Kebenaran Sejarah Misionaris di Tanah Batak

Siapa Misionaris Pasifis dan Sisuan Bulu Kekristenan di Tanah Batak?

 
0
77
Para misionaris di Tanah Batak pada konfrensi 1899

Menghormati, mengultuskan dan mengidolakan Ompu IL Nommensen bukanlah kesalahan, bahkan suatu hal yang bersifat positif dan baik. Tetapi alangkah baiknya hal itu dilakukan dengan pengetahuan yang memadai tentang kebenaran sejarah misionaris di Tanah Batak. Sehingga pengultusan itu tidak berlebihan dan cinta buta, apalagi dengan sengaja atau tidak sengaja menafikan, meniadakan dan tidak menganggap peranan puluhan misionaris lainnya di Tanah Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Adalah suatu kesalahan pemahaman sejarah apabila Hita Batak tidak menganggap, tidak mengingat dan tidak menghargai puluhan misionaris lainnya yang seolah-olah mereka tidak berjasa sama sekali di Tanah Batak; dan seolah-olah menganggap hanya satu orang misionaris saja yang mengabdikan hidupnya bagi orang Batak dan mengultuskannya secara berlebihan dengan menafikan misionaris lainnya.

Nommensen adalah salah satu misionaris besar dan hebat di Tanah Batak, itu fakta sejarah. Seperti dikatakan Johannes Warneck bahwa Nommensen seorang pria yang telah memberikan misi Tanah Batak suatu karakter khusus, yang bahkan pada zaman sulit memilih persenjataan (perang) sebagai pilihan yang berjalan seiring dengan kekuatan seorang nabi dan meninggalkan jejak berkat selama beberapa dekade dan abad.[1]  Dia misionaris yang paling dekat, bersahabat dan berpengaruh kepada kolonial Belanda di Tanah Batak, bahkan dianggap sebagai perwakilan pemerintah dan sering bertindak seolah-olah dia residen yang berkuasa. Belanda menyebutnya Pahlawan Kita (Onze Held) dan secara bersamaan Belanda juga menyebutnya Apostel der Batakkers.[2] Sehingga namanya sangat populer, dihormati, disegani dan ditakuti masyarakat Batak pada masa itu;[3] Bahkan hingga saat ini, yang ironisnya sampai menenggelamkan nama-nama dan jasa puluhan misionaris lainnya.

Walaupun Nommensen bukan satu-satunya, bahkan bukan dia misionaris evangelis pasifis di Tanah Batak. Masih banyak misionaris lainnya yang selama ini seperti kita lupakan dan kita abaikan, dan/atau tidak kita ketahui sejarahnya. Sebagaimana telah diuraikan dalam buku ini, Nommensen bukanlah misionaris pertama membabtis orang Batak. Gerrit van Asselt adalah misionaris pertama yang secara faktual menginjili, mengajar, membuka sekolah (Pendidikan Kristen Batak Pertama, 5 Agustus 1858) dan melakukan pelayanan medis (penyakit tropis ringan) dan kemudian pertama kali membabtis orang Batak pada perayaan Paskah 31 Maret 1861. Gerrit van Asselt tiba sendirian di Sipirok pada 22 Januari 1857. Dia melakukan evangelisasi lebih dahulu selama empat tahun sebelum membabtis. Dia sisuan bulu pos misi pertama di Tanah Batak yakni di Sipirok, hampir lima tahun sebelum Reinische Missions Gessellschaft (RMG) Barmen memulai misinya di Tanah Batak pada 7 Oktober 1861, dimana Van Asselt dan temannya Friederich Wilhelm Betz ikut bergabung dan tentu menjadi mentor misionaris muda RMG (Jerman) pertama Carl Wilhelm Heine bersama Johann Carl Klammer, yang ditarik dari Kalimantan.[4] Pos misinya di Sipirok itu diambilalih RMG dan menjadi Pusat Pelayanan RMG Pertama di Tanah Batak. Enam tahun sebelum Nommensen memulai misinya di Tanah Batak (1863), Van Asselt telah membuka tiga Pos Misi yakni Sipirok, Sarulla dan Pangaloan.

Kemudian, Nommensen tiba di Sibolga bersama tunangan Van Asselt Miss Dina Malga pada 23 Juni 1862; dan Nommensen terus ke Barus belajar bahasa Batak dan baru memulai misinya membuka Pos Misi Parausorat (1863), kemudian Pos Misi Huta Dame pada 20 Mei 1864; Lalu pindah rumah ke Godung Pearaja 1873 sebagai pusat misi RMG di Tanah Batak; Setelah itu membuka pos misi di Sigumpar (1890), rumah yang ditinggalinya sampai Nommensen wafat 23 Mei 1918.[5] Itulah pos misi yang secara langsung dibuka oleh Nommensen.

