Mahkota Teologi Kemajuan Nommensen

Injil Berorientasi Tujuan Akhir Hidup, Bukan Kenikmatan Hidup

[ Ketika Hita Batak Mencubit Diri Sendiri ] [ Hita Batak A Cultural Strategy ] [ Dialog Raja Adat Bahalbatu dengan Misionaris ] [ Johannsen Pendiri Zoar dan Seminari Pansurnapitu ] [ Misionaris Kesatria Sejati ] [ Kebenaran Sejarah Misionaris di Tanah Batak ] [ Hester Needham Si Boru Malim Batak ]
 
0
128
Gereja, Sekolah, dan Rumah Sakit Misi Kristen di Pearadja, Tarutung. Foto Penerbit Kleynenberg & Co Haarlem (kl 1913). Koleksi Museum Volkenkunde

Mengapa Nommensen begitu populer? Orientasi kesejahteraan du­niawi telah membuat Nommensen lebih terkenal dari misionaris hebat lainnya di Tanah Batak.

Oleh Ch Robin Simanullang (The Batak Institute)

 Sejarah Gereja, khususnya di Tanah Batak ditandai perpa­duan, kolaborasi atau mutual simbiosis kolonialisme dan Misi Kristen Barat, dalam rangka kolonisasi dan kristenisasi (pengkristenan rakyat atau volkschristianisierung), telah menghadirkan lompatan kemajuan atau modernisasi yang spektakuler. Seperti sering ‘dikhotbahkan’ para pendeta Gereja Batak bahwa Ompu i Nommensen[1] telah membawa kemajuan pesat di Tanah Batak, baik di bidang pendidikan dan kesehat­an maupun gaya hidup modern lainnya; seperti pakai celana, sepatu, dasi, minyak rambut, jamban (WC) dan lain sebagainya, seperti laporan Misionaris yang diterbitkan di ‘Berichte’ RMG nomor 2 tahun 1917 tentang gerakan ‘hamadjoean’ (kemajuan), dan disoroti M. Joustra, arsiparus Het Bataksch Instituut, merupakan karikatur cerdas tapi dangkal yang mengundang ejekan.[2] Namun, harus kita akui, itu adalah kenyataan yang sangat spektakuler, terutama dalam bidang pendidikan dan infrastuktur modern (kerjasama kolonial dan misionaris).

Dalam Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers (Ikhtisar pers Pribumi dan China-Melayu), 1931, memaparkan koran Pardomoean Batak, edisi 13 Augustus 1931 yang menyoroti tentang kedangkalan iman di kalangan Batak Kristen, bahwa peradaban datang terlalu dini dan nilai-nilai kekristenan terlambat di Tanah Batak. Para misionaris Jerman ingin mengembangkan Batak baik secara agama maupun sekuler, tetapi di atas segalanya hendak menjadikan mereka orang Kristen yang baik, oleh karena itu mereka menjauhkan mereka sejauh mungkin dari urusan duniawi yang mungkin berdampak buruk pada rasa keagamaan mereka.[3] Saat itu misionaris yang menonjolkan urusan duniawi jauh lebih terkenal dibandingkan misionaris yang lebih mengutamakan kerohanian.

Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian terdahulu, C.J.H. Verweijs, Redaksi Majalah Rijnsche Zending edisi Belanda, menjelaskan mengapa Ompu Nommensen lebih terkenal dibanding misionaris hebat lainnya? C.J.H. Verweijs mengu­tip Zendeling Gabriël, “bahwa Nommensen tidak pernah bisa meninggalkan kesejahteraan duniawi orang Batak yang dicintainya, untuk membatasi dirinya hanya pada hal-hal spiritual. Ini juga telah disalahkan beberapa pihak. Tetapi tanpa aktivitas duniawi yang relatif menonjol dan manjur itu, Nommensen, tidak akan pernah menjadi pemimpin populer Misi Batak se­perti sebe­lumnya atau sesudahnya”.[4] Orientasi kese­jahteraan duniawi telah membuat Nommensen lebih terkenal dari misi­onaris-misionaris sebelumnya (antara lain Gerrit van Asselt), juga sesudahnya (antara lain Johannes Warneck).

