Johannsen Pendiri Zoar dan Seminari Pansurnapitu

Misionaris Pendidik Pandita Batak dan Guru Zending Batak.

 
0
28
Misionaris Johannsen Bersama enam muridnya, yang menjadi Pandita Batak

Kehadiran Misionaris Peter Hinrich Johannsen sejak 1866, sangat strategis dalam proses penginjilan (Evangelisasi) di Tanah Batak. Dia membuka Zoar Pansurnapitu, 29 Maret 1867, dan Seminari (1879) yang melahirkan para Pandita Batak dan Guru Zending Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Peter Hinrich Johannsen, lahir pada 9 November 1839 di Holstein, daerah paling utara Jerman. Ketika berusia 10 tahun, sudah berkeinginan menjadi seorang misionaris. Pada usia 18 tahun, ia menjadi guru dalam kultivasi Misionaris 1861. Tanggal 16 Agustus 1865, RMG resmi mendelegasikannya bersama dengan A. Schreiber ke Tanah Batak. Namun, Johannsen lebih dulu sampai ke Sibolga, 16 Februari 1866, bersama tunangan Nommensen Nona Karolina Gutbrod.

Untuk sementara, dia tinggal di pos misi Huta Dame bersama Nommensen, sekalian untuk belajar memperdalam bahasa Batak. Ketika Johannsen sudah agak akrab dengan bahasa dan adat istiadat Batak dia mulai mencari tempat pos misinya.[1] Zoar Pansurnapitu adalah Pos Misi Kedua di Silindung setelah Huta Dame. Johannsen adalah Sisuan Bulu pos misi ini pada 29 Maret 1867.

Misionaris rendah hati ini, sangat ‘bersahabat’ dengan Nommensen, walaupun terkadang berbeda pendekatan misi dengan Nommensen. Johannsen lebih memilih Evangelisasi daripada Kristenisasi. Johannsen membuka pos misi dan mendirikan serta memimpin seminari Zoar Pansurnapitu sampai kematiannya pada 11 Januari 1898. Dia, mengabdikan seluruh hidupnya selama 32 tahun di Tanah Batak. Dua tahun setelah ‘kepulangannya ke sorga’, pada tahun 1900, Seminari Pansurnapitu dipindahkan ke Sipoholon di bawah pimpinan misionaris Johannes Warneck, yang kemudian menjadi ‘Ephorus HKBP’ pertama.[2]

Johannsen punya kisah misi ketika seorang bocah lelaki yang lemah, bernama Si Toeri, yang telah hidup mengalami banyak penderitaan akibat hutang judi dari kakak lelaki ibunya (pamannya) Si Bungalan, sehingga dia harus menjadi hatoban. Misionaris Johannsen membayar utang itu dan kemudian mengasuh Si Toeri di pos misinya. Si Toeri rajin belajar di sekolah. Dia sangat memperhatikan apa yang dikatakan gurunya Johannsen tentang kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus Yesus. Kemudian dia dibabtis dengan nama Ernst (Ernist). Nama lengkapnya Ernst Pasaribu. Ernist kemudian dipercaya sebagai guru dan penginjil di Sigompulon, hingga menjadi kepala sekolah dan menikahi seorang gadis Kristen yang rendah hati dan pendiam, bernama Katherina.[3]

Namun, pada 1871, pelayanan di Zoar ini harus diistirahatkan sementara. Sehubungan dengan penyakit yang diderita Nommensen sejak April 1871, mula-mula disentri dan makin parah hingga tidak bisa berjalan, Tanggal 6 Juni, Nommensen dibawa isteri dan anak-anaknya dari Huta Dame ke Zoar Pansurnapitu, dari situ ke Sigompulon, terus ke Pangaloan dan Parausorat. Sampai ke rumah sakit Padang Sidempuan tanggal 17 Juli. Di situ Nommensen dirawat, tapi tidak sembuh, hingga sangat kurus dan tubuhnya dinyatakan dokter tak sanggup lagi menerima obat. Akhirnya, ia meminta kembali ke Parausorat, 31 Juli, di mana ia tinggal sampai Maret 1972, dan kesehatannya berangsur pulih; Hingga kembali ke Huta Dame. Selama Nommensen sakit, Johannsen pindah ke Huta Dame, karena pekerjaan harus diutamakan, dan Zoar Pansurnapitu ditinggal sementara karena dianggap sebagai daerah pagaran. Setelah Nommensen pulih, Johannsen kembali fokus di Zoar Pansurnapitu.[4]