Sementara sisuan bulu di banyak pos misi lainnya adalah puluhan misionaris lainnya. Di antaranya, Johannsen membuka pos misi Pansurnapitu yang disebutnya Zoar Pansurnapitu (29 Maret 1867) dan menjadi Sekolah Pandita Batak (Seminari) pada 1879. Johannsen mengabdi sampai kematiannya pada 11 Januari 1898. Dia, seperti Nommensen, mengabdikan seluruh hidupnya selama 32 tahun sampai wafat di Tanah Batak.[6]

Nommensen sendiri tidak pernah membuka atau memimpin sekolah Pandita Batak. Nommensen membuka sekolah (seperti sekolah minggu) sebagaimana misionaris lainnya setiap membuka pos misi. Sebelum Johannsen adalah Misionaris A. Schreiber yang sejak Maret 1867 membuka sekolah pembibitan Guru/Pandita Batak pertama di Parausorat. Saat itu August Schreiber menjabat Superintendent (Ephorus, Pengawas) Mision RMG Barmen di Tanah Batak.[7] Jadi, August Schreiber adalah Ephorus (Pengawas) pertama Mision RMG Barmen di Tanah Batak (1866-1873). Struktur organisasi RMG saat itu dipimpin Inspektur (Inspektur Jenderal) dan dibantu beberapa Direktur; kemudian misi di beberapa negara atau wilayah dipimpin Superintendent, disebut juga der Inspektor, der Kommissar, overseer, atau Pengawas (Ephorus of Superintendent)[8] seperti di Tanah Batak. Jadi, ketika itu sebutan Ephorus tidak sama maknanya seperti yang kita maknai kemudian sampai saat ini dalam organisasi Gereja-Gereja Batak sebagai pucuk pimpinan Imam (Kepala Imam atau Raja Imam) sehingga pantas digelari Ompu i, sebagaimana gelar yang sebelumnya disandang Raja Imam Si Singamangaraja.

Selain itu, saat Nommensen menjabat Ephorus, dia bukan satu-satunya Ephorus Mision Barmen di Tanah Batak, tetapi juga ada Misionaris Christian Philipp Schutz pada 1 Agustus 1895, diangkat menjabat Ephorus kedua[9] yang bertugas di Angkola, dari Simangumban sampai Sipiongot, serta Tuan Metzler menjabat Wakil Ephorus[10] yang menempati Pos Misi Pearaja sebagai Pusat Misi Barmen di Tanah Batak, mendampingi/mewakili Nommensen setelah berpos di Sigumpar.

Sementara, puluhan misionaris menjadi sisuan bulu pos misi di beberapa tempat. Di antaranya, Gustav Pilgram yang membuka pos misi besar (Godung) di Balige 10 Juli 1881;[11] Johannes Warneck sisuan bulu pos misi (1893) di Nainggolan, Samosir, yang kemudian memimpin Zoar Pansurnapitu dan memindahkan seminari itu ke Sipoholon tahun 1900 bersama Guru Misionaris Meerwaldt; Lalu tahun 1920-1932 menjabat Ephorus Mision Batak Barmen dan menjadikannya bernama HKBP; Misionaris Heerling sisuan bulu pos misi di Doloksanggul tahun 1905, membangunnya menjadi Godung (gereja, sekolah dan rumah sakit) dan mengabdi hingga akhir hayatnya;[12] Dan sejumlah misionaris sisuan bulu pos misi lainnya yang tersebar di Tano Batak Rea. Dan, tidak semua pos misi itu pernah dikunjungi oleh Nommensen. Sebagai contoh, kita tidak (belum) menemukan suatu dokumen atau cerita dimana Nommensen pernah berkunjung atau melayani di Doloksanggul sekitarnya. Tapi bagi masyarakat Doloksanggul saat ini, nama Nommensen-lah yang dikenang dan dikultuskan, sementara nama Tuan Heerling, nyaris tak pernah disebut. Kendatipun misalnya Nommensen pernah berkunjung ke Doloksanggul, namun sepantasnyalah jasa Tuan Heerling yang paling dikenang di Doloksanggul sekitarnya. Ini adalah contoh kesalahan narasi sejarah, sehingga kita tidak tahu berterimakasih kepada para misionaris lainnya yang lebih berjasa di suatu tempat, selain hanya kepada Nommensen.

Advertisement

Namun, sekali lagi, bukan berarti jasa dan pengabdian Nommensen tidak pantas dikenang dan diagungkan, walaupun dia tidak sempurna sebagai Misionaris Evangelis, seperti halnya beberapa misionaris lainnya. Harold Edward Fey (1937) dalam World Peace and Christian Missions, mengatakan lupakan sejenak semua yang misionaris katakan. Lihat apa yang dia lakukan. Dia secara sukarela meninggalkan tanah kelahirannya dan membangun rumahnya dengan orang lain, sehingga melewati penghalang yang dianggap kebanyakan orang tidak dapat diatasi. Dia sebenarnya hidup di atas nasionalisme. Dia meninggalkan negara di mana standar hidup relatif tinggi untuk hidup dengan orang-orang dari tingkat ekonomi yang lebih rendah, dengan demikian membuktikan bahwa tembok tinggi determinisme ekonomi tidak perlu membatasi semua sikap dan tindakan mereka. Dia sengaja berpaling dari ras­nya sendiri dan mengidentifikasikan dirinya dengan ras lain, dengan demikian menunjukkan bahwa rasialisme palsu yang menciptakan prasangka dan penderitaan di banyak bagian dunia ini adalah isapan jempol dari pikiran manusia dan tidak lebih. Melalui cinta saja dia dengan bebas dan dengan senang hati memberikan hidupnya dalam pelayanan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah dunia untuk pengabdian yang berkelanjutan, pengorbanan dan menonjolkan diri pada prinsip bahwa persaudaraan adalah hukum kelangsungan hidup sosial yang tak terhindarkan.[13]