Beberapa kesaksian menyebut, Nommensen adalah misionaris yang paling dekat, akrab dan berpengaruh dengan Komponi. Nommensen seorang misionaris RMG di Tanah Batak yang dibekali mandat khusus bermeterai ditandatangani Gubernur Jenderal Hindia Belanda;[5] Dia misionaris yang  bisa berbica­ra dengan Gubernur Jenderal semudah dia berbicara dengan seorang Batak pengunyah sirih;[6] Dia misionaris yang sangat berpengaruh yang bisa bertindak seolah dia Residen,[7] dan layaknya tuan besar yang berkuasa;[8] dan Belanda pun memandangnya sebagai Rasul orang Batak (Apostel der Batakkers) sekaligus sebagai Pahlawan Kita (Onzen Held, Pahlawan Belanda);[9] Sang Pionir,[10] yang mengkristenkan dan mengha­dirkan kemajuan dan modernisasi spektakuler di Tanah Batak!

Maka tidak heran jika para pendeta Batak, sering ‘mengkhotbahkan’ Injil sebagai Berita Baik Kemajuan atau Teologi Mo­dernisasi atau Teologi Kemakmuran mengikuti jejak misionaris terkenal. Sehingga terkadang luput mengkhotbahkan bahwa hakikat Injil adalah Berita Baik Keselamatan, atau Teologi Keselamatan (Jalan, Kebenaran dan Hidup), Teologi Memikul Salib. Bukan berorientasi kenikmatan hidup tetapi berorientasi tujuan akhir hidup. Bahwa Injil bukan sekadar Berita Baik dan/atau tentang perbuatan baik untuk kebajikan (apalagi kemajuan), melainkan lebih daripada itu; Bahwa Injil adalah Berita Baik anugerah dan jalan hidup kebenaran (pikul salib) untuk keselamatan; Berita persekutuan dalam Roh demi keselamatan yang berbuah (teraplikasi) perbuatan baik.

Seperti, sebuah video seorang pendeta berkhotbah di Humbang Hasundutan yang viral di media sosial Whatsapp. Pendeta itu mengemukakan sejarah misi (menurut pemahamannya). Dia dengan jenaka mengemukakan, ketika Raja Pontas Lumbantobing bertanya kepada Ompu i IL Nommensen: “Molo hujalo hami hakristenon, gabe bohama hami halak Batak?” (Kalau kami terima kekristenan, jadi bagaimana kami orang Batak?” Menurut pendeta tersebut, Nommensen tidak menjawab: Sesa ma dosamu, gabe masuk tu surgo ma hamu, jala dapotmu ma hangoluan saleleng­lelengna. (Dosa kalian akan dihapuskan, kalian akan jadi masuk ke sorga serta mendapat hidup selama-lamanya). Jika seandainya Nommensen menjawab demikian, kata pendeta, kemungkinan akan dijawab (Raja Pontas): “Holan ho ma di si, ndang pola dohot hami di si (surgo i)”. (Kamu saja di surga itu, tak usah kami ikut ke situ). Tutur pendeta itu agak jenaka yang disambut tertawa gemuruh pendengarnya. Pendeta itu melanjutkan: Tetapi Nommensen memberikan jawaban yang sangat brilian memberikan motivasi kepada Raja Pontas; Nommensen katakan: “Kalian akan menjadi bangsa yang maju!” Waoh, sambut (pikiran) Raja Pontas. Lalu, menurut pendeta ini, Raja Pontas mengajak ‘seluruh orang Batak’ masuk Kristen. Pendeta tersebut tampak­nya tidak menyadari bahwa itu adalah kekeliruan narasi yang sangat fundamental; Dan, semakin keliru lebih fundamental, karena pendeta itu mengulanginya secara siklus setelah 160 tahun. Apakah Sang Pendeta kurang menyadari bahwa secara substansial (misio Dei), sesungguhnya dia sedang tidak ber­khotbah, tapi lebih cende­rung stand up comedy?

