Teologi Kemajuan Nommensen

Injil Berorientasi Tujuan Akhir Hidup, Bukan Kenikmatan Hidup

 
0
42
Gereja, Sekolah, dan Rumah Sakit Misi Kristen di Pearadja, Tarutung. Foto Penerbit Kleynenberg & Co Haarlem (kl 1913). Koleksi Museum Volkenkunde

Para pendeta Batak, sering ‘mengkhotbahkan’ Injil sebagai Berita Baik Kemajuan atau Teologi Modernisasi atau Teologi Kemakmuran mengikuti jejak misionaris terkenal. Sehingga terkadang luput mengkhotbahkan bahwa hakikat Injil adalah Berita Baik Keselamatan, atau Teologi Keselamatan (Jalan, Kebenaran dan Hidup), Teologi Memikul Salib. Bukan berorientasi kenikmatan hidup tetapi berorientasi tujuan akhir hidup.

 Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Bahwa Injil bukan sekadar Berita Baik tentang perbuatan baik untuk kebajikan (apalagi kemajuan), melainkan lebih daripada itu; Bahwa Injil adalah Berita Baik anugerah dan jalan hidup kebenaran untuk keselamatan; Persekutuan dalam Roh yang berbuah perbuatan baik.

Sejarah Gereja, khususnya di Tanah Batak diawali perpaduan, kolaborasi atau mutual simbiosis kolonialisme dan Gereja-Gereja Barat, dalam rangka kolonisasi dan kristenisasi (pengkristenan rakyat atau volkschristianisierung), telah menghadirkan lompatan kemajuan atau modernisasi yang spektakuler. Seperti sering ‘dikhotbahkan’ para pendeta Gereja Batak bahwa Ompu i Nommensen[1] telah membawa kemajuan pesat di Tanah Batak, baik di bidang pendidikan dan kesehatan maupun gaya hidup modern lainnya; Seperti pakai celana, sepatu, dasi, minyak rambut, jamban (WC) dan lain sebagainya, seperti laporan Misionaris yang diterbitkan di ‘Berichte’ RMG nomor 2 tahun 1917 tentang gerakan ‘hamadjoean’ (kemajuan), dan disoroti M. Joustra, arsiparus Het Bataksch Instituut, merupakan karikatur cerdas tapi dangkal yang mengundang ejekan.[2] Namun, harus kita akui, itu adalah kenyataan yang sangat spektakuler, terutama dalam bidang pendidikan dan infrastuktur modern (kerjasama kolonial dan misionaris).

Seperti, sebuah video seorang pendeta berkhotbah di Humbang Hasundutan yang viral di media sosial Whatsapp. Pendeta itu mengemukakan sejarah misi (menurut pemahamannya yang tampaknya sangat terbatas). Dia dengan jenaka mengemukakan, ketika Raja Pontas Lumbantobing bertanya kepada Ompu i IL Nommensen: “Molo hujalo hami hakristenon, gabe bohama hami halak Batak?” (Kalau kami terima kekristenan, jadi bagaimana kami orang Batak?” Menurut pendeta tersebut, Nommensen tidak menjawab: Sesa ma dosamu, gabe masuk tu surgo ma hamu, jala dapotmu ma hangoluan saleleng­lelengna. (Dosa kalian akan dihapuskan, kalian akan jadi masuk ke sorga serta mendapat hidup selama-lamanya). Jika seandainya Nommensen menjawab demikian, kata pendeta, kemungkinan akan dijawab (Raja Pontas): “Holan ho ma di si, ndang pola dohot hami di si (surgo).” (Kamu saja di surga itu, tak usah kami ikut ke situ). Tutur pendeta itu agak jenaka yang disambut tertawa gemuruh pendengarnya. Pendeta itu melanjutkan: Tetapi Nommensen memberikan jawaban yang sangat brilian memberikan motivasi kepada Raja Pontas; Nommensen katakan: “Kalian akan menjadi bangsa yang maju!” Waoh, sambut (pikiran) Raja Pontas. Lalu, menurut pendeta ini, Raja Pontas mengajak seluruh orang Batak masuk Kristen.[3] Pendeta tersebut tampaknya tidak menyadari bahwa itu adalah kekeliruan narasi yang sangat fundamental; Dan, semakin keliru lebih fundamental, karena pendeta itu mengulanginya secara siklus setelah 160 tahun. Sang pendeta tampak tidak menyadari kekeliruannya dan tidak juga menyadari bahwa secara substansial (missio Dei), sesungguhnya dia sedang tidak berkhotbah, tapi lebih cenderung stand up comedy.

