaidi bermain di bursa dan ketajaman analisisnya mengenai pasar modal bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena keahlian Djunaidi adalah di bidang keuangan. Dalam keseluruhan kariernya, bisa dikatakan berlangsung dalam prinsip: belajar sambil bekerja. Betapa tidak, ia banyak mengikuti kursus yang berkaitan dengan uang. Kursus Manajemen Direksi BUMN. Privatization on State Owned Enterprise selama sebulan di Washington. Housing Finance Systems, Warton School of Economics, Philadelphia.

Keberhasilan dan kecemerlangan karirnya membuat Golkar sempat tertarik. Djunaidi sempat mengisi salah satu pos di Pokja Ekonomi DPP Golkar. Di Lemhannas, Djunaidi menjadi salah seorang yang mengisi barisan Pokja Kependudukan. Sedang di organisasi profesi IAI dan ISEI, Djunaidi juga berpartisipasi secara aktif.

Dari home-basenya Direktorat Akuntan Negara, ia telah memperluas kiprahnya ke Badan Pemeriksa Keuangan, tenaga kerja, dan Lembaga Pertahanan Nasional (dengan penguasaan security and prosperity approach) Pemerintahan. Pada bulan Mei 1993, ia telah terpilih sebagai salah satu dari lima calon Gubernur KDH Tingkat I Propinsi Sumatera Selatan. Sayang, ia gagal menjadi gubernur. Selanjutnya, ia juga sempat menjadi calon Komisaris PT Bursa Efek Jakarta pada bulan September 1993.

Perluasan wawasan di tingkat intemasional pun dilakukannya dengan ikut serta sebagai anggota delegasi Indonesia pada International Labor Conference di Geneva (Swiss) tahun 1981, Asian Labor Minister Conference di Beijing tahun 1990, dan sebagai peserta pada Asian Securities Analyst Conference di Taipei, Taiwan tahun 1987. Menurutnya, pengembangan wawasan bagi seorang akuntan adalah penting dan perlu.

Kini, meski sibuk sebagai Dirut Jamsostek, Djunaidi menyempatkan diri menjadi dosen di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan di perguruan tinggi swasta. “Semua itu merupakan tanggung jawab”, katanya. e-ti | tsl | dari berbagai sumber

Data Singkat
Achmad Djunaidi, Mantan Direktur Utama PT Jamsotek / Memimpin Jamsostek Lebih Fokus | Direktori | Dosen, BUMN, direktur, Jamsostek, Lemhannas, Unsri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here