Sisuan Bulu na Magoling
The Batak Institute Rilis Balada Sejarah Misi di Tanah Batak

The Batak Institute dan Asasira Music merilis lagu balada kebenaran sejarah misi Kristen di Tanah Batak, dalam tiga versi (bahasa) yakni: āSisuan Bulu na Magolingā versi bahasa Batak; āPionir yang Terlupakanā versi Bahasa Indonesia; dan, āThe Forgotten Pioneersā versi bahasa Inggris. Lirik balada ini disusun untuk mengembalikan hak sejarah kepada mereka yang telah memberikan hidupnya dalam sunyi. Sejarah yang sehat adalah sejarah yang mampu berterima kasih secara adil kepada setiap tangan yang telah membangunnya.
Menghidupkan Akar di Balik Rindang Dedaunan:
Lirik lagu ini dibuka dengan sebuah pengakuan tentang kekhilafan kolektif (tarlalap). Di bawah langit Tano Batak yang luas, kita sering kali terhipnotis oleh bayangan cahaya satu mercusuar besar, Nommensen, hingga kita lupa bahwa banyak cahaya mercusuar besar lainnya di berbagai Huta oleh minyak dan sumbu dari tangan-tangan lain yang tak kita lihat. Metafora “halinu na bolon” (bayang-bayang besar) menggambarkan bagaimana kebesaran satu sosok secara āmanipulatifā telah “menghapus” jejak langkah mandiri domba-domba sunyi lainnya yang kini terasa hampir punah dari ingatan.
Memasuki bait kedua, balada ini mengetuk pintu kesadaran kita melalui sosok Gerrit van Asselt. Melalui lirik ini, kita diingatkan bahwa sebelum fajar organisasi Barmen bersinar terang, Van Asselt telah lebih dulu bergumul dengan “pintu yang terbuka” di kesunyian Sipirok. Ia adalah “Sisuan Bulu”āsang penanam bambu pertama yang urat-urat perjuangannya menembus tanah keras jauh sebelum Nommensen ikut tumbuh dan kita puja-puji. Van Asselt telah lebih dahulu mengajar, menyembuhkan, dan membaptis dalam keheningan yang tanpa nama.
Bagian Chorus lagu ini adalah sebuah seruan moral yang kuat: “Bungka mata ni sejarah” (Bukalah mata sejarah). Lagu ini memperingatkan kita agar tidak terjebak dalam “holong na mapitung” (kasih yang buta). Terima kasih kita tidak boleh menjadi eksklusif. Mauliate yang sejati adalah mauliate yang adil, yang mampu melihat pengorbanan puluhan nyawa lainnyaāhosa, tondi, dohot daging (nyawa, jiwa, dan raga)āyang juga diletakkan di atas altar pelayanan Tano Batak.
Lirik ini kemudian menyebutkan deretan contoh nama: Schreiber, Johannsen, Pilgram, Warneck, hingga Heerling. Mereka disebut sebagai “Tiang na Marsiula” marsadasadaātiang-tiang penyangga mandiri yang bekerja keras saat dunia masih terasa liar dan haus akan harapan. Penulis lirik dengan bijak membedakan antara Nommensen yang memegang kuasa dan wibawa (laksana residen), dengan para misionaris lain yang bekerja dalam “hohom ni roha” (keheningan jiwa). Keduanya punya peran, namun yang satu tak boleh meniadakan yang lain.
Puncaknya ada pada bagian Bridge dan Outro. Melalui penghormatan tertinggi budaya Batak, “Somba sampulu jarijari, pasampulusadahon simanjujung”, lirik ini mengajak kita memberikan tabik kepada seluruh tangan yang pernah menanam. Pesan pamungkasnya sangat puitis namun filosofis: “Sejarah i do Ruma, na pinauli ni godang tangan” (Sejarah itu adalah Rumah, yang dibangun oleh banyak tangan).
Makna terdalam dari lagu ini adalah sebuah ajakan untuk pulang ke rumah sejarah yang utuh. Sebuah rumah yang tidak hanya menghargai atapnya yang megah, tetapi juga menghormati setiap tiang, dinding, dan terutama akar fondasi yang tersembunyi di dalam tanah. Ini adalah lagu tentang keadilan ingatan.
Meluruskan Sejarah Misleading
Selama ini kita miskin literasi sehingga menelan informasi yang misleading (menyesatkan) secara historis. Jika kita merujuk pada data induktif pembukaan pos misi, fakta menunjukkan bahwa Nommensen bukanlah “pusat” dari mana semua misi itu tumbuh, melainkan hanya salah satu bagian dari jejaring misi yang luas.