Seandainya pun memang demikian Nommensen mengawali misi pengkristenannya, jangan lagi diulang-ulang (siklus) hingga 160 tahun kemudian. Teologi misi Kristen telah meng­alami pergeseran paradigmatik di sepanjang sejarah gereja, dari kristenisasi ke arah missio Dei.[4] Craig Ott, Stephen J. Strauss dan Timothy C. Tennent (2010) dalam Encountering Theology of Missions (Mendalami Teologi Misi) mengemukakan pemahaman tentang kebenaran, otoritas Alkitabiah, hakikat agama non-Kristen, peran gereja lokal (pen:suku), keadilan sosial, dinamika spiritual, pertumbuhan mayoritas gereja dunia, dan banyak masalah lainnya telah berkembang dan menimbulkan pemikiran ulang yang dramatis tentang misi ke berbagai arah. Perkembangan yang membutuhkan pembingkaian ulang yang segar dan Alkitabiah dari pemahaman kita tentang misi; Secara tematis mengangkat pertanyaan inti misi dan memeriksanya dari perspektif Alkitabiah, historis, dan kontemporer, dengan mempertimbangkan perkembangan terkini baik di tingkat lokal maupun global; Bahwa gereja sebagai komunitas kerajaan (Allah) adalah agen utama sekaligus buah utama dari missio Dei di zaman ini. Lebih jauh, hanya teologi misi yang dibingkai dengan benar secara eskatologis yang akan memberikan tempat yang tepat bagi kerajaan Allah. Gereja sebagai umat Allah, hidup sebagai alat, saksi, tanda, dan antisipasi kerajaan yang sudah ada tetapi hanya datang dalam kepenuhan setelah kedatangan Kristus (kedua kali). Salib tetap menjadi titik tumpu sejarah, Injil adalah pesan pengharapan, dan Roh kuasa misi.[5]

Kondisi Teologia Kemakmuran dan Modernisasi seperti ‘khotbah’ stand up comedy di atas, tentu sangat mencemaskan; Tesis sekularisasi menunjukkan arahnya. Sebab Berita Baik Kemajuan (modernisasi) tidak selalu berkorelasi dengan Berita Keselamatan; Bahkan secara Alkitabiah dan dalam banyak studi teologi justru bertolak-belakang, antara jasmani dan rohani, duniawi dan sorgawi; Walaupun harus dipahami bukan secara sempit hitam-putih atau kacamata kuda, tetapi dalam kerangka hubungan antara Gereja dan dunia dengan solidaritas dan pemisahan yang serentak (bergerak seiring secara serentak): Garam dan Terang Dunia, Imanensi dan Transendensi.

Sebagaimana dikemukakan oleh Paul Verghese (1967) dalam Dialogue with Secularism, di mana Tuhan telah menjadi manusia, sehingga menjadi satu dengan ciptaan, namun tidak berhenti menjadi Tuhan, sehingga tetap transenden dari ciptaan dan tidak sepenuhnya menyatu dalam ciptaan, harus selalu diingat sambil mempertimbangkan hubungan Gereja dengan dunia. Ketika hanya pemisahan antara Gereja dan dunia yang ditegaskan, kita memiliki jenis dikotomi alam-supernatur dengan konsekuensi tragisnya. Tetapi ketika solidaritas Gereja-dunia sendiri ditegaskan tanpa kesadaran akan transendensi, kita berada dalam bahaya mengembangkan liberalisme (sekularisme) yang akan menyebabkan hilangnya semua transendensi. Dalam pandangan ini, Gereja juga merupakan kehadiran yang “menguduskan”, bukan hanya kehadiran yang terlalu menentang, di dunia. Gereja harus imanen dan transenden di dunia — ia harus berupa garam, yang tidak dapat dibedakan (larut, imanen), dan terang, yang dapat dibedakan dan transenden.[6]

Kedatangan Kristus (inkarnasi) menjadi saksi keselamatan alam semesta secara keseluruhan. Manusia tidak diselamatkan dengan materialitasnya melainkan di dalamnya. Penyelamatannya bukanlah gangguan total dari semua proses sejarah oleh intervensi supra-sejarah, tetapi transformasi radikal dari proses sejarah oleh Tuhan yang transenden memasuki sejarah secara imanen melalui Tubuh Kristus.[7] Amat jelas: “Kamu (kita) adalah garam dan terang dunia” (Mat 5:13-14)