Seandainya pun memang demikian Nommensen menegaskan misi pengkristenannya, jangan lagi diulang-ulang (siklus) hingga 160 tahun kemudian. Bukankah (seyogianya) teologi misi Kristen telah meng­alami pergeseran paradigmatik di sepanjang sejarah gereja, dari kristenisasi ke arah misio Dei; [11] Teologi Salib, Theologia Crucis, Theology of the Cross, menyangkal diri dan memikul salibnya (Mat. 16:24). Serta bukankah sudah saatnya orang Kristen Batak disajikan makanan keras bukan lagi susu? (1 Kor. 3:2; Ibr. 5:14)

Apalagi jika mengultuskan seorang misionaris terkenal dengan/karena ‘teologi kemakmurannya’ dan bahkan ikut-ikutan menyebut­nya pula sebagai Rasul orang Batak. Itu pendistorsian kerasulan, yang pada gilirannya mendistorsi Injil. Dalam konteks ini, sebagai renungan komparasi, gagasan Keshub Chunder Sen[12] tentang sebuah organisasi kerasulan yang tidak akan pernah mau diperbudak oleh cinta duniawi mana pun. Dia berkata, “Jika saya gagal untuk melanggengkan organisasi apa pun, jika saya tidak mempertahankan satu pengikut pun, saya akan tunduk padanya daripada menjadikan siapa pun budak saya, karena saya tidak menjadi budak siapa pun. Jika ada lima puluh pria berbeda di komunitas saya, mereka memiliki lima puluh pikiran yang berbeda. Kebenaran adalah saksiku, matahari dan bulan adalah saksiku, tidak ada penundukan dalam masyarakatku, setiap orang yang bergabung denganku adalah tuannya sendiri. Setiap orang harus mengakui ini selama saya di sini, setiap orang harus mengakui ini ketika saya pergi. Saya tidak meminta siapa pun untuk menerima siapa pun sebagai guru (pembim­bing) atau gubernurnya. Saya tahu Tuhan sebagai satu-satunya Pembimbing dan Gubernur.”[13]

Advertisement

Itulah singkatnya gagasan Keshub Chunder Sen tentang organisasi kerasulan. Renungan komparasi yang sangat baik kita resapi, terutama oleh para pendeta dan pemimpin organisasi Gereja. Dalam konteks Gereja Kristen: Imamat am orang percaya. Setiap orang adalah imam bagi dirinya sendiri. Hanya ada satu Imam Besar yaitu Yesus Kristus yang adalah Kepala Gereja.

Craig Ott, Stephen J. Strauss dan Timothy C. Tennent (2010) dalam Encountering Theology of Missions (Mendalami Teologi Misi) mengemukakan pemahaman tentang kebenaran, otoritas Alkitabiah, hakikat agama non-Kristen, peran gereja lokal, keadilan sosial, dinamika spiritual, pertumbuhan mayoritas gereja dunia, dan banyak masalah lainnya telah berkembang dan menimbulkan pemikiran ulang yang dramatis tentang misi ke berbagai arah. Perkembangan yang membutuhkan pembingkaian ulang yang segar dan Alkitabiah dari pemahaman kita tentang misi; Secara tematis mengangkat pertanyaan inti misi dan memeriksanya dari perspektif Alkitabiah, historis, dan kontemporer, dengan mempertimbangkan perkembangan terkini baik di tingkat lokal maupun global; Bahwa gereja sebagai komunitas kerajaan (Allah) adalah agen utama sekaligus buah utama dari missio Dei di zaman ini. Lebih jauh, hanya teologi misi yang dibingkai dengan benar secara eskatologis yang akan memberikan tempat yang tepat bagi kerajaan Allah. Gereja sebagai umat Allah, hidup sebagai alat, saksi, tanda, dan antisipasi kerajaan yang sudah ada tetapi hanya datang dalam kepenuhan setelah kedatangan Kristus (kedua kali). Salib tetap menjadi titik tumpu sejarah, Injil adalah pesan pengharapan, dan Roh kuasa misi.[14]

Kondisi Teologi Kemakmuran dan Modernisasi seperti ‘khotbah’ stand up comedy di atas, tentu sangat mencemaskan; Tesis sekularisasi menunjukkan arahnya. Sebab Berita Baik Kemajuan (modernisasi) tidak selalu berkorelasi dengan Berita Keselamatan; Bahkan secara Alkitabiah dan dalam banyak studi teologi justru bertolak-belakang, antara jasmani dan rohani, duniawi dan sorgawi; Walaupun harus dipahami bukan secara sempit hitam-putih atau kacamata kuda, tetapi dalam kerangka hubungan antara Gereja dan dunia dengan solidaritas dan pemisahan yang serentak (bergerak seiring secara serentak): Garam dan Terang Dunia, Imanensi dan Transendensi.