Pelayanan di Pansurnapitu dilanjutkan dengan semangat, dan ia mendapat dukungan dari beberapa sidang jemaatnya, Paul dan Jeremias, yang juga menemaninya ke Simorangkir dan Lumban Siagian, di mana ia secara teratur berkhotbah setiap hari Minggu. Sebagaimana ditulis S. Coolsma, pada tahun 1873 ia tidak dapat membaptis siapa pun kecuali 3 anak kecil di posnya, tetapi ia tetap melakukan pekerjaannya dengan sukacita dan harapan yang baik. Pada 1974 kongregasinya memiliki 89 jiwa, dan ia diizinkan untuk melihatnya tumbuh dalam iman dan tekad. “Orang-orang Kristen di daerah ini juga mulai menolak, untuk lebih berkontribusi pada festival pagan. Pada mulanya orang-orang bukan Kristen tidak menyukainya, tetapi segera mereka pasrah dan secara diam-diam mengakui bahwa kekristenan memiliki hak untuk hidup. Keresahan yang terus-menerus terjadi di lembah mencegah Johannsen untuk secara teratur mengajar para kandidat pembaptisan di Simorangkir, tetapi ketika perdamaian berakhir pada akhir tahun itu, semua pelayanan dikhususkan untuk pendidikan. Pada Pesta Paskah tahun 1876, sebanyak 113 orang diterima di posnya, termasuk 62 penduduk Simorangkir, yang kemudian dipercayakan kepada Zendeling Simoneit, yang baru saja tiba. Di Pansoernapitoe, jemaat tumbuh menjadi 140 jiwa (16 Suppers) pada tahun 1875, sementara sekolah dihadiri oleh 25 siswa.

Pada 1880, Johannsen mulai membangun sebuah gereja besar, dan sebuah ruangan melekat padanya, yang berfungsi sebagai ruang belajar. Sebuah rumah untuk tidur dan makan dibangun untuk para siswa pembibitan, di mana dulu ada sombaon (tempat ibadah). Orang tua para siswa harus berkontribusi pada bahan yang diperlukan, yaitu 1 pilar dan 2 papan per keluarga. Masyarakat sekitarnya sangat senang dengan pembangunan gereja besar di kampungnya, seperti apa yang telah mereka lihat di pos Nommensen, sehingga mereka berlomba-lomba menumbangkan bahan-bahan bangunan. ‘Pembangunan bersama itu’ secara alami membawa banyak orang lebih dekat ke sidang jemaat, dan setelah gereja selesai, Johannsen memimpin kebaktian pada hari Minggu dengan 800-1000 jemaat. Pada tanggal 31 Mei tahun itu, ia diizinkan untuk membaptiskan 174 orang dan jumlah anggota jemaatnya bertambah menjadi 310 orang, tetapi hanya 18 orang yang berhak atas Perjamuan.[5]

Advertisement

Pada 16 Agustus 1889, genap 25 tahun Johannsen didelegasikan RMG Barmen ke Tanah Batak. Coolsma mengapresiasinya: “Dia tidak akan dengan mudah memilikinya dalam seperempat abad itu, tetapi betapa beruntungnya dia bisa bekerja! Dia sekarang merasakan keinginan yang tulus, sudah dihargai selama beberapa waktu, terpenuhi.”

Johannsen juga bersyukur, bersamaan dengan pelayanan seperempat abadnya di Tanah Batak, saat dia merasa sangat perlu bahwa lebih banyak yang dilakukan untuk bagian perempuan dari jemaatnya, dan sekarang Miss Needham datang dari Inggris untuk terlibat penuh dalam pelayanan di sini, mengabdikan diri kepada gadis dan wanita Batak. Miss Needham dengan biaya sendiri, membangun rumah untuknya, dia belajar dengan rajin mengunjungi orang Batak dan pergi setiap hari ke rumah-rumah dan berbicara dengan para wanita. Dia melakukan pekerjaan ini selama beberapa tahun di Pansurnapitu.

Tahun 1891, Zendeling Johannsen berduka, seorang anak perempuannya meninggal pada bulan Maret dan disusul istrinya meninggal pada bulan April. Kesedihan itu menjadi lebih tenang di sekelilingnya, namun dalam kesepiannya ia lebih mengabdikan dirinya pada pekerjaan besar di mana ia bekerja di waktu luangnya menerjemahkaman Perjanjian Lama ke bahasa Batak. Pada 1892, dia pergi ke Jerman selama beberapa bulan dan membawa terjemahannya, yang kemudian dicetak di Elberfeld atas nama Br. en Buitenl. Bijbelgenootschap.[6]

Selama Johannsen di Jerman, Meerwaldt memimpin Seminari Pansurnapitu dengan sepenuh hati. Pada 1 Janmuari 1890, Guru Meerwaldt mulai menerbitkan Surat Parsaoran (bulletin bulanan) Immanuel, sebagai bekal rohani bagi guru-guru dan mereka yang sudah tahu membaca. Saat itu suratkabar bulanan Immanuel dicetak dengan perkakas Hektograph oleh Jonathan, seorang guru. Isinya diambil dari tulisan-tulisan Meerwaldt.[7]