Maka, menyebut Nommensen sebagai “pohon besar” seolah-olah pos misi lain adalah “cabang” darinya adalah kesalahan fatal. Kenyataannya, pos misi di berbagai huta dibuka secara mandiri oleh misionaris lain sebagai pionir lokal (sisuan bulu) di tempat tersebut, contoh: Balige: Dibuka oleh Gustav Pilgram (1881); Nainggolan (Samosir): Dibuka oleh Johannes Warneck (1893); Doloksanggul: Dibuka oleh Tuan Heerling (1905); Sipirok (Awal mula): Dibuka oleh Gerrit van Asselt (1857). Nommensen secara faktual hanya membuka dan menetap di Parausorat, Huta Dame, Pearaja, dan Sigumpar. Menganggap ia hadir di semua tempat adalah bentuk “penggelembungan” narasi yang mengaburkan jasa misionaris lain.
“Janganlah kita melihat sejarah sebagai satu pohon tunggal, karena itu adalah manipulasi ingatan. Tanah Batak adalah sebuah hamparan di mana banyak misionaris menanam benih secara mandiri di huta masing-masing. Nommensen memiliki jalannya di Sigumpar dan Pearaja, namun di Balige ada Pilgram, di Nainggolan ada Warneck, dan di Doloksanggul ada Heerling. Mereka semua adalah subjek sejarah yang setara, bukan bayang-bayang dari satu orang.”
Para misionaris lain bukan sekadar “pembantu”, melainkan pemimpin misi di wilayahnya masing-masing. Mereka menghadapi tantangan budaya dan fisik di tempat yang mungkin tidak pernah dikunjungi oleh Nommensen. Tanpa mereka, peta kekristenan di Tanah Batak tidak akan pernah lengkap.
Selama lebih dari satu abad, narasi sejarah misi di Tanah Batak seolah bermuara pada satu muara tunggal. Kita tumbuh dalam dekapan sejarah yang menempatkan satu sosok sebagai matahari, sementara yang lainnya hanya dianggap sebagai bayang-bayang yang samar. Namun, kejujuran sejarah tidaklah dibangun di atas pengkultusan, melainkan di atas fondasi fakta-fakta induktif yang tersebar di setiap jengkal huta dan lembah.
Karya berjudul “Sisuan Bulu na Magoling” ini lahir bukan untuk meruntuhkan rasa hormat kita kepada siapa pun. Sebaliknya, karya ini adalah sebuah undangan untuk menumbuhkan rasa syukur yang lebih adil dan melek secara historis. Kita diingatkan kembali bahwa setiap wilayah memiliki “Sisuan Bulu” atau pionirnya masing-masing. Adalah sebuah manipulasi ingatan jika kita membiarkan jasa para pionir ini tenggelam dalam riuhnya satu suara.
Sejarah kekristenan di Tanah Batak bukanlah sebuah pohon tunggal yang tumbuh dari Sigumpar, melainkan sebuah Ruma Batak yang megah, yang berdiri tegak karena dibangun oleh banyak tangan dan disangga oleh banyak tiang yang mandiri di setiap wilayahnya.
Catatan Kaki Budaya & Sejarah:
Restorasi Ingatan Tano Batak
- Etimologi Judul: “Sisuan Bulu”
Dalam tradisi agraris Batak, Sisuan Bulu bukan sekadar penanam bambu. Bambu ditanam sebagai pembatas kampung (huta) sekaligus pelindung. Menobatkan para misionaris (seperti Van Asselt, Pilgram, atau Heerling, dan puluhan lainnya) sebagai Sisuan Bulu berarti mengakui mereka sebagai pendiri fondasi peradaban baru di wilayah (huta dan luat) tersebut, bukan sekadar penerus dari tokoh lain.
- Dekonstruksi Narasi “Apostel Batak”
Lagu ini mengoreksi gelar “Apostel Batak” yang sering disematkan secara eksklusif kepada Nommensen. Secara induktif, kekristenan di Tanah Batak tidak memancar dari satu titik tunggal (Pearaja/Sigumpar), melainkan muncul dari multi-pusat pelataran sejarah mezbah misi:
- Sipirok (1857): Adalah titik nol misi evangelis yang dimulai oleh Gerrit van Asselt, jauh sebelum struktur organisasi RMG mapan.
- Kemandirian Huta: Lirik lagu ini menegaskan bahwa tokoh seperti Gustav Pilgram di Balige atau Tuan Heerling di Doloksanggul dan lainnya adalah subjek sejarah yang mandiri. Mereka menghadapi dialektika budaya lokal tanpa intervensi dari siapa pun.