Sebagaimana dikemukakan oleh Paul Verghese (1967) dalam Dialogue with Secularism, di mana Tuhan telah menjadi manusia, sehingga menjadi satu dengan ciptaan, namun tidak berhenti menjadi Tuhan, sehingga tetap transenden dari ciptaan dan tidak sepenuhnya menyatu dalam ciptaan, harus selalu diingat sambil mempertimbangkan hubungan Gereja dengan dunia. Ketika hanya pemisahan antara Gereja dan dunia yang ditegaskan, kita memiliki jenis dikotomi alam-supernatur dengan konsekuensi tragisnya. Tetapi ketika solidaritas Gereja-dunia sendiri ditegaskan tanpa kesadaran akan transendensi, kita berada dalam bahaya mengembangkan liberalisme (sekularisme) yang akan menyebabkan hilangnya semua transendensi. Dalam pandangan ini, Gereja juga merupakan kehadiran yang “menguduskan”, bukan hanya kehadiran yang terlalu menentang, di dunia. Gereja harus imanen dan transenden di dunia — ia harus berupa garam, yang tidak dapat dibedakan (larut, imanen), dan terang, yang dapat dibedakan dan transenden.[15]

Kedatangan Kristus (inkarnasi) menjadi saksi keselamatan alam semesta secara keseluruhan. Manusia tidak diselamatkan dengan materialitasnya melainkan di dalamnya. Penyelamatannya bukanlah gangguan total dari semua proses sejarah oleh intervensi supra-sejarah, tetapi transformasi radikal dari proses sejarah oleh Tuhan yang transenden memasuki sejarah secara imanen melalui Tubuh Kristus.[16] Amat jelas: “Kamu (kita) adalah garam dan terang dunia” (Mat. 5:13-14)

Barry (1931) dalam The Relevance of Christianity, An Approach to Christian Ethics (Relevansi Agama Kristen, Suatu Pendekatan terhadap Etika Kristen) mengatakan yang baik bagi manusia dan keselamatan jiwanya ada di dalam Tuhan sendiri dan tidak ada yang lain. Etika Kristen tidak mengatakan: “Berbudi luhur demi menjadi bajik”; masih kurang: “Berbudi luhur agar Anda dapat diselamatkan.“ Itu tidak mengajarkan penghinaan terhadap dunia ini agar kita dapat memasuki du­nia yang lebih baik; juga tidak menyarankan bahwa kita harus melayani dunia ini untuk mendapatkan balasan kekal. Bunyi­nya: “Cintai Tuhan dengan segenap hati dan pikiranmu”. Ini adalah perintah yang pertama dan agung; yang kedua ‘Cintai sesama seperti dirimu sendiri’ adalah ekspresi spontannya. Jadi ada dua perintah, bukan satu; dan menggantikan salah satu dari yang lain berarti mengosongkan kedua signifikansi. Kedua kutub etika Kristen ini ditentukan oleh dogma yang tidak sewenang-wenang. Gerakan ganda penegasan-dunia dan pe­nyangkalan-dunia ini bersifat intrinsik dalam hakikat kehidupan moral, dan mencerminkan dualitas yang tak terpisahkan yang melekat dalam semua pengalaman manusia. Kita sekaligus duniawi dan kekal, sekaligus di bawah hukum dan di bawah kasih karunia; kita berada di bawah kebutuhan namun bebas, baik natural maupun supernatural.[17]

Semua tragedi dan kemegahan kita berasal dari fakta sentral tentang kita. Menurut Barry, hanya sedikit di antara kita yang dapat menemukan bantalan sebenarnya pada kutub kembar kesadaran manusia ini. “Apa yang kita tahu dalam pengalaman kita sendiri harus dilihat secara menonjol di dalam Kristus. Dia bergerak ke sana ke mari, Anak Manusia di antara manusia, sa­ngat memperhatikan kepentingan manusia, terikat oleh keterbatasan manusiawi kita. Namun Dia hidup dalam keterpisahan dari dunia, melihatnya dari pusat hubungan yang tidak terputus dengan Bapa. Dia ada di dunia tetapi bukan miliknya, dalam sejarah namun melampaui sejarah. Dia benar-benar betah di dunia ini karena Roh-Nya berdiam di dunia lain (Sorga). Kesan itu jelas di dalam Injil; namun lukisan itu telah membingungkan semua penafsirnya. Pemikiran Kristen selalu sepihak, baik ke arah ini atau itu. Di masa lalu hal itu telah dibanjiri dengan kesadaran Penebus Ilahi “turun dari surga ke dunia ini, untuk mengaburkan Yesus dari Nazaret dalam kabut keabadian yang tidak nyata. Namun yang sama salahnya adalah reaksi modern yang cenderung menjadikan Dia murni historis. Di satu sisi kehidupan telah dimiskinkan oleh tindakan-tindakan palsu yang akan menimbang dan menilai seolah-olah sepenuhnya abadi dan spiritual.[18]