Demikian mulianya pelayanan dan pengorbanan para misionaris, walaupun di Tanah Batak tidak sesempurna yang dinarasikan Harold Edward Fey; Antara lain sifat rasial dan prasangka (pelecehan) budaya bahkan pembunuhan karakter (insinuasi kanibal) dan Holy War mewarnai pengabdian misionaris. Namun hal itu ‘dianggap tidak ada artinya’ dibanding pengabdian dan pelayanan mereka (misionaris dan kolonial).

Saat itu, memang, era mision dari Kristen Barat ke berbagai belahan dunia. Harold Edward Fey menyebut Lembaga Misi merekrut puluhan ribu misionaris dan jutaan pendukung. Rekornya yang luar biasa dibuat tanpa memikirkan keuntungan, prestise, atau keuntungan nasional.[14]

Mengutip Kenneth Scott Latourette, Doktor dan Profesor Misi dan Sejarah Oriental dalam bukunya From Missions Tomorrow (1936), menguraikan besarnya usaha misionaris yang sangat mengesankan. Pada puncaknya, pada dekade sebelum depresi keuangan tahun 1929, jumlahnya kira-kira tiga puluh ribu misionaris Protestan didukung oleh sumbangan tidak jauh dari enam puluh juta dolar setahun, dan kira-kira jumlah yang sama misionaris Katolik Roma didukung oleh sumbangan mungkin tiga puluh juta dolar setahun. Para misionaris ini telah tersebar di setiap benua dan di hampir setiap kelompok pulau, mulai dari limbah dan es Arktik hingga gurun yang berkobar dan panas yang mengepul di daerah tropis. Uang yang mendukung mereka datang terutama bukan dari orang kaya, meskipun mereka telah memberi sumbangan, tetapi dari jutaan pemberi, kebanyakan dari mereka dengan kemampuan terbatas. Belum pernah dunia melihat sesuatu yang sebanding dengannya. Tidak hanya rekor tersebut tidak pernah didekati oleh agama mana pun, dan bahkan di abad sebelumnya dari agama Kristen itu sendiri, tetapi tidak pernah sebelumnya dalam sejarah ras memiliki kelompok ide, agama, sosial, ekonomi, atau politik, disebarkan di area yang begitu luas atau di antara begitu banyak orang oleh begitu banyak orang (misionaris) yang telah memberikan hidup mereka untuk tugas itu. Terlebih lagi, tidak pernah ada gerakan apa pun, politik, agama, atau lainnya, yang didukung oleh pemberian sukarela dari begitu banyak individu yang tersebar di begitu banyak negeri yang berbeda.[15]

Misionaris adalah warga pertama komunitas dunia. Karena mereka mencintai Tuhan, kesetiaan utama mereka adalah kepadanya dan kepada keluarga manusianya.[16] Ya, itulah keluhuran dan keagungan pelayanan dan pengorbanan para Misionaris di seluruh dunia, termasuk di Tanah Batak. Maka, seperti ungkapan tradisi leluhur jika ada kata di atas Mauliate, itulah yang sepantasnya diucapkan, sehingga orang Batak menyampaikan ucapan Mauliate itu dibarengi gerakan dan bahasa tubuh Somba sampulu jarijari, pasampulusadahon simanjujung (sembah hormat dengan sepuluh jari tangan, kesebelas ketundukan kepala.

 

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3, Bab 11.7: Mauliate Misionaris dan Kolonial. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Hemmers, JH., 1928: bl.II.

[2] Hemmers, JH., 1928: bl.74.

[3] Nijland, E., 1893: p.199.; BRMG (12) 1878: 381; Coolsma, S., 1901: bl.348; Nommensen, J.T., 1921: h.66; Dan lainnya.

[4] Coolsma, S., 1901: bl. 308.

[5] Nommensen, J.T., 1921: h.212.

[6] Scharten, C. Th., 1919: p.23.

[7] Freudenberg, R., 1904: bl.66.

[8] Freudenberg, R., 1904: b.61.

[9] Coolsma, S., 190,: bl.327.

[10] Nommensen, J.T., 1921: h.173.

[11] Coolsma, S., 1901: bl.397.

[12] Stibbe, D.G., en Sandbergen, FJWH., Mr, Dr, (Onder Redactie), 1939: blz.1483-1484.

[13]  Fey, Harold Edward, 1937: World Peace and Christian Missions; New York: Friendship Press, p.25.

[14]  Fey, Harold Edward, 1937: p.26.

[15]  Latourette, Kenneth Scott, 1936: From Missions Tomorrow; New York: Harper & Brothers Publishers, p.12-13..

[16]  Fey, Harold Edward, 1937: p.26.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here