- Simbolisme “Pintu na bungka” (Pintu yang terbuka)
Metafora pada Verse 2 menggambarkan kondisi sosial dan religius orang Batak yang sangat terbuka menantikan dan menerima kehadiran misionaris sejak awal. Mereka datang ke tanah yang sudah ādipersiapkanā secara religius bahwa āSaluhut panggulmit ni ngolu saguru lomo ni Debata doā. Para misionaris datang “mengetuk pintu rumah yang terbukaā di tengah tantangan zamannya (konflik internal, ancaman eksternal, dan transisi zaman).
- “Holong na Mapitung” (Kasih yang Buta)
Istilah ini digunakan sebagai kritik edukatif. Menghormati tokoh besar adalah kewajiban budaya (adat), namun melakukannya dengan menutup mata terhadap jasa orang lain adalah sebuah ketidakadilan (hagedukon). Lagu ini mengajak orang Batak bertransformasi dari “Cinta karena Mitos” menuju “Hormat karena Kebenaran”. Mangendehon Hasintongan, Mamestahon Holong (Chanting the truth, Celebrating love).
- “Ruma na Pinauli ni Godang Tangan”
Bait penutup ini (metafora Ruma) merujuk pada filosofi rumah panggung Batak (Ruma Batak). Sebuah rumah tidak mungkin berdiri hanya karena satu tiang (tiang sadasada). Ada yang memasang fondasi, ada yang mendirikan tiang, ada yang menyusun atap. Nommensen yang dekat dengan penguasa dijadikan wajah dari rumah itu, tetapi kekuatannya ada pada kolektivitas puluhan misionaris yang namanya sering kali “magoling” (terlupakan/tergelincir) dari catatan lisan masyarakat, bahkan disinformasi dan misleading oleh penguasa pada masanya.
Penulis: Ch. Robin Simanullang, The Batak Institute
Versi Batak: Sisuan Bulu na Magoling
BATAK VIA DOLOROSA
LIRIK
Sisuan Bulu na Magoling
(Penyemai Bambu yang Terlupakan)
(Verse 1)
Di ginjang ni tano na uli, ditoru ni langit Tano Batak
Nunga leleng hita tarlalap, manurat sada goar di bagas roha
Nommensen, na tajungjung songon Apostel di Sigumpar i
Jongjong dipuji-puji, gabe tugu di tongatonga ni luatta
Hape barita ni na masa, ndada holan sada rupa
Adong angka bogas ni birubiru na asing, na so pola tarbarita
(Verse 2)
Diingot hamu dope si Van Asselt, di hinalun ni Sipirok i?
Andorang so poltak bulan ni Barmen, nunga manuktuk pintu ni ruma i
Ibana do sisuan bulu, urat parjolo di tano Batak on
Ndada adong dope na asing, alai sasadasa di Sipirok i
Mambuka mual haporseaon, andorang so ro angka na asing
Pauli parsingkolaan, mangubati na hansitan, di bagas hohom
(Chorus)
O… Mauliate ma di hamu angka na ro sian bariba i
Ndada holan tu sada goar na sai jotjot nisurakhon i
Bungka mata ni sejarah, asa unang holan holong na mapitung
Ai ganup huta adong sisuan buluna, na mangalehon hosa dohot dagingna
Unang loas dabu pambahenan nasida, dibagas soara na sada i
(Verse 3)
Pilgram di Balige, Warneck di Nainggolan, Heerling di Doloksanggul
Schreiber, Johannsen, dohot angka na asing, pauli pangkirimon na gomos
Ndada marlinggom tu sahalak, nasida do tiang marsadasada
Mambuka dalan di luat na mandiri, uju na masihol portibi on
Tutu do Nommensen i tarbarita, gogo jala marhuaso
Alai misionaris na asing i, hohom mambahen bogasna be sadasada
(Bridge)
Somba sampulu jarijari…
Pasampulusadahon simanjujung…
Tabe ma tu saluhut, tu sude tangan na manuan i
Tu sude misionaris, na mambuka dalan di ganup huta
Sintong ni barita ni na masa, i do dalanta mandok mauliate
Asa singkop parningotan, unang adong na laos hinalupahon
(Chorus)
O… Mauliate ma di hamu angka na ro sian bariba i
Ndada holan tu sada goar na sai jotjot nisurakhon i
Bungka mata ni sejarah, asa unang holan holong na mapitung
Ai ganup huta adong sisuan buluna, na mangalehon hosa dohot dagingna
Unang loas dabu pambahenan nasida, dibagas soara na sada i
(Outro)
Parsangapi ma sude Parbarita na Uli, ganup huta adong pionirna…
Ai sejarah i do Ruma, na pinauli ni godang tangan…
Mauliate…
Mauliate…
Mauliate…




