Barry mengatakan Kerajaan Allah, masih merupakan sesuatu yang kurang dari Kristen. Etika Kristen adalah etika religius, dengan rasa lapar dan haus dunia lain di jantungnya. Ini me­ngandaikan konsepsi Kristen tentang Tuhan dan Manusia dan oleh karena itu tentang takdir manusia; bahwa Manusia adalah roh yang tidak berkematian dan bahwa tujuan sejatinya hanya dicapai dalam persekutuan dengan Tuhan dalam kehidupan yang kekal. Ini hanya valid dengan asumsi itu. Ada terlalu banyak ajaran Kristen yang sekuler, terlalu banyak buku kecil yang menyarankan bahwa jika dunia mau menerima cara hidup Kristus, kita semua harus menjadi kaya dan sejahtera dan nyaman. Bahkan jika ini benar, yang sangat diragukan, itu adalah degradasi agama Kristen.[19]

Jika kita tidak menerima dengan rasa syukur yang penuh hormat hadiah kehidupan ini dan kesempatannya, maka kita menolak undangan Ilahi dan menutup diri dari perjamuan Raja. Karena Roh diungkapkan kepada roh kita melalui berbagai nilai dan minat yang merupakan substansi dari kehidupan spiritual. Selain itu, mengelak dari tuntutan dan tugas membantu sesama kita dan melayani generasi kita berarti mengosongkan kehidupan moral dari semua makna; dan melakukan hal-hal ini demi keselamatan kita sendiri berarti meniadakan agama dan moralitas. “Jika terang yang ada di dalam diri kita adalah kegelapan, betapa besarnya kegelapan itu”[20] Amanat agungNya adalah kita harus menjadi garam dan terang dunia.

Paul Verghese, menyebut perbedaan yang masih dibuat antara religius dan sekuler oleh banyak teolog menunjukkan betapa sulitnya bagi orang-orang yang hidup dalam budaya tertentu untuk keluar dari asumsi dasarnya. Perbedaan ini juga memiliki pengaruh dalam dikotomi medievel tentang apa yang ada di Gereja dan apa yang di luar (pro-fanum, profans). Gereja di sini dianggap hampir sebagai bangunan atau selungkup yang di luarnya terdapat realitas profan atau sekuler. Ketika para teolog “sekuler” modern yang antusias berbicara tentang ‘Kekristenan sekuler’ atau religionless, mereka memiliki tiga hal yang umumnya dipikirkan:

(1) Kehidupan nyata dihayati bukan oleh orang-orang Gereja tetapi di antara orang-orang yang tidak berguna, kecuali kadang-kadang, untuk Gereja. Oleh karena itu, Gereja harus berada di luar sana di mana tindakan itu berada, agar dapat menjadi “relevan”.

(2) Gereja tidak memiliki hak untuk mengontrol urusan “sekuler” seperti politik, penelitian ilmiah, opini bebas, dll. Manusia harus dibebaskan dari kendali otoritas Gereja baik dalam yurisdiksi maupun pemikiran.