Barry (1931) dalam The Relevance of Christianity, An Approach to Christian Ethics (Relevansi Agama Kristen, Suatu Pendekatan terhadap Etika Kristen) mengatakan yang baik bagi manusia dan keselamatan jiwanya ada di dalam Tuhan sendiri dan tidak ada yang lain. Etika Kristen tidak mengatakan: “Berbudi luhur demi menjadi bajik”; masih kurang: “Berbudi luhur agar Anda dapat diselamatkan.“ Itu tidak mengajarkan penghinaan terhadap dunia ini agar kita dapat memasuki du­nia yang lebih baik; juga tidak menyarankan bahwa kita harus melayani dunia ini untuk mendapatkan balasan kekal. Bunyi­nya: “Cintai Tuhan dengan segenap hati dan pikiranmu”. Ini adalah perintah yang pertama dan agung; yang kedua ‘Cintai sesama seperti dirimu sendiri’ adalah ekspresi spontannya. Jadi ada dua perintah, bukan satu; dan menggantikan salah satu dari yang lain berarti mengosongkan kedua signifikansi. Kedua kutub etika Kristen ini ditentukan oleh dogma yang tidak sewenang-wenang. Gerakan ganda penegasan-dunia dan pe­nyangkalan-dunia ini bersifat intrinsik dalam hakikat kehidupan moral, dan mencerminkan dualitas yang tak terpisahkan yang melekat dalam semua pengalaman manusia. Kita sekaligus duniawi dan kekal, sekaligus di bawah hukum dan di bawah kasih karunia; kita berada di bawah kebutuhan namun bebas, baik natural maupun supernatural.[8]

Advertisement

Semua tragedi dan kemegahan kita berasal dari fakta sentral tentang kita. Menurut Barry, hanya sedikit di antara kita yang dapat menemukan bantalan sebenarnya pada kutub kembar kesadaran manusia ini. “Apa yang kita tahu dalam pengalaman kita sendiri harus dilihat secara menonjol di dalam Kristus. Dia bergerak ke sana ke mari, Anak Manusia di antara manusia, sa­ngat memperhatikan kepentingan manusia, terikat oleh keterbatasan manusiawi kita. Namun Dia hidup dalam keterpisahan dari dunia, melihatnya dari pusat hubungan yang tidak terputus dengan Bapa. Dia ada di dunia tetapi bukan miliknya, dalam sejarah namun melampaui sejarah. Dia benar-benar betah di dunia ini karena Roh-Nya berdiam di dunia lain (Sorga). Kesan itu jelas di dalam Injil; namun lukisan itu telah membingungkan semua penafsirnya. Pemikiran Kristen selalu sepihak, baik ke arah ini atau itu. Di masa lalu hal itu telah dibanjiri dengan kesadaran Penebus Ilahi “turun dari surga ke dunia ini, untuk mengaburkan Yesus dari Nazaret dalam kabut keabadian yang tidak nyata. Namun yang sama salahnya adalah reaksi modern yang cenderung menjadikan Dia murni historis. Di satu sisi kehidupan telah dimiskinkan oleh tindakan-tindakan palsu yang akan menimbang dan menilai seolah-olah sepenuhnya abadi dan spiritual.[9]

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3, Bab 11.4.8: Globalisasi dan Gereja Batak Masa Depan; Subjudul: Teologia Kemajuan Nommensen. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

Footnote:

[1] Seringkali alpa dan menafikan peran misionaris lainnya, seperti Gerrit van Asselt, Johannsen, Pilgram, Warneck, Hester Needham, Heerling dan lebih 50-an misionaris lainnya. Hal ini pernah menjadi perbincangan di media sosial Grup WA: Lalu seorang bertanya, tunjukkkan suatu bukti bahwa Nommensen pernah melayani di Doloksanggul, Onan Ganjang dan Parlilitan. Tidak seorang pun yang bisa menunjukkan bukti.

[2] Joustra, M., 1917: De toestanden in Tapanoeli en de Regeeringscommissie, Uitgaven van het Bataksch Instituut. No. 13, Amsterdam: M. Schooneveld & Zoon, b.10-11.

[3] Kita tidak menemukan catatan sejarah bahwa Raja Pontas mengajak seluruh orang Batak masuk Kristen. Juga tidak menemukan catatan bahwa Raja Pontas kritis (dialog) terhadap kolonial/misionaris.

[4] Ott, Craig; Strauss Stephen J.; Tennent, Timothy C., 2010: Encountering Theology of Missions, Biblical Foundations, Historical Developments, and Contemporary Issues; Michigan: Baker Academic, p.vii.

[5] Ott, Craig; Strauss Stephen J.; Tennent, Timothy C., 2010: p.vii.

[6] Verghese, Paul, 1967: p.231-232.

[7] Verghese, Paul, 1967: p.228.

[8] Barry, F.R., 1931: The Relevance of Christianity, An Approach to Christian Ethics; London: Nisbet & Co. Ltd, p.304.

[9] Barry, F.R., 1931: p.304-305.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here