Setelah Johannsen kembali, dia melanjutkan rutinitas normalnya. Sampai Desember 1893, Seminari sudah menghasilkan lebih 100 penginjil pembantu dengan gelar Pandita Batak.[8] Ujian akhir biasa diadakan pada bulan November di hadapan Ephorus Nommensen. Saat itu (1893), ada 18 seminaris yang telah menyelesaikan kursus 4 tahun dan mengikuti ujian akhir, yang semuanya lulus.[9]

Pada bulan Oktober 1893, Johannsen membabtis 160 orang menambah sidang jemaatnya, yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, keadaan fisiknya mulai berkurang. Pada bulan Juni 1894 dia mengeluh tentang kelemahan fisik tersebut, mungkin akibat dari kerja keras yang berlebihan. Sering kali sulit baginya untuk berjalan kaki ke sekolah, dan kemudian ia mempersilakan para siswa itu datang ke rumahnya. Meerwaldt pun bekerja keras untuk mengantisipasi keadaan itu. Lalu, pada 1896 Meerwaldt diizinkan cuti ke Eropa, dan digantikan Johannes Warneck, putera dari Dr. Gustav Warneck yang terkenal. Warneck sebelumnya membuka pos (sisuan bulu) di Nainggolan Pulau Samosir dan sebentar menggantikan Pilgram di Balige.

Coolsma menggambarkan kekaguman Warneck melihat keadaan Seminari Pansurnapitu ini: Guru baru terkejut dengan apa yang dia temukan dan lihat di sini: kumpulan bangunan besar yang hampir memberikan tampilan kota pos misi; sekelompok besar seminaris (57), berpakaian dan dengan penampilan yang cerdas; disiplin dan ketertiban yang sebanding dengan luar biasa; dan dengan demikian kehidupan asrama, sangat efisien, praktis dan murah sehingga perangkat dapat disebut teladan.”[10]

Warneck mengambil-alih tugas Meerwaldt untuk bagiannya: aritmatika, geografi, fisika, menyanyi dan menggambar. Selain itu, ia melyani doa pagi dan sore. Pengajaran dalam mata pelajaran Teologi masih diberikan oleh Johannsen. Yang ditambah Warneck dengan latihan katekis dan komposisi, serta menghubungkannya dengan pendidikan musik: instrumen organ, biola dan alat musik tiup. Untuk variasi, ia juga melakukan latihan senam dan jalan sehat dengan para siswa penggembala.

Kondisi kesehatan Johannsen semakin lemah, misionaris rendah hati itu dipanggil pulang ke Rumah Bapa, pada 11 Januari 1898. Pada pagi hari kematiannya, dia telah menulis surat yang ditujukan ke Barmen berisi “Passion of Reflections,” dimana dia sangat senang untuk menyibukkan diri dengan jam-jam tenang. Johannsen telah mengabdikan seluruh hidupnya di Tanah Batak selama 32 tahun. Kesedihan gereja Mision Batak sangat mendalam. Misionaris Warneck menulis: “Betapa besarnya kerugian yang dialami Misi kita, yang menjadi semakin jelas bagi kita setiap hari. Betapa kerasnya pria ini bekerja! Aku menatapnya dengan takjub. Bagaimana kekuatan yang lebih muda akan menggantikannya! Dia tumbuh dengan orang-orang dengan cara ini, dan mengenal orang Batak dan Batak secara menyeluruh dengan baik, kecuali untuk Bro. Nommensen, tidak ada lagi orang seperti dia.“[11]

 

Cuplikan dari Buku Hita Batak A Cultural Strategy. Kisah pengabdian Misionaris Peter Hinrich Johannsen di Tanah batak selengkapnya, baaca dalam buku tersebut. Informasi lebih lanjut, klik: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Hemmers, JH., 1928: bl.144.

[2] Scharten, C. Th., 1919: p.23.

[3] Asselt, G. Van, 1900: p.17-25.

[4] Coolsma, S., 1901: bl.364; Nommensen, J.T., 1921: h.110.

[5] Coolsma, S., 1901: bl.364.

[6] Coolsma, S., 1901: bl.367.

[7] Nommensen, J.T., 1921: h.164.

[8] Coolsma, S., 1901: bl.366; dan Almanak HKBP 2020: h.570.

[9] Coolsma, S., 1901: bl.368.

[10] Coolsma, S., 1901: bl.369.

[11] Coolsma, S., 1901: bl.369-370.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here