(3) Tidak ada lembaga yang sakral, bahkan jika ia mengklaim sebagai asal-usul ilahi atau peraturan ilahi. Setiap lembaga harus tunduk pada kebutuhan manusia, untuk dianalisis, dipahami dan dikendalikan olehnya.[21]

Paul Verghese menjelaskan, setidaknya dalam dua poin pertama, kita melihat dengan jelas bahwa dasar argumen tersebut adalah asumsi: (a) bahwa Gereja dan dunia adalah dua entitas yang terpisah, yang satu religius dan yang lainnya sekuler, dan yang satu itu harus keluar dari yang satu untuk masuk ke yang lain, dan (b) bahwa “otoritas” Gereja adalah Gereja. Asumsi kedua juga mendasari argumen untuk emansipasi semua pe­ngetahuan dari otoritas Gereja. Jika Gereja dianggap terdiri dari semua orang percaya, dan secara proleptis semua orang, sulit untuk melihat bagaimana pengetahuan dapat dibebaskan dari otoritas semua orang, karena pengetahuan itu sendiri tunduk pada manusia, dan harus dikendalikan oleh manusia dalam komunitas pluralistik yang saling terbuka. Sebaliknya, jika jeda antara Gereja dan dunia, yang tampaknya didasarkan pada pembedaan antara supernatural dan alam natural, belum diperkuat dengan kokoh dalam budaya, para teolog ini seharusnya dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah penegasan dasar dari materialitas dan hal-hal manusiawi. Tidak ada lagi celah yang tidak bisa dijembatani antara Tuhan yang transenden dan tatanan ciptaan, karena celah tersebut telah dijembatani oleh Tuhan yang telah memasuki tatanan ciptaan secara jasmani. Dan, segala sesuatu harus dikuduskan dengan pengudusannya untuk tujuan Tuhan.[22] Sebuah renungan buat kita (halak Hita) tak terkecuali para teolog!

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy

 

Footnote:

[1] Seringkali alpa dan menafikan peran misionaris lainnya, seperti Gerrit van Asselt, Johannsen, Pilgram, Warneck, Hester Needham, Heerling dan lebih 100-an misionaris lainnya. Hal ini pernah menjadi perbincangan di media sosial Grup WA: Lalu seorang bertanya, tunjukkkan suatu bukti bahwa Nommensen pernah melayani di Doloksanggul, Onan Ganjang dan Parlilitan dll. Tidak seorang pun yang bisa menunjukkan bukti.

[2] Joustra, M., 1917: De toestanden in Tapanoeli en de Regeeringscommissie, b.10-11.

[3] Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1931, no 39, 26-03-1931. Weltevreden: Drukkerij Volkslectuur, bl.569.

[4] Verweijs, C.J.H. (V), 1920: Laatste Berichten uit Onze Oost, Sumatra; bl.4-5.

[5] Nommensen, J.T., 1921, h.58; dan Hemmers, JH., 1928:  bl.81-82.

[6] Rijkhoek, D., 1933: Ompoe Nommensen, de apostel der Bataks; bl.6.

[7] Coolsma, S., 1901, bl.348.

[8] Nommensen, J.T., 1921, h.66.

[9] Hemmers, JH., 1928.

[10] Scharten, C. Th., 1919.

[11] Ott, Craig; J. Strauss Stephen; Timothy C.Tennent, 2010: Encountering Theology of Missions, Biblical Foundations, Historical Developments, and Contemporary Issues; Michigan: Baker Academic, p.vii.

[12] Keshab Chandra Sen juga dieja Keshub Chandra Sen, lahir 19 November 1838 di Kalkuta, India dan meninggal 8 Januari 1884, seorang filsuf Hindu dan pembaharu sosial yang berusaha memasukkan teologi Kristen dalam kerangka doktrin Hindu (https://www.britannica.com/biography/Keshab-Chunder-Sen).

[13] Mozoomdar, P. C., 1887. The Life and Teachings of Keshub Chunder Sen. Calcutta: J.W. Thomas, Babtist Mission Press, p.27-28

[14] Ott, Craig; J. Strauss Stephen; Timothy C.Tennent, 2010: p.vii.

[15] Verghese, Paul, 1967: p.231-232.

[16] Verghese, Paul, 1967: p.228.

[17] Barry, F.R., 1931: The Relevance of Christianity, An Approach to Christian Ethics; London: Nisbet & Co. Ltd, p.304.

[18] Barry, F.R., 1931: p.304-305.2261-2268 Mahkota Teologi Kemajuan Nommensen

[19] Barry, F.R., 1931: p.303.

[20] Barry, F.R., 1931: p.303.; Mat 6:22.

[21] Verghese, Paul, 1967: p.230-231.

[22] Verghese, Paul, 1967: p.231-232